Yakinlah bagi kita semua jika kita mengalami "jatuh-bangun" dalam berusaha, 
maka tempatkanlah hal ini sebagai suatu proses. Lebih jauh, hal ini bisa 
diposisikan dalam suatu kerangka pembelajaran sehingga kita akan mampu membuat 
suatu kalimat logika :  "Jika ......, maka ........". Ke depan peningkatan 
(improvement) menjadi keniscayaan untuk kita raih. Amiin.

Artikel yang bagus buat kita yang haus untuk belajar.

Salam / Jaerony.-


*************************************************************


Kompas, Sabtu, 15 Maret 2008
Karier


MEMBANGUN MENTALITAS PEMBELAJAR

 

 

 

Kenalan saya melakukan upaya lebih hebat dari psikolog social manapun yang saya 
kenal. Ia mendapat tugas untuk menaikkan tingkat kualitas nenas kalengan di 
pabrik yang ia pimpin dan memutuskan untuk menaikkan tingkat kebersihan gaya 
hidup para karyawannya. Riset dilakukan ke rumah-rumah karyawan dan upayanya 
kemudian berkisar antara pembersihan rambut, dapur di rumah, pakaian para 
karyawan dan banyak hal lain yang menyangkut gaya hidup karyawan secara 
keseluruhan.

 

Upaya pembelajaran itu juga tertular ke rumah-rumah karyawan dan akhirnya 
membuahkan hasil yang sangat signifikan bagi pabrik. "Tidak mudah mengubah cara 
hidup, persepsi dan nilai individu. Namun, bila melihat hasilnya, kita tak akan 
mundur. Kita akan terus berusaha melakukan pembelajaran, karena peningkatan 
harkat hidup merupakan keindahan yang tidak ada duanya," demikian komentar 
teman saya itu.

 

Meskipun pendidikan dan pembelajaran adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan 
bagai dua sisi dalam satu koin logam, kita sering terjebak pada paradigma yang 
tidak komplit. Kita sering mengkonotasikan tidak lancarnya pendidikan dengan 
gaji guru yang kurang, sekolah yang kurang dana, sekolah yang rubuh, ataupun 
kurikulum yang cenderung tidak berubah. Sementara proses pembelajarannya sering 
tertinggal dan tidak didalami.

 

Kita pasti mengenali betapa banyaknya hambatan yang menyebabkan proses 
pembelajaran tidak berjalan lancar dan betapa kita sering menutup mata pada 
keluarannya. Kita sering tidak mempelajari "kondisi lapangan" beserta 
kompleksitasnya sehingga kita tidak tahu apakah pembelajaran "kena" atau tidak. 
Belum lagi, kesempatan "benchmark" atau "studi banding" sering tidak kita 
manfaatkan betul sebagai "pelajaran". Kita pasti sadar betapa sering kita 
membuang muka, dan pura-pura tidak tahu mengenai kesalahan pemahaman, persepsi, 
ketidakjelasan dalam proses pembelajaran yang tidak kita benahi sampai tuntas. 
Bahkan, hal yang paling mudah dipersalahkan adalah programnya, pelatih, guru 
atau dosennya, atau sekalian saja lembaganya.

 

Ketika Peter Senge (1990) mengeluarkan bukunya Fifth Discipline banyak 
organisasi terhenyak dan menyadari betapa mereka hanya berkonsentrasi pada 
upaya mengajar tetapi tidak berfokus pada pembelajaran. Kita pun, di negara 
tercinta ini terhenyak bila melihat bahwa pembelajaran yang kita hasilkan 
sesudah merdeka ini kalah oleh negara tetangga yang pernah mengimpor guru dan 
dosen dari Indonesia. Kita sangat menyadari bahwa sebenarnya pembelajaran, yang 
tidak selamanya merupakan hasil dari sekolah dan universitas, banyak gagal 
ketika kita tahu bahwa mayoritas penduduk masih mau menelan nilai-nilai yang 
tidak produktif dan positif, serta "awareness" yang kurang terhadap 
kemanusiaan, lingkungan, moral yang pada akhirnya membawa perlambatan 
pembelajaran, kalau tidak sampai pada pembodohan.

 

Peter Senge berpendapat bahwa pembelajaran terjadi bila individu secara teratur 
diberi ruang untuk menemukan dan mengkreasikan realitas yang dihadapi atau 
dipelajarinya. Dengan demikian, individu dalam setiap tahapan menjadi manusia 
yang baru, bisa melakukan, memahami atau menghayati sesuatu yang sebelumnya 
belum dialaminya, bisa mempunyai persepsi yang berbeda terhadap realita yang 
dihadapinya, dan menjadi bagian dari terbentuknya generasi yang punya paradigma 
baru.

 

Untuk menjadikan sebuah organisasi atau bahkan negara pembelajar, kita memang 
perlu meninjau dan membangun kembali beberapa aspek sikap mental. Hal-hal ini 
perlu kita tekuni dan yakini dengan penuh kesabaran, sehingga menjadi sebuah 
kumpulan keyakinan dan obsesi kita.

 

Jangan Meraba-raba

Secara "back to basic" marilah kita tinjau sikap kita mengenai akurasi dan 
presisi. Kita perlu belajar untuk tidak asal cuap, ngawur, atau mengira-ngira 
data dan fakta yang sebenarnya bisa dicari dan dibuktikan. Sudah banyak contoh 
membuktikan bahwa ketidakakuratan dalam pencarian fakta menyebabkan negara rugi 
bermilyar-milyar dollar AS. Dan, karena mayoritas masyarakat sudah terbiasa 
hidup dalam ketidakakuratan, menyukai "plesetan", tidak ada pihak tertentu yang 
berobsesi untuk memperoleh data yang benar.

 

Eksperimen dan Riset Tidak Selalu di Laboratorium

Dari seorang eksekutif yang berhasil, saya belajar bahwa dalam kegiatan 
sehari-harinya ia banyak memberi judul "riset" atau "eksperimen" terhadap 
kegiatan-kegiatan "mencari tahunya". Misalnya, "Saya sedang meriset, kamera 
mana yang paling baik dibeli Canon atau Nikon" atau "saya sedang melakukan 
eksperimen, apa efeknya kalau saya makan sawi saja selama seminggu". Tanpa 
disadari, eksekutif ini melakukan pembelajaran yang sistematis dan meningkatkan 
kesadarannya dalam memperoleh pengetahuan baru. Ini sangat berguna bagi kita 
yang memang selalu harus memperluas cakrawala, mendapat ide-ide baru melalui 
kesulitan dan kesempatan yang kita alami.

 

Belajar di Mana Saja, Pada Siapa Saja

Dalam budaya paternalistic yang kita pegang, paradigma bahwa otoritas adalah 
yang paling tahu, paling bijak dan paling menguasai masalah, tentunya harus 
kita hapus cepat-cepat, karena menghambat pembelajaran. Sudah waktunya kita 
mengerahkan siapa saja untuk belajar dari mana saja dan siapa saja, serta 
menguakkan, mengadopsi, menganalisa, menemukan persepsi dari sis lain "best 
practice" dalam implementasi, penyelesaian pekerjaan, sikap kerja. Best 
practice yang bisa kita tiru adalah banyak organisasi yang kini komit untuk 
menerapkan system 'lesson learnt', di mana kesalahan dan perbaikan system akan 
disebarluaskan ke seluruh organisasi dan diperlakukan sebagai studi kasus, 
sehingga setiap individu yang tidak mengalaminya akan belajar dari kejadian ini 
juga. Beberapa organisasi menyebutkan kegiatan ini sebagai "Santayana Review" 
yang berasal dari ahli filsafat Geroge Santayana yang pernah menyatakan "Those 
who cannot remember the past are condemned to repeat it." Kita juga bisa 
belajar kembali, bagaimana cara kita mengajukan pertanyaan dalam mengambil 
keputusan, menggali pendapat dan masukan orang lain, apakah bawahan, atasan, 
para ahli bahkan para remaja. Pengetahuan sudah bukan milik elite tertentu 
lagi. Kita bodoh kalau menghambat tersebarnya segala macam pengetahuan di 
organisasi kita. Tentunya cara yang "friendly" untuk menyebarkannya perlu 
dicari dan disesuaikan dengan situasi massanya.

 

 

Eileen Rachman & Sylvina Savitri

EXPERD

Personal Growth & Soft Skills Training

Kirim email ke