Pengantar :

Pepatah mengatakan, "Tidak ada pesta yang tidak berakhir", demikian juga 
perhelatan Porsenipar IV BDB-2 yang telah berlangsung sekitar 4 bulan harus 
mengakhiri kegiatannya pada malam Minggu besok (25/8). Prestasi dan kemenangan 
hendaknya menjadi bahan perbaikan dan peningkatan baik buat bekal di ajang yang 
sama nanti maupun di arena / tempat lain. Satu prestasi bersama yang telah 
sama-sama kita catat adalah adanya kebersamaan yang telah nyata-nyata kita 
tunjukkan pada warga se-kompleks Bojong Depok Baru 2 ini dan itu bukan karena 
siapa-siapa tapi adalah buah dari pemahaman bersama tentang pentingnya arti 
silaturahmi di antara kita semua, warga se-BDB2.

Tentunya "akhir" dari pesta yang telah kita lalui tidak lantas mengubur kita 
dalam urusan dan ego masing-masing. Masih terlalu banyak PR lingkungan yang 
harus dilakukan dan ditunaikan oleh segenap warga kompleks semisal masalah 
keamanan, penghijauan dan kebersihan, kerja sama pengurusan kematian, 
silaturahmi Muhajirin - Anshar, dan sebagainya. Pembicaraan-pembicaraan yang 
pernah dijajagi oleh Para Pengurus RW se-BDB2 pada awal-awal pelaksanaan 
Porsenipar beberapa saat yang lalu tentunya masih hangat untuk ditindaklanjuti 
termasuk agenda rutin pertemuan yang semestinya bisa digagas. Hasil rembugan 
yang antara lain akan menjadikan milis "Porsenipar" ini ditingkatkan menjadi 
milis warga se-BDB2 tentunya sangat menggembirakan dan harus didukung bersama.

Di antara PR-PR itu dan sejalan dengan adanya isu Pemanasan Global maka masalah 
penghijauan dan kebersihan selayaknya menjadi program urgen selanjutnya bagi 
seluruh warga kompleks. Kepedulian yang tidak memakan ongkos mahal jika segenap 
warga sungguh-sungguh menyadari ini sangat mungkin bisa dilaksanakan dengan 
langkah awal menanami sejengkal lahan kosong di sekitar rumah kita dengan 
tanaman bermanfaat atau bertanam dalam pot.

Berikut materi Pengetahuan Pembuatan Kompos yang didapat dari mengikuti sekilas 
Loka Latih Pengomposan di Ancol Barat tempo hari. Pemahaman tentang proses 
pengomposan ini diharapkan bisa menjadi pengetahuan sebelum tahapan akhir dari 
program penghijauan lingkungan dan kebersihan bisa dilalui. Semoga bermanfaat.

Wassalam / Jaerony.-

***************************************



ILMU DASAR DAN PERENCANAAN PENGOMPOSAN

 

 



DAFTAR ISI

I.        DEFINISI PENGOMPOSAN DAN KOMPOS

II.     PROSES DASAR PENGOMPOSAN

III.   FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGOMPOSAN

A.      Kelembapan (Kadar Air)

B.      Aerasi (Konsentrasi Oksigen)

C.      Temperatur

D.      Ketersediaan Nutrisi (Keseimbangan Rasio C dan N)

E.       Derajat Keasaman (pH)

F.       Ketersediaan Mikroba 

G.      Ukuran Partikel

H.      Ukuran Tumpukan (Pile)

I.        Homogenitas Campuran

IV.    JENIS TEKNOLOGI PENGOMPOSAN

V.      KRITERIA PEMILIHAN LOKASI

VI.    PERENCANAAN PLANT PENGOMPOSAN

A.      Kebutuhan Lahan

B.      Kebutuhan Ruangan

C.      Kriteria Ruangan dan Fasilitasnya

D.      Tata Letak Plant Pengomposan

E.       Perhitungan Kapasitas Pengolahan dan Pengomposan

F.       Penentuan Jumlah Produksi Kompos dan Kebutuhan Gudang

G.      Peralatan Pengomposan

 



 

 

I.       DEFINISI PENGOMPOSAN DAN KOMPOS

 

 

Dalam pengertian modern pengomposan didefinisikan sebagai proses penguraian 
materi organik secara biologis menjadi material seperti humus dalam kondisi 
aerobik yang terkendali.

 

Jadi, proses pengomposan adalah proses penguraian materi organik (seperti 
sampah daun-daunan, rumput, sisa makanan, kotoran ternak, serbuk gergaji dsb.) 
oleh mikroorganisma (bakteri, fungi, aktinomicetes dbs.) yang bekerja dalam 
suasana kebutuhan oksegennya terpenuhi menjadi material yang lebih sederhana, 
sifatnya relatif stabil (seperti humus) atau disebut sebagai kompos.

 

Pengertian proses pengomposan tersebut telah digunakan secara internasional dan 
menjadi standar di berbagai negara. Teknologi yang tidak sesuai dengan 
pengertian tersebut tidak dikategorikan sebagai pengomposan.

 

 

II.    PROSES DASAR PENGOMPOSAN

 

Dalam proses pengomposan, sampah organik secara alami akan diuraikan oleh 
berbagai jenis mikroba atau jasad renik seperti bakteri, jamur, aktinomicetes, 
dsb. Proses peruraian ini memerlukan kondisi yang optimal seperti ketersediaan 
nutrisi yang memadai, udara yang cukup, kelembapan yang tepat, dsb. Makin 
sesuai kondisi lingkungannya, makin cepat prosesnya dan makin tinggi pula mutu 
komposnya.

 

Dalam pengomposan, mula-mula sejumlah mikroba aerobik - yaitu mikroba yang 
tidak bisa hidup bila tidak ada udara - akan menguraikan senyawa kimia rantai 
panjang yang dikandung sampah seperti selulosa, karbohidrat, lemak, protein, 
dsb. menjadi senyawa yang lebih sederhana, gas karbondioksida dan air.

 

Penguraian terjadi di selaput air yang terdapat di permukaan bahan yang 
dikomposkan. Dalam medium air tersebut, mikroorganisma mengeluarkan enzim ke 
habitat tersebut yang kemudian membantu reaksi senyawa-senyawa kimia yang 
terdapat di permukaan bahan.

 

Senyawa-senyawa sederhana hasil penguraian tersebut merupakan nutrisi yang 
dapat diserap oleh mikroorganisma untuk keperluan hidupnya. Mikroba yang 
berperan dalam penguraian tersebut adalah mikroorganisma mesofilik (hidup pada 
suhu di bawah 45 oC).

 

Dengan ketersediaan nutrisi yang melimpah, mikroba tumbuh dan berkembang biak 
secara cepat sehingga jumlahnya berlipat ganda. Akibatnya, reaksi penguraian 
juga berjalan cepat.

 

Reaksi antara senyawa kimia dengan oksigen dalam medium selaput air dengan 
difasilitasi oleh enzim yang dikeluarkan oleh mikroorganisma selain 
menghasilkan karbondioksida dan air juga menghasilkan energi panas. Akibatnya, 
tumpukan secara cepat menjadi panas di atas 55 oC atau hingga mencapai 70 oC.

 

Dengan kondisi panas tersebut, habitat bahan tidak sesuai lagi untuk 
mikroorganisma mesofilik. Mikroorganisma mesofilik sebagian mati, sebagian 
lainnya masih dapat bertahan hidup di bagian tepian tumpukan. Dominasi 
kehidupan mikroorganisma mesofilik akhirnya digantikan oleh mikroorganisma 
termofilik (mikroorganisma yang hidupnya di atas 45 oC). Dominasi mesofilik 
berlangsung 2-3 hari, digantikan oleh termofilik yang berlangsung lebih dari 14 
hari.

 

Pencapaian suhu yang tinggi dalam proses pengomposan sangat penting untuk 
menjamin produk kompos yang dihasilkannya agar bebas dari bibit gulma (yang 
terbawa dari potongan rumput) dan bakteri patogen (seperti e.coli dan 
salmonella).

 

Untuk menjaga kelangsungan hidup mikroba yang berperan dalam proses 
pengomposan, dalam waktu-waktu tertentu, sampah diaduk agar udara dapat masuk 
ke dalamnya. Sampah juga harus disiram jika kelembapannya kurang. Penyiraman 
tidak boleh berlebihan karena akan menutup pori-pori sampah sehingga udara 
tidak bisa masuk.

 

Pada fase selanjutnya, senyawa-senyawa kimia sampah tahap demi tahap diuraikan 
menjadi berbagai macam senyawa yang lebih sederhana lagi, sampai akhirnya 
senyawa kimia yang menjadi makanan mikroba berangsur-angsur menjadi terbatas.

 

Sejalan dengan menipisnya ketersediaan makanan, pertumbuhan dan 
perkembanganbiakan mikroba menurun. Oleh karena itu, pada fase tersebut suhu 
akan turun perlahan-lahan menjadi sekitar 40 oC. Pada fase ini, koalisi mikroba 
yang hidup di dalamnya dominasinya kembali digantikan oleh kelompok mikroba 
mesofilik.

 

Pada minggu kelima dan keenam suhu menurun menuju suhu udara yaitu 30-32 oC. 
Pada saat itulah hasil peruraian sampah akhirnya menjadi materi yang relatif 
stabil yang disebut sebagai kompos.

 



III. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGOMPOSAN



(bersambung ...)






Kirim email ke