Catatan buat Pilbup nanti ............

***************************************************

Original Message: bayugautama 

Kampung Pesakitan 

Pernah dengar Kampung Pesakitan? Pasti belum. Karena nama kampung ini memang 
tidak ada dalam wilayah manapun di negeri ini. Sebutan Kampung Pesakitan bukan 
nama sebenarnya, hanya sebuah nama yang dilabeli oleh relawan ACT yang Selasa 
lalu (8/4) lalu mendatangi beberapa kampung dan desa di Kecamatan Parung 
Panjang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. 

Sebagai contoh adalah Desa Jagabita. Perekonomian yang carut marut membuat 
masyarakat sangat tak berdaya untuk sekadar bertahan hidup secara normal. Yang 
dimaksud normal disini yakni makan tiga kali sehari, pendidikan berjalan 
lancar, dan kesehatan terjaga. Jika tiga hal ini menjadi patokan standar 
kehidupan normal, maka nyaris seluruh warga di desa ini bisa dibilang 
berkehidupan tak normal. 

Ella misalnya, gadis 18 tahun ini menderita sakit kaki gajah sejak usianya 
masih sekitar dua tahun. Ukuran kakinya saat ini sudah benar-benar seukuran 
kaki gajah dan tak pernah diobati sama sekali. Hanya sekali dibawa ke puskesmas 
untuk mendapat pemeriksaan, yakni pada saat Ella berusia dua tahun. Sejak saat 
itu Ella tidak lagi mendapat pengobatan, padahal kakinya terus membesar. 

Usan (47 tahun), Ayah Ella, mengaku tidak punya uang untuk mengobati penyakit 
anaknya. Sehari-harinya Usan hanya bekerja sebagai buruh serabutan membuat 
anyaman topi pramuka dari bambu. Setiap hasil anyaman topi itu Usan hanya 
mendapat upah lima ratus rupiah, dan dalam sepekan ia hanya sanggup membuat 
tidak lebih dari 20 topi. Itu artinya, penghasilan Usan hanya berkisar sepuluh 
ribu rupiah. Dengan uang sekecil itulah ia menghidupi isteri dan ketujuh 
anaknya. "Buat makan saja nggak ada pak, apalagi buat ke dokter", aku Usan 
kepada relawan ACT. 

Ibu Uun, relawan ACT yang menemani tim ACT ke desa tersebut pun menjelaskan, 
bahkan untuk ongkos ojeg ke puskesmas pun mereka tidak punya. Kini Ella sudah 
tidak bersekolah, selain karena terlalu berat membawa-bawa kakinya yang 
membesar, ia juga malu karena sering diejek teman-temannya. Gadis yang 
bercita-cita masuk pesantren agar bisa menjadi guru ngaji itu sehari-harinya 
berdiam diri di kamar dan malu keluar rumah. 

Selain Ella, ada juga Rohilah, siswi kelas 2 SD yang mulai terkena kaki gajah. 
Kaki kanan gadis kecil berusia sepuluh tahun ini memang belum terlihat besar 
karena baru beberapa bulan menderita kaki gajah. Tetapi dari waktu ke waktu 
kakinya akan terus membesar jika tidak diobati. 

Tidak jauh dari rumah Ella, Mas'ud, 50 tahun, sudah tiga tahun tidak bisa 
berjalan karena ada benjolan di lututnya. Ia tidak pernah memeriksakan kakinya 
ke puskesmas karena tidak punya biaya. "Jauh pak, harus naik ojeg. Pulang pergi 
naik ojeg tidak cukup sepuluh ribu.," keluhnya. 

Gizi Buruk
Tim relawan ACT juga menemui banyak kasus gizi buruk di desa itu. Sebut saja 
Mamay, 3,5 tahun yang hanya memiliki bobot 8,5 kilogram. Perutnya buncit, 
matanya sayu serta kulitnya yang layu. Anak-anak seusianya sudah mampu berlari, 
sedangkan Mamay masih digendong ibunya, Linda (22 tahun) karena belum sanggup 
berdiri. Ternyata, Mamay masih punya adik yang berusia enam bulan. Total anak 
Linda berjumlah enam, sementara suami Linda hanya bekerja sebagai guru ngaji. 

"Mamay dikasih makan apa bu?" tanya relawan ACT. "Nggak mau makan, 
paling-paling ASI bareng sama adiknya. Soalnya saya nggak punya uang buat beli 
susu pak," ujar Linda. 

Rafli, 2 tahun, bobotnya hanya 8 kg. Ikrima, anak kelima dari lima bersaudara 
berusia 2,5 tahun, berat badannya pun tak lebih dari 9,5 kg. Adalagi Khaerul, 
bocah berusia tujuh tahun, selain bongkok, ia pun menderita gizi buruk karena 
berat badannya tidak lebih dari 13 kg. Anak yatim ini tidak terurus karena 
ayahnya sudah meninggal 
sedangkan ibunya hanya berdagang asongan di pasar. Khairul yang bongkok ini pun 
sering menjadi bahan olok-olok teman-temannya. 

Tidak berbeda nasib dengan yang lain adalah Anisa. Ketika ditemui gadis berusia 
dua tahun ini sedang bermain di kubangan lumpur. Eli, sang ibu yang buta sejak 
kecil, tidak tahu kalau anaknya bergelimang lumpur. Berat badan Anisa hanya 5,5 
kg dengan perut membuncit. Anisa tidak pernah mengenal Ayahnya, karena sang 
Ayah kabur saat gadis itu baru dilahirkan. 

Hari sudah gelap, padahal menurut ibu Uun masih banyak yang harus dikunjungi. 
Selain jumlah balita gizi buruk yang sudah didata sampai diangka 100, anak-anak 
dan warga dengan penyakit lainnya pun sangat banyak. Ada yang sakit hernia, 
cacat mental, tumor kulit, TBC paru-paru, dan masih banyak lagi sehingga cukup 
pantas menamakan wilayah ini sebagai kampung pesakitan. 

Ketidakberdayaan ekonomi, ketidaktahuan (baca: kebodohan), juga ketidakadilan 
sistem kehidupan menjadi penyebab utama kondisi memprihatinkan beberapa desa di 
wilayah Parung Panjang ini. Bahkan, sebagian warga di Parung Panjang harus 
tinggal di atas tanah yang bukan milik mereka sendiri, karena tanah-tanah itu 
sudah menjadi milik orang kota. 

Beberapa desa di kecamatan ini bisa dikategorikan sebagai desa tertinggal, 
untuk bertahan hidup pun mereka harus bersusah payah mengurangi frekuensi makan 
yang biasanya tiga kali menjadi dua kali, bahkan sekali makan dalam sehari. 
Kesehatan seperti mimpi terindah yang takkan pernah mereka rasakan, sebab untuk 
membuat kartu GASKIN (keluarga miskin) pun mereka harus mengeluarkan sejumlah 
uang yang tak sedikit. Padahal kartu GASKIN inilah satu-satunya harapan mereka 
bisa mendapat perawatan kesehatan secara gratis. Adakah yang masih peduli? 

Kampung Pesakitan, pasti bukan hanya di Parung Panjang. Di banyak wilayah di 
negeri ini terdapat kampung sejenis, dengan ketidakberdayaan ekonomi, 
ketertinggalan akses informasi, keterbatasan pengetahuan, serta ketidakadilan 
system yang mengkerangkeng kehidupan masyarakat bangsa ini. Lihatlah, berapa 
banyak anak-anak menderita gizi buruk di negeri ini? (Gaw) 

Informasi: Bayu Gawtama, 02132855165, 085219068581
Bantuan bisa disalurkan melalui rekening: 

BCA 676 030 2021
Mandiri 128 000 4593 338

HOTLINE ACT: 021-7414482
[EMAIL PROTECTED] 
www.aksicepattanggap.org
www.aksicepattanggap.com

Kirim email ke