Di bawah ini artikel sebelum kenaikan BBM tahun 2005 ....
Prinsipnya sama, pembodohan publik lewat birokrat koruptif ... lamis ...

sumber :
http://fgaban.blogspot.com/2005/04/pencabutan-subsidi-bbm-dan-kapitalisme.html

*********************************


Thursday, April 21, 2005
Pencabutan Subsidi BBM dan Kapitalisme Semu 

Salah satu argumen terpenting yang diajukan para pendukung pencabutan subsidi 
BBM adalah ini: Harga minyak di pasaran dunia meningkat tajam (kini berkisar 
US$ 50 dan bahkan tidak mustahil meroket ke US$ 100).

Jika harga minyak naik maka demikian pula dengan besaran subsidi. Ini sangat 
logis. Menurut pemerintah, karena kenaikan itu pemerintah kini harus 
mengeluarkan lebih dari Rp 70 trilyun untuk subsidi minyak.

Meski masih anggota OPEC, Indonesia memang bukan lagi "eksportir minyak". 
Justru tak diuntungkan oleh kenaikan harga minyak.

Indonesia masih menjadi eksportir minyak mentah. Namun pada saat yang sama 
menjadi importir minyak olahan. Harga minyak olahan lebih mahal dari minyak 
mentah, sehingga dinilai dari uangnya (bukan volume minyak), Indonesia kini 
net-importer (pengimpor minyak).

Ini memang ironis. Selama puluhan tahun, ketika minyak masih berlimpah, 
Indonesia (Pertamina) gagal membangun instalasi pengolahan sehingga tak bisa 
menangguk keuntungan dari naiknya harga minyak dunia sekarang. Kini, setelah 
minyak habis, Indonesia harus gigit jari. Ini kesalahan Orde Baru yang 
terpenting dalam kebijakan migas dan iklim korupsi yang mengikutinya. Bukan 
kesalahan Pemerintahan Yudhoyono.

Dalam jangka panjang, terutama jika harga minyak justru cenderung naik, subsidi 
minyak memang akan melangit dan menggerogoti keuangan pemerintah. Jawaban logis 
pemerintah: mengurangi atau bahkan menghapus subsidi minyak.

Nampaknya logis. Tapi jawaban ini adalah jawaban mau enaknya sendiri, 
membebankan tanggungjawab pemerintah kepada rakyat.

Di mana-mana, tugas pemerintah adalah memberi subsidi (kata lain dari fasilitas 
dan kemudahan) kepada rakyatnya. Kata "memberi" bahkan cenderung menyesatkan. 
Sebagian besar pemasukan pemerintah Indonesia kini berasal dari pajak (sekitar 
80%). Jadi pemberian subsidi bukanlah sikap Sinterklas. Pemerintah hanya 
menyalurkan kembali apa yang sudah diberikan rakyat melalui pajak.

Ada berbagai macam subsidi. Ada pula berbagai sifat subsidi. Tax holiday, 
misalnya, yang diberikan kepada perusahaan yang mau berinvestasi di sektor 
sosial seperti pendidikan dan kesehatan, adalah bentuk subsidi. Di Amerika 
orang mengenal social security, jaminan sosial (biaya hidup kita ditanggung 
negara jika kehilangan pekerjaan dan jika jatuh miskin). Subsidi pertanian di 
Amerika dan Eropa termasuk tinggi.

Dalam dunia perbankan kita dulu mengenal Bantuan Likuiditas Bank Indonesia 
(BLBI - yang pada dasarnya subsidi juga, diberikan pada industri perbankan). 
Bentuk subsidi lain: penjaminan bank. Jika sebuah bank ditutup karena bangkrut, 
meski bank itu bank swasta, pemerintah akan membayar dana nasabahnya--dan 
itulah yang terjadi sejak 1998 hingga kasus penutupan Bank Global belum lama 
ini. 

Subsidi BBM sekarang (Rp 70 trilyun) sangat kecil dibanding subsidi yang 
diberikan kepada sektor perbankan swasta. Dana publik dipakai untuk subsidi 
swasta (segelintir konglomerat dan orang-orang kaya yang punya deposito di 
bank). Dan dalam jumlah yang sangat besar. 

Pada 1998, dengan restu IMF, rakyat Indonesia dipaksa membeli 
perusahaan-perusahaan bangkrut milik konglomerat. Caranya? Pemerintah 
mengeluarkan surat utang (obligasi) dengan nilai Rp 700 trilyun lebih. Siapa 
membayar utang itu? Publik, kita semua, tak peduli kaya atau miskin.

Pemerintah, melalui BBPN, memang menguasai aset perusahaan swasta yang kemudian 
dijual. Tahun lalu, ketika BPPN dibubarkan, kita tahu nilai aset yang bisa 
dikembalikan kurang dari 30%--itupun belum dikurangi ongkos operasi BPPN yang 
aduhai. Tambah ironis, beberapa perusahaan BPPN yang sudah sehat setelah 
disuntik dana masyarakat, dijual kepada swasta lagi (dalam beberapa hal pemilik 
lama) dengan harga murah.

Publik dirugikan berlapis-lapis. Dan nilai kerugian mencapai ratusan 
trilyun--jauh lebih besar dari subsidi BBM pada tingkat sekarang.

Subsidi BLBI dan bail-out perusahaan swasta pada 1998 adalah subsidi langsung, 
yang hanya dinikmati segelintir orang meski nilainya ratusan trilyun. Sementara 
subsidi BBM adalah subsidi tak langsung. Minyak adalah komoditas strategis, 
yang gejolak harganya mempengaruhi berbagai sektor sekaligus. Subsidi minyak 
bukan subsidi langsung: bukan minyak itu sendiri yang dikirimkan langsung ke 
rumah-rumah kita. Subsidi minyak, karena perannya yang strategis, adalah 
peredam kenaikan harga-harga kebutuhan pokok dan layanan dasar seperti 
kesehatan dan pendidikan. Jika subsidi dihapus, dan harga barang serta jasa 
naik, maka rakyat akan kehilangan daya beli, khususnya rakyat di kalangan 
miskin.

Pemerintah kini berusaha mengubah subsidi tak langsung itu menjadi subsidi 
langsung. Argumennya: subsidi BBM yang tidak langsung dinikmati orang-orang 
kaya yang bermobil dan secara intensif menggunakan listrik (dari BBM juga). 
Dana kompensasi BBM adalah bentuk subsidi langsung itu (beras miskin, kesehatan 
gratis, beasiswa untuk orang miskin). Ini oke saja, tapi ada dua pertanyaan 
penting:

1. Bagaimana orang miskin didefinisikan? Seberapa banyak mereka? Hanya 13%? 
Bagaimana dengan 50% orang yang mendekati miskin (berpenghasilan di bawah US$ 
2)? 

2. Di mana saja meraka? Punyakah pemerintah alamat mereka? Pertanyaan ini 
relevan karena dana kompensasi adalah subsidi langsung, dari pintu ke pintu. 
Bagaimana mendistribusikannya secara efektif dan tanpa ada penyunatan?

Memang ada unsur ketidakadilan dalam subsidi BBM. Orang kaya menggunakan BBM 
lebih banyak dari orang miskin. Ketidakddilan itu harus dikoreksi. Tapi, 
haruskah dengan menghapus seluruh subsidi? Bukankah ada cara lain: kenakan 
pajak yang lebih besar kepada orang kaya, pada mobil yang dipakai dan setiap 
perangkat elektronik mereka. Mengingat jumlah orang miskin jauh lebih banyak 
dari orang kaya, mana lebih masuk akal: menarik pajak orang kaya atau 
mendistribusikan subsidi langsung kepada orang miskin?

Jika mengurus bantuan langsung ke Aceh dan Nias dengan target dan jenis bantuan 
yang jelas saja tidak becus, bagaimana menyalurkan bantuan kepada puluhan juta 
orang miskin...

Dengan menghapus subsidi BBM dan membiarkan negara tetap membayar utang 
obligasi rekap perbankan, Pemerintah Yudhoyono telah memilih untuk berpihak 
pada orang-orang kaya.

Orang mengatakan ini merupakan konsekuensi dari kapitalisme. Keliru. Di negeri 
kapitalis Amerika dan Eropa, hal seperti ini tidak terjadi. Subsidi untuk orang 
miskin dan sektor pertanian di sana tergolong tinggi. Hampir mustahil bisa kita 
temukan pula di negeri-negeri kapitalis itu praktek busuk: betapa dengan mudah 
utang swasta dialihkan menjadi utang publik. Penjaminan dan bail-out terhadap 
perusahaan/utang swasta hanya dimungkinkan melalui perdebatan publik yang luas, 
bahwa itu memang mengandung kepentingan publik.

Sebaliknya dari menguntungkan publik, bail-out terhadap perusahaan swasta di 
Indonesia telah menyumbang secara signifikan jumlah utang yang harus dibayar 
publik. Pengeluaran negara untuk pembayaran utang sampai sekarang mencapai 36% 
(lebih dari Rp 100 trilyun) dari pengeluaran pemerintah--jenis pengeluaran 
terbesar. Dengan proporsi pengeluaran untuk membayar utang, pemerintah hanya 
sedikit menyisakan uang untuk pembangunan infrastruktur dan layanan sosial.

Dalam situasi seperti itu, untuk menyeimbangkan penerimaan dan pengeluaran 
negara, Pemerintah Yudhoyono punya banyak tugas dan tanggungjawab, yang 
semestinya dia sadari ketika berkampanye menjadi presiden.

1. Mengurangi derajat korupsi di kalangan birokrat.
2. Meningkatkan manajemen dan profesionalisme dalam penarikan pajak.
3. Menegosiasi utang luar negeri yang gila jumlahnya.
4. Membenahi BUMN yang korup, yang menyedot 20% pengeluaran negara.
5. Memikirkan strategi pembangunan ekonomi yang lebih masuk akal dan 
mempertimbangkan secara serius kalangan miskin.
6. Kreatif dan imajinatif mencari sumber-sumber daya baru untuk diolah dan 
dijual ke pasar internasional (dua pertiga negeri kita adalah perairan dengan 
kekayaan luar biaya yang belum dieksplorasi)
7. Membangun sistem transportasi publik yang efisien, murah dan nyaman, 
sehingga mengurangi orang berlomba-lomba membeli mobil pribadi yang boros BBM.
8. Memperkuat pemupukan modal sosial melalui pendidikan dan kesehatan yang 
berkualitas namun murah. Kini rumah sakit dan sekolah justri diprivatisasi 
secara radikal sehingga makin sulit dijangkau kalangan miskin.

Semua itu membutuhkan tenaga dan pikiran yang prima, juga dukungan politik yang 
luas. Pemerintah Yudhoyono tak hanya malas berpikir tapi justru meyepelekan 
dukungan politik publik: dia bilang "I don't care!"

Pemerintah Yudhoyono malas berpikir dan kurang keras menuntut diri sendiri. Dia 
menyerahkan beban kepada masyarakat. Jika itu rumusnya: siapa saja akan senang 
jadi presiden.

Lebih menjijikkan jika sikap seperti itu justru didukung oleh kalangan 
akademisi, cendekiawan dan budayawan seperti yang digalang Freedom Institute.***

Kirim email ke