Lurah & Camat
A.B. Susanto*

--------------------------------------------------------------------------------

Presiden melontarkan gagasan untuk memperluas tugas dan wewenang Camat. Menurut 
Presiden jika dijabarkan dengan tepat, sinergi antara masyarakat dan pemerintah 
dapat terwujud. Layanan yang kian efektif di satu sisi, dan partisipasi 
masyarakat yang semakin berdaya akan membangun keseimbangan yang konstruktif. 
Gagasan ini juga didukung oleh Asosiasi Pemerintah Propinsi Seluruh Indonesia, 
yang menyarankan agar dituangkan dalam UU Pemerintahan Daerah yang baru. 

Salah satu inti dari efektifitas manajemen pemerintahan adalah kemampuan untuk 
memberikan layanan publik. Kesadaran terhadap para Camat sebagai ujung tombak 
layanan kepada publik tampaknya mulai mencuat, seiring dengan implementasi 
otonomi daerah. Bukankah yang bersentuhan langsung dengan masyarakat adalah 
para pelayan publik yang berada di garda terdepan.  

Tetapi sebenarnya garda yang paling dalam bersentuhan langsung dengan 
masyarakat terkait dengan kebutuhan mereka sehari-hari terutama adalah para 
Lurah untuk inilah atas inisiatif DPD KORPRI DKI Jakarta dan Pemprop DKI, yang  
bekerjasama dengan The Jakarta Consulting telah menyelenggarakan serangkaian 
pelatihan  kepada para Lurah dan Camat di DKI Jakarta. 

Dalam dunia bisnis para Lurah dan Camat inilah yang disebut sebagai 
frontliners, yang berhubungan langsung dengan pelanggan. Merekalah yang 
dianggap sebagai titik paling menentukan dalam menjamin kualitas layanan yang 
diberikan oleh perusahaan kepad pelanggan. Dalam konteks layanan masyarakat, 
merekalah garda terdepan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat, yang 
memberi layanan mengenai berbagai kebutuhan warga. 

Pemprop DKI Jakarta juga telah meningkatkan kewenangan dan tanggungjawab    
kepada jajaran terdepannya sampai ke tingkat kelurahan. Karenanya diperlukan 
kinerja yang baik dari aparatur pemerintah di tingkat yang paling dekat dengan 
akses masyarakat luas ini. Namun, terselenggaranya layanan publik yang dapat 
memenuhi harapan dan aspirasi masyarakat metropolis yang makin kritis tidak 
datang dengan sendirinya. Upaya pemberdayaan ini harus diiringi kesiapan mental 
dan kompetensi dalam taraf tertentu, agar sasaran utama berupa peningkatan 
kinerja layanan publik tercapai. Langkah awal adalah memberi mereka bekal agar 
tercipta kesadaran pentingnya kepedulian terhadap publik (public care), yang 
didukung oleh budaya melayani (service culture) serta kepemimpinan yang memadai 
 dan kemampuan berkomunikasi yang baik.

Public Care merupakan adaptasi dari istilah Customer Care dalam dunia bisnis. 
Seperti kita ketahui dalam dunia bisnis telah terjadi pergeseran paradigma dari 
Customer Service menuju Customer Care, yang tingkatannya dianggap lebih tinggi. 
Jika melihat istilah yang penting dalam kehidupan manusia seperti kesehatan, 
yang digunakan adalah istilah health care, bukannya  health service. Demikian 
pula dengan baby care, skin care, body care dan lain-lain. Customer service 
lebih ditujukan untuk kepuasan pelanggan, sementara customer care untuk 
loyalitas pelanggan. Jika customer service diantaranya menekankan complaint 
handling, Customer care secara proaktif mengusahakan bagaimana agar complaint 
itu tidak terjadi. Boleh dikatakan customer care adalah 'melayani dengan hati'. 

Untuk mendukung public care ini tentu harus didukung oleh budaya melayani 
(service culture) dan peduli, serta pemahaman yang baik mengenai kualitas 
layanan (service quality). Implementasi untuk memberikan kepedulian dan layanan 
ini tentu harus ditunjang pula oleh kepememimpinan, agar Lurah dan Camat dapat 
mengggerakkan unit tugasnya dengan baik. Sementara dalam menghadap masyarakat 
yang pendidikannya semakin tinggi, aspirasi yang juga meningkat dan semakin 
kritis dalam berpikir, para Camat dan Lurah ini harus dibekali kompetensi dalam 
berkomunikasi dengan masyarakat agar 'tidak tertinggal'.  

Kepemimpinan merupakan salah satu unsur pokok, agar Lurah dan Camat dapat 
diberdayakan dan dapat berfungsi dengan baik sebagai garda terdepan agar dapat 
menumbuhkan semangat kepedulian dan melayani. Dalam survei kami kepada para 
Lurah dan Camat dalam pelatihan itu menunjukkan bahwa prioritas utama dalam 
pengembangan kepemimpinan (first priority improvement) berupa keteladanan. 
Keteladanan bersama dengan kemampuan membangun kerjasama bahkan dinyatakan oleh 
lebih dari separuh responden. Sisanya berupa 'Kejelasan Arah'  yang diikuti 
secara berturut-turut oleh 'Kemampuan memobilisasi bawahan/pengikut'. 

Ketika ditanyakan penilaian tentang sejauh manakah keseimbangan antara 
Kepemimpinan (Leadership) dan Kepengikutan ( Followership) di lingkungan 
kerjanya, sekitar seperempat responden secara ekstrim menyatakan belum 
setimbang. Penilaian ini menyisakan pekerjaan rumah berupa penyelarasan antara 
kepemimpinan dan kepengikutan dengan segera.

Dalam Kepengikutan  (Followership) di lingkup pekerjaan/instansinya, rupanya 
visi dianggap yang paling pantas dikedepankan untuk dikembangkan. Yang bersama 
komitmen menempati dua urutan teratas yang dipilih lebih dari separuh 
responden. Artinya kejelasan visi dan komitmen merupakan kata kunci untuk 
menimbulkan kepengikutan. <Bisnis Indonesia> 


--------------------------------------------------------------------------------

*Managing Partner The Jakarta Consulting Group


http://www.jakartaconsulting.com/art-09-03.htm

Kirim email ke