At 9:40 AM -0700 7/28/00, Budi Haryanto wrote:
|Saya heran bercampur sedih mengamati gaya diskusi rekan Acu ini.
|Berangkat dari ide yang dia lontarkan ke berbagai miling list, apabila
|ada yang menanggapi tulisannya, maka dia akan respon tanggapan tsb namun
|tidak dipostingkan kembali ke miling list asal dari pemberi tanggapan,
|malah dipostingkan ke miling list lain, ....
|... Saya rasa cara diskusi seperti ini adalah tidak fair.
Akhirnya ada juga yang mengangkat issue ini (thanks to Budi) ...
mailing list itu bukan media massa -- walau setiap orang bisa jadi
anggota, walau arsipnya bisa diakses lewat web, materi diskusi
mailing list umumnya terbatas (exclusive) untuk mailing list itu
sendiri. Sama sekali tidak fair --melanggar etiket umum, dan dalam
kasus tertentu melanggar hukum-- untuk memforward tulisan seseorang
dari satu mailing list tertentu ke mailing list lain TANPA SEIJIN
penulis aslinya. Ini tidak fair, karena si penulis asli ini kemudian
tidak punya kesempatan untuk menggunakan "hak jawab" nya apabila
tulisannya disanggah, diblejedi, dipergunjingkan oleh anggota list
lain yang tidak dikutinya. Meskipun "aturan" ini tidak explisit
tertulis dalam FAQ atau bylaws tetapi common sense menunjukkan bahwa
ijin dari penulis asli diperlukan kalau mau mengutip karya orang lain
(ijin spesifik untuk apa atau kemana tulisan atau kutipan tersebut
akan dipakai). [PS: Menurut konvensi Berner, hak-cipta sebuah tulisan
OTOMATIS dipunyai oleh penulis aslinya tanpa perlu pernyatan yang
eksplisit].
|Terkesan bahwa rekan Acu hanya ingin menunjukkan kalau dia bisa
|melemahkan tanggapan orang lain dan menonjolkan pemikirannya. Setelah
|itu selesai. Ganti topik ide lain, dan kalau ada tanggapan lagi lalu
|dipostingkan di milis yang lain dengan menonjolkan dominasi
|pemikirannya.
Untuk kasus ini E R Juni menggunakan istilah "cyber-exhibitionist,"
walau istilah itu sendiri sudah berkembang di dubnia web dengan
konotasi yang sangat berbeda (coba search web dengan keyword "cyber"
dan "exhibitionist" :-). Kalau kita mau mengorek jargon psychology
istilah yang mungkin sangat tepat adalah gejala "grandiosity"
(delusion of grandeur) yang dirincikan sebagai "a psychotic disorder
range from highly altruistic to being egocentric or narcissistic, and
therefore self-serving." [Harris (1977), Psychotic Grandiosity.
Psychiatry, 40(4), 344-51] ... sometime I imagine this NI subject as
a very very lonely person, living in his own world, not much of
socializing in the real world, and most likely had an
attention-deprived childhood.
|Cara-cara diskusi seperti ini bagi saya adalah hal yang baru dan terasa
|sangat tidak enak dalam membacanya, karena sangat kentalnya muatan TIDAK
|FAIR-nya. Di sisi lain, kita tidak pernah mendapat pembelajaran dari
|diskusi dengan cara ini. Lalu, dimana dong pola pikir Detail, Tuntas,
|Integratif, yang anda gembar-gemborkan?
I doubt if he understands what he wrote ... as long as they sounds
like "big words". Buat dia, makna tidak jadi masalah, yang penting
kata-kata yang dipakai kelihatan "flashy", hebat, dan memberi kesan
seolah-olah pemakainya intelligent. [Unfortunately, there is so much
you can do with such limited vocabulary ... obviously he stretched
the words so thin and recycles them over and over it bores us all to
death]
Tentu saja tidak cukup kata-kata yang "wah", tetapi ciri-ciri
self-serving narccistic adalah "lawan bicara" yang wah (seolah-olah
ada dialog dengan orang penting, bertukar pikiran dengan orang
bergelar). Tentu saja ini sangat merugikan reputasi "lawan bicara"
nya. Sebagai contoh, posting terakhir dengan Subject: #####
Industri Pesawat Terbang Nusantara -- perhatikan "#####" yang
konsisten dipakai oleh NI untuk menekankan pentingnya subject (so it
looks like above the rest, the normal posting by everyone else).
Lawan bicaranya (or must I say "kobannya") kali ini adalah "Dr. A
Syamil <Amerika Serikat>" ... wah!
Tidak terlalu penting bagi NI dalam "dialog" sehebat itu (dengan Dr,
soal industri kapal-muluk lagi), untuk membaca dan memeriksa dalam
tayangan sebelumnya (oleh Mardhika Wisesa, 25 Jul 2000) bahwa penulis
artikel tersebut adalah "Agnes Samil" <[EMAIL PROTECTED]> dan BUKAN
kawan kita di mailing list Permias ini, "A. Syamil"
<[EMAIL PROTECTED]>. Dan cilakanya attribusi yang ngawur ini
sudah di cross-post kemana-mana ... ini kan merugikan reputasi Bung
Syamil. Perbuatan ini bisa dituntut sebagai "defamation of character."
Refleksi:
Ketika ada yang menyebut permias@ ini sebagai "mailing-list sampah"
banyak yang tersinggung dan menjadi defensive. Akhir-akhir ini saya
perhatikan mulai muncul tulisan yang complain tentang "sampah" nya
sendiri -- even from those ROMs, read-only members .. they have had
it!. And that's a good sign, an encouraging development. Paling tidak
mulai ada yang acknowledge problem yang sesungguhnya, ada yang mulai
mengenali mana saja yang sampah, dan siapa sih yang suka nyampah itu.
Kadang mengherankan bagaimana orang kita [Indonesian] bisa "put up"
dengan sampah bau seperti itu selama ini. Dugaan saya adalah
kebanyakan kita ini tidak ingin kelihatan sebagai "the bad guy", atau
paling tidak "the beared of the bad news." Jarang yang berani
mengambil resiko dianggap sebagai "kejam" atau "nggak punya tenggang
rasa" ... lebih baik diam, duduk manis, anggap nggak ada, tidak bikin
ribut etcetera. Komplain, kritik or protes harus dihindari sedapat
mungkin ... No wonder that there is practically no public or social
control in our country - and this mailing-list community is a
miniatur of that big society.
Seperti saya singgung sebelumnya, dismaping concern kita semua, bisa
dianggap masalah teknis seharusnya yang bisa ditangani secara
sederhana oleh *pengurus* atau admin (in my list, I make that an
admin's business). Tugas list's admin adalah "provides a decent place
that's civil, nurturing (i.e. no threat, no pests, etc) such that the
gathering stimulates the exchange of ideas. Tanpa begitu, list akan
cepat 'degrades' menjadi disorder, chaotic, tanpa aturan ... yang
kemudian akan dihindari (like a plague) oleh anggota komunitas yang
serius. In the end, mediocrity rules! Sungguh disayangkan, mengingat
anggota list (dan potensial Indonesian student di Amerika) ini yang
kebanyakan punya GPA diatas 3.5 itu).
Repotnya admin kita juga kelihatannya "tidak punya pegangan" musti
mengambil tindakan apa -- padahal mereka ini punya authority, tetapi
tidak tahu mempergunakannya). Mungkin juga ada keraguan karena tidak
ada dukungan dari komunitas (lha wong nggak ada yang protes kok,
sehingga yang seperti itu lama-lama jadi "normal"). Saya akui ini
bukan hal yang mudah, pengambilan keputusan yang tidak sederhana
hitam-putih, tetapi semuanya bisa dipelajari , bahkan dengan
common-sense saja. Dan sesunguhnya ada cabang ilmu formalnya. Buat
siapa saja yang berminat silahkan baca sebua buku bagus yang baru
terbit: "Community Building on the Web" by Amy Jo Kim, a leading
specialist in electronic community design. Untuk para admin
mailing-list, ini bacaan wajib!
Have a nice weekend,
Moko/
PS: Kalau ada yang komentar dan mengharapkan tanggapan, harap sabar.
Beberapa hari mendatang saya akan berada di U of Michigan, Ann Arbor.
Kalau ada anggota Permias lokal yang suka ngobrol darat, silahkan
hubungi ASAP per japri (saya berangkat Minggu pagi, acara sore/malam
free, Rabu fully open - mungkin bahkan bisa mampir ke Toledo
nyamperin Bung Syamil).