Salam,
Numpang publikasi kantor ye .....

Rgds / Jaerony.-

*******************************************************



     
     

            Corporate Value Berbasis Syar'i Model Iskandar

            Rabu, 06 Februari 2008
            Oleh : Yuyun Manopol 
            Dengan keyakinan kuat, Iskandar membangun dan menerapkan 
nilai-nilai berbasis syar'i ke dalam perusahaannya. Bagaimana penerapannya? 

            Wanita berkerudung itu terlihat sibuk menerima sejumlah telepon 
yang tak henti berdering. Ia tidak beranjak dari tempat duduknya, hanya 
suaranya yang lembut terus terdengar di gagang telepon. Tidak ada yang menduga 
sepasang kaki gadis berusia 23 tahun bernama Robiatin, resepsionis PT Internusa 
Hasta Buana (IHB) ini ternyata tak sempurna. Sebuah kecelakaan hebat yang 
terjadi di rel kereta api pada saat usianya dua tahun tak hanya merenggut salah 
satu kakinya tapi juga nyawa ibunya. 

            Atin, demikian ia akrab dipanggil, bukan satu-satunya karyawan 
cacat di perusahaan kargo itu. Ada 14 orang cacat lainnya yang bekerja di sana. 
Sebutlah, Abbas dan Wati yang tunarungu. Abbas yang berlatar pendidikan D-3 
komputer dari salah satu perguruan tinggi di Jakarta, bekerja di bagian 
teknologi informasi. Adapun Wati ditempatkan di bagian dokumentasi. 

            Tak mudah berkomunikasi dengan Abbas dan Wati, karena keduanya 
cenderung memakai bahasa isyarat. Namun, bagi Iskandar Zulkarnain, pemilik 
sekaligus Direktur Utama IHB, bukan masalah besar. Supaya bisa berkomunikasi 
dengan mereka, ia pun menggunakan bahasa isyarat yang ia pelajari sebelumnya, 
dikombinasikan dengan bicara. 

            Iskandar bukan hendak cari perhatian dengan mempekerjakan karyawan 
cacat. Pria kelahiran Malang 9 September 1961 ini berprinsip bahwa dalam 
berbisnis harus ada paralel antara bisnis dunia dan akhirat. "Jika kau tanam 
padi niscaya akan ada rumput di sana. Tapi jika kau tanam rumput maka tidak 
akan kau dapat padi. Artinya kejarlah akhiratmu, insya Allah duniamu akan 
dapat," Iskandar berujar. Menurutnya, apa pun bisnis yang dikerjakan, yang 
penting kaidah-kaidah syar'i ada di dalamnya. 

            Seperti di IHB yang memiliki 6 anak perusahaan, 12 cabang dan 450 
karyawan, Iskandar sengaja mengalokasikan pekerjaan bagi penyandang cacat. 
Baginya, corporate social responsibility bukan sekadar berbentuk charity, tapi 
juga mengalokasikan pekerjaan bagi orang-orang yang tidak beruntung. Toh, 
selama akal pikiran masih normal, pasti ada pekerjaan yang layak buat mereka.

            Ia membuktikannya dengan prestasi yang dicapai Abbas. Anak buahnya 
itu pernah menjadi pemenang sebuah ajang kompetisi di bidang teknologi 
informasi dengan kategori web design. Oleh karena itu, Iskandar pun akan 
menghadiahkan beasiswa S-1 bagi Abbas. Begitu pula Atin, yang bisa menunjukkan 
kinerjanya yang baik. Lulusan Sekolah Menengah Kejuruan di Jakarta ini mendapat 
gaji yang sama dengan karyawan normal di level yang sama. 

            Tak hanya orang-orang cacat yang dipekerjakan. Pak Is - begitu 
Iskandar kerap disapa - juga menerapkan ketentuan bahwa karyawan boleh bekerja 
sampai tua tanpa harus pensiun. Selain itu, ia mengizinkan sesama karyawan 
dalam satu perusahaan melakukan pernikahan. 

            Aneh? Bagi manajemen umum sepertinya memang di luar kelaziman. Toh, 
menurut Iskandar, semua itu ada alasannya. Kenapa usia di atas 55 tahun masih 
boleh bekerja? Menurut Iskandar, justru pada usia itu orang mengalami usia 
emas. Mereka lebih mantap dan matang terutama dalam semangat spirtitualnya. 
Selain itu, mereka memiliki pula pengalaman hidup yang banyak dan bagus. "Jadi, 
saya percaya jika diberi kepercayaan, mereka akan lebih serius dan tidak akan 
bohong sana, bohong sini," kata Iskandar seraya memberi alasan bahwa yang 
penting diarahkan yang baik. 

            Terbukti berdasarkan pengalamannya, mereka yang direkrut di usia 
tuanya justru bekerja lebih baik, kesehatannya pun bertambah baik, tidak 
sakit-sakitan. Sehingga istilah post power syndrome tak terjadi pada mereka. 

            Sebaliknya, jika ada pegawainya yang ingin pensiun dini, Iskandar 
juga mempersilakan. Bahkan yang bersangkutan boleh mengambil uang pesangon 
untuk wirausaha sendiri. "Silakan, enggak apa-apa. Bagi kami yang penting 
jujur, karena itu nilai kami, tidak neko-neko lempeng saja," Iskandar bertutur.

            Lalu bagaimana jika terjadi penuaan di struktur organisasi 
perusahaan? Ia mengaku tak khawatir. Alasannya, "Saya mempercayai natural life 
seperti kematian, sakit dan lelah di masa tua," ujarnya. Hal ini ia yakini yang 
akhirnya membatasi seseorang untuk bekerja meskipun tak ada kebijakan pensiun. 
Alasan berikutnya, perusahaannya sendiri telah mempersiapkan diri dengan 
sejumlah isntrumen seperti asuransi dana pensiun di Bank Muamalat Indonesia, 
tabungan haji, jamsostek dan pesangon. Dia ungkapkan, total karyawan yang 
berusia 50-60 tahun saat ini sekitar 10 orang. Dan yang terakhir, saat ini 
secara terus menerus IHB menyiapkan regenerasi dengan cara rekrutmen.

            Aep Suparman, GM Forwarding IHB, mengaku senang bergabung di 
perusahaan yang agamis ini. Pria berusia 59 tahun ini, awalnya GM di Samudera 
Indonesia. Pengalamannya yang mumpuni di perusahaan pelayaran itu yang 
membuatnya diterima di IHB tahun 2003. Ketika itu ia baru saja pensiun dari 
perusahaan sebelumnya. Diungkapkan Aep, saat ini pekerjaannya lebih 
dititikberatkan pada pembuatan konsep dan kontrol. Toh, karena persoalan 
lapangan yang kompleks seperti di pelabuhan, ia kerap pula terjun ke lapangan. 

            Lalu, kebijakan lain yang juga unik adalah kesempatan menikah bagi 
sesama karyawan yang diterapkan sejak perusahaan berdiri pada 1991. Baginya, 
"Kami adalah keluarga besar, jadi silakan yang berjodoh. Saya suka dengan 
almarhum ayah saya yang senang jodoh-jodohin orang. Ya enggak apa-apa, ya boleh 
saja. Sok mangga. Saya selalu positive thinking. Insya Allah rezeki dari Allah 
tak akan diusik sama orang, tak akan ketukar. Ini prinsip-prinsip ilahiah yang 
harus kami yakini. Haqul yakin," ujar bungsu dari lima bersaudara pasangan Umar 
Sudarno dan Sri Ma'iyah ini. Saat ini sudah ada 15 pasang karyawan yang menikah 
di antara sesama karyawan. 

            Iskandar mengatakan, banyak perusahaan yang melarang perkawinan 
antarkaryawan dalam perusahaan. Biasanya lantaran perusahaan khawatir rahasia 
perusahaan dibuka, cuti terganggu karena bersamaan waktunya, dan berbagai 
kekhawatiran lain seperti jika ada anak yang sakit berarti keduanya tak bisa 
optimal, dan sebagainya. "Tapi kalau saya tidak, tak ada yang saya rahasiakan," 
ujarnya tegas. Bahkan ia mengaku selalu terbuka - mengenai pendapatan 
perusahaan - kepada karyawannya. Pertumbuhan bisnis IHB saat ini mencapai 
10%-15% per tahun dengan omset US$ 20-25 juta. 

            Bagi Iskandar, nilai yang paling berat baginya untuk dilaksanakan 
adalah tidak memberikan komisi kepada orang atau oknum di perusahaan pelanggan, 
kecuali potongan harga buat perusahaannya, yang diterapkan sejak 1996. 
Pertimbangannya adalah untuk membuat perusahaan berproduksi lebih banyak dan 
biaya rendah. Ia juga melarang menggunakan rok mini bagi pekerja pemasaran di 
lapangan. Tak terkecuali, meng-entertain klien. Sebab, di dunia kargo dan 
pelayaran sudah umum meng-entertain pelanggan ke pub, minum-minuman keras, 
pijat dan karaoke. Namun, ia melarang hal ini. 

            Sewaktu hal ini mulai diterapkan, karyawan terutama bagian 
pemasaran dan mitra usaha IHB pun ribut dan protes. Namun kemudian, orang-orang 
yang biasa bermain uang, keluar. "Enggak apa-apa yang seperti itu enggak sama 
kami, sementara yang bersama kami yang baik-baik saja," ujarnya mengenai plus 
dan minusnya menjalankan nilai syar'i. Ia kemudian memfokuskan diri mengelola 
hubungan kerja dengan perusahaan-perusahaan yang besar saja. "Saya harus keras 
dan tangan besi. Dan saya mencontohkan, jika saya ke luar negeri, saya tidak 
menyuguhkan minuman semacam bir. I am a Muslim. Tidak apa-apa. Apakah saya 
kehilangan bisnis dari agen baru, enggak. Insya Allah bisnis saya lancar," ucap 
Iskandar. 

            Ketika pertama kali menerapkan hal ini penjualannya turun 30%-40% 
selama setahun pertama. Akan tetapi, di tahun berikutnya kinerja perusahaan 
merangkak naik. Dan pada 1999, penjualan perusahaan sudah kembali seperti 
semula. "Kami harus istiqomah. Jalan terus. Kami harus berkorban. Bentuknya, 
penurunan omset. Tidak apa-apa, tapi insya Allah akan diganti," ujar Iskandar 
sambil menjelaskan bahwa hal yang membuatnya bertahan adalah keinginannya 
memiliki lingkungan yang bersih.

            Untuk mengatasi masalahnya pada saat itu, lanjut Iskandar, IHB tak 
mencari pelanggan kecil, melainkan perusahaan atau pabrik yang besar. Ia juga 
langsung menghadap ke pemiliknya dan menceritakan kondisi di lapangan. Dan 
mereka jadi sadar tentang kondisi ini. Dalam perjanjian termuat tak ada parsel, 
makan siang bersama, dan sebagainya. "Itu mereka yang buat. Jika saya setuju, 
saya tinggal tanda tangan. Dan itu saya bawa ke teman-teman. Mereka (perusahaan 
besar - Red.) punya nilai. Mereka jernih, bersih," ujarnya. Bahkan baru-baru 
ini, ada teman dari Korea yang akan membuka pelabuhan baru, mengambil 6 hektare 
tanah untuk gudang baru. Mitra dari Korea ini mengajaknya kerja sama kemitraan. 
Ia melihat ini merupakan berkah.

            Dijelaskan Iskandar, IHB memiliki nilai korporat (corporate value) 
yang ingin terus dikembangkan. Nilai korporat itu adalah trusworthy is forever, 
honest, responsible, discipline, fast & accurate, teamwork, fairness, 
visionary, empathy, and grateful. "Kami butuh nilai dan ini bisa dipercaya, 
sehingga orang akhirnya respek," kata Iskandar. 

            Ia sendiri meyakini nilai yang ia kembangkan merupakan bagian dari 
syar'i. "Saya ingin memberikan nilai, bekerja sebagai ibadah. Jadi tak 
semata-mata mencari duniawi, tapi juga mencari nafkah yang halal untuk dimakan, 
dikasih ke anak dan istrinya," Iskandar bertutur. Ia meyakini, dalam 
menjalankan usaha, klaim selalu ada tapi selalu bisa diselesaikan. "Saya senang 
mereka - yang tua dan muda - di sini. Saya senang keberkahan bagi perusahaan 
ini, insya Allah karena doa-doa mereka," ujarnya. 

            Menurut Adiwarman Karim, konsultan keuangan syariah, sebenarnya 
sejumlah perusahaan di Indonesia juga melakukan hal yang sama. Contohnya, 
McDonald's dan Bank Muamalat Indonesia. Hal ini dilakukan sebagai bagian dari 
kepedulian perusahaan. "Ini bisa mengangkat citra perusahaan," ujarnya. Adapun 
perkawinan antarkaryawan di perusahaan yang sama saat ini banyak terjadi di 
lembaga perbankan. Dulu sebelum krisis, lanjut Adiwarman, hal ini dilarang. 
Alasannya, untuk mencegah hal-hal yang tak diinginkan. Namun ketika dilakukan 
merger besar-besaran, banyak pasangan yang tadinya bekerja di bank berbeda 
malah terlebur dalam perusahaan yang sama. Dan, hal ini akhirnya bisa diterima. 
Ada plus-minusnya, pasutri bekerja di perusahaan yang sama. Plusnya, mereka 
bisa saling tolong-menolong. Bahkan di luar jam kerja mereka masih 
mendiskusikan persoalan kantor. 

            Walau demikian, ia sendiri menyarankan agar mereka yang berpasangan 
tak bekerja di lokasi yang sama. Jadi bisa di satu perusahaan tapi beda kantor 
atau lokasi. Hal ini untuk mencegah adanya toleransi dalam prosedur kerja dan 
hubungan pekerjaan karena faktor emosional. Persoalan terakhir ini menjadi 
faktor minusnya. 

            Adapun tentang bekerja seumur hidup tanpa pembatasan waktu, 
Adiwarman melihat hal itu merupakan langkah yang berani. Ia malah bertanya, 
bagaimana organisasi diremajakan di perusahaan itu? Ia melihat soal usia ini 
tak menjadi persoalan di institusi perguruan tinggi, tapi hal ini hanya 
dimungkinkan pada level tertentu seperti dosen. Ia tak bisa membayangkan 
terjadinya penggelembungan karyawan di perusahaan ketika hal ini dilakukan. "Di 
sini yang dikorbankan peremajaan organisasi," ujarnya. 

            Adiwarman menyarankan program pensiun tetap dijalankan, sedangkan 
untuk menghargai karyawan yang sudah pensiun bisa dilakukan dengan cara, 
misalnya, mengundang mereka dalam acara social gathering atau ulang tahun 
kantor. 

            Alasan ini juga berlaku bagi rekrutmen karyawan yang sudah pensiun. 
Toh, lanjutnya, untuk mencegah hal-hal yang tak diinginkan perlu dibuat sebuah 
cara yang baik. Awalnya, sistemnya harus dibuat dan jelas. Tujuannya agar 
karyawan mengerti dan paham. Jika sudah paham, selanjutnya pikirkan risikonya. 
Dan terakhir, pikirkan cara mengatasinya. Alasannya, tak ada sistem yang 
sempurna. Jadi, jangan sampai risiko ini dimanfaatkan.


            URL : 
http://www.swa.co.id/swamajalah/artikellain/details.php?cid=1&id=7105 

           
     
     
     

<<logo_swa.gif>>

<<jarak.gif>>

Kirim email ke