SETENGAH SAJADAH
Oleh Dikdik Andhika Ramdhan
"Kok sajadahnya dilipat dua kek?", tanya seorang bocah berusia sekitar
tiga tahunan kepada seorang kakek tua yang sebagian rambutnya sudah
tidak lagi hitam, namun kini bersulam dalam dua warna.
Kakek tua itu hanya tersenyum dan menatap cucu lelakinya itu kemudian
mempermainkan rambut pirangnya.
"Sudah, ayo ikuti kakek, kita sholat sunnat dulu!", ajaknya. Sesaat
kemudian mereka berdua larut dalam penghambaannya, mempersembahkan
kembali rukuk dan sujudnya pada Ia yang maha kuasa. Usai mereka salam,
tak lama kemudian waktu berselang, iqomat berkumandang. Kami semua
berdiri dan bersiap untuk melaksanakan sholat berjamaah. Shaf-shaf kini
tertata rapi memanjang dari ujung kiri hingga ke kanan ruangan masjid
itu. Kakek tua itu lalu membuka lipatan sajadahnya, untuk kemudian
meletakkannya dengan arah memanjang, hingga kini terbagi menutupi dua
bagian tempat sujud, baginya dan bagi seorang pemuda asing yang berada
di sampingnya. Bagian atas sajadah itu ia sengaja ia letakkan dibagian
tempat sujud pemuda tadi. Sang cucu terheran melihatnya. Dan akupun
tertegun saat itu. Namun segera kami mencoba menata kembali segala
pikiran untuk berupaya dapat mempersembahkan shalat terbaik pada-Nya.
Setelah sholat, usai dzikir sejenak, kemudian kakek tua tadi berdiri dan
beranjak hingga kemudian berlalu pergi bersama cucu lelakinya. Sekilas
masih kudengar pembicaraan mereka ketika meninggalkan tempat sholatnya
semula. Rupanya cucu lelakinya masih penasaran dengan tingkah kakeknya
yang melipat dua sajadahnya ketika ia sholat sunnat, dan kemudian
membukanya kembali lipatan sajadahnya menjadi dua bagian ketika
berjamaah menjelang.
"Inilah artinya Islam", sahutnya mengawali penerangannya pada sang cucu.
"Islam itu rahmatan lil'alamiin, yakni rahmat bagi sekalian alam.
Wujudnya adalah dengan ber-Islam, maka salah satunya kita sebagai
umatnya harus mampu menjadi rahmat pula bagi semua orang", lanjutnya
panjang lebar.
Aku nggak tahu bagaimana rona wajah serta gerak pikir bocah lelaki tadi
menangkap penjelasan dari kakeknya. Namun yang jelas aku begitu malu
mendengar apa yang disampaikan kakek tua tadi pada cucunya.
Memang, mungkin entah sejak kapan kita mengenal bahkan sampai hapal
diluar kepala akan sebuah ungkapan bahwa Islam itu rahmatan li'alamiin,
yang dalam aplikasinya seharusnya memang akan selalu mampu menghadirkan
cahaya kedamaian, cahaya rahmat bagi seluruh alam, bukan hanya bagi
orang-orang yang tunduk dan patuh dalam ke-Islam-annya, namun pula bagi
semua orang yang ada di sekitarnya.
Namun, ternyata sepertinya begitu sulit hal itu terwujud dalam
keseharian kita. Islam yang memang diturunkan oleh Alloh sebagai
rahmatan lil'alamiin justru menjadi seakan sulit menjadi nyata. Kita
selalu memaksa hari-hari yang kita lalui seakan kembali dan selalu
berputar kembali pada satu arah yang sama, dan menempati posisi yang
sama pula, kita sebagai ummat-Nya sangat jarang sekali untuk dapat
menempatkan diri menjadi bagian dari rahmatan lil'alamiin, di mana
keberadaan kita seharusnya dapat pula menjadi rahmat bagi yang lainnya.
Kita selalu berusaha untuk tampil sendiri, membusungkan dada, bahkan
menyombongkan diri, melihat semua berdasar dari kacamata pribadi dan
hanya untuk kepentingan pribadi semata. Kita terbuai dengan rasa
individualis yang semakin menjadi dan seolah menyepak dengan kasar
setiap kepentingan orang lain yang kita memandangnya tidak akan
berpengaruh pada kepentingan diri ini. Na'udzubillah...
Bila sehelai sajadahpun ternyata bisa menjadi satu jalan untuk
membimbing diri kita dalam menunaikan satu kewajiban, untuk mengibarkan
panji-panji untuk berbagi dalam indahnya kebersamaan, hingga akhirnya
rahmatan lil'alamiin bukan hanya menjadi sebuah slogan semata, atau
hanya menjadi satu rangkai kalimat yang selalu dan selalu kita hapal
dalam nalar ini saja, namun pula kemudian dapat terealisasi dalam nyata.
Maka, semestinya mungkin hal lainpun juga akan bisa menjadikan diri ini
untuk bisa lebih membuka hati, berupaya menjadi bagian dari rahmat-Nya,
yang pula bisa menjadi rahmat bagi ummat lainnya. Karena, bukankah
disatu waktu nanti, tak akan ada lagi yang pernah dan setia menemani
kita, ketika tanah merah telah menutup rapat diri ini, terpisah dari
kefanaan dunia. Hingga hanya ia, salah satunya yaitu hanya amalan yang
menemani kita pada saatnya.
Wallahu'alam bish-shawab.
sumber : eramuslim.com
--------------------------------------------------
Official Mailing List: Porsenipar ke IV Tahun 2007
-=== Perumahan BDB2 dan BDB3, Cibinong, Bogor ===-
-= Menjiwai Semangat Kebangsaan dengan Prestasi =-
| Official Website: http://www.porsenipar.web.id |
------- Porsenipar Media Center: 6849-6001 -------