MBM Tempo
Edisi. 05/XXXVII/24 - 30 Maret 2008
Awas, Kawasan Thamrin Ambles Lahan parkir gedung BPPT, Sarinah, dan Gedung Jaya
ambles. Apa penyebabnya?
Pesansingkat Menteri Negara Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman menyebardi
telepon genggam bawahannya: ”Tolong, periksa amblesan tanah di lahanparkir.”
Pak Menteri rupanya kaget ketika turun dari mobil menujuruangannya di gedung II
Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi(BPPT), ia memijak tanah yang ambles.
Gedung lembaga ini terletak didaerah bergengsi, Jalan Mohammad Husni Thamrin,
Jakarta Pusat.
Ternyata amblesan 10 sampai 30 sentimeter itu tak hanya terjadidi lahan parkir
kendaraan pejabat eselon satu, tapi juga di beberapalokasi lain di sekitar
gedung I dan II. Misalnya di gedung I yangdibangun pada 1974, terjadi regangan
kaki bangunan di sayap utara. Digedung II yang dibangun pada 1994, amblesan pun
terjadi di jalanlingkar depan lobi dan taman. Di beberapa tempat, pipa air
patah.”Struktur gedung tetap utuh,” ujar Jana T. Anggadiredja, Deputi KetuaBPPT
Bidang Teknologi Pengembangan Sumber Daya Alam.
Para petinggi BPPT langsung menghubungi kontraktor PTPembangunan Perumahan yang
sedang menggali fondasi di bekas gedungDepartemen Agama. Departemen ini memang
membangun gedung 20 lantai dilahan 6.500 meter persegi yang terletak di samping
gedung BPPT. SejakSeptember tahun lalu, perusahaan ini mengeruk tanah untuk
membuat tigalantai basement bagi Menara Haji itu.
Mereka curiga karena kontraktor itu terus-menerus menyedot airtanah dan
membuangnya ke sungai di belakang gedung. Untuk membuatfondasi, perusahaan ini
menggunakan teknik tiang bor dengan menggalisedalam 13 meter. Langkah itu
diikuti proses dewatering ataupengambilan air tanah menggunakan tiga sumur.
Mulai Desember tahunlalu, tiap satu sumur itu menyedot sekitar 1.000 liter air
per menit.
Tak ingin menuduh, BPPT membentuk tim teknis investigasi yangterdiri dari
peneliti dan perekayasa bidang geoteknik, geologi, dangeodesi. Tim ini
melakukan pengukuran georadar, geolistrik, dantopografi. Mereka membuat
kesimpulan, yakni lapisan dengan fraksisangat halus atau lapisan lempungan
terdeteksi sampai kedalaman 35meter atau lebih. Lalu, terbentuk pergerakan
relatif lateral vertikalke arah timur. Kesimpulan lainnya, terbentuknya gerakan
skala besar dibawah tanah sehingga beberapa lokasi di bawah permukaan menjadi
takkompak atau menjadi zona kosong. Pendek kata, amblesan pun takterhindarkan.
Hasil tim investigasi itu disampaikan ke ”tetangga sebelah”.Kontraktor ini
akhirnya memperbaiki jalan dan taman yang ambles disekitar gedung BPPT. Pada
Rabu dua pekan lalu, Tempo menyaksikanbelasan pekerja berkaus biru tua dengan
logo Proyek Departemen AgamaRI. Yanto, salah satu pekerja, menunjukkan
penurunan jalan lobi gedungII.
Namun Lukman Hidayat, kepala cabang III perusahaan itu,membantah pihaknya
sebagai pangkal penyebab. ”Itu baru dugaan BPPT,”katanya. Menurut Lukman,
dinding fondasi yang mereka bangun takbergerak. Jalan Thamrin dan Jalan Kebon
Sirih yang letaknya cukup dekatdengan proyek Menara Haji juga tak mengalami
penurunan. ”Padahal setiapmenit dilalui bus dan kendaraan dengan beban berat,”
ujarnya. Lukmanmenduga, penurunan tanah itu akibat kerusakan yang sudah lama
dandampak dari banjir bulan lalu.
Untuk memastikan sumber penyebab, kontraktor ini meminta bantuanPusat
Penelitian dan Pengembangan Departemen Pekerjaan Umum. Sejak duapekan lalu,
sejumlah petugas dari pusat penelitian yang bermarkas diBandung ini melakukan
pendataan di seputar Jalan Thamrin. Sumber Tempoyang melihat hasil kerja tim
ini menemukan fakta lebih besar: ternyatapenurunan tanah dan keretakan bangunan
terjadi juga di wilayah sebelahselatan, sekitar 200 meter dari proyek Menara
Haji.
Misalnya di gedung Sarinah yang terletak di seberang MenaraHaji. Keretakan
terjadi di tangga masuk, sedangkan penurunan tanahtampak di trotoar dan lahan
untuk anjungan tunai mandiri (ATM). Rabupekan lalu, Tempo menyaksikan ATM itu
miring. Amblesan yang sama jugaterdapat di lahan parkir Gedung Jaya dan trotoar
bekas gedung PBB.Kerusakan kecil tampak di lahan sekitar gedung Jakarta Theater.
Apakah penyebab amblesan di sejumlah tempat itu? Edi Sunaryo,pejabat di Pusat
Penelitian dan Pengembangan Departemen Pekerjaan Umum,masih menolak menjawab.
Ia menuturkan pihaknya tengah mengebor tanah didelapan titik untuk memasang
inklinometer atau alat yang membacapergerakan horizontal di dalam tanah.
”Tunggu saja hasilnya nanti,”katanya pada Rabu pekan lalu.
Meski belum jelas penyebab pastinya, ahli hidrologi InstitutTeknologi Bandung,
Lambok Hutasoit, menyatakan proses pengurasan airtanah atau dewatering yang tak
dilakukan hati-hati bisa menyebabkanamblesan tanah. Berdasarkan Peraturan
Gubernur DKI Jakarta Tahun 2005,untuk melakukan proses pengurasan air harus ada
izin Dinas PertambanganProvinsi DKI Jakarta. ”Kami tak mendapat pemberitahuan
soal dewateringdi proyek Menara Haji,” kata Imam Sujono, pejabat di
DinasPertambangan. Menurut Imam, bisa saja kontraktor dan Departemen
Agamamengurus izin proses tersebut bersamaan dengan izin analisis
dampaklingkungan (amdal). Apalagi petunjuk pelaksanaan peraturan gubernuryang
memberikan kewenangan ke Dinas Pertambangan belum selesai dibuat.
Lambok menjelaskan, penurunan tanah bisa juga disebabkanterjadinya penekanan di
atas permukaan berupa pembangunan gedung danlainnya. Menurut Lambok, secara
umum tanah Jakarta terdiri dari pasirdan lempung yang belum kompak. Alhasil,
setiap saat terjadi penurunantanah.
Kelompok Keilmuwan Geodesi ITB secara rutin melakukan kajianpenurunan tanah di
Jakarta. Ternyata sejak 1982 sampai 1997 tanahJakarta turun 20 hingga 200
sentimeter. Penurunan terbesar ada dibagian utara dan barat Jakarta seperti
kawasan Pantai Indah Kapuk,Muara Baru, dan Jalan Daan Mogot. ”Di wilayah ini
penurunannya 10sentimeter per tahun,” kata Hasanuddin Z. Abidin, Guru Besar
IlmuGeodesi ITB. Pada 2000 sampai 2005, di Jalan Daan Mogot, Jakarta
Barat,terjadi amblesan sampai 70 sentimeter. Sedangkan di Pantai
Mutiara,Jakarta Utara, penurunan tanah hingga 50 sentimeter pada 1997-2005.
Bagaimana amblesan di kawasan Thamrin? Dari studi ITB, setiaptahun tanah di
wilayah bergengsi ini turun 2-5 sentimeter. MenurutHasanuddin, penurunan tanah
di Jakarta terjadi karena kombinasi tigahal: pengambilan air tanah yang
berlebihan, beban gedung, danpemampatan lapisan tanah. Di wilayah Jakarta Utara
sedimen ataupengendapannya masih muda sehingga lama-kelamaan tanah akan mampat.
Hasanuddin menengarai penurunan tanah di gedung BPPT danbangunan sekitarnya
bukan amblesan regional yang alamiah. ”Ini lokal,karena aktivitas manusia yang
menyedot air tanah secara berlebihan,”ujarnya. Dia merujuk penurunan sampai 30
sentimeter selama sebulan dilahan milik BPPT. Padahal amblesan yang alamiah di
wilayah ini maksimal5 sentimeter per tahun.
Saat ini proses dewatering di proyek Menara Haji dihentikan.September lalu,
ketika memancangkan tiang pengeboran pertama, MenteriAgama Maftuh Basyuni
menyebut gedung itu bakal menjadi landmark baru diThamrin. ”Arsitek gedung ini
menggunakan pecahan segi delapan menjadisimetris empat. Ini menjadi arsitek
yang sangat Islami,” katanya. Untuksementara angan-angan Menteri Agama harus
berhenti dulu setelah munculpesan singkat dari Menteri Negara Riset dan
Teknologi.
Untung Widyanto
____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and
know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ