Seri yang lalu :

ILMU DASAR DAN PERENCANAAN PENGOMPOSAN
 I. Definisi Pengomposan dan Kompos
II. Proses Dasar Pengomposan

Wass / Jaerony.-

*************************************************


III.       FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGOMPOSAN

 

Pengomposan merupakan proses biologis yang kecepatan prosesnya dipengaruhi oleh 
faktor-faktor lingkungan yang mendukungnya. Jika kondisi lingkungan semakin 
mendekati kondisi optimum yang dibutuhkan oleh mikroba maka aktivitas mikroba 
semakin tinggi sehingga proses pengomposan berjalan semakin cepat. 
Faktor-faktor tersebut antara lain adalah :

 

A.      Kelembapan (Kadar Air)

 

Material yang dikomposkan harus mengandung air yang cukup untuk mendukung 
kehidupan mikroorganisma yang hidup di dalamnya.

 

·          Apabila kandungan air terlalu rendah (kurang dari 40 persen), 
kehidupan mikroorganisma menjadi terganggu karena mikroorganisma sangat 
membutuhkan air sebagai habitatnya. Jika kandungan airnya kecil maka ruang 
hidupnya akan terbatasi sehingga tidak mampu memperbanyak diri dengan baik. 
Jika terjadi hal itu maka pengomposan akan sangat lambat.

 

·          Sementara itu, pada bahan yang kandungan airnya terlalu tinggi 
(lebih dari 60 persen), kehidupan mikroorganisma yang berperan dalam proses 
pengomposan digantikan oleh mikroorganisma anaerobik karena kurangnya 
ketersediaan oksigen. Oksigen menjadi berkurang karena ruang antar partikel 
yang biasanya diisi udara, diisi oleh air. Dalam kondisi demikian, proses 
pengomposan berubah menjadi proses pembusukan yang menghasilkan bau tidak sedap.

 

·          Kondisi optimal kadar air tumpukan limbah padat dalam proses 
pengomposan adalah 40-60 persen, dengan tingkat yang terbaik 50 persen.

 

B.      Aerasi (Konsentrasi Oksigen)

 

Mikroba yang berperan dalam proses pengomposan adalah bersifat aerob sehingga 
memerlukan udara dalam kehidupannya. Mereka memerlukan udara segar (oksigen) 
untuk tumbuh dan berkembang biak.

 

Kebutuhan oksigen akan tercukupi jika aerasinya baik, yaitu apabila :

 

·          Bahan yang dikomposkan cukup porous (ukurannya tidak terlalu lembut 
sehingga udara mudah masuk).

·          Kadar airnya tidak terlalu tinggi (lebih dari 60 persen).

·          Ukuran tumpukan tidak terlalu besar (ukuran lebar tidak lebih dari 3 
meter, tinggi tidak lebih dari 2 meter).

·          Dibalik atau diaduk secara reguler (minimal seminggu sekali).

·          Dilakukan penginjeksian udara.

 

Menurut hasil riset, oksigen yang diperlukan dalam proses pengomposan adalah 
sekitar 50 persen dari konsentrasi oksigen di udara. Dengan demikian, dalam 
proses pengomposan alami, bahan yang dikomposkan harus cukup porous yaitu 
dengan ruang antar partikel (ruang yang dapat diisi udara) sekitar 50 persen 
juga.

 

C.      Temperatur

 

Apabila proses pengomposan berjalan dengan baik, akan timbul panas dengan 
sendirinya (self-heating). Panas tersebut timbul akibat reaksi eksotermik 
biokimiawi antara senyawa kimia yang dihasilkan oleh mikroorganisma dengan 
senyawa limbah. Panas tersebut dapat mencapai temperatur di atas 60 oC selama 2 
minggu pertama proses pengomposan.

 

Meningkatnya temperatur tersebut adalah terjadi dengan sendirinya. Di dalam 
limbah, dengan adanya perubahan temperatur tersebut, mikroorganisma yang 
dominan hidup di dalamnya adalah mikroorganisma termofilik (yaitu 
mikroorganisma yang hidup pada suhu di atas 45 oC). Sedangkan mikroorganisma 
yang hidup di bawah suhu tersebut (mikroorganisma mesofilik) sebagian mati, 
sebagian lagi hidup di area-area yang temperaturnya relatif rendah yaitu di 
sekitar tepian tumpukan.

 

Pada minggu-minggu selanjutnya, temperatur secara perlahan-lahan menurun menuju 
temperatur ruangan. Dalam kondisi ini, dominasi kehidupan mikroorganisma 
termofilik digantikan lagi oleh mesofilik.

D. Ketersediaan Nutrisi (Keseimbangan Rasio C dan N)

(Bersambung ...)

Kirim email ke