All,
sekedar berbagi. Essay menarik. Kaya dengan detail,
berhasil menampar pembacanya, dan pasti akan berhasil
membuat saya sulit tidur malam ini. Thx
bintoro
==========================
Selamat Jalan, Kaset dan Mantan Presiden
Anwar Holid
Pada hari Senin, 28 Januari 2008 ketika semua koran
dan televisi menyatakan selamat jalan kepada pak
Harto, aku mengucapkan selamat jalan kepada 36 kaset
favorit yang aku jual ke toko musik second.
Honor-honor yang aku nanti datang dari beberapa pihak
ternyata belum ngalir juga, sementara kami sekeluarga
sudah kehabisan beras, harus beli sayur mayur, dan
bayar pembantu setiap Senin. Di antara koleksi itu
ialah sejumlah album Peter Gabriel, Pink Floyd, Joe
Satriani, The Cult, Steve Vai, Counting Crows,
Matchbox Twenty, Fates Warning,
Lokua Kanza, dan album musik klasik: Wagner, Sibelius,
dan lagu-lagu
adagio aransemen Herbert von Karajan. Uang yang aku
dapat memang di bawah harapan (sudah aku duga sejak
awal), tapi alhamdulillah
setidaknya aku bisa beli beras, biskuit, dan di
hari-hari ke depan
kami bisa makan dengan pantas.
Aku beli koran murah (Rp.1.000,-), Tribun Jabar, untuk
mendapat
informasi tentang kematian pak Harto. Tertulis
headline: The End:
13.10 WIB. Aku membatin, ingat ungkapan sebuah lagi
The Doors: This
the end, my only friend. The end. Aku rasanya juga
ingat sebuah lagu
tentang perpisahan, tapi entah apa itu. Atau
sebenarnya aku hendak
bilang begini: Good bye Mr. Former President and my
cassettes---
sambil teringat sebuah judul cerpen Gabriel García
Márquez. Kematian
pak Harto hanya berdampak dua hal saja buatku, yaitu
(1) berhasil
membuat aku beli koran, dan (2) bisa menggerakkan aku
menulis esai.
Kematian pak Harto kalah menghenyakkan dibandingkan
berita kematian Freddie Mercury yang dulu aku dengar
via TVRI malam-malam. Ini menyiratkan betapa aku
memang boleh dibilang bersih dari pengaruh maupun
ketertarikan terhadap negara, presiden, dan politik.
Berita kematian pak Harto pertama kali aku simak pada
hari Minggu, 27 Januari 2007, kira-kira jam 14.30-an,
waktu kami sekeluarga makan siang di warung makan
serba ada yang kurang enak, sehabis menemani Ilalang
dapat tambahan les main perkusi di Jendela Ide.
"Wah... pak Harto sudah mati tuh," kataku, langsung
terpaku pada tv yang juga tengah dikerubungi semua
pengunjung dan pegawai warung. Waktu itu siaran sedang
meliput sekitar rumah beliau di jalan Cendana (entah
di mana letak persisnya) yang ricuh oleh pengunjung
dan petugas. Setelah beberapa menit perhatian ke tv,
aku mengasuh Shanti biar istriku bisa makan dengan
tenang. Setelah itu aku makan nasi + ayam goreng
dengan sambal terlalu pedas. Samar-samar terdengar
berita kematian dia terus disiarkan tv sampai kami
pulang. Sehabis magrib, di sela-sela ngobrol segala
hal, istriku tanya, "Kamu percaya nggak sih kalau
Soeharto itu korupsi?" Aku rada bingung dengan
pertanyaan itu, apa juntrungannya dengan kami
sekeluarga. Rupanya dia ingat laporan khusus majalah
Tempo tentang hal itu. "Kalau aku baca dari media,
berdasar pada investigasi mereka, aku percaya dia
korupsi," kataku. "Tapi kalau ditanya apa buktinya dan
siapa saksinya, aku nggak tahu. Aku nggak pernah lihat
dia melakukannya." Beberapa menit kemudian aku
menyergah, "Eh, apa sih hubungannya ini dengan kita
semua?" Rasanya lebih suka kalau kami beralih ke topik
lain. Malamnya, aku tegang menyaksikan pertandingan
penyisihan Piala FA antara Manchester United vs
Tottenham Hotspurs; 3-1 buat MU.
Bagi orang Indonesia kelahiran 1973-an seperti aku,
Soeharto jelas
bakal tertatah kuat dalam memori kami. Ketika tumbuh,
langit kami
cuma satu, penuh berisi Soeharto. Dia Bapak
Pembangunan, perancang
Pelita, yang sudah jalan memasuki periode ke-5, sudah
mencapai
tahap 'tinggal landas', namun akhirnya ternyata
kandas. Setelah itu
cuaca langit kami berganti-ganti begitu drastik, mulai
dari Habibie,
Gus Dur, Megawati, dan sekarang Soesilo Bambang
Yudhoyono (SBY), yang di foto Tribun Jabar terlihat
memberi hormat dengan gaya resmi di depan keranda
jenazah pak Soeharto. Wah... sinismeku langsung
mendidih. Bagaimana mungkin presiden seperti itu, yang
jelas
kelihatan inferior bahkan di depan mayat seniornya,
bakal punya
iktikad mengadili kontroversi seputar status hukum
Soeharto. Aku
yakin harapan M. Fadjroel Rachman dan kawan-kawan agar
keadilan tetap hidup bakal seperti pepesan kosong.
Aku ingat, dulu waktu SD kami bahkan sampai hapal
semua menteri yang jadi pembantu Soeharto, habis bakal
masuk ulangan. Apa nggak gila tuh? Kami ingat TVRI
menyiarkan laporan khusus berisi kunjungan
Soeharto ke daerah atau ladang pertanian dan sawah,
Kelompencapir
(yang namanya selalu dikritik oleh Pusat Bahasa), atau
sidang-sidang
beliau dengan para menteri. Baru pada 1998 era itu
tamat, dan siapa
sangka, jelas di luar dugaanku, betapa begitu lama
beliau mewarnai
sebuah kanvas bernama Indonesia, sampai akhirnya
boyak-boyak,
sebagian rombeng dan kusam di sana-sini. Sisanya ialah
sekarang; 'pembangunan' jelas ada jejaknya, dan
berlanjut, dengan pola mirip... mungkin dikerjakan
sembarangan, karena entah kenapa mudah sekali memicu
prasangka dan sinisme. Sebagian orang yang
bertentangan dengan Soeharto atau pihak yang tak punya
kaitan dengan dia berani lantang bilang bahwa dia
diktator, misalnya para demonstran pro demokrasi atau
media massa seperti CNN dan Time. Aku sendiri takut
dan tak punya dasar untuk bilang bahwa dia seorang
diktator. Faktanya ialah dia mantan presiden
Indonesia, negeri tempat
aku terdaftar sebagai warga negara. Dulu, aku sesekali
ikut demo
bareng teman menuntut keadilan atau keterbukaan; tapi
keadilan harus
diupayakan sendiri dan keterbukaan ternyata datang
sendiri. Yang
paling mengasyikkan ialah jadi bagian massa waktu kami
demo besar-
besaran selama masa awal-awal menegakkan Reformasi di
Gasibu
(sebagian kawanku demo di gedung MPR/DPR), sampai
akhirnya rezim dia tumbang, dan sejak itu reputasi pak
Harto beserta kroni dan
keluarganya melorot ke kubang terendah dan penuh
masalah, namun tetap saja tetap menarik diberitakan.
Yang paling akhir tentu saja skandal yang muncul dari
para anak-anaknya, rebutan harta dan kuasa antara
istri pertama dan madu salah satu anaknya, perempuan
yang sampai rela- rela ngaku dihamili anaknya---entah
dengan motif apa, atau artis yang kawin dengan
cucunya. Wah... sebenarnya aku cukup sibuk dengan diri
sendiri, bertahan hidup atau meningkatkan standar, dan
tak peduli dengan peristiwa terkait Soeharto... toh
nyatanya aku selalu samar-samar mendengar atau
mendadak punya kesempatan baca informasi tentang
mereka. Tadi saja, waktu menuju toko kaset bekas itu,
tiga gadis mahasiswa aku dengar bicara, "Kamu sedih
nggak pak Harto meninggal?" "Enggak, lebih sedih waktu
kakek gue meninggal tuch." "Iyalah, coba kamu bakal
dapat warisannya. Pasti sedih." Salah satu gadis itu
langsung menyergah, "Dapat warisan mah senang,
bukannya sedih..." Serentak mereka tertawa. "Aku mah
pengen lihat upacara pemakamannya euy. Yang pakai
tembak-tembakan itu." (Namanya salvo, neng, kataku
dalam hati.)
Aku bukan PNS dan ketertarikan atau kepedulianku pada
negara boleh
dibilang nol. Aku lebih pusing memikirkan bagaimana
meningkatkan
karir dan pendapatan di tahun ini daripada sibuk
mendengar analisis
politik bila The Smiling General (ini kayaknya bukan
oksimoron)
meninggal dunia dan mewariskan banyak buntut
persoalan. Aku lebih
merasa dekat dengan kaset-kasetku daripada dengan pria
berusia 87
tahun itu, meski dia pernah jadi presidenku. Begitu
kondisi dia
kritis di rumah sakit minggu-minggu lalu, aku dengar
analisis politik
bahwa Indonesia bisa-bisa bakal makar begitu dia
meninggal. Wah...
aku malas dengar gosip keterlaluan itu. Satu-satunya
berita yang aku
sukai ialah analisis ini: Bila status hukum dia
ditetapkan salah,
maka itu kesempatan menyeret persoalan hukum yang
dilakukan keluarga, kroni, dan orang-orang
sekelilingnya akan terbuka. Keadilan jadi ditegakkan.
Frasa yang menarik; "Keadilan jadi ditegakkan."
Keadilan seperti apa? Apa bakal berdampak buat aku?
Wah... aku ragu. Apa bila "Keadilan jadi ditegakkan"
aku bisa optimistik tak perlu jual
kaset favorit buat beli beras? Wah Wartax, kamu jadi
kekanak-kanakan! Mungkin ini akibat aku buta politik
dan nggak kritis sejak remaja. Lebih baik aku
menghindari persoalan yang aku sendiri nggak tahu.
Biarkan itu jadi urusan orang yang memperkarakan dia,
terutama bekas lawan politik dia yang masih hidup dan
bersemangat menyeret dia ke pengadilan dan ingin agar
harta hasil korupsi itu dikembalikan ke negara. Aku
jelas lebih suka andai tetap punya kaset dan kondisi
keuanganku baik-baik saja. Tapi faktanya aku harus
kehilangan mereka.
Aku sangat setia pada kaset-kaset itu. Aku rawat
dengan baik, menjaga jangan sampai kusut, tetap
sempurna bila disetel, meski itu semua gagal menaikkan
harga jual. Aku selalu suka melihat-lihat sleeve,
membaca-baca segala info yang ada di sana. Mereka
berisi pemusik yang aku sukai karya-karyanya. Kini
kotak kasetku berisi pemusik yang jauh kurang populer
dibanding album yang aku jual sekarang. Di sana masih
ada Chroma, Jaduk Ferianto, Bidjeh, Ravi Shankar,
Youssou N'Dour, Sinead O'Connor, The Stage Bus...
Entah berapa lama aku akan tetap bisa bertahan dengan
mereka; entah berapa harga jual mereka di toko kaset
bekas, lepas dari betapapun mereka bagus atau
legendaris. Di tangan penjual loak, semua barang pasti
direndah-rendahkan. Melankoli dan legenda cuma jadi
cerita. Kalah oleh kebutuhan akan uang.
Aku rela dan senang-senang saja kehilangan kaset itu,
akhirnya.
Apalagi dari situ aku merasa memberi bakti pada
keluarga. Aku
kehilangan mereka tepat di saatnya. Sudah waktunya.
Bisa jadi begitu
juga Indonesia terhadap pak Harto. Dia sudah tua dan
sakit-sakitan.
Wajar dia meninggal dunia. Jelas keterlaluan berharap
dia bakal sehat
wal afiat seperti sedia kala ketika masa jaya atau
bisa bertahan
lebih dari lima belas tahun ke depan. Nyawa bisa
dicabut izin
penggunannya kapan saja, datang begitu saja tanpa
perlu perjanjian
lebih dulu. Sebagian orang, banyak orang, terisak-isak
oleh kepergian
beliau; sebagian orang mungkin bingung apalagi agenda
hukum yang bisa dijalankan; orang seperti aku, yang
tak terkait dengan semua itu,
heran, kenapa mereka semua heboh dengan kematian satu
jiwa. Mendadak aku ingat dulu ada orang di Jakarta
yang menyeret-nyeret mayat karena tak punya biaya
kubur. Kematian seorang mantan kepala negara sudah
disiapkan dengan sempurna, mulai dari kepergian dan
upacara. Dia merepotkan banyak sekali orang; dan orang
entah rela, pura-pura, atau terpaksa dan karena tata
krama, hirau dengan kepergiannya. Kematian ini lebih
heboh dan seru dibandingkan delapan besar Liga
Indonesia yang ricuh. Apa ini tanda kehebatan
seseorang, bahkan dalam kematiannya pun dia bikin
guncang, tetap dihormati banyak sekali orang, dihadiri
sosialita paling terkemuka? Wah, entah ya.
Dari dulu aku membayangkan kematian yang sederhana.
Aku ingin nanti nisanku tak ditandai apa-apa, biar
lama-lama hilang dan rata dengan tanah. Aku ingat
ayahku membiarkan patok tanda kuburan kakakku lama-
lama hancur oleh waktu dan sebagian habis dimakan
rayap. Dibersihkan bila berziarah saja. Terakhir kali
kami ke sana, gundukan tanahnya sudah nyaris rata. Aku
agak yakin sekarang tentu sudah rata. Aku sulit
membayangkan ada semacam kompleks istana untuk
mayat-mayat yang sudah selesai berurusan dengan dunia.
Untuk apa ya semua itu dibangun?
Hari ini aku kehilangan kaset; esok hari siap-siap aku
kehilangan
nyawa. Dalam beberapa hari ke depan aku masih bisa
menyelamatkan
keluarga; pasti suatu hari nanti aku yang malah repot
menyelamatkan
jiwa sendiri. [] 00:11 30/01/08
ANWAR HOLID, penulis & penyunting, eksponen TEXTOUR,
Rumah Buku
Bandung.
KONTAK: 08156140621 - (022) 2037348
Panorama II No. 26 B, Bandung 40141
____________________________________________________________________________________
Never miss a thing. Make Yahoo your home page.
http://www.yahoo.com/r/hs
--------------------------------------------------
Official Mailing List: Porsenipar ke IV Tahun 2007
-=== Perumahan BDB2 dan BDB3, Cibinong, Bogor ===-
-= Menjiwai Semangat Kebangsaan dengan Prestasi =-
| Official Website: http://www.porsenipar.web.id |
------- Porsenipar Media Center: 6849-6001 -------