Bravo Pak Rozikin, ternyata dari Dkm tidak hanya pak Lana yang berani
berkomentar,,begitu donk pak kan jadi lebih enak dalam berdiskusi (diskusi yg
nggak jelas). Saya mau menanggapi tulisan bapak dan saya harap akan menjadi
rangsangan bagi yang lain untuk mengungkapkan mendapat/ saran/ yg
lainnya.(kalau ada..)
***
Saya asa tulisan Pak Roziqin penuh sentimen pribadi ketimbang memberikan
referensi dari semangat yang semula ditawarkan penulisnya, Saudara Roziqin
sendiri. Kalapun replay Pak Bintoro tak sedikitpun mempermasalahkan tulisannya
yang serba nanggung, tulisan berjudul sense of belonging itu sudah menutup
seluruh wacana yang diharapkan bisa mencerahkan kita semua dengan menjadi tidak
bermutu.(menurut analisa saya)
dan memang, sekalipun tanpa referensi adalah hak Pak Roziqin untuk
menuliskannya. Atau jangan-jangan malah mewakili komunitas kepengurusan DKM
Arroyyan. Jika memang demikian, kita sudahi saja wacana ini, dari pada menodai
persaudaraan dalam pencarian titik temu dari seluruh pemikiran warga. Menurut
saya;
beberapa pertanyaan yang menyangkut Arroyyan, yang belakangan muncul bukan
saja dari Pak Bintoro / dari saya ,sebenarnya harus dijawab dengan bijaksana
seperti yang disarankan Pak Edi. Saya merasakan kepengurusan DKM dan Arroyyan
sendiri sudah menjadi berhala baru buat sebagian kawan-kawan. Tak layak
disentuh karena "kesucian"nya, tak layak dikritisi karena kawan-kawan DKM sudah
berusaha sekuat tenaga berjuang mati-matian.
Saya sendiri menterjemahkan pertanyaan-pertanyaan itu, dan mundurnya
kawan-kawan dari kepanitiaan pembangunan Arroyyan bermuara pada; (kalau nggak
salah loh ..dan sst..pastinya dikira ada pesan2 sponsor nich.hmm.))
1. sistem pengambilan keputusan yang terkesan otoriter. pengurus DKM terkesan
seperti mengelola sebuah masjid hasil wakaf keluarganya sendiri ketimbang
bersikap sebagai pemegang amanah warga/jamaah.
2. struktur kepengurusan DKM masih mencantumkan para pengurus RW dan RT. ketika
dibongkar, setahu saya tak satupun dari mereka menyetujui.dan seharusnya/
baiknya dikaji ulang tata krama dan aturan main organisasi DKM.
3. Diluar persoalan teknis kerapuhan bangunan, seharusnya renovasi ini lebih
mengingat kesanggupan dan mempedulikan warga dan jamaah dengan tidak
meruntuhkan rasa memiliki semua warga dan jamaah. jangan hanya ada donatur
berlebih maka sekonyong-konyong bisa memaksakan kehendak.
3. kita tidak jujur, sebenarnya posisi RW dan DKM itu seperti apa. masuknya
orang luar dari RW 14 apa maksudnya, membuat kita semua terheran-heran. dewan
penasehat juga menjadi mandul atau dimandulkan.
Jika pandangan Sdr. Roziqin ini mewakili DKM, ada baiknya kita bikin lurus saja
wacana yang kini tengah kita gali menjadi seluruhnya membenarkan jalan yang
sekarang dipilih DKM. Dengan demikian, tak layak lagi pertanyaan diajukan
sehubungan dengan inisiatif yang memang sepenuhnya dapat diambil keputusannya
secara independen dan murni oleh DKM, tanpa berkonsultasi seperti yang
dicerminkan dalam email beberapa hari ini.
Dengan memberi jalan lempang dan leluasa demikian, tak perlu lagi ada gugatan
terhadap apa yang dinamakan rumah Tuhan, rumah umat. DKM lebih baik membuat
badan hukumnya sendiri, misalnya Yayasan diluar lembaga kemasyarakatan yang ada
dan bersifat independen. Sehingga tidak lagi dijahili pertanyaan-pertanyaan
akan sepak terjangnya dari warga/jamaah, kecuali dari pengurus Yayasan sendiri.
trus arti DKM sendiri apa ya..Dewan Komunikasi M...
Kita rubah saja diskusi kita dengan mencari mekanisme untuk perubahan status
Arroyyan itu, lebih cepat akan lebih baik. Sekalian saja kita wakafkan masjid
itu ke pengurus yang sekarang. Kasihan masjid kita Pak, kasihan pengurus
Arroyyan yang terus-terusan bersikap banci atau malah jadi bulan-bulanan
warga/jamaah. Seperti kata Pak Amir dalam rapat, gak akan ada yang menentang
kalau memang membangun rumah Tuhan, apapun jalannya. jalan yang gimana nich
pak?..hati2 lo pak yg dibangun ini rumah alloh .
Sudah ah,,saya akhiri tulisan saya ini dengan tidak meminta maaf atas tulisan
saya apabila terdapat/ ,menyebabkan orang2 tersinggung,,karena saya pikir
mungkin benar pikiran orang yg lebih tua dari saya,,yg menurut mereka ini Debat
Kusir,,.
salam debat kusir/
krisna h
depan rumah rw.14
----- Pesan Asli ----
Dari: M.K. Roziqin <[EMAIL PROTECTED]>
Kepada: [EMAIL PROTECTED]
Terkirim: Selasa, 3 Juli, 2007 4:34:16
Topik: Re: [rw14-471] Sense of Belonging
Terima kasih Pak Bin,
Pak Bin yang menginspirasi saya melakukan smash dan mengembalikan bola saat
bulu tangkis. Pak Bin pula yang men-drive saya menulis refleksi itu. Semoga
dalam pencarian ini, kita memperoleh yang terbaik, bermanfaat bagi lingkungan.
Amin,
Wassalam,
M.K.Roziqin
----- Original Message ----
From: bintoro wisnu prabowo <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]
Sent: Tuesday, July 3, 2007 3:00:27 PM
Subject: Re: [rw14-471] Sense of Belonging
Wah, menulis dengan hati, selamat Pak.
Dengan muatannya, saya hargai dan harus dihormati juga tulisan Pak Roziqin ini.
Sebagai hak jawab, atau apapun. Sekali lagi, selamat Pak. Bukan hanya di
bulutangkis, dalam menulispun Bapak ini belajar dengan sangat cepat. Suwun,
salam,
bintoro
----- Original Message ----
From: M.K. Roziqin <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]
Sent: Tuesday, July 3, 2007 12:25:54 PM
Subject: [rw14-471] Sense of Belonging
Sense of belonging
Sebenarnya tulisan ini lebih tepat sebagai reply atas postingan Pak Jojo
Wahyudi di milis ini sebelumnya dengan judul Nostalgia yang tercinta. Hanya di
sini judul tersebut saya ubah untuk menyesuaikan tema yang sedang ramai
dibicarakan. Saya pun putuskan untuk mengirim tulisan ini sebagai bagian dari
diskusi, dialog dan silaturahmi kita tentang Masa Depan Masjid.
Sekalipun ditulis dengan gaya tulisan yang sederhana, jurnalistik amatiran,
postingan Pak Jojo tersebut seolah menggugat nilai-nilai dasar yang selama ini
kita anut dan yakini. Sedikit dilakukan hiperbolis terhadap kisah tersebut,
seolah-olah bercerita tentang seorang anak yang sepanjang hidupnya tidak pernah
mau menyambangi Bapaknya. Sekali-kalinya ia datang, saat Bapaknya meninggal
dunia. Itu pun untuk menggugat warisan Bapaknya.
Sekalipun ditulis dengan gaya jurnalistik amatiran, cerita dalam postingan Pak
Jojo tersebut nampaknya disampaikan dengan tulus, penuh kejujuran, tidak
diskriminatif dan jauh dari kesan intimidatif. Ia ingin menggugat sense of
belonging sang anak atas Bapaknya.
Benar dan tak seorang pun meragukan, anak tersebut darah daging Bapaknya. Ia
terlahir dari cinta kasih atas Ibunya. Tentu saja sah , tak terbantahkan klaim
anak atas Bapaknya. Secara legal di akta kelahiran, secara informal dalam
struktur kemasyarakatan, anak tersebut anak sah yang terlahir dari semburan
semen Bapaknya.
Namun apakah layak sang anak menggugat warisan di saat Bapaknya belum sebulan
disemayamkan. Bukankah sepanjang hidupnya ia tidak pernah mengunjungi Bapaknya.
Ia bahkan tidak pernah galau apakah Bapaknya sehat atau sakit. Apakah Bapaknya
bisa makan hari ini atau tidak. Ia sibuk dengan kerjanya, anak dan istrinya,
komunitas mobil antiknya dan rambut gondrongnya itu. Ia memiliki peran lebih
besar di luar sana daripada hanya sekedar mengurusi Bapaknya, yang
sakit-sakitan.
Bukankah rumahnya tidak terlalu jauh dari rumah Bapaknya, masih satu kampung.
Mengapa tidak ia sempatkan mampir sebentar untuk menyapa dan menjenguk
kesehatan Bapaknya yang sudah renta itu. Alangkah senangnya orang tua itu,
seandainya ia mau menyambanginya di masa kritis dalam hidupnya. Pak Haji tua
itu tidak butuh dicium jidatnya. Ia tidak lagi perlu penghormatan atau
penghargaan. Apalagi sanjungan sebagai pahlawan. Cukuplah baginya anugrah Tuhan
yang masih memberinya waktu dan kesempatan untuk berbuat baik dan tidak
merugikan di sisa-sisa masa tuanya. Tangannya yang kasar namun kekar itu pun
tidak lagi layak dicium. Ia hanya ingin melihat dan mendekap kembali
anak-anaknya, dengan segenap hati dan jiwanya.
Ia tidak pula membutuhkan uang anaknya. Ia bisa mencari makan dan minum
sendiri. Setidaknya ia tidak pernah mengemis sampai akhir hayatnya. Ya,
kebahagian dalam hatinya tidak bisa dinilai dengan materi apalagi sanjungan dan
reputasi. Sekalipun terkadang terlihat kasar pada anak-anaknya, sedikit
terkesan kurang sayang, kurang perhatian, sering membentak-bentak di saat
fikirannya galau. Tapi di masa-masa tuanya itu, ia merindukan anak-anaknya. Ia
ingin mendekap anaknya yang adalah buah hati dan darah dagingnya. Anak
biologisnya itu, semakin menjauh darinya. Ia merindukan momen-momen ketika
anak-anak itu masih kecil dan belum terlalu sibuk. Ia masih sempat
bercengkerama, bersenda gurau dan sekali-kali makan bersama di warung sebelah.
Malang sekali Pak Haji tua itu, dia digugat anaknya sendiri justru karena niat
baiknya untuk masa depan cucu-cucunya. Dia mungkin salah berinisiatif dan
menggalang dana untuk mendirikan sebuah gubuk tua di tanah tak terurus itu.
Tanah itu memang warisan anaknya. Tapi berkali-kali Pak tua itu meyakinkan, ia
bebas dari segala kepentingan pribadi atas gubuk tua itu. Pagi-pagi ia tengok
gubuk tua itu sudah dipenuhi anak-anak TPA dan TK, bermain bersama sambil
menyanyi, menari dan menggambar. Tidak pernah terlintas di benak Pak Haji renta
itu untuk memiliki apalagi mensertifikatkan gubuk tua itu atas nama pribadinya.
Toh dia sudah merasa hidupnya tak akan lama lagi. Ia hanya ingin menjadi bagian
dari keceriaan anak-anak kecil itu, di sisa-sisa masanya, sekalipun bukan
cucunya.
Tak satu sen-pun uang dari kaleng2 kecil yang diedarkan di saat anak-anak itu
bermain dan membaca Al-quran masuk ke kantong-nya. Apalagi untuk memberi makan
keluarganya. Baginya cukuplah bagian Allah atas rizkinya. Uang jatah makan
istrinya pun tak terhitung yang masuk ke gubuk tua itu. Tapi ia memang tak mau
menghitung dan tak ingin membicarakannya.
Orang-orang kampung itu sangat gembira ketika di gubuk tua itu ditebarkan
santunan anak yatim, beasiswa dhuafa, zakat infak dan sedekah dari para
dermawan, potongan-potongan daging kurban. Mereka berharap gubuk tua itu
menampung lebih banyak anak-anak mereka yang tidak mampu bersekolah dengan
biaya jutaan rupiah. Ah, apalah artinya sejuta dua-juta untuk menyekolahkan
anak, bukankah itu untuk masa depan anak sendiri, sok eman, tidak rasional.
Kursus privat-pun aku berikan, Inggris, matematika, IPA, Fisika kimia, kalau
perlu kursus membuat pesawat pun aku biayai asal anakku menjadi orang pandai.
Persis, logika orang-orang berduit. Itulah kesalehan sosial bukan hanya ritual,
itulah Islam modern bukan jumud dan ortodoks, itulah inklusifitas bukan
eksklusifitas, itulah tauhid murni yang tidak ternodai, itulah perenungan para
sufi, itulah sejatining urip lan kasempurnaan. Ini akan memberi ruh bagi
perbaikan struktur masyarakat. Menghilangkan intriks2 dan politik kotor,
membersihkan hati dan membangun struktur masyarakat baru bebas dosa. Sholat
pun tidak berguna tanpa kesalehan sosial. Kesalehan sosial boleh muncul tanpa
sholat. Sholat di masjid, ah itu urusan kiai2 kolot.
Tidak demikian orang kampung itu, ia tidak butuh logika yang tinggi-tinggi, ia
malah tidak mengerti gaya bahasa indah, ia hanya perlu menyekolahkan anaknya di
sekolah yang murah. Kualitas? Ah, itu hanya untuk orang kaya.
Tapi bukankah ia harus transparan, accountable atas segala yang dilakukannya?
Keluar masuknya uang di sekeliling gubuk tua itu, setidak-tidaknya anaknya
harus yakin tidak digunakan untuk politik kotor? Pak Haji pun sekali lagi
menarik nafas dalam-dalam. Transparansi mana lagi yang boleh dituntut jika
pikiran penuh prasangka. Akuntabilitas manalagi yang bisa rasional ketika hati
dipenuhi kopi. Apalah artinya papan pengumuman jika tidak pernah ditengok.
Apalah artinya edaran jika dibiarkan terguyur air hujan. Pak haji tua itu
terlalu lelah, sering kali menyiapkan edaran sampai larut malam, dibantu teman
akrabnya si Larto yang kemarin sempat menjadi bulan-bulanan karena berani
mengatakan apa-adanya atas pengalamannya betapa sulitnya betapa capeknya.
Hasilnya, tidak responsible, merusak struktur sosial masyarakat.
Malang sekali Pak Haji tua itu, ia dipersalahkan karena membongkar rumah
warisan keluarga. Ah, rumah itu memang unik, interiornya menonjol, dinding
diplester rapi dengan segala pernak-perniknya. Sepertinya logika Pak Haji itu
terlalu berlebihan, rumah itu dirobohkan agar dibangun yang lebih baik, lebih
kuat, bisa menampung lebih banyak anggota keluarga terutama di hari-hari libur
atau hari raya. Rumah tua itu pun dulunya dibangun untuk sementara, tidak
pernah terpikir akan lama, tidak ada slup dan pondasi di bawahnya hanya
tumpukan bata-bata, dipoles, dipoles dan diberi warna-warna. Logika orang tua
pikun. Pastilah itu hanya imajinasi Pak Haji tua itu agar mendapat sanjungan
sebagai pahlawan dari anak-anaknya.
Pak tua itu serba salah, ia tidak ingin rumah tua itu, yang tiap hari
diciumnya, atapnya telah turun beberapa senti, diikat besi di sana-sini
tiba-tiba roboh. Imajinasi orang tua pikun. Tidak akan ada angin puting beliung
menerpa masjid. Apalagi yang tiap hari ditafakuri, ditadabburi oleh Pak Haji
tua. Ah, Tuhan telah memberikan wahyunya, pada anaknya di saat minum kopi di
rumah tetangga.
Dari mana uangnya untuk membangun mimpi Pak haji tua itu, si renta yang tidak
berdaya, imajinasinya dari para dukun, pastilah dari anak-anaknya. Alangkah
berat hidup dan masa depan anak-anak Pak haji tua itu, harus menanggung mimpi
Bapaknya. Hari itu, Pak haji tua menarik nafas dalam-dalam tanda ia sedang
mengalami goncangan dalam sisa hidupnya. Baginya tuhan yang maha perkasa itu
selalu dibayangkan oleh anaknya. Dalam tafakkurnya ia ingat selalu anaknya
telah mencapai tauhid yang tinggi. Telah bertemu dengan guru-guru sufi.
Berdebat dan berdiskusi dari Langitan sampai di negeri Iran yang sedang
membangun reaktor nuklir. Anak itu pastilah telah menemukan tuhannya. Tapi
mengapa demikian khawatir di saat Tuhan punya segalanya. Mengapa demikian
berprasangka di saat hatinya bersih. Mengapa logikanya disandarkan atas asumsi
ketika rasionalitas menjadi bagian dari kepercayaannya. Dimana keadilan ketika
asas proporsionalitas dalam kata dan perbuatan dilanggar dan dicampakkan.
Intrik2 kotor mana lagi yang boleh distempelkan dijidat Bapaknya. Pak haji tua
itu sedang berbaring lemah, tanda ia tak berdaya melawan atau tidak mau lagi
berkata kasar pada anak-anaknya di sisa hidupnya. Tapi ia tetap berhak menuntut
keadilan, setidak-tidaknya kepada Tuhannya.
Pak haji itu tetap tidak pernah fokus dalam kerjanya. Ia bekerja serampangan,
tidak mengerti manajemen, amburadul. Tidak mengerti prioritas.
Pak haji itu memegangi perutnya, ia tidak ingin berdebat tentang benar dan
salah. Ia ingin bekerja sedikit-sedikit, mumpung masih ada waktu untuk menambal
kekurangan di sisa-sisa hidupnya. Sudah lama ia sakit, kakinya membengkak dan
dadanya nyut-nyutan. Yang terngiang di kepalanya hanya satu, tentang anaknya.
Ia ingin melihat anak itu, ia ingin menyapanya, mengelus kepalanya dan mendekap
dengan seluruh jiwanya. Tidak cukupkah berita tentang sakitnya itu. Semua orang
mendengarnya, tapi mengapa anaknya tidak segera menyambanginya. Ah, seandainya
masih ada waktu untuknya, ia ingin mendatangi anaknya itu sekali lagi seperti
biasanya. Namun ia sudah terlalu lemah, bahkan untuk sekedar mengeluarkan
sepatah dua patah kata. Ia hanya mampu berdiam dengan hatinya mengharap suatu
saat anaknya melihatnya secara tidak sengaja dan mau melambaikan tangan
untuknya. Ah, lambaian tangan itu pun seperti sudah di pintu surga.
Ia bahkan tidak berani berharap anaknya itu akan melantunkan salam untuknya
atau menyapanya. Harapan Pak Haji tua itu sederhana, ia hanya ingin anaknya
mengangkat tangan kanannya tanda ia melihat Bapaknya yang sedang meregang
nyawa. Cukuplah hatinya, puaslah sanubarinya dan mungkin rasa sakitnya akan
banyak berkurang sebelum ajal menjemputnya. Menginjak pintu surga pun, Pak haji
sudah tersenyum bahagia, padahal itu pun didapatinya setelah ribuan tahun
mendekam di neraka. Tuhan ampunilah Pak haji dan Aku, semoga masih ada
ketulusan sekalipun tinggal secuil.
Wassalam,
M.K.Roziqin
DN-11A
Boardwalk for $500? In 2007? Ha!
Play Monopoly Here and Now (it's updated for today's economy) at Yahoo! Games.
TV dinner still cooling?
Check out "Tonight's Picks" on Yahoo! TV.
Looking for earth-friendly autos?
Browse Top Cars by "Green Rating" at Yahoo! Autos' Green Center.
________________________________________________________
Lelah menerima spam? Surat Yahoo! mempunyai perlindungan terbaik terhadap spam.
http://id.mail.yahoo.com/