Memang susah kalau model partisan dipakai terus. Anjas --------------------------------------- Surat Terbuka Ikranagara: Bung Matori, Jangan Hancurkan Demokrasi Jum'at, 09 Juni 2000, @14:52 WIB Membaca komentar Matori Abdul Djalil, Wakil Ketua MPR yang juga Ketua Umum PKB tentang komentar Ketua MPR Amien Rais, membuat kita garuk-garuk kepala sambil ngedumel: "Bung Matori ini enggak modheng isi komentar Amien to?" Yang dia tidak setuju terhadap komentar Amien itu apanya? Wong Amien bersikap netral tidak memihak Gus Dur atau Sabirin jelas seperti itu kok, dan menyerahkan masalahnya kepada proses hukum! Tapi, kalau dibaca komentar Matori seakan-akan Amien itu memihak Sabirin. Kok bisa salah tangkap sih? Saya turunkan saja seluruh berita tentang hal ini dari Tempo kembali: '... Soal kemungkinan langkah Gus Dur ini sebagai bentuk intevensi eksekutif kepada BI, Amien berpendapat, "Kalau menurut BI, apa yang dilakukan oleh Gus Dur adalah intervensi. Hukumannya adalah kurungan dua tahun dan denda Rp 2 milyar." Tapi, kata Amin lagi, biarlah dua-duanya diberi kesempatan agar prosesnya alami dan terungkap secara transparan. "Kalau misalnya Gus Dur benar, kita patut acungi jempol. Tapi kalau dia keliru, konsekwensinya adalah legitimasi dia sebagai pemimpin akan berkurang beberapa prosen," ujar Amien. Dalam kasus ini, Amien memilih mengambil posisi netral dan tidak memihak salah satu kubu. Soal intervensi eksekutif kepada BI, Matori Abdul Djalil, Wakil Pimpinan MPR yang juga Ketua Umum PKB tidak sependapat dengan Amien Rais. "Hal itu tidaklah satu bentuk intervensi tapi suatu pendekatan ketimuran, di mana Gus Dur menginginkan Syahril Sabirin tidak rusak namanya," katanya membela Gus Dur ...' Nah, jelas, kan, Matori itu salah tangkap? Dan Tempo benar menyimpulkan bahwa Matori hanya mau '... Gus Dur ...' Dan memang, apa saja yang dilakukan Gus Dur selama ini pasti dibela oleh Matori. Padahal, dia itu kan legislatif, tidak boleh jadi antheknya ekskutif. UUD '45 yang telah memberikan begitu besar kekuasaan kepada Presiden (sehingga telah melahirkan dua presiden otoriter), kok malah diperbesar lagi kekuasaannya dengan mendukung tanpa reserve seperti itu. Kalau begini caranya, maka PKB hanya akan menjadi Golkar di zamannya Soeharto saja dong! Kapan Indonesia bisa jadi demokrasi kalau legislatifnya kropos seperti ini? Wah... ini deja vu yang lain lagi! Apalagi Bung Matori pernah melontarkan lewat media massa fikirannya yang meragukan absahnya demokrasi karena takut kalau pemerintahan Gus Dur hanya berumur pendek gara-gara dikritik terus. Padahal kritik dan demokrasi itu tidak bisa dipisahkan, Bung! Kalau takut kepada demokrasi, jangan jadi wakil rakyat dong, sebab wakil rakyat itu kan pengejawantahan dari demokrasi. Sadarlah, Bung Matori, jangan hancurkan demokrasi! *** ________________________________________________________________________ Get Your Private, Free E-mail from MSN Hotmail at http://www.hotmail.com
