Dear All Friends,

Ada yang nonton acaranya Mario Teguh di O Channel semalam?
Sangat enak dicerna karena "keluhan" yang disampaikan oleh audience baik via 
telepon maupun e-mail selalu dipositifi (diresponse dalam sudut pandang 
positif) di sepanjang acara. Ya, dia termasuk motivator yang lagi ngetrend 
sekarang ini. Tips berikut antara lain juga melihat segala hal dari sisi 
positifnya, yaitu :

1. Jangan merasa dibutuhkan (let go of demand).
2. Jangan larut dalam penyesalan (let go of regret).
3. Jangan cemas (let go of worry).
4. Jangan tamak (let go of greed).
5. Jangan membela secara serta-merta (let go defensiveness).
6. Jangan merasa bersalah berlebihan (let go of guilt).
7. Jangan mendendam (let go of spite).
8. Jangan dengki (let go of envy).
9. Jangan marah (let go of anger).
10. Jangan takut (let go of fear).

Jika Anda dalam posisi kebalikan dari kesepuluh hal di atas, Anda perlu cooling 
down. Mungkin lihat Pameran Flora dan Fauna di Senayan, mengunjungi Jakarta 
Fair di Kemayoran atau week-end dengan anak-anak di akhir minggu ini mungkin 
mereka masih libur.

Have a nice day!

Wassalam / Jaerony.-

************************************


Sepuluh Pengganjal Kebahagiaan Anda*


Tulisan ini disarikan dari "Ten Roadblocks to Happiness and How to Overcome 
Them". This is not a book to read. This is a philosophy to be lived. For if the 
principles are not applied, they will be powerless to help bring about change.

*LET GO OF DEMAND*

Apa sih, yang sebenarnya membuat Anda marah dan kecewa? Apakah seseorang yang 
memotong antrian di depan Anda? Pengemudi iseng yang memprovokasi Anda di 
jalanan? Komputer yang hanya untuk di-boot saja terasa begitu lama? Handphone 
yang harus berganti setiap bulan dua kali karena terus dicuri? Orang yang 
mengejek dan mempermainkan Anda? Hujan sepanjang hari? Tagihan bejibun yang 
membuat Anda marah sampai ke ubun-ubun?

Bukan, bukan itu semua. Apa yang membuat Anda marah dan kecewa adalah "tuntutan 
yang kekanak-kanakan" dan "ekspektasi yang tidak realistis".

Saat Anda masih bayi, apa yang perlu Anda lakukan untuk mendapatkan sesuatu, 
hanyalah berteriak menangis sekencang-kencangnya. Dengan modal itu, Anda 
mendapatkan popok yang baru, susu ibu atau susu sapi, atau barang sepuluh lima 
belas kerokan pisang ambon untuk dinikmati.

Itulah ciri Anda saat masih helpless dulu. Waktu itu, perilaku demanding Anda 
masih bisa diterima. Tapi kini Anda telah dewasa. Anda bertanggung jawab pada 
hidup Anda, dan Anda tidak bisa lagi berharap bahwa dunia akan melayani Anda 
sebagaimana yang Anda mau. Jika Anda tetap melakukannya sekarang, itu namanya 
self-induced misery, alias penderitaan yang Anda buat sendiri. Berhentilah.

Apa yang perlu Anda lakukan sebenarnya cukup mudah. Anda hanya perlu mengganti 
demand dan ekspektasi, dengan preferensi.

*"Aku sih nggak nuntut suamiku bangun lebih pagi, tapi aku lebih prefer kalo 
dia memang bisa melakukannya." *

Anda akan lebih mengerti, dan Anda akan menjadi orang yang penuh pengertian.

*Buanglah Pola Pikir yang Tidak Rasional*

*"Saya tidak akan pernah berbahagia kecuali dunia melayani Saya seperti yang 
Saya mau." *

Itu tidak rasional. Apa yang bisa Anda kontrol hanyalah diri Anda sendiri.

*Bersikaplah Mau Berbahagia*

Disadari atau tidak, Anda mungkin tidak ingin berbahagia. Anda bisa melepaskan 
apapun dari diri Anda; uang, harta, waktu, energi, dan bahkan cinta, kecuali 
satu; penderitaan Anda.

Bahagia haruslah dimulai dari kemauan Anda sendiri. Anda mau bahagia atau 
tidak? Secara sadar Anda jelas mau berbahagia. Tapi cobalah selami kembali alam 
bawah sadar Anda. Bisa jadi, Anda sendiri yang tidak mau berbahagia.

Saat Anda merasa marah, itu penderitaan yang tidak membahagiakan. Lepaskanlah 
penderitaan Anda, bukan lampiaskan. Bertanyalah pada diri sendiri, "Bener nih, 
mau nuker happy sama kemarahan ini?" Perpanjanglah sumbu Anda supaya Anda bisa 
membuang penderitaan.

*Berhentilah Mengasihani Diri Sendiri*

Anda tidak akan menjadi pahlawan hanya dengan menderita. Adalah lebih heroik 
jika Anda tetap riang gembira di tengah penderitaan.

*Berhentilah Membesar-besarkan *

Tak perlu mem-blow-up permasalahan sampai keluar dari proporsinya. Itu akan 
melumpuhkan Anda. Belajarlah obyektif dan jadikanlah itu sebagai motivasi untuk 
mengambil tindakan.

*LET GO OF REGRET *

Anda pasti pernah menyesali sesuatu tentu saja. Wong kita ini manusia kok. Itu, 
sebenarnya versi lain dari kata-kata: "Kita tidak sempurna".

Tak perlu panik atau terobsesi oleh penyesalan. Jadikanlah ia kekuatan positif. 
Anggaplah itu sebagai wakeup call, sebuah tepukan yang membangunkan Anda dari 
tidur. Bukankah Anda macan?

Janganlah menunda tindakan dengan penyesalan. Bertindaklah segera dan Anda 
tidak akan menyesal lagi, sebab Anda telah melakukan sesuatu.

Tutuplah rapat-rapat lebarnya jarak antara Anda yang ideal dan Anda yang 
sekarang. Nikmatilah Anda yang sekarang dan lakukan apa yang terbaik menurut 
Anda. Sebab jika Anda punya waktu untuk menyesal, maka Anda pasti punya waktu 
untuk melakukan sesuatu tentang itu.

*LET GO OF GREED*

*"Saya telah punya semua yang saya mau, dan Saya telah menjadi apa yang Saya 
ingin, kecuali..."*

Ya. Itulah Anda barangkali. Tidak SEMUA yang Anda mau akan Anda dapatkan.

Pertama, resources Anda terbatas. Kedua, nafsu Anda adalah sesuatu yang tidak 
akan pernah terpuaskan. Ia seperti air laut. Makin Anda minum, makin kering 
rasanya tenggorokan. Desire Anda tidak salah, melewati batasnyalah yang salah.

Sadarilah bahwa penyebab kerakusan adalah kesenangan. Bisa memiliki memang 
menyenangkan. Tapi kesenangan itu sendiri bisa menjadi candu. Kita sering lupa, 
bahwa kesenangan tidak selalu sama dengan kebahagiaan. Saat Anda menemukan 
bahwa kesenangan ternyata tidak sama dengan kebahagiaan, muncullah ketakutan 
dan kekhawatiran. Takut dan khawatir itu, akan memicu desire Anda lebih besar 
lagi.

Maka, Anda akan menemukan lingkaran yang abadi di sini: Karena desire Anda 
tidak pernah punya ujung, maka fear Anda juga tak akan pernah punya muara. 
Berhentilah menjadi manusia yang terpenjara!

Iya. Tapi bagaimana?

Fokus dan terapkanlah prioritas. Mulailah dahulu dengan BEING. Soal HAVING, ya 
belakangan sajalah. Dan untuk BEING, Anda harus DOING. Just DO your best.

*LET GO OF WORRY*

Anda tahu kenapa lagu "Don't Worry - Be Happy" begitu ngetop? Karena itulah 
panggilan jiwa Anda.

Pahamilah perbedaan antara "menderita" dan "khawatir". Menderita adalah pesan 
tentang masalah, sementara khawatir adalah pesan tentang adanya peluang untuk 
tumbuh dan berkembang. Jadi waspadalah. Apakah Anda memang menderita, atau 
sebenarnya Anda hanya khawatir saja?

Jika Anda hanya khawatir, ketahuilah bahwa sumbernya adalah ketakutan. Anda 
takut terhadap sesuatu yang masih gelap, blank, dan tidak tahu apa-apa 
tentangnya. Atau, Anda takut menghadapi tantangan.

Ketahuilah bahwa setiap detik dan setiap saat, Anda adalah benih. Benih yang 
mestinya bisa tumbuh menjadi besar dan hebat. Worry can't change the past, but 
it can ruin the present. Berpengetahuanlah, dan bertindaklah menyambut 
tantangan. Seperti seekor macan.

*LET GO OF DEFENSIVENESS*

Salah itu normal, termasuk jika itu melukai orang lain. Bukan nyuruh nih, tapi 
kita semua memang pernah berbuat salah. Anda tahu kan kenapa pensil, 
whiteboard, dan papan tulis itu ada penghapusnya? Karena Anda adalah manusia.

Jika Anda salah apa yang Anda katakan?

*"Aduhhh.. maaf nih. Maaf, namanya juga manusia."*

Lantas, apa yang Anda katakan jika orang lain yang salah?

*"Dasar Bodoh!"
"Stupid!"
"Bloon."*

Saat Anda salah, Anda adalah manusia. Saat orang lain salah, mereka bukan 
manusia. Ini tidak rasional. Maka, maafkankanlah mereka.

*LET GO OF GUILT*

Guilt adalah rasa tidak nyaman saat Anda mengalami perlawanan menentang 
kesadaran Anda sendiri. Guilt itu sendiri tidak terlalu berbahaya. Apa yang 
lebih berbahaya adalah ketiadaan solusinya.

Feeling guilty itu bagus. Itu sinyal lampu merah yang memperingatkan Anda agar 
stay on course. Maka saat Anda feeling guilty, dengarkanlah isi hati Anda. 
Manakah yang Anda pilih, short-term pleasure atau long-term gain?

Rasa bersalah yang tidak menemukan solusi, akan membuat Anda mengalami ini:

1. Pikiran yang tidak damai.
2. Rasa tidak percaya dan takut pada orang lain, atau bahkan kepada Allah SWT.
3. Sesuai angka ini, Anda akan menderita tiga kali:

Pertama, saat Anda bertindak tidak bertanggung jawab. Kedua, saat Anda melihat 
orang lain bertindak dengan penuh tanggung jawab. Ketiga, saat Anda harus 
menanggung konsekuensinya.

Berikut inilah yang perlu Anda lakukan saat Anda merasa tidak bertanggung jawab.

Ingatlah bahwa responsibility, adalah singkatan dari "response-ability". 
Kemampuan untuk merespon dengan tepat. Bagaimana caranya agar bisa merespon 
dengan tepat? Anda bisa menggunakan rumus AAA.

1. Admit. Akui bahwa pilihan tindakan Anda adalah salah. 
2. Analyze. Analisis perilaku Anda. Apa alasan Anda memilih yang salah? Apa 
konsekuensinya? Bagaimana tidak mengulanginya? Bagaimana meluruskan pilihan 
yang sekarang?
3. Atonement, alias integritas. Integritas adalah menyatunya hati, jiwa, 
sasaran, tindakan, dan keimanan. Saat semuanya menyatu, Anda memasuki tahap 
atonement, alias at-one-ment.

Dengan AAA, Anda bisa memperbaiki keadaan.

*LET GO OF SPITE*

Anda, pasti pernah diprovokasi. Oleh pengemudi lain di jalanan, atau oleh orang 
lain yang mengejek dan melecehkan. Anda pasti pernah merasa diserang. Di 
kantor, di rumah, di lapangan sepak bola, di kantin, di mana saja.

Tidak ada perlunya Anda melayani yang begituan. Sebab, dunia Anda bisa rusak 
seharian. Mengalah sajalah, kecuali jika undang-undang dasar Anda yang 
terlanggar atau terinjak-injak.

Kita cenderung lupa bahwa kita lebih sering menggunakan hati untuk merasakan, 
ketimbang otak untuk berpikir. Ini sepertinya benar dan wajar. Tapi 
berhati-hatilah karena itu tidak logis dan tak rasional. Itu emosional.

Jika Anda merasa perlu melayani serangan, provokasi, dan ejekan orang lain, 
maka itu tentu ada sebabnya.

Pertama, rasa keadilan Anda yang terusik. Saat Anda merasa diserang, Anda 
merasa perlu membalasnya. Tapi, jika serangan itu dilakukan karena tidak 
sengaja, tidak dimaksudkan untuk menyerang, kesalahpahaman, atau hanya karena 
mereka bodoh saja, keadilan macam apa sih yang Anda inginkan?

Kedua, logika Anda yang terdistorsi. Anda berasumsi bahwa jika mereka mengalami 
sakit seperti yang Anda rasakan, maka mereka akan meminta maaf.

Tidak. Jikapun mereka akhirnya meminta maaf, itu bukan karena sakit yang Anda 
buat dengan serangan balasan, tapi karena pikiran dan hati mereka yang sudah 
lurus kembali. Saling menyakiti tidak akan menyelesaikan masalah. Ia bahkan 
memperuncingnya.

Ketiga, secara sadar atau tidak Anda mencoba menghindari tanggung jawab untuk 
membahagiakan diri sendiri. Sebab jika Anda memang mau bertanggungjawab untuk 
kebahagiaan Anda sendiri, Anda pasti tidak akan melarikan diri.

Jika begitu, bagaimana caranya memunculkan rasa tanggung jawab untuk 
kebahagiaan diri sendiri? Awareness-lah jawabannya.

Ketahuilah bahwa rasa sakit yang Anda derita adalah bukan karena serangan 
mereka, tapi karena reaksi Anda atas perilaku mereka. Mengapa mereka begitu 
jahat dan kejam kepada Anda? Karena mereka sedang sakit, dan mereka merasa 
terancam oleh Anda.

Responlah sikap buruk orang lain dengan kebaikan, maka Anda akan mulia dan 
terhormat. Cobalah selalu untuk bersikap rendah hati tapi bukan rendah diri.

Ketahuilah bahwa sabar itu tidak pasif. Ia tidak datang dengan sendirinya, dan 
ujug-ujug Anda menjadi sabar. Sabar itu kata kerja dan bukan kata sifat. Maka 
sabar, adalah disabar-sabarin.

*LET GO OF ENVY*

Anda juga mungkin pernah merasa kalah. Waspadalah. Salah-salah, kekalahan bisa 
membuat Anda menjadi orang yang envious, yaitu orang yang penuh dengki dan 
tidak bisa menerima kekalahan. Tidak senang jika orang lain senang, dan senang 
jika orang lain tidak senang.

Sikap envious, bisa berkembang dalam tiga tahap.

Pertama, saat Anda merasakan kekalahan. Di tingkat ini, perasaan kalah itu 
sebenarnya wajar. Apalagi jika Anda bisa memberi selamat kepada pemenang, dan 
kemudian menjadikan kekalahan sebagai pelajaran. Jika tidak bisa, maka di 
sinilah bibit envious Anda akan mulai tersemai.

Kedua, saat Anda mulai mengembangkan perilaku mensabotase orang lain. Mulainya 
dari yang kecil-kecil saja, seperti menciptakan isu dan gosip buruk, atau 
berharap dan "berdoa" untuk kemalangan dan kecelakaan bagi orang lain. Anda 
mungkin mengira ini tidak berbahaya.

Salah. Itu sangat berbahaya. Mengapa? Karena harapan buruk seperti itu adalah 
karatnya jiwa, persis seperti karatnya besi. Merusak, melubangi, merontokkan, 
dan menggerogoti semua amal baik. Lebih dari itu, dari mana sih datangnya semua 
tindak kejahatan? Ya dari doa, harapan, fitnah, dan pikiran negatif yang 
melenceng seperti itu!

Ketiga, seperti sudah disebut barusan, semuanya akan termanifestasi menjadi 
tindak kejahatan. Anda akan menjadi orang yang dengki, dengan sikap dan 
tindakan yang keji. Anda telah menghancurkan diri sendiri.

Jika Anda mulai mengalami gejala penyakit ini, resepnya sederhana. Bertemanlah 
dengan mereka yang menang. Kemudian, ubahlah cara berpikir Anda. Gantilah "Saya 
pengen kayak gitu," menjadi "Bagaimana supaya Saya bisa seperti itu."

*LET GO OF ANGER*

ANGER itu cuma satu huruf lebih pendek dari DANGER. Dan "D", adalah nilai 
minusnya.

Alasan yang bagus bagi Anda supaya tidak marah, adalah memahami bahwa kemarahan 
akan menyebarluaskan kelemahan. Saat Anda marah, Anda sebenarnya berkata, "Saya 
takut! Saya Terluka! Saya frustrasi!" Itu, adalah kata lain dari "Saya lemah."

Sadarilah bahwa orang, barang, atau situasi, akan cenderung membuat Anda selalu 
marah. Udah dari sononya begitu. Anda tidak bisa dengan mudah mengontrol 
sesuatu di luar diri Anda. Dan jika Anda marah, kemarahan Anda tidak akan 
membuat dunia berjalan sesuai kemauan Anda. Andalah yang harus menyesuaikan 
diri dengannya.

Sadarilah bahwa jika Anda menghadapi orang yang marah, they're not being mean; 
they're just being people. Like you. Dan seperti biasa, marah itu muncul 
disebabkan oleh fear. Rasa takut akan kehilangan kontrol.

Keinginan untuk mengontrol adalah benar. Tapi, ingin mengontrol orang lain itu 
salah. Yang benar, ingin memberi contoh teladan kepada orang lain. Mengontrol 
dengan kekuasaan? Salah juga. Apa yang perlu dikontrol hanyalah diri sendiri. 
Sekali lagi, maafkanlah mereka yang marah. Tidak ada yang salah saat seorang 
manusia bersikap dan bertindak sebagai manusia.

Anda sendiri, kurangilah marah Anda sebab Anda sendirilah yang akan merugi. 
Saat Anda marah, apa yang telah keluar sebenarnya tidak perlu keluar dan apa 
yang terlanjur sebenarnya tidak perlu terlanjur.

* LET GO OF FEAR*

Saat Anda menghadapi ketakutan, Anda berada di tengah-tengah persimpangan 
jalan. Satu cabang menuju kepada kepengecutan, dan satu lagi menuju kepada 
keberanian. Yang satu menuju harapan dan impian, yang satu lagi menuju 
kekecewaan dan kesedihan.

Anda tidak bisa mundur atau tetap diam, melainkan tetap maju dan memilih salah 
satu cabang. Dengan diam atau mundur, Anda tidak akan tumbuh dan berubah. 
Malah, Anda menuju ke kepunahan dan kematian.

Manage-lah fear Anda, sebab fear adalah *False Evidence Appearing Real*. Asli 
tapi sebenarnya palsu.

Jadi, tak usahlah Anda bersedih lagi. Bersenang-senang sajalah. Sibuklah. 
Lakukan yang terbaik. Tak perlu takut dan tak usah khawatir. Lakukanlah 
segalanya dengan semangat dan keberanian. Itu lebih baik buat Anda.

Bukannya tadi sudah Saya bilang, kalo Anda itu macan?

Saya Ingin Anda Sukses,
Saya Harus Membuat Anda Sukses.

Ikhwan Sopa
Trainer E.D.A.N.
021-70096855
ikhwan dot sopa at gmail dot com
http://milis-bicara.blogspot.com
*Silahkan link, copy, forward, print, bagi-bagi.*

Original Message :  OmPopa 

Kirim email ke