Jurnal Bogor
Kesehatan | Selasa, 18 Mar 2008

Kentut Pertanda Sehat
by : Grathia Pitaloka
Sebagian besar masyarakat Indonesia sering memandang remeh perihal buang angin 
atau yang sering disebut kentut. "Dentuman" ini hanya dianggap sebagai sebuah 
siklus metabolisme tubuh yang tak jarang malah membuat malu. Sehingga jarang 
temui orang yang ingin mengkajinya secara ilmiah. 
Walaupun "sepele" sebenarnya terbentuknya kentut didalam tubuh melalui sebuah 
proses yang cukup panjang. Dari kacamata medis, kentut sebenarnya adalah gas 
dalam jumlah berlebih dari dalam tubuh yang dikeluarkan melalui anus. 

Berdasarkan penelitian yang dilakukan para ahli, volume kentut yang diproduksi 
manusia normal bervariasi antara 400 sampai 1600 milileter per hari. Sedang 
frekuensi yang masih dianggap normal sekitar 14 kali sehari. 

DR.Dr. Siti Setiati, SpPD, K-Ger, MEpid, Departemen Ilmu Penyakit Dalam 
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta mengatakan, ada beberapa 
faktor yang disebut sebagai faktor resiko yang menentukkan volume, frekuensi 
dan komposisi kentut. "Pembentukkan gas dalam tubuh ditentukan oleh beberapa 
faktor, diantaranya usia seseorang, adanya tekanan jiwa, obat-obatan tertentu 
seperti antibiotika, dan pola makan seseorang," kata Siti kepada Jurnal 
Nasional, Jumat (14/3). 

Kentut terdiri dari lima komponen gas yaitu, nitrogen, oksigen, hidrogen, 
methane, dan karbondioksida. Namun kentut yang menimbulkan bau disusun oleh 
komponen yang berbeda yaitu skatol, indol, hidrogen, sulfida, amines dan 
asam-asam lemak rantai pendek. Gas-gas ini walaupun terdapat dalam jumlah 
kecil, dapat menimbulkan bau yang menusuk hidung. Bau yang menusuk ini akan 
lebih dipertajam lagi kalau makanan yang dikonsumsi berbau tajam seperti pete, 
jengkol dan sebagainya. 

Perempuan kelahiran Bandung, 15 Oktober 1961 ini mengatakan, pola makan adalah 
faktor dominan yang menentukkan pembentukkan gas dalam tubuh. "Makanan yang 
pedas, asam dapat meransang pembentukkan gas dalam tubuh," ujar Siti. 

Dihubungi secara terpisah, Prof. Dr.dr Daldiyono Sp.PD., KGEH, spesialis 
gastroenterologi dari RS St. Carolus, Jakarta menjelaskan, di dalam usus besar 
(colon) manusia terdapat banyak kuman. Nah, kata Daldiyono, agar dapat bertahan 
hidup, kuman-kuman tersebut perlu makan. 

Kemudian, lanjut pria yang telah 40 tahun mengabdi sebagai dokter itu, 
kuman-kuman itu memanfaatkan sisa-sisa makanan yang ada di dalam usus besar ini 
sebagai makanan untuknya. "Lalu, terjadilah fermentasi dan sebagai akibatnya 
terbentuklah sejumlah gas. Oleh sebab itu agama menganjurkan untuk tidak makan 
secara berlebih," ujar lulusan Fakultas Kedokteran UI tahun 1966 ini. 

Penulis buku Bagaimana Dokter Berpikir dan Bekerja dan novel Lika-liku 
Kehidupan ini menegaskan, semakin banyak makanan mengandung bahan yang tidak 
dapat dicerna usus, maka semakin banyak terjadi fermentasi oleh bakteri dan 
produksi gas meningkat. 

Makanan yang sulit dicerna oleh usus manusia adalah selulosa, stakiosa dan 
rafinosa. Selulosa merupakan dinding sel tumbuh-tumbuhan, sementara stakiosa 
dan rafiosa, banyak terdapat pada kacang merah. Selain itu, ada sebagian orang 
tubuhnya tidak mampu untuk mencerna berbagai macam produk-produk susu seperti 
keju, krim asam dan susu kental. "Walaupun demikian sayur dan buah memiliki 
vitamin dan mineral yang dibutuhkan tubuh," tutur Daldiyono. 

Daldiyono mengatakan, selain melalui mekanisme fermentasi gas yang masuk 
kedalam tubuh juga bisa berasal dari udara luar. Udara itu biasanya masuk 
karena kebiasaan mengunyah permen karet, pemasangan gigi palsu yang kurang 
tepat dan merokok. 

Bentuk mekanisme lain masuknya gas kedalam tubuh yaitu merembes melalui aliran 
darah (difusi). Namun mekanisme ini tidak umum dan hanya bersifat kasuistis 
misalnya pada pendaki gunung dan para astronot. 

Selain faktor fisiologis dan lingkungan, ternyata faktor psikologis seperti 
tekanan jiwa juga berperan menimbulkan berlebihnya produksi gas di dalam usus. 
Siti memaparkan, jika seseorang yang dalam keadaan tertekan maka produksi asam 
lambung akan meningkat. 

Selain itu, ketika orang dalam keadaan tertekan waktu yang dibutuhkan saluran 
cerna untuk melewatkan makanan dari mulut sampai anus lebih cepat. Akibatnya 
akan lebih banyak makanan yang tidak dicerna masuk ke dalam usus besar sebagai 
bahan untuk fermentasi bakteri. Bahkan tekanan jiwa akan menyebabkan 
tertelannya udara secara berlebihan (aerophagia). "Biasanya kalau tertekannya 
berupa sedih maka dia akan merasa kembung, kalau dia merasa khawatir maka akan 
merasa mual," kata Daldiyono. 

Meski terkesan sederhana, peningkatan produksi gas dalam tubuh juga dapat 
mengindikasikan penyakit serius seperti gangguan penyerapan makanan (sindroma 
malabsorpsi), diare kronik yang disebabkan oleh parasit jenis tertentu 
(giardiasis), tukak lambung (ulkus peptikum), dan batu kandung empedu 
(kolelitiasis). 

Grathia Pitaloka

Kirim email ke