SUHU PERTANDINGAN MULAI MENGHANGAT

 

 

Sejak hajatan Porsenipar IV dibuka pada 15 April 2007 perhelatan ini sudah 
berjalan sekitar sebulan setengah  tanpa terasa dari total pelaksanaan kurang 
lebih empat bulan lamanya. Beberapa cabang perlombaan / pertandingan yang 
tergolong "kalem" telah diselesaikan, yaitu :  gerak jalan; tenis lapangan, 
yang satu detik satu tepokan; eksibisi futsal, yang bikin orang tua gemes; dan 
catur, olah raga strategi yang kadang mbingungi atau malah bikin bingung 
sendiri lantaran mikirnya kepanjangan.

 

Setelah yang kalem-kalem di atas terselesaikan, mulailah terlihat warna-warni 
di arena Porsenipar IV ini yang dimulai dengan cabang sepak bola dan tenis meja 
masing-masing dilaksanakan di lapangan sepak bola RW 13 dan lapangan tenis meja 
di RW 15. Sejak awal cabang sepak bola dipertandingkan terlihat RW 17 yang 
mengawali pertandingan melawan RW 15 sudah mengerahkan supporternya di pojok 
selatan lapangan. Giliran minggu berikutnya ketika RW 13 melawan RW 14 tim 
"tuan rumah" mengerahkan belasan supporter yang tidak hanya terdiri dari 
anak-anak tapi termasuk juga para bobotohnya di sudut utara lapangan lengkap 
dengan perlengkapan khas bola-mania yaitu tetabuhan dan nyanyian-nyanyian. 
Mirip-mirip sedikit dengan hajatan Liga Itali yang kerap disertai nyanyian para 
sipporter! 

 

Demikian juga di minggu berikutnya supporter dari RW 16 menyertakan "drum" 
dalam mensupport kesebelasan kesayangannya. Bagaimana dengan RW 14 yang juga 
bertindak sebagai Panitia? Ternyata, ada dari pihak "panitia yang tidak resmi" 
- entah siapa - mengerahkan supporter anak-anak yang jika disimak ternyata dari 
RT 04/14 sampai dengan RT 06/14. Saya pikir "ah, pasti para anak buah Pak 
Yamin, sang manajer lapangan dari RW 14". Cukup fanatik juga rupanya anak-anak 
ini. Ketika supporter RW 16 menyindir kesebelasan lawan (RW 14) yang gagal 
melakukan shooting di depan gawang, dan mereka menyanyi :  "tidak mungkin, 
tidak mungkin ...". Anak-anak ini secara spontan menimpali : "mungkin saja, 
mungkin saja ...". Nampak Pak Dedi selaku panitia cuma senyum-senyum saja 
dibuatnya tidak kecuali pihak panitia yang lain.

 

Di gelanggang tenis meja tidak kalah sengitnya. Sejak di pertandingan di dalam 
balai RW 15 dengan kepulan asap rokok di dalamnya sampai dipindahkan ke 
lapangan bulu tangkis di jalan masuk kolam renang depan yang terlindung bambu 
sorak sorai penonton setia menyemangati para atlet yang sedang berjuang 
memenangkan pertandingan. Pemandangan ini terlihat seperti pada pertandingan 
antara RW 13 dengan RW 14 pada 20 Mei 2007 yang lalu. Yang meskipun RW 14 kalah 
telak dengan kedudukan 0 - 5, tiga partai yang berlangsung rubber-set 
menjadikan para penonton gemas campur tegang.

 

Fair Play

Rasanya ada yang kurang dari persiapan panitia yaitu spanduk kecil bertuliskan 
"Fair Play" yang mestinya ditempatkan di sudut-sudut lapangan pertandingan. 
Apakah hal ini penting? Ya, bisa saja hal ini menjadi penting setidaknya untuk 
mengingatkan baik para atlet maupun pendukungnya. Meskipun demikian, dari 
pantauan di lapangan pertandingan celetukan-celetukan para supporter ini 
tergolong masih cukup wajar.

 

Di lapangan sepak bola ketika ada pemain jatuh supporter teriak :  "sengaja 
tuh!". Di arena tenis meja celetukan yang sering terjadi adalah pada saat serve 
dilakukan, semacam :  "euih, gayanya cing...!". Dan sebagainya.

 

Tidak ketinggalan kontak-kontak fisik yang terjadi khususnya di arena sepak 
bola masih tergolong lumrah meskipun di satu-dua kesempatan takling-takling 
cukup keras sesekali terlihat di samping faktor kelelahan pemain yang ikut 
menyumbang pada keseimbangan badan yang mulai limbung. Dalam kaitan pemain ini 
mungkin semboyan olimpik "citius, altius, fortius" berlaku di mana "yang 
tercepat, yang tertinggi, yang terkuat" akan menjadi pihak yang akan menjadi 
pemenang.

 

Dua hal di atas, support dan "celaan" serta adu "kekuatan" dari pemain dapat 
dikatakan sebagai bumbu yaitu seberapa besar topangan kemantapan emosi turut 
mendukung suatu kemenangan. Dalam batas-batas yang wajar dan penuh toleransi 
hal di atas termasuk dalam situasi yang "fair" sebagaimana tema dalam 
Porsenipar IV itu sendiri: "galang kebersamaan, junjung sportivitas!"

 

Seberapa Fair-kah Anda?

Terlepas dari uraian di atas dengan "fairness" yang nyata terlihat dan 
dibuktikan baik oleh pemain dan penonton ternyata urusan yang terkait masalah 
"administrasi" tidak sepenuhnya ditaati oleh seluruh kontingen. Masalah-masalah 
seperti kelebihan umur dan anak yang tidak berdomisili di BDB-2 untuk cabang 
futsal ternyata ada. Juga, pemain yang bermain ganda di cabang tenis meja juga 
tercium. Termasuk juga jumlah maksimal 3 orang remaja yang bermain di cabang 
sepak bola dan 5 orang remaja keseluruhan untuk satu tim di sana-sini masih 
terlihat dilanggar.

 

Masalah yang mungkin dianggap kecil bahkan bagi penonton awam bukan menjadi 
suatu masalah, akan sangat mengganggu bagi para ofisial dalam melakukan 
evaluasi dari kinerja timnya. Sikap tegas Panitia mungkin dibutuhkan tapi sikap 
yang kelewat tegas / kurang proporsional tentu saja akan sangat merugikan 
berjalannya hajatan ini. Panitia sebagai pemegang amanah tentu saja jangan 
bosan-bosannya untuk mengingatkan hal ini (taw shaubil haq). Namun demikian, 
rasa kebersamaan ini juga harus mengemuka dalam kaitan dengan 
ingat-mengingatkan kesabaran (taw shaubis shabr). Artinya, sikap santun dalam 
mengingatkan menjadi kunci agar event ini menjadi sukses. Lebih jauh, even-even 
sosial dan kemasyarakatan lainnya yang tidak kalah banyaknya yang mengantri di 
depan menghendaki perlakuan yang sama :  Fair Play!

 

Salam Porsenipar!

Jaerony Setyadhi, warga RW-14

Kirim email ke