Assalamu alikum,

Artikel lama, boleh juga buat inspirasi...

Wasalam, Sodikin


Oleh : Asro Kamal Rokan 
http://www.republika.co.id/kolom.asp?kat_id=19

Wajahnya serius membicarakan ketidakadilan negara-negara maju. Kalimat
demi kalimat meluncur deras. Dr Siti Fadilah Supari, satu dari sedikit
warga dunia yang keras membela hak-hak negara berkembang di tengah
dominasi badan resmi dunia dan negara adikuasa. Ia melawan dan berhasil.


Majalah The Economist London menempatkan Siti Fadilah sebagai tokoh yang
memulai revolusi dalam menyelamatkan dunia dari dampak penyakit
pandemik. "Menteri Kesehatan Indonesia itu telah memilih senjata yang
terbukti lebih berguna daripada vaksin terbaik dunia saat ini dalam
menanggulangi ancaman virus flu burung, yaitu transparansi," tulis The
Economist (10 Agustus 2006).

Perlawanan Siti Fadilah dimulai ketika virus flu burung (Avian
Influenza/AI) menelan korban di Indonesia pada 2005. Ia kelabakan. Obat
tamiflu harus ada. Namun aneh, obat tersebut justru diborong
negara-negara kaya yang tak terkena kasus flu burung. Ini tidak adil,
negara-negara lemah yang terkena tidak memperoleh apa-apa. Untung saja
ada bantuan dari India, Thailand, dan Australia.

Korban terus berjatuhan. Di saat itu pula, dengan alasan penentuan
diagnosis, badan kesehatan dunia (WHO) melalui WHO Collaborating Center
(WHO CC) di Hong Kong memerintahkannya untuk menyerahkan sampel
spesimen. Perintah itu diikuti Siti Fadilah. Namun, ia juga meminta
laboratorium Litbangkes melakukan penelitian. Hasilnya ternyata sama.
Tapi, mengapa WHO CC meminta sampel dikirim ke Hong Kong? 

Siti Fadilah merasa ada suatu yang aneh. Ia terbayang korban flu burung
di Vietnam. Sampel virus orang Vietnam yang telah meninggal itu diambil
dan dikirim ke WHO CC untuk dilakukan risk assessment, diagnosis, dan
kemudian dibuat seed virus. Dari seed virus inilah dibuat vaksin.
Ironisnya, pembuat vaksin itu adalah perusahaan-perusahaan besar dari
negara maju, negara kaya, yang tak terkena flu burung. Mereka
mengambilnya dari Vietnam, negara korban, kemudian menjualnya ke seluruh
dunia tanpa izin, tanpa kompensasi. 

Siti Fadilah marah. Ia merasa kedaulatan, harga diri, hak, dan martabat
negara-negara tak mampu telah dipermainkan atas dalih Global Influenza
Surveilance Network (GISN) WHO. Badan ini sangat berkuasa dan telah
menjalani praktik selama 50 tahun. Mereka telah memerintahkan lebih dari
110 negara untuk mengirim spesimen virus flu ke GISN tanpa bisa menolak.
Virus itu menjadi milik mereka, dan mereka berhak memprosesnya menjadi
vaksin.

Di saat keraguan atas WHO, Siti Fadilah membaca di The Straits Times
Singapura, 27 Mei 2006, bahwa para ilmuwan tidak dapat mengakses data
sequencing DNA H5N1 yang disimpan WHO CC. Data itu, uniknya, disimpan di
Los Alamos National Laboratoty di New Mexico, AS. Di sini, dari 15 grup
peneliti hanya ada empat orang dari WHO, selebihnya tak diketahui. Los
Alamos ternyata berada di bawah Kementerian Energi AS. Di lab inilah
duhulu dirancang bom atom Hiroshima. Lalu untuk apa data itu, untuk
vaksin atau senjata kimia?

Siti Fadilah tak membiarkan situasi ini. Ia minta WHO membuka data itu.
Data DNA virus H5N1 harus dibuka, tidak boleh hanya dikuasai kelompok
tertentu. Ia berusaha keras. Dan, berhasil. Pada 8 Agustus 2006, WHO
mengirim data itu. Ilmuwan dunia yang selama ini gagal mendobrak
ketertutupan Los Alamos, memujinya. Majalah The Economist menyebut
peristiwa ini sebagai revolusi bagi transparansi.

Tidak berhenti di situ. Siti Fadilah terus mengejar WHO CC agar
mengembalikan 58 virus asal Indonesia, yang konon telah ditempatkan di
Bio Health Security, lembaga penelitian senjata biologi Pentagon. Ini
jelas tak mudah. Tapi, ia terus berjuang hingga tercipta pertukaran
virus yang adil, transparan, dan setara. Ia juga terus melawan: tidak
lagi mau mengirim spesimen virus yang diminta WHO, selama mekanisme itu
mengikuti GISN, yang imperialistik dan membahayakan dunia. 

Dan, perlawanan itu tidak sia-sia. Meski Siti Fadilah dikecam WHO dan
dianggap menghambat penelitian, namun pada akhirnya dalam sidang
Pertemuan Kesehatan Sedunia di Jenewa Mei 2007, International Government
Meeting (IGM) WHO di Jenewa November lalu, sharing virus disetujui dan
GISN dihapuskan.

Prof Siti Fadilah anak bangsa yang melakukan perlawanan atas
ketidakadilan. Bangsa ini memerlukan banyak orang seperti Siti Fadilah,
yang berjuang untuk keadilan, kadaulatan, dan kesetaraan. Ia inspirasi
untuk bangsa yang bangkit.


--------------------------------------------------
Official Mailing List: Porsenipar ke IV Tahun 2007
-=== Perumahan BDB2 dan BDB3, Cibinong, Bogor ===-
-= Menjiwai Semangat Kebangsaan dengan Prestasi =-

| Official Website: http://www.porsenipar.web.id |
------- Porsenipar Media Center: 6849-6001 -------

Kirim email ke