Saur Wargi
Jurnal Bogor, 3 Februari 2008

TERMINAL TAK ADA, SOPIR ANGKOT GUGAT TRAYEK

Hanya karena tiga kepala keluarga yang belum mau menerima ganti rugi, maka 
terminal moda transportasi darat untuk angkot dan bus di Kecamatan Bojonggede, 
Bogor terancam molor. Padahal sudah jelas, kemacetan di sekitar Jalan Raya 
Bojonggede diakibatkan karena tidak adanya terminal yang layak di kecamatan 
tersebut. Tapi, ketiga kepala keluarga itu lebih mementingkan diri sendiri 
ketimbang memikirkan kepentingan sosial. Ketiga kepala keluarga tersebut 
bertahan karena menginginkan ganti rugi yang jauh di atas plafon dari Pemkab 
Bogor. Akibat tidak adanya pendekatan yang memadai, maka lahan yang 
direncanakan menjadi terminal terancam terbengkalai. Hal itu diakui oleh Kabag 
Tapem Pemkab Bogor, Burhanuddin. Langkah-langkah persuasif diutamakan dalam 
merencanakan pembuatan terminal. Namun, hendaknya kepentingan umum harus 
ditempatkan di atas segalanya. Sehingga demi membebaskan sisa 3000 meter 
persegi perlu diambil langkah cepat dan pasti.

Sebab, bila berlarut maka banyak pihak yang akan sangat dirugikan. Bukankah 
kemacetan dianggap pemborosan bila bahan bakar yang terbuang diakumulasikan? 
Belum lagi kerugian waktu yang sama-sama tidak bisa dikonversikan menjadi 
nominal dengan mudah? Ambil contoh, seorang yang sibuk dalam mengupayakan 
sampai ke stasiun KRL Jabotabek pada pagi hari harus terlambat naik KRL tepat 
waktu gara-gara terjadi kemacetan di mulut perumahan Gaperi, 200 meter dari 
stasiun yang merambat seperti keong. Demikian pula pada sore dan senja hari, 
kemacetan sering terjadi karena angkot 117 trayek Bojonggede - Parung keluar 
dari terminal bayangan di depan masjid.

Lain urusan terminal, lain dengan nasib angkot 31 jurusan Bojonggede - Ciluer 
Bogor. Ada sekitar 49 unit angkot nomor 31 resah karena sudah sejak 2003 mereka 
tidak mempunyai trayek resmi. Hingga kini mereka pusing karena nafkah mereka 
tergantung dari kebijakan DLLAJR Kabupaten Bogor yang belum memberikan 
kepastian trayek yang resmi. Ditambah urusan mereka belum diurus oleh dealer 
mobil yang menjanjikan bahwa DLLAJR akan segera mengeluarkan izin trayek tidak 
lama setelah mereka menjual mobil angkot.

Selain itu, merekapun bersaing dengan "odong-odong" yang tidak mempunyai izin 
trayek tetapi "memakan" penumpang di depan Puri Nirwana Tiga, dari wilayah 
Kelurahan Karadenan hingga Pomad. Tentu saja semua membuat hidup menjadi tidak 
hidup. Nasib rakyat kecil selalu disibukkan oleh kebutuhan yang mendasar. 
Awalnya "odong-odong" hanya membawa hasil bumi berupa daun singkong dan hasil 
bumi lainnya. Namun, kemudian karena hasil pertanian semakin berkurang akibat 
banyaknya lahan pertanian yang berubah menjadi lahan perumahan, maka yang 
bertambah adalah para penumpang yang keluar dari perumahan-perumahan tersebut. 
Akibatnya, pengemudi odong-odong memungut penumpang yang ada sepanjang jalan. 
Demikianlah awal mulanya odong-odong yang merajalela di sepanjang jalur Ciluer 
- Bojonggede. Bagaimana solusi terbaik bagi para sopir angkot dan penumpang 
yang berada dalam posisi saling membutuhkan? Tentu saja semua terpulang pada 
mereka semua membangun dialog.


Hans Suta Widhya
Direktur Eksekutif Konsorsium untuk Transparansi Informasi Publik
Jl. Mangga No. 52A, Jakarta 13120
0817 145 093

Kirim email ke