Jumat, 25/04/2008 12:50 WIB Wanita dan kesuksesan oleh : Anthony Dio Martin Managing Director HR Excellency
I've always believed that one woman's success can only help another woman's success. (Gloria Vanderbilt) Bulan ini kita banyak bicara soal wanita dan kesuksesan mereka, serta emansipasi. Dibandingkan dengan zaman Kartini dulu, wanita sekarang lebih maju, lebih punya kesempatan, dan juga lebih berani dalam mengekspresikan potensi mereka. Bahkan, dalam banyak aspek, wanita lebih unggul dibandingkan dengan pria. Tak heran jika John Naisbitt dalam buku Megatrend-nya dulu, pernah meramalkan salah satu tren penting dunia adalah era kepemimpinan wanita. Wanita akan mengambil alih posisi puncak kepemimpinan dalam berbagai organisasi penting. Hal ini menurutnya karena wanita, secara genetik, punya banyak 'karakter' yang menyeimbangkan kepemimpinan yang kebanyakan diisi oleh laki-laki saat ini. Yang jelas, dunia laki-laki yang banyak diisi dengan dimensi 'yang' seperti kekuatan, rasio, otot, keras, macho, perlu diimbangi dengan dimensi 'ying' seperti kelembutan, kepedulian, hati, perasaan, dan fleksibilitas. Dalam tulisan ini, secara khusus kita membicarakan beberapa sikap, kebiasaan ataupun pola pikir yang masih menghambat wanita untuk mengaktualisasikan kemampuannya. Pertama, limiting belief (keyakinan keliru) dari wanita itu sendiri yang membelenggu dirinya. Tanpa sadar, banyak wanita tidak berkembang karena berbagai keyakinan salah yang dimilikinya, misalnya: peluang tersebut hanya dimiliki oleh kaum laki-laki. Bahkan, saya pernah mempunyai peserta pelatihan yang membatasi pengembangan dirinya karena takut dianggap terlalu ambisius. Dia percaya bahwa laki-laki tidak suka bahkan takut pada wanita yang terlalu ambisius dan sangat sukses. Sama seperti peserta tersebut, saat ini, tanpa disadari masih banyak wanita yang terbelenggu oleh limiting belief mereka yang keliru seperti: (1) hanya laki-laki yang berpeluang sukses; (2) laki-laki takut dengan wanita sukses; (3) wanita sukses sulit dapat jodoh; (4) wanita yang kariernya sukses, keluarganya kacau; (5) wanita yang sukses dan berhasil, tampak kurang feminin dan mengerikan. Belas kasihan Kedua, peluang dan kesempatan bagi wanita muncul karena tuntutan dan belas kasihan, bukan karena kenyataan potensi yang sesungguhnya. Karena itu, mereka 'dijatahi' kursi dan posisi. Ini tentu saja bisa melemahkan persepsi soal kemampuan wanita. Menurut saya, alangkah bagusnya jika kesempatan itu muncul karena memang wanita punya kemampuan dan potensi tersebut. Contoh terbaik bisa kita lihat pada Margareth Thatcher ataupun Condeleezza Rice yang mendapatkan kursi kepemimpinan penting di dua negara adidaya. Mereka mendapatkan posisi tersebut bukan karena belas kasihan. Semua orang mengakui kehebatan strategi dan pemikiran mereka. Bahkan, saat memimpin Inggris, terjadi perang Malvinas yang membutuhkan Kepemimpinan luar biasa dari Tahtcher. Dia membawa Inggris pada kemenangan luar biasa dengan korban yang sangat minim. Ketiga, harga diri yang kurang pada wanita. Suatu prinsip yang umum adalah ketika seseorang tidak bisa menghargai dirinya maka sulit pula mengharapkan orang lain juga bisa menghargai mereka. Seperti diungkapkan legenda sepak bola Pele, "Orang harus menjadi kuat di dalam dulu agar bisa menjadi kuat di luar". Kenyataannya, banyak wanita yang tidak dihargai dan tidak mendapat respek, karena mereka pun tidak memberikan kesempatan untuk menghargai dan merespek dirinya sendiri. Salah satu contoh dan teladan yang sangat bagus adalah Oprah Winfrey. Meskipun masa lalunya sangat buruk dan hidup dengan kondisi yang sangat kekurangan. Bahkan, Oprah pernah lari dari rumah dan hamil muda meskipun bayinya meninggal dan dibesarkan oleh keluarga yang berantakan. Namun, dalam hal menghargai dirinya, Oprah tidak membiarkan dirinya ditentukan oleh masa lalunya yang buruk. Meskipun sempat tidak dianggap saat memulai kariernya sebagai pembawa acara, tetapi keyakinannya pada kemampuan serta penghargaannya yang baik terhadap dirinya sendiri, membuat orang pun respek padanya. Saat ini, Oprah menjadi seorang ikon 'wanita sukses' dengan Harpo (kebalikan namanya) production yang memproduksi talkshow yang disaksikan jutaan pemirsa di dunia setiap kali tayang. Itulah contoh yang baik, pentingnya bagi wanita untuk mulia membangun harga diri yang positif pada diri mereka sendiri. Keempat, lingkungan dengan orang-orang yang justru merugikan ide dan aspirasi para wanita itu. Secara alamiah, menurut Allan Pease yang menulis buku Why Men Can Only Do One Thing at One Time and Women Can't Stop Talking, wanita dikelilingi oleh lingkungan yang banyak menggunakan verbal. Wanita lebih banyak berbicara, berinteraksi, dan bergaul. Namun, tidak semua lingkungan pergaulan ini baik adanya. Banyak di antara pergaulan ini yang berisi para 'naysayer' yakni orang-orang yang justru negatif, pesimistis, dan bahkan menertawakan ide mereka. Akibatnya, banyak di antara para wanita ini yang justru terhambat oleh negative external talk (pembicaraan negatif dari eksternal) yang menertawakan, mencibir ataupun melemahkan semangat mereka. Sayangnya, banyak di antara mereka yang terlalu mendengarkan mereka, sehingga ide ataupun potensi mereka pun terkubur selamanya. Mari kita ingat JK Rowling, salah satu wanita terkaya di dunia berkat tokoh Harry Potter ciptaannya. Dia bercerita, kalau saja dia terlalu mendengarkan semua pihak di sekelilingnya, dia tidak akan pernah sesukses sekarang. Bayangkan, lingkungannya adalah lingkungan bisnis yang tidak suka fantasi (saat dia menciptakan tokoh Harry Potter, JK Rowling bekerja sebagai sekretaris di Amnesty International). Selain itu, ide awal bukunya sempat dicerca oleh kaum religius karena bicara soal sihir. Selain itu, waktu pertama kali launching bukunya, yang hadir hanya empat orang! Nah wanita, saatnya untuk unjuk gigi karena waktu dan pintu kesempatan telah terbuka luas! sumber : web.bisnis.com
