Dear All,

Artikel menarik bagi Anda yang di kantornya menerapkan ISO 9001:2000.
Jika Anda termasuk yang akan memulai menerapkan, Anda boleh berdiskusi dengan 
saya.
Have a nice day!

Regards / Jaerony.-


************************************************



Kegagalan penerapan ISO 9001:2000, salah siapa ?
April 25, 2008 


Dari pengalaman saya selama ini terutama kala masih rutin melakukan assessment 
sistem mutu ke berbagai perusahaan, kegagalan penerapan ISO 9001:2000 
sebenarnya sudah dimulai sejak setting awal sistem mutu di suatu perusahaan. 
Saya pernah ketemu satu perusahaan yang setelah menjalankan ISO , kinerja 
produksi dan penjualannya malah turun total. Dari yang sebelumnya beroperasi 
dengan 9 burner, setelah ber-ISO (dan lulus disertifikasi) malah hanya 
beroperasi dengan 1 burner dan tidak sanggup bersaing harga secara kompetitif 
dengan kompetitornya. Akhirnya mereka menyalahkan ISO sebagai biang keroknya. 
Ternyata setelah diperiksa lebih mendalam, banyak sekali pekerjaan yang 
redundant dan proses-proses sama yang dikerjakan dua kali semata karena 
(menurut persepsi mereka) untuk memenuhi standard ISO 9001:2000. 



Contoh klasik yang sering ditemukan : prosedur kerja sampai ada dua , satu yang 
ditunjukkan kalau sedang dilakukan audit ISO 9001:2000, yang satu lagi yang 
memang dipake dalam proses sehari-hari. Target kinerja dibuat dua jenis, satu 
disebut 'quality objectives' semata karena biar sama dengan terminology ISO 
9001:2000 dan yang lain adalah target yang benar-benar sejalan dengan bisnis 
mereka dan yang pengukurannya benar-benar bermanfaat buat operasional serta 
bisnis secara keseluruhan. Karena kesalahan persepsi akan 'quality objective' 
seringkali 'quality objectives' ini ditetapkan dalam bentuk indikator-indikator 
yang 'jauh panggang dari api' terhadap bisnis mereka. Dengan demikian, di dalam 
perusahaan akan selalu ada dua jenis dokumen dan dua jenis rekaman/data. Yang 
satu adalah 'dokumen /data ISO' sedang yang lain adalah 'yang beneran'. 



Begitulah, setiap kali mau ada audit surveillance, buru-buru semua dokumen yang 
dikategorikan 'dokumen / data ISO' dipersiapkan, sementara dokumen-dokumen dan 
rekaman-rekaman yang sebenarnya mereka pakai sehari-hari disembunyikan buat 
sementara. Akhirnya setiap akan surveillance, semua orang bergadang sampai pagi 
untuk persiapan. Motivasi karyawan pun menurun, produktifitas menjadi turun 
karena ada pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan dua kali, pencatatan dan 
dokumentasi yang berlebihan, serta cost yang juga naik karena proses yang 
menjadi semakin panjang dan tidak efektif. Akibatnya harga produk menjadi lebih 
tinggi dan fleksibilitas terhadap penerimaan sampai pemrosesan order menjadi 
turun. Karenanya pemrosesan order sampai menjadi produk memakan waktu yang 
lebih lama. Akhirnya customer memilih vendor lain dan perusahaan ini kehilangan 
bisnisnya.



Apakah itu memang kesalahan ISO 9001:2000 ? Jawabannya : bukan !. 

ISO 9001:2000 adalah management tool yang disarikan berdasarkan best practice 
di pengelolaan sistem mutu yang baik di ratusan perusahaan. Sebagai tool, tentu 
tergantung pemakainya apakah akan menghasilkan sesuatu yang baik atau malah 
jadi boomerang buat sipemakai. Kesalahan terbesar memang adalah di sisi 
interpretasi dan kemudian implementasi. Semua klausa-klausa di ISO 9001:2000 
sebenarnya dibuat generic sehingga diharapkan bisa diterapkan disegala jenis 
bisnis, terlepas dari produk/jasa apa yang dibuat (silahkan baca klausa 1.2). 



Seperti contoh kasus di atas, banyak sekali persyaratan ISO 9001:2000 yang 
diinterpretasikan salah. Contohnya soal dokumentasi. Di ISO 9001:2000 
sebenarnya hanya diminta 6 (enam) prosedur mandatory. Sisanya ? terserah 
justifikasi organisasi asalkan prosedur yang ada memang cukup untuk menjalankan 
proses bisnis dengan efektif demi tercapainya kepuasan pelanggan, perbaikan 
berkelanjutan dan tentunya keberlangsungan bisnis. Justru di ISO 9001:2000, 
efektifitas proses dan kepuasan pelanggan adalah esensi yang sangat ditekankan 
seperti dijabarkan di banyak klausa (lihat klausa 0.2 , 1.1.b, 4.1, 4.2.4, 
5.1,5.5.3, 5.6, 6.1, 6.2.2, 7.2.3, 8.1,8.2.2, 8.4, dan 8.5.1) . Persoalan lain 
adalah terkait sasaran mutu yang hanya di atas kertas dan tidak sinergi dengan 
tujuan bisnis perusahaan. Lalu pemetaan proses bisnis yang tidak benar, 
sehingga tidak bisa diperoleh skema proses bisnis yang paling efektif untuk 
mencapai tujuan bisnis. 



Contoh klasik lainnya yang cenderung menjadi salah kaprah adalah terkait 
pemantauan persepsi dan kepuasan pelanggan (klausa 8.2.1). Banyak perusahaan 
salah kaprah mengartikan klausa ini sebagai kewajiban melakukan survey kepuasan 
pelanggan. Siapa bilang ISO 9001:2000 mewajibkan perusahaan melakukann survey 
kepuasan pelanggan ? Silahkan cari di ISO 9001:2000, tidak ada kewajiban 
seperti ini. 



Survei kepuasan pelanggan hanyalah 'satu cara' dari sekian banyak cara yang 
bisa dilakukan untuk memenuhi requirement di 8.2.1. Di klausa ini tegas 
disebutkan bahwa kewajiban perusahaan adalah : 

  1.. Memonitor informasi yang terkait persepsi pelanggan tentang seberapa jauh 
perusahaan telah memenuhi persyaratan pelanggan'. 
  2.. Menetapkan metoda untuk memperoleh informasi di atas, dan bagaimana 
menggunakan informasi ini. 


Jadi tidak ada diwajibkan melakukan survey. Mungkin untuk perusahaan yang 
menjual consumer goods dengan ribuan bahkan jutaan pelanggan, survey kepuasan 
pelanggan adalah cara yang tepat untuk mendapatkan informasi di atas. Dengan 
demikian, data yang didapatkan akan bermanfaat untuk dianalisa sehingga hasil 
anasila bisa digunakan memperbaiki kinerja perusahaan dan kepuasan pelanggan.



Tapi bagaimana dengan perusahaan yang customer-nya katakanlah cuma ada 1 atau 2 
sepanjang tahun karena yang dikerjakan adalah proyek konstruksi skala besar ? 
Apakah survey cara yang tepat dan efektif ? Bisa-bisa malah bikin sebal 
customernya. Bayangkan kalau customer ini punya puluhan vendor (bersertifikat 
ISO 9001:2000) yang secara bersamaan mengirimkan survey buat diisi. 



Padahal perusahaan seperti ini bisa melakukan 'monitoring persepsi pelanggan' 
lewat jalur rapat koordinasi rutin dengan customer dimana biasanya feedback 
dari customer diberikan langsung (dan factual), serta biasanya selalu dicatat 
dalam notulen. Perusahaan kemudian bisa mengolahnya ke dalam bentuk analisa 
data, semisal : berapa kali feedback/ketidakpuasan berulang untuk hal yang 
sama, berapa % feedback yang bisa diselesaikan tepat waktu, atau bisa juga 
membreakdown feedback pelanggan dari sisi akar masalahnya apakah di segi cost, 
quality ataukah delivery / schedule. Lalu periode pengukuran berikutnya 
perusahaan bisa lihat progressnya, apakah ada improvement dari sisi masalah 
yang berulang, dari sisi penyelesaian keluhan, dari sisi quality, cost, 
schedule, dsbnya. Ini sudah suatu metoda dalam memonitor persepsi pelanggan. 
Justifikasi apakah kita memang memenuhi requirement pelanggan bisa dibuktikan 
dengan selesainya proyek dan disepakatinya berita acara penyelesaian proyek. 
Sesungguhnya banyak cara lain (di luar survey) yang bisa ditempuh untuk 
perusahaan sejenis ini. 



Akhirnya, saya sekali lagi ingin menekankan bahwa penting sekali memulai 
implementasi ISO 9001:2000 dengan set up sistem yang benar-benar efektif dan 
memang sesuai proses bisnis perusahaan. Kegagalan maupun keberhasilan 
implementasi di kemudian hari sebenarnya sudah ditetapkan sejak setting awal 
sistem mutu di tempat Anda. Karena itu berhati-hatilah saat setting awal sistem 
mutu di tempat Anda, lakukan trial run secara sungguh-sungguh untuk memastikan 
sistem memang efektif dan akan bermanfaat buat keberlangsungan bisnis 
perusahaan. Jika sistem yang salah set up kemudian diimplementasikan, maka 
dengan berjalannya waktu akan semakin sulit mengubahnya dan semakin rendah 
dukungan pelaku-pelaku di dalamnya sehingga  semakin lama akan semakin tumbuh 
resistansi dan prasangka buruk terhadap ISO 9001:2000.   



Buat yang sudah implementasi sistem mutu, cobalah amati bagaimana reaksi 
perusahaan Anda saat akan ada external audit (entah itu dari badan sertifikasi 
ataupun client/customer). Kalau masih buru-buru sibuk dan bergadang untuk 
persiapan audit, kemungkinan besar sistem yang ada belum berjalan dengan 
efektif. Kalau sudah berjalan, harusnya ada engga ada audit semuanya selalu 
berjalan dengan baik , sebagai suatu aktifitas rutin sehari-hari. 



Jadi kalau penerapan ISO 9001:2000 di organisasi Anda gagal, jangan buru-buru 
menyalahkan ISO 9001:2000-nya. Introspeksi dulu, kemungkinan besar organisasi 
Anda yang salah dalam menerapkannya. J   



http://erwinbaja.wordpress.com/2008/04/25/kegagalan-penerapan-iso-90012000-salah-siapa/

Kirim email ke