auRIE <[EMAIL PROTECTED]> wrote:Date: Wed, 16   Apr 2008 02:22:24 -0700 (PDT)
From: dauRIE   <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Orang Kaya di Kepala Herman   "The Pursuit Of Happyness"
To: [EMAIL PROTECTED]

Rie mengajak herman dan anaknya yang   berusia 6 tahun [pedagang di kios kecil 
dekat rmh] pergi jalan-jalan ke Mall,   sebab salah satu definisi orang kaya 
menurut herman seperti itu.    Sederhana, lucu, sekaligus tragis.
  Rie ajak herman beli baju   buat dia dan anaknya.  Kemudian kita makan fast 
food, lantas   nongkrong di starbuck. Jangan ditanya tatapan mata orang-orang 
pada kami   bertiga selama jalan-jalan di mall. 
  
Rie                       : “Apa rasanya kopi itu ?”


  Herman             : “Pahit   banget, bang”
  
Rie                   
  : “Herman, café ini gak secanggih warkop yang membuatkan kopi langsung   
dengan gulanya dan kita tinggal aduk”
  
Aku lantas menyodorkan gula sama   Herman yg masih bingung.
  
Rie                     : “Kamu tahu berapa harganya segelas kecil ini ?, lebih 
besar dari keuntungan   dagangan kios kamu selama 2 hari”
  
Kali ini herman melotot hampir   tersedak.
  
Keuntungan dagangan herman seharinya sekitar 10   s.d. 20 ribu. Kemudian 
dipotong ongkos angkot 4 ribu dan makan sekali sehari 5   ribu. Sebungkus nasi 
itu masih harus berbagi dengan anaknya. Kalo lagi apes   dan dia Cuma dapat 
keuntungan 10 ribu, maka praktis herman hanya mengantongi   keuntungan seribu 
perak berjualan dari jam 7 pagi hingga tengah   malam.    
  
Rie                       : “Kamu coba lagi rasanya kopi yang sudah kau kasih 
gula itu, apa rasanya sama   atau beda dengan kopi sachet yang ada di kios kamu 
?”
  
Herman             : “Hampir tak ada   bedanya, bang. Rasa kopi 
dimana-mana sama aja”
  
Rie                     :  “Lebih enak mana perasaan kamu minum kopi di café 
ini atau di kios   kamu”
  
Herman             :  “Lebih enak minum kopi di ki! os bang, bisa bebas sambil 
angkat kaki,   bisa bebas sambil duduk gaya apa aja”
  
Rie                     : “Kamu paham sekarang kan ?, minum kopi adalah perkara 
selera. Kalau kamu   merasa kopi sachet lebih enak dan tempat minum kopi paling 
indah di kios kamu   sendiri.  Maka orang-orang yg ada di café ini harus iri 
sama kenikmatan   minum kopimu itu, kamu lebih kaya dari mereka semua dalam 
urusan minum   kopi”
  
Herman kini tersenyum   sumringah. Kemudian meluncurlah cerita tentang 
cita-citanya memperbaiki hidup   dengan sholat dan naik haji 
  
Herman             : “Saya sekarang tiap kali waktu sholat tutup kios, bang. 
Saya berdoa, udah 3   tahun tak ada perkembangan usaha”
  
Rie                     : “Bagus itu, lantas kalo selama setahun ke depan kamu 
terus sholat dan   beribadah dengan rajin ternyata usahamu gak berkembang, apa 
kamu berhenti   sholat ?”
  
Kali ini herman bener-bener gak   menyangka reaksi jawabanku dan hanya terdiam.
  
Rie                     : “Kalo usahamu berkembang dan kamu bisa menabung, apa 
keinginan   kamu”
  
Herman             : “Naik haji,   Bang”
  
Rie                     : “Mantap…sekarang kamu mau mencoba menyisihkan uang, 
misalnya 500 atau 1000   perak setiap hari ?. Artinya dalam sebulan tabungan 
kamu 15 atau 30   ribu”
  
Herman             : “Berat bang, belum tentu bisa, saya mau mencobanya”
  
Rie                     : “Kamu punya KTP ?”
  
Herman mengangguk   dan sinar matanya tamp ak bertanya-tanya.
  
Rie                     : “Sekarang sudah gak sempat ke Bank, besok atau lusa 
kita sama-sama pergi ke   Bank, kita buka rekening buat tabungan naik haji 
kamu, nanti kamu ingatkan   aku. Bawa KTP jangan lupa”
  
Jelas herman tak punya   uang buat setoran awal buka rekening di 
Bank yang ratusan ribu rupiah, itu   akan jadi urusanku dan aku tak mau 
menceritakannya sekarang sama Herman, takut   semangat menabungnya jadi lemah 
atau mungkin malah hilang.
  
Herman             : “Biaya naik haji kan   puluhan juta, kalo saya nabung 
segitu, kapan saya naik hajinya, bang    ?”
  
Rie                     : “Kapan kamu mati, herman ?”
  
Herman             : “Ada-ada aja abang ini, nanyanya aneh”
  
Rie                     : “Pertanyaan kamu barusan lebih gila lagi, sama 
gilanya ketika kamu sholat   dan berdoa lantas berharap kios kamu jadi toko 
besar tanpa kamu melakukan   apapun”
  
Masih banyak   obrolan lucu dan gak penting lainnya, setelah dari strabuck 
kuajak herman ke   pasar Bogor buat beli kopiah haji, kubiarkan dia memilih 
kopiah haji sesuai   keinginannya.  Kemudian kuantarkan dia pulang ke kios   
mungilnya.
  
Rie                     : “Hari ini  kamu udah jadi orang kaya seperti yang 
kamu ceritakan, kamu   udah menginjakkan kaki di mall, terus kamu udah makan 
dan minum di tempat   orang kaya. Sekarang kamu tinggal berusaha menabung 
minimal 500 perak per   hari, sebulan sekali nanti kamu tabung uang itu di 
Bank. Satu hal lagi, kamu   mau kan pakai kopiah haji itu setiap hari sambil 
jualan ?”
  
Herman             : “Aku malu bang, kalo harus pakai kopiah haji  tiap   hari”
  
Rie                     : “Wahai haji herman, naik haji bukan urusan kopiah 
yang kau dapat halal   dengan membeli dan bukan mencurinya.  Kalo kamu nanti 
terkabul naik haji   sekalipun, gak perlu malu kalau ke mesjid pake topi atau 
gak pakai   kopiah”.
  
========================================================
  
Ketika kita bisa memaknai bahwa makan   fast food yg puluhan ribu atau makan di 
restoran mewah ratusan ribu, pada   hakekatnya sama nikmatnya dengan makan di ! 
warteg pinggir jalan seharga 5   ribu perak. 
  
Makan adalah persoalan kebutuhan   kalori dan rasa kenyang, bukan soal jumlah 
dan harga.
  
Ketika kita bisa tidur di hotel mewah   atau kasur butut di kost atau di 
emperan jalan dengan sama   nikmatnya.  Kalo tempat kita tidur dikaitkan 
higienis dan   kesehatan, tentu soal lain. Namun esensi tidur adalah perkara 
memejamkan mata   dan terlelap, tak terkait dengan prestise.

Begitulah hidup, sederhana saja...seperti definisi orang kaya   menurut Herman 
: manusia yg jalan - jalan & belanja di Mall   


Special Thank's To : Herman
"Buatku Herman adalah jelmaan Chris Gardner di   film The Pursuit Of 
  Happyness yg dipe! rankan Will Smith"


Herman aslinya dari Madura, matanya   buta sebelah, terdampar di Bogor dan 
berjualan rokok serta pernak-perniknya di   kios kecil deket rumah Rie. Punya 
anak laki-laki usia 6 tahun yg selalu   dibawanya kemanapun dia pergi.
Mantan Istrinya meninggalkan Herman dan anaknya   balik ke madura ketika 
anaknya berusia  1 tahun, alasan klise karena   kehidupan Herman tidak 
menjanjikan, kabar terakhir istrinya sekarang udah   kawin lagi.
Setiap kali Herman bercerita tentang mantan istrinya, matanya   berair dan 
suaranya lirih. Kegigihannya membesarkan dan merawat anak lelakinya   dalam 
keterhimpitan hidup, mengingatkanku pada Chris   Gardner.
      Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try 
  it now.



Salam EPOS,
 
Lies Sudianti
Founder & Moderator The Profec 
0816995258
021-98095248
 






      
____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and 
know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.  
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ

Kirim email ke