Ini berarti angin dengan kecepatan 924 km/jam bakal terjadi.
alamat email: [EMAIL PROTECTED]
"jaerony"
<[EMAIL PROTECTED]
a.co.id> To
<[EMAIL PROTECTED]>,
09/10/2007 09:18 <[EMAIL PROTECTED]>
AM cc
Subject
Please respond to [porsenipar] Dampak Terparah
[EMAIL PROTECTED] Perubahan Iklim
eb.id
http://www.tribun-timur.com/view.php?id=48694&jenis=Opini
Sabtu, 08-09-2007
Dampak Terparah Perubahan Iklim
INDONESIA disebut-sebut sebagai negara yang bakal mengalami akibat paling
buruk dari perubahan iklim. Perubahan cuaca seperti badai yang makin
sering terjadi, kemarau yang berkepanjangan, gelombang pasang menerjang
pantai merupakan tanda-tanda dampak dari pemanasan global atau efek rumah
kaca.
Perubahan iklim yang sangat radikal, tidak hanya kian merusak lapisan ozon
pada atmosfer Bumi. Suhu udara yang kian memanas juga telah melelehkan
salju-salju yang berada kutub utara dan kutub selatan. Di pulau terbesar
dunia, Green Island, terbentuk kolam raksasa yang kian membesar.
Para ahli memprediksikan, salju yang telah mencair dan membentuk kolam
raksasa di pulau itu, jika tumpah ke laut, bakal menenggelamkan
kawasan-kawasan di pesisir pantai. Tidak terkecuali kota-kota besar di
Indonesia. Bayangkan, permukaan air laut di dunia, secara otomatis akan
naik setinggi 7 meter!
Keadaan tersebut bakal menenggelamkan kota-kota yang berada di dekat laut.
Indonesia sebagai negara kepulauan, bakal kehilangan ribuan pulau. Dari
17.580 pulau, mungkin hanya 3.000 atau 4.000 pulau yang bisa bertahan.
Selebihnya akan hilang ditelan laut. Begitu pula kota besar seperti
Jakarta, Makassar, Surabaya, Medan yang berada di tepi pantai, akan habis
tertelan.
Saat ini, masyarakat sudah bisa merasakan dampak pencairan es di kutub.
Gelombang pasang di pesisir Pulau Jawa dan Sumatera sudah mencapai tinggi
satu meter dan masuk ke daratan sejauh satu kilometer. Kondisi itu juga
menimbulkan perubahan pola angin dengan seringnya muncul angin
puting-beliung. Badai yang seharusnya terjadi di laut, kini malah
menerjang wilayah daratan.
Pemanasan global terjadi antara lain karena ozon yang berfungsi sebagai
filter sinar matahari di atmosfer sudah berlubang besar. Ukurannya kini
tiga kali luas benua Australia. Lubang ozon muncul karena penggunaan
bahan-bahan yang mengandung sulfur, nitrogen, atau klor. Alhasil, semua
elemen sinar matahari, termasuk sinar infra merah dan ultra violet yang
berbahaya, langsung memanasi bumi.
Penyebab lain perubahan iklim adalah gas rumah kaca akibat kegiatan
manusia sehari-hari. Mulai dari emisi buangan kendaraan bermotor,
pembakaran batu bara, hingga pembakaran hutan yang menghasilkan gas
karbon. Gas itu membentuk satu lapisan di atmosfer bumi. Panas matahari
yang dahulu bisa dipantulkan ke angkasa luar, kini tertahan oleh gas rumah
kaca. Akibatnya, panas bumi semakin meningkat.
Dalam menghadapi masalah tersebut, seluruh negara di dunia menyatakan
komtimen untuk bekerja keras menahan laju, sekaligus beradaptasi terhadap
perubahan iklim. Di Indonesia, rasanya, perlu segera peningkatan ketahanan
dalam masyarakat untuk mengurangi risiko bahaya perubahan iklim lewat
upaya adaptasi dan migitasi.
[Non-text portions of this message have been removed]
Original Message : Sunny
--------------------------------------------------
Official Mailing List: Porsenipar ke IV Tahun 2007
-=== Perumahan BDB2 dan BDB3, Cibinong, Bogor ===-
-= Menjiwai Semangat Kebangsaan dengan Prestasi =-
| Official Website: http://www.porsenipar.web.id |
------- Porsenipar Media Center: 6849-6001 -------