Mungkin ada anggota milis yang lebih dekat dengan nara sumber soal kasus
di bawah ini?
Wass / Jaerony.-
****************************************
__,_._,___ www.poskota.co.id
Dituduh Rampas Motor Cewek Ditembak Intel
Kamis 30 Agustus 2007, Jam: 11:18:00
BOGOR (Pos Kota) - Kasus pembunuhan Niasari, 15, berhasil diungkap. Cewek
ABG lulusan SMP Nusantara, Bojong Gede ini tewas ditembak tersangka Brigadir
Kepala Suwandi, anggota Intelkam Polres Bogor. Kapolres Bogor AKBP Arief
Ontowiryo mengatakan, korban berniat merampas motor. Sedangkan keluarga
membantah bahwa Niasari tidak bisa naik motor.
Diketahuinya Niasari tewas ditembak, setelah tetangga korban anggota
Intel Polda Metro Jaya melapor ke Polres Bogor bahwa penyebab kematian cewek
cantik berkulit putih itu bukan akibat bacokan senjata tajam, seperti
dilaporkan sebelumnya. Niasari menemui ajal karena menderita luka tembak di
kepala.
Diberitakan, Niasari, ditemukan menjadi mayat di kebung singkong
Kelurahan Tengah, Cibinong, Bogor. Sebelum maut menjemput, Niasari pamit hendak
makan malam bersama Dede, pacarnya. Saat itu, petugas menyimpulkan bahwa korban
mengalami luka bacok di kepala. Disimpulkan juga, Niasari dibunuh karena
melawan ketika mau diperkosa pelaku. (Pos Kota, 29/8)
Adanya informasi dari anggota Polda Metro Jaya itu mendorong petugas
Polres Bogor melakukan penyelidikan ulang. Dari keterangan beberapa saksi,
didapat keterangan bahwa Niasari benar ditembak. Selasa malam, Suwandi, anggota
Intelkam Polres Bogor diamankan. Pria beristri dan dikaruniai dua orang anak
ini dinyatakan sebagai pelaku pembunuh cewek ABG tersebut.
Terungkapnya kasus pembunuhan cewek, warga Citayem RT 01/02 Desa
Ragajaya, Kec. Bojonggede, Kabupaten Bogor ini tentu saja menggegerkan keluarga
dan tetangga korban. Apalagi pelakunya seorang anggota Polres Bogor. Ditambah
pernyataan kapolres kalau Niasari ditembak karena mau merampas motor yang
dikendarai Suwandi.
" Anak saya itu rajin sholat. Saya tidak terima adanya pernyataan dari
kapolres bahwa Niasari mau merampas motor. Mana mungkin Niasari mau merampas,
naik motor saja dia tidak bisa. Saya mohon kasus pembunuhan ini diusut sampai
tuntas , " kata Ny. Sani, 53, ibu kandung korban, dengan nada berang, Rabu
(29/8) siang .
KAPOLRES MEMBANTAH
Kepada wartawan, Kapolres Bogor, AKBP Arief Ontowiryo mengatakan,
perbuatan anggotanya hanya untuk mempertahankan motor miliknya, yang hendak
dirampas korban. "Anggota saya hanya refleks kemudian menembak, saat tahu
motornya mau dirampas," katanya, Selasa (28/8) malam.
"Tanpa sadar, dia tarik pelatuk pistol dan mengenai kepala korban," kata
Arief, sekaligus membantah pernyataan sebelumnya bahwa Niasari meninggal karena
bacokan senjata tajan di kepalanya.
Kapolres juga membantah korban telah diperkosa. Dari hasil visum
menunjukkan Niasari masih perawan. Namun, keluarga tetap curiga Niasari melawan
ketika mau diperkosa.
Informasi yang dihimpun, semula petugas Polsek Cibinong dan Polres Bogor
ingin menutupi penyebab kematian Niasari. Polres Bogor baru memberikan
keterangan resmi Selasa (29/8) malam bahwa korban meninggal akibat terkena
peluru tajam, setelah pukul 19:00, anggota Intel Polda Metro Jaya menjelaskan
Niasari meninggal akibat ditembak.
" Ketika dibawa ke rumah sakit, peluru masih bersarang di kepala korban.
Ia ditembak dari belakang," kata Didi, dokter Forensik RS PMI Bogor .
Mamad, pedagang rokok yang berada di depan kantor desa kemudian dimintai
jadi saksi, menjelaskan, sebelum mendengar letusan yang menyerupai senjata api,
ia melihat seorang gadis bersama lelaki memasuki halaman kantor desa.
" Mereka tidak lama berdiri di depan kantor desa, karena si cewek terus
meronta. Saat berjalan kebelakang bangunan, tak lama ada suara letusan, ' kata
Mamad.
DIKIRA PENGOJEK
Petunjuk lain yang membuka tabir kematian 'bunga desa' ini, setelah HP
korban ditemukan. Dalam pesan singkat di HP, ada nama Dede, kekasihnya.
Sorenya, Dede langsung dijemput dan diperiksa petugas.
Dari keterangan Dede didapat informasi, Senin (27/8) malam, motor yang
ditumpangi dirinya dan kekasihnya itu, kehabisan bensin di depan Polres Bogor.
Sebelum berangkat ke pom bensin untuk mengisi bahan bakar, satu motor melintas.
Dede yang mengira ojek, langsung memberhentikan motor, yang akhirnya
diketahui seorang anggota intel sekaligus pelaku eksekusi korban. Saat itu,
Niasari minta diantar pulang kepada pria yang dikira pengojek, karena hari
sudah larut malam. Sedangkan Dede pergi mengisi bensin dan ia berjanji
menyusul.
Pelaku menuturkan, untuk menghemat waktu, ia terpaksa mengambil jalan
pintas lewat semak belakang kantor desa. Di jalan setapak, beberapa meter dari
pom bensin, pelaku menghentikan laju motor karena menerima telepon dari
rekannya Brigadir Endang Supriatna yang menanyakan operasi lapangan.
"Mungkin korban takut dan curiga mau diperkosa, langsung ambil alih stir
motor dan berupaya kabur. Karena panik, tanpa tembakan peringatan, anggota saya
langsung menembak, yang semula diarahkan ke kaki," papar Arief.
TAK BISA NAIK MOTOR
Nyonya Sani, ibu korban saat ditemui Pos Kota, membenarkan, jika pukul
20.00 WIB, anak bungsunya didatangi Dede, kekasihnya, yang mengajak makan
diluar.
Setelah berbincang sebentar, mereka pamit berangkat berboncengan motor.
Usai menyantap makanan di luar, kedua sejoli ini pulang kerumah pukul 22.00
WIB. Namun pukul 23.00 WIB, mereka berangkat lagi, hingga didapat kabar pada
Selasa (28/8) siangnya, Niasari sudah meninggal.
Niasari anak bungsu dari tiga bersaudara yang kesehariannya selalu
berperilaku baik. "Almarhumah itu anak yang baik. Kok teganya kapolres menuduh
Niasari mau merampas motor, " kata Ny Sani.
Agus Setiawan 54, kakak ibu korban mengaku heran, kenapa keponakannya
mati oleh peluru milik polisi yang seharusnya melindungi dan menganyomi
warganya. Ungkapan penyesalan ini walau secara iklas menerima kematian, namun
secara hukum, ia bersama keluarga minta, agar kasus ini diusut tuntas dan
pelaku dihukum berat.
"Pantas semalam saya ditelepon seorang pria yang bersedia membantu biaya
kematian. Penelepon yang tidak memberi identitas diri, hanya bilang, akan ada
utusan yang mengantar uang duka," ungkap Agus.
"Rasanya tidak mungkin, seorang Niasari yang lemah lembut mau rampas
motor yang stangnya dipegang anggota polisi. Alasan macam apa ini, korban tidak
bisa naik motor," tegas Agus dengan nada kesal.
Kecemasan dan kemarahan juga nampak pada Mahmudin 23, kakak korban. Udin
menuturkan, dirinya mulai cemas, karena adiknya belum pulang hingga menjelang
subuh. Niasari dimakamkan di TPU Kramat Tanjakan. Bojonggede.
(yopi)
Dukung Perintah Kapolda
Jumat 31 Agustus 2007, Jam: 11:52:00
Sepasang remaja naik motor berpacaran di kota Bogor. Dalam
perjalanan pulang, menjelang tengah malam motor mogok karena kehabisan bensin,
tak jauh dari kantor Polres Bogor. Remaja pria itu akhirnya menitipkan motor di
kantor polisi dengan ditunggui pacarnya. Motor dalam keadaan terkunci dan
kuncinya dibawa oleh si remaja pria.
Dari kantor polisi, si remaja pria diantar seorang anggota intel
pergi mencari bensin dengan berboncengan motor. Tetapi rupanya, ia hanya
diantar sampai ke pangkalan ojek terdekat dan disuruh mencari bensin sendiri.
Si polisi (kita sebut saja oknum) lalu kembali ke kantor untuk menemui si
remaja putri.
Si remaja putri lalu diajak oknum untuk mencari pacarnya yang
tengah pergi membeli bensin. Merasa aman dengan ajakan seorang polisi, si
remaja putri itu lalu membonceng. Anehnya, motor yang dikendarai oknum tadi
sampai di Kantor Desa Tengah yang jauh dari lokasi pompa bensin.
Tak jauh dari tempat inilah, tragedi itu terjadi. Remaja putri yang
baru setahun lulus SMP tersebut tewas ditembak oleh oknum. Sampai di sini,
cerita lalu bercabang menjadi dua versi.
Versi si oknum, ini yang kemudian menjadi pernyataan resmi kapolres
kepada wartawan, di tempat gelap itu si remaja putri tadi berusaha merampas
motor milik oknum sehingga ditembak. Mayatnya tergeletak di belakang kantor
desa di semak-semak dan ditinggalkan begitu saja oleh si oknum.
Sementara itu, versi isu yang merebak di masyarakat bercerita lain.
Di tempat gelap belakang kantor desa, si oknum mencoba berbuat tak senonoh
sehingga remaja putri itu melawan. Perlawanan inilah yang kemudian diakhiri
dengan tembakan.
Mana yang benar, masih dalam penyelidikan. Tetapi kapolres memang
terlanjur mengumumkan kepada publik tentang versi si oknum. Wajar bila kemudian
muncul reaksi balik dari pihak keluarga dan remaja pria kekasih korban yang
kebetulan substansinya meragukan logika versi resmi polisi.
Keterangan dari pihak keluarga dan pacar, misalnya, menyebutkan
korban tidak bisa naik motor sehingga motif merampas motor sangat kecil
kemungkinannya untuk dilakukan korban. Apalagi motor milik seorang polisi.
Semasa hidup, korban juga tak punya catatan kriminal.
Tuduhan ia berkomplot dengan pacarnya untuk mencuri motor juga
dinilai tak masuk akal karena pada saat kejadian remaja pria itu justru sedang
kembali untuk mengambil motornya yang dititipkan di kantor polisi. Sungguh
membutuhkan nyali luar biasa besar bagi sepasang remaja untuk merampas motor
milik polisi dengan modus mogok di kantor polisi.
Kita berpikiran positif, semua kejanggalan ini tentu juga dirasakan
oleh polisi sehingga si oknum tersebut kini ditahan dan penyelidikan jalan
terus. Karenanya, sudah selayaknya kita mendukung apa yang diperintahkan
Kapolda Jawa Barat kepada jajarannya di Bogor: Usut tuntas dan jangan ada yang
ditutup-tutupi. Bila terbukti, pecat si oknum dan pastikan proses hukum
berjalan terhadap yang bersangkutan.
Dengan demikian, citra polri dapat dijaga dengan cara-cara yang
realistis bukan dengan cara gelap mata membela anak buah. Di dalam cara yang
realistis, terkandung kepastian penegakan hukum dan penghormatan terhadap hak
asasi setiap warga negara.***