Memang dilematis Pk Hermawan.

Mohon maaf, bpk bertugas sebagai Polisi atau aparat pemerintahan tidak ?
Kalau memang bapak bertugas sbg Polisi  or TNI , mungkin bisa dapat kemudahan 
memasukan anak usia
dibawah 6 tahun ke SD, asal waktu daftar anak ke SD yg dituju bapak menggunakan 
seragam "lengkap"  dgn
pistolnya, pasti dgn mudah petugas sekolah & kepala sekolahnya bahkan BIROKRAT 
DEPDIKBUD.. langsung membolehkan anak bapak masuk.
Maaf saya cuma berasumsi saja :)) kalau kita baca berita dibawah si Riana ini 
bisa masuk SD umur 4 tahun
munkin karena bapaknya Ajun Komisaris (Perwira Pendidik Polisi di Lido)
Memang miris pak. 3 tahun lalu anak saya masuk SD Muara Beres tetapi umurnya 6 
tahun kurang 2 bulan......
cuma kurang  2 BULAN. Tetapi nggak diterima, akhirnya saya tempuh jalur ILEGAL, 
lewat belakang 
(lewat kepala sekolahnya). Yang seharusnya masuk SD negeri Gratis (cuma uang 
buku saja). 
saya mengeluarkan kocek 1,5 juta untuk pendaftaran tsb.
Ternyata semua kemudahan dan bahkan kesempatan untuk memajukan generasi 
penerus, cuma milik "penguasa"
atau paling tidak yg punya power sbg aparat dll
Miris memang pak.....................

Mudah2an asumsi saya di atas tidak semuanya benar ya pak

Afwan

salam,
JJ



________________________________
From: hermawan hari wibowo <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Saturday, May 23, 2009 8:38:44 AM
Subject: Re: [porsenipar] Belum Genap 18 Tahun, Riana Sudah Jadi Dokter


dilematis ama kondisi, beberapa orang.. masuk SD harus umur 7thn.. kalau kurang 
banyak SD yang ngak mau terima.. kecuali ada perlakuan khusus, makannya mau di 
bawa ke mana oleh para BIROKRAT DEPDIKBUD.. 
anak sy umur 5.5 tahun..pengen masuk SD.. walaupun dah bisa baca koran, ama 
itung2an.. and matematika skrg ambil di JARIMATIKA di ruko depan itu, masih 
susah cari sekolah, karena kendala umur.. 

makanya berita seperti ini sich bikin miris aja. 



----- Original Message ----
From: Achmad Y. Sjarifuddin <[email protected]>
To: [email protected]; [email protected]
Sent: Friday, May 22, 2009 11:42:46 PM
Subject: [porsenipar] Belum Genap 18 Tahun, Riana Sudah Jadi Dokter

Belum Genap 18 Tahun, Riana Sudah Jadi Dokter

Rabu, 20 Mei 2009 | 05:41 WIB
Laporan wartawan KOMPAS Irene Sarwindaningrum

KOMPAS.com — Selamat dan luar biasa! Hanya kata itu yang tepat
diucapkan untuk dr Riana Helmi. Dalam usianya yang belum genap 18
tahun, tepatnya 17 tahun 11 bulan, remaja kelahiran Banda Aceh itu
diwisuda sebagai dokter dari Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah
Mada. Wisuda dilakukan di gedung pertemuan UGM Grha Sabha Pramana,
Yogyakarta, Selasa (19/5).

Riana, demikian gadis berperawakan kecil itu akrab disapa,
menyelesaikan kuliah dalam waktu tiga tahun enam bulan dengan indeks
prestasi kumulatif (IPK) sangat memuaskan, yaitu 3,67. Karena
prestasinya itu, Riana sempat menerima pujian dan diminta berdiri oleh
Rektor UGM Soedjarwadi.

"Ya, Alhamdulillah saya bisa jadi wisudawan termuda," ucapnya
didampingi kedua orangtuanya, Ajun Komisaris Helmi dan Rofiah, seusai
wisuda.

Riana lahir di Banda Aceh, Nanggroe Aceh Darussalam, 22 Maret 1991.
Dia masuk ke Fakultas Kedokteran UGM melalui jalur Penelusuran Bakat
Skolastik (PBS) pada September 2005. Usianya saat itu masih 14 tahun
lewat tiga bulan, atau setara dengan pelajar kelas II SMP pada umumnya.

Meski sangat muda, Riana mengaku tidak banyak kendala dalam
menyesuaikan diri dengan mahasiswa lain yang rata-rata berusia empat
tahun lebih tua darinya. Dia juga menjalani kuliah kedokteran secara
normal, dengan banyak tugas seperti mahasiswa lainnya. Sebagai
mahasiswa termuda, hal ini kerap membuatnya gelisah.

"Kesulitan karena tugas sangat banyak sih ada, tapi syukurlah semua
bisa saya atasi," kata Riana yang mempelajari kanker payudara dalam
skripsinya.

Lulus dalam usia yang masih sangat muda, Riana masih ingin melanjutkan
sekolahnya. Menurut rencana, dia akan mengambil pendidikan spesialis
untuk meraih cita-citanya sebagai dokter spesialis kandungan.

Kelas akselerasi

Riana dikenal cerdas sejak kecil. Selama di bangku SMP dan SMA Negeri
3 Sukabumi, Jawa Barat, Riana yang menghabiskan masa kecilnya di Garut
dan Sukabumi itu selalu duduk di kelas percepatan (akselerasi).

Selain itu, Riana juga masuk SD pada usia sangat muda, yaitu empat
tahun. "Sejak usia tiga tahun, dia sudah lancar membaca," kata Helmi
yang merupakan perwira polisi pendidik di Sekolah Polri Lido,
Sukabumi, Jawa Barat.

Menurut Helmi, sejak kecil, rasa ingin tahu Riana sangat besar. Dia
juga lebih gemar belajar daripada bermain. Meskipun tidak ada yang
menyuruh, sebagian besar waktu luangnya justru dia isi dengan membaca.

"Riana kecil juga tidak suka bermain boneka. Dia malah takut dan
menjerit kalau melihat boneka di dekatnya," ujar Helmi.
-- 
--
Achmad Y. Sjarifuddin.
E-mail: abu [at] lathiifa.com
Website: http://www.lathiifa.com

--------------------------------------------------
Official Mailing List: Porsenipar ke IV Tahun 2007 
-=== Perumahan BDB2 dan BDB3, Cibinong, Bogor ===-
-= Menjiwai Semangat Kebangsaan dengan Prestasi =-

| Official Website: http://www.porsenipar.web.id |
------- Porsenipar Media Center: 6849-6001 -------




--------------------------------------------------
Official Mailing List: Porsenipar ke IV Tahun 2007
-=== Perumahan BDB2 dan BDB3, Cibinong, Bogor ===-
-= Menjiwai Semangat Kebangsaan dengan Prestasi =-

| Official Website: http://www.porsenipar.web.id |
------- Porsenipar Media Center: 6849-6001 -------


      

Kirim email ke