Minggu, 03 Februari 2008 Kapan Saat Tepat Pindah Kerja?
Akhirnya, Nurlina mengambil keputusan. Wanita berusia 25 tahun ini memutuskan keluar dari tempat kerjanya di sebuah perusahaan telekomunikasi. Alasannya, suasana kerja dirasa tak nyaman lagi. Bos terlalu banyak menuntut, sementara gaji biasa saja. Karena itu, ketika ada tawaran wawancara dari sebuah bank asing, wanita yang akrab disapa Lina, segera menindaklanjuti. ''Realistis saja, kita bekerja perlu uang. Kesempatan kan tidak datang dua kali, makanya ketika ada tawaran dari perusahaan lain, kenapa tidak kita coba?'' ujar Lina saat itu. Sebulan bekerja di kantor baru, lulusan universitas swasta ternama di Jakarta ini mulai merasa tak nyaman. Rupanya, di kantor baru walaupun gaji lebih besar, namun suasana kerja tidak nyaman. 'Sikut-sikutan' antarpegawai sangat terasa. Dan yang paling membuatnya kaget, ternyata statusnya hanya karyawan kontrak. Artinya, jika bos menilai kinerjanya baik, maka kontrak kerja akan diperpanjang. Sebaliknya, bila kinerja kurang baik, ya apa boleh buat, kontrak diputus. Lina pun 'pusing tujuh keliling'. Pindah kerja memang bukan urusan sepele. Menurut psikolog Rima Olivia, perhatikan faktor internal dan eksternal sebelum memutuskan untuk hengkang. Faktor internal berkaitan dengan kondisi perusahaan. Misalkan, perusahaan sudah tidak mencapai target atau mulai ada rasionalisasi karyawanan. ''Jika, perusahaan sudah menunjukkan tanda-tanda seperti ini, boleh saja memutuskan pindah ke kantor lain,'' kata konsultan senior di Experd Consultant ini. Untuk faktor eksternal, coba pertimbangkan value yaitu nilai-nilai idealisme yang menjadi pegangan seseorang dan dianggapnya penting. Penghasilan besar, tapi value sudah tidak sesuai lagi dengan yang diinginkan, untuk apa dipertahankan? Artinya, pada keadaan seperti ini, tak masalah jika hengkang mencari tempat baru. Memutuskan pindah kerja perlu juga mempertimbangkan faktor usia produktif. Namun, lanjut Rima, untuk mereka yang sudah berada pada level tinggi dan memiliki kelebihan, usia tidak menjadi masalah. ''Karena itu, sebelum pindah kerja, perkaya diri agar Anda memiliki nilai lebih dibandingkan yang lain.'' Bagaimana jika pindah kerja karena mengejar gaji yang lebih besar dan posisi lebih bagus? Ini juga alasan yang realistis, tapi perlu diperhatikan apakah di kantor baru Anda bisa mengembangkan diri. ''Sebab, untuk apa punya gaji besar, tapi begitu-begitu saja tanpa tantangan dan tidak bisa mengembangkan diri.'' Setiap kantor ada masalah Merasa jenuh, jengkel, dan tidak nyaman di tempat kerja, adalah hal biasa yang kerap dialami oleh karyawan di mana pun. Karena itu, jangan buru-buru hengkang hanya sekadar ingin lepas dari ketidaknyamanan itu. Sebab, setiap kantor pasti ada masalah. Justru, rasa jenuh, jengkel dan tidak nyaman itu merupakan dinamika dalam sebuah pekerjaan. ''Setiap kantor pasti ada dinamikanya. Lebih baik setiap masalah itu dihadapi sebagai tantangan, bukan dihindari. Pada saat yang sama, berusahalah mencari solusi yang baik,'' papar Rima. Jika terpaksa harus pindah kerja, usahakan mencari informasi sebanyak mungkin mengenai tempat kerja yang baru itu. Jangan sampai bernasib seperti Lina. Gaji dan posisi lebih tinggi, tapi hanya karyawan kontrak. Balik lagi ke tempat kerja sebelumnya? ''Itu konyol kan,'' kata Rima. Benar juga ya. (vie )
