Inilah salah satu korban akibat penjajahan ekonomi yang dilakukan oleh bangsa2 
kapitalis atas negara kita ini.

Republika online; Selasa, 11 Maret 2008
Ketika Kelaparan Merenggut Nyawa 

Dikri Nur Muhammad (3 tahun) akhirnya mengembuskan napas terakhir, Ahad malam 
(9/3), setelah dirawat di RSUD Tasikmalaya. Malam itu, sekitar pukul 22.00 WIB, 
jasad balita penderita marasmus (busung lapar yang disertai penyakit kronis) 
itu dimakamkan di TPU Cilamajang, Kec Kawalu, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat.

''Saya tidak kuat melihat penderitaan dia. Kasihan sekali,'' ujar ayah Dikri, 
Ade Suhendar (36 tahun), dengan wajah memelas. Sudah sepekan Dikri dirawat di 
ruang perawatan anak RSUD Tasikmalaya.

Warga Kampung Genteng RT 01/01 Kel Cilamajang ini lima kali bolak-balik dirawat 
di RSUD Tasikmalaya. Bahkan, sebelumnya, bocah malang penderita gizi buruk ini 
menghuni ruang perawatan intensif di RS Hasan Sadikin, Bandung, selama sebulan.

Ternyata, perawatan yang kelima menjadi tempat persinggahan terakhir Dikri di 
alam fana. Sejak Sabtu (8/3), daya tahan tubuh Dikri menurun drastis ketika 
alat bantu pernapasan dipasang di tubuh lemahnya.

Menjelang kematiannya, ungkap Ade, kondisi anaknya itu sangat memprihatinkan: 
pancaran mata kosong dengan guratan tulang yang tampak menonjol di sekujur 
tubuhnya. Untuk menegakkan kepala saja, Dikri tak kuat. Bahkan, untuk meraung 
pun suaranya tercekat habis. Dia hanya bisa merintih menahan sakit.

''Saya benar-benar tidak tega melihat kondisinya. Dia terlihat sudah tidak 
kuat,'' tutur Ade. Melemahnya kondisi Dikri, tak hanya karena gizi buruk yang 
diderita. Namun, diperparah oleh penyakit paru-paru, jantung, dan sistem 
pencernaan yang menjangkiti tubuh kurusnya. Semua penyakit itu tergolong sudah 
kronis.

Berat ideal untuk balita seumur Dikri, papar Ade, seharusnya minimal 14 
kilogram. Sementara itu, Dikri cuma separuhnya. Perasaan sedih yang dialami Ade 
kian bertambah karena sebelum Dikri dipanggil Sang Khalik, ibu Dikri terlebih 
dahulu berpulang ke haribaan-Nya. Kini, Ade yang bekerja serabutan tinggal 
bersama Putri Meida (11 tahun), kakak Dikri, menjadi ayah sekaligus ibu.

Sayangnya, kematian Dikri belum menggerakkan pejabat di pemkot atau Dinas 
Kesehatan Tasikmalaya. ''Saya pasrah saja kalau memang mereka tak lagi peduli 
sama saya,'' kata Ade.

Tak hanya Dikri, penderita gizi buruk yang meninggal juga terjadi di Bekasi, 
Jawa Barat. Muhammad Fadlih Buchori, bayi yang belum genap berusia dua bulan 
ini, tutup usia pada Ahad (9/3) pukul 22.40 WIB setelah menjalani perawatan di 
RSUD Bekasi sejak sepekan lalu.

Putra keempat pasangan Endun (45 tahun) dan Halimah (40 tahun), warga Kel 
Jatiasih, Bekasi, ini didiagnosis menderita gizi buruk saat masuk RSUD. 
''Penyebab kematiannya karena gizi kurang, diare akut, dan dehidrasi berat. 
Fadlih kurang cairan hingga fisiknya lemah. Kulitnya pun keriput. Ini merupakan 
kasus langka di Kota Bekasi,'' kata Wakil Direktur Pelayanan RSUD Bekasi, Titi 
Musrifah Hati.

Dirut RSUD Bekasi, Bambang Djati Santoso, menambahkan pasien datang ke RSUD 
sudah membawa penyakit radang paru-paru. Sejak berusia 40 hari, Fadlih tak 
pernah mendapat ASI, asupan makanan bergizi lainnya, dan juga menderita salah 
makan. ''Akibatnya, pasien mengalami diare berat. Tapi meninggalnya bukan 
karena itu,'' kata Bambang.

Di Kota Bekasi, Fadlih bukan satu-satunya generasi bangsa yang menderita gizi 
buruk. Sebanyak 735 balita menderita hal yang sama di kota tetangga ibu kota 
itu. Kasus gizi buruk tertinggi berada di Kec Bekasi Utara (156 balita) dan Kec 
Jatiasih (107 balita). Sisanya tersebar merata di 10 kecamatan dan jumlah 
penderita 50-100 balita.

Sementara di Rangkasbitung, Kab Lebak, Banten, dua balita kembar Abdurahman dan 
Abdurohim (1,5 tahun) penderita gizi buruk menjalani perawatan intensif di RSUD 
Adjidarmo Rangkasbitung akibat terserang penyakit tuberkulosis (TBC). 

Kabag Humas RSUD Adjidarmo Rangkasbitung, Rostarina, mengatakan hingga saat ini 
balita gizi buruk yang menjalani perawatan tercatat sebanyak lima orang. Mereka 
itu adalah Asri (1,4 tahun), Ayu (1,4 tahun), Dini (1 tahun), dan dua balita 
kembar Abdurahman dan Abdurohim.

Anak kembar pasangan Suha dan Asim warga Babakan Malabar, Kec Cibadak, Kab 
Lebak, itu kini kondisinya membaik setelah hampir dua pekan mendapat perawatan 
petugas medis. Sedangkan tiga lainnya tetap dalam pengawasan intensif dan masih 
dirawat.

Balita penderita gizi buruk itu terserang penyakit yang biasa menyertainya, 
seperti TBC, pneumonia, diare, demam tinggi, paru-paru, radang otak, dan idiot. 
''Penyakit seperti itu jika lambat penanganannya memang bisa menimbulkan 
kematian.''

Kematian Dikri dan Fadlih menambah daftar panjang buruknya kualitas hidup sehat 
di Indonesia. Dikri dan Fadlih bukanlah korban utama gizi buruk. Sebelumnya, 
Bahir (5 tahun), putra ketiga pasangan Basri dan Basse, warga Jl Dg Tata I Blok 
V, Setapak II, Kec Tamalate, Makassar, meninggal karena persoalan gizi buruk.

Lima menit sebelumnya, Basse, sang ibu, mengembuskan napas terakhir setelah 
menjalani perawatan di RS Haji, Makassar. Yang mengenaskan, Basse ikut membawa 
pergi seorang calon manusia berusia tujuh bulan dalam rahimnya.

Menkes, Siti Fadilah Supari, pada Ahad (9/3), mengklaim jumlah balita penderita 
gizi buruk menurun. Berbagai upaya intervensi perbaikan gizi yang dilakukan 
pemerintah berhasil menurunkan jumlah kasus gizi kurang dan gizi buruk pada 
balita.

Kasus gizi buruk dan gizi kurang pada balita sebanyak 5,1 juta tahun 2004 telah 
turun menjadi 4,4 juta tahun 2005 dan kembali turun menjadi 4,2 juta tahun 
2006. ''Tahun 2007 angkanya turun lagi menjadi 4,1 juta,'' paparnya.

(mus/c68/ant ) 
Legal disclaimer
-------------------------
This email may contain confidential and/or legally privileged information. 
If you are not the intended recipient (or have received this email by error), 
please notify the sender immediately and delete this email. 
Any unauthorized copying, disclosure, or distribution of the material in this 
email is strictly forbidden.

Kirim email ke