Benar pa saya setuju apa yg disampaikan ini....ajang SMS ini disalah artikan 
untuk tujuan mencari keuntungan yg sebesar2nya...contoh Indonesia idol mencari 
pemenang dgn SMS sebanyak-banyaknya 1 no HP bisa 100 bahkan 1000 SMS yg bisa 
mendukung jagoannya,, bagi punya uang tidak masalah akan tetapi ada pengaruh 
negatif yg lebih resiko tinggi dan sdh pasti tidak sempurna betul dalam ajang 
atau program tersebut..

American idol..1 no HP hanya bisa 1 SMS ...sempurna dalam arti positif dalam 
segala hal ya Vokal dll...

Pengalaman saya...yg membawa Mytha Juara Mamamia show menjadi juara 1 dalam 
ajang Mamamia show pertama, itu tidak dilakukan dgn cara SMS melainkan 100 juri 
votelock artinya masih bisa diterima sempurna karena yg menentukan keluar atau 
juara adalah juri votelock sendiri dan direferensikan dari eksekutor ini yg 
dinilai langsung...

Ikuti ajang konser yg tdk merugikan dan yg berkualitas dan hati2 mafia SMS 

terima kasih


Best Regards,
Syachriwan 
 
*******************************************
Tel.  (62-21) 71060025                                             Fax. (62-21) 
87901153
Mobile (62 - 8131031315)
[EMAIL PROTECTED]
*******************************************

  ----- Original Message ----- 
  From: Yakin 
  To: [EMAIL PROTECTED] 
  Sent: Thursday, April 17, 2008 12:46 PM
  Subject: [porsenipar] Fw: Mafia SMS


  Dapat dari milis tetangga.........   

  Dua hari yang lalu gw ketemu dengan salah seorang AFI (Akademi Fantasi 
Indosiar). Selain lepas kangen (he..he) gw juga dapat cerita seru dari 
kehidupan mereka.  Di balik image mereka yang gemerlap saat manggung atau 
ketika nongol di teve, kehidupan artis AFI sangat memprihatinkan.  Banyak di 
antara mereka yang hidup terlilit utang ratusan juta rupiah. Pasalnya, orang 
tua mereka ngutang ke sana-sini buat menggenjot sms putera-puteri mereka. Bisa 
dipastikan tidak ada satu pun kemenangan AFI itu yang berasal dari pilihan 
publik.  Kemenangan mereka ditentukan seberapa besar orang tua mereka anggup 
menghabiskan uang untuk sms. Orang tua Alfin dan Bojes abis 1 M. Namun mereka 
orang kaya, biarin aja.   
  Yang kasian mah, yang kaga punya duit. Fibri (AFI 005) yang tereliminasi di 
minggu-minggu awal kini punya utang 250 juta. Dia sekarang hidup di sebuah kos 
sederhana di depan Indosiar. Kosnya emang sedikit mahal RP 500.000. Namun itu 
dipilih karena pertimbangan hemat ongkos transportasi. Kos itu sederhana (masih 
bagusan kos gw gitu loh), bahkan kamar mandi pun di luar. Makannya sekali 
sehari. Makan dua kali sehari sudah mewah buat Fibri. Kaga ada dugem dan 
kehidupan glamor, lha makan aja susah.  Ada banyak yang seperti Fibri. Sebut 
saja intan, Nana, Yuke, Eki, dll.  Mereka terikat kontrak ekslusif dengan 
manajemen Indosiar. Jadi, kaga bisa cari job di luar Indosiar. Bayaran di 
Indosiar sangat kecil. Lagian pembagian job manggung sangat tidak adil. 
Beberapa artis AFI seperti Jovita dan Pasya kebanjiran job, sementara yang lain 
kaga dapat/jarang dapat job. Maklum artisnya sudah kebanyakan. Makanya buat 
makan aja mereka susah. Temen gw malah sering dijadiin tempat buat minjem duit. 
Minjemnya bahkan cuma Rp 100.000. Buat makan gitu loh. Mereka ga berani minjem 
banyak karena takut ga bisa bayar.  Ini benar-benar proyek yang tidak 
manusiawi. Para orang tua dan anak Indonesia dijanjikan ketenaran dan kekayaan 
lewat sebuah ajang adu bakat di televisi. Mereka dikontrak ekslusif selama dua 
tahun oleh Indosiar. Namun tidak ada jaminan hidup sama sekali. Mereka hanya 
dibayar kalo ada manggung. Itu pun kecil sekali, dan tidak menentu. Buruh 
pabrik yang gajinya Rp 900.000 jauh lebih sejahtera daripada mereka.  Nah acara 
ini dan acara sejenis masih banyak, Pildacil juga begitu. Kasian orang tua dan 
anak yang rela antre berjam-jam untuk sebuah penipuan seperti ini. Seorang anak 
pernah menangis tersedu-sedu saat tidak lolos dalam audisi AFI. Padahal dia 
beruntung. Kalau dia sampai masuk, bisa dibayangkan betapa dia akan membuat 
orang tuanya punya utang yang melilit pinggang, yang tidak akan terbayar sampai 
kontraknya habis.  mungkin ada yang tertarik buat ngangkat cerita itu ke media 
anda? Gw punya nomer kontak mereka. Gaya hidup mereka yang kontras dengan image 
publik kayanya menarik untuk diangkat. Ini juga penting agar anak-anak dan 
orang tua di Indonesia kaga tertipu lebih banyak lagi.   

  JUDI SMS MENGGILAAAA ......   
  Tiap stasiun televisi di Indonesia mempunyai acara kontes-kontesan. Tengok 
saja misalnya AFI, Indonesian Idol, KDI, Mamamia, Idola Cilik dsb. Sejatinya, 
tujuan dari acara ini bukan mencari bibit penyanyi terbaik. Acara ini hanya 
sebagai kedok. Bisnis sebenarnya adalah SMS premium.  Bisnis ini sangat 
menggiurkan, lagi pula aman dari jeratan hukum -- setidaknya sampai saat ini. 
Mari kita hitung. Satu kali kirim SMS biayanya --anggaplah-- Rp 2000. Uang dua 
ribu rupiah ini sekitar 60% untuk penyelenggara SMS Center (Satelindo, 
Telkomsel, dsb). Sisanya yang 40% untuk "bandar" (penyelenggara) SMS. Siapa 
saja bisa jadi bandar, asal punya modal untuk sewa server yang terhubung ke 
Internet nonstop 24 jam per hari dan membuat program aplikasinya. Jika dari 
satu SMS ini "bandar" mendapat 40% (artinya sekitar Rp 800), maka jika yang 
mengirimkan sebanyak 5% saja dari total penduduk Indonesia (Coba anda hitung, 
dari 100 orang kawan anda, berapa yang punya handphone? Saya yakin lebih dari 
40%), maka bandar ini bisa meraup uang sebanyak Rp 80.000.000.000 (baca: 
Delapan puluh milyar rupiah). Jika hadiah yang diiming-imingkan adalah ? rumah 
senilai 1 milyar, itu artinya bandar hanya perlu menyisihkan 1,25% dari 
keuntungan yang diraupnya sebagai "biaya promosi"! Dan ingat, satu orang 
biasanya tidak mengirimkan SMS hanya sekali. Masyarakat diminta mengirimkan SMS 
sebanyak-banyaknya agar jagoannya tidak tersisih, dan "siapa tahu" mendapat 
hadiah. Kata "siapa tahu" adalah untung-untungan, yang mempertaruhkan pulsa 
handphone. Pulsa ini dibeli pakai uang. Artinya : Kuis SMS adalah 100% judi.  
Begitu menggiurkannya bisnis ini, sampai-sampai Nutrisari membuat iklan yang 
saya pikir menyesatkan. Pemirsa televisi diminta menebak, "buka" atau "sahur", 
lalu jawabannya dikirim via SMS. Ada embel-embel gratis. Ada kata, "dapatkan 
handphone..." Saya bilang ini menyesatkan, karena pemirsa televisi bisa 
menyangka : "Dengan mengirimkan SMS ke nomor sekian yang gratis (toll free), 
saya bisa mendapat handphone gratis".  Kondisi ini sudah sangat menyedihkan. 
Bahkan sangat gawat. Lebih parah daripada zaman Porkas atau SDSB. 
  Jika dulu, orang untuk bisa berjudi harus mendatangi agen, jika dulu zaman 
jahiliyah orang berjudi dengan anak panah, sekarang orang bisa berjudi hanya 
dengan beberapa ketukan jari di handphone! . 

  Tolong bantu sebarkan kampanye anti judi SMS ini.  Tanpa bantuan anda, 
kampanye ini akan meredup dan sia-sia belaka. 

Kirim email ke