Minggu lalu, saya diajak temen-temen "komunitas" ke tempat makan "Segarra" di 
kawasan dekat Pantai Karnaval sebelah timur Taman Impian Jaya Ancol. Lay-out 
tempat makan ini nyantai layaknya "rumah besar". Di tengah bentuk meja-kursinya 
menyerupai tempat tidur. Pengunjungpun juga "bebas" menunggu makanan atau malah 
makan sambil tidur-tiduran juga boleh. Ada juga semacam tempat duduk yang muat 
cuma berduaan di luar.

Sebagian besar yang datang adalah berpasang-pasangan, sebagian lagi -- seperti 
kami, berombongan. Bisa ditebak bentuknya seperti apa. Ya "layaknya" satu 
keluarga besar yang lagi nyantai. Sebagian besar dari mereka adalah chinese ....

Sempat bergumam sama teman-teman, kalau dulu konon -- saya nggak pernah tahu -- 
kawasan pantai Ancol terkenal dengan "mobil goyang" sekarang nampak elite 
sekali. Mungkin karena di dalam kawasan Ancol sendiri ada 3 buah hotel yang 
siap mengakomodasi. Wallahu a'lam.

Just info, terutama yang punya anak cewe .....

Salam / Jaerony.-


----- Original Message ----- 
From: nusy sucker 


Ini Sungguh Menakutkan…



SUMBER: ANTARA

Asro Kamal Rokan



Seorang teman –– pemandu beberapa wartawan Amerika Latin ––  tak mampu 
berkomentar atas pernyataan wartawan saat makan malam di salah satu café di 
kawasan Ancol, Jakarta Utara. Wartawan itu berkata,”Saya tidak menduga remaja 
Indonesia begitu bebas, melebihi negara kami….”



Sebelum berkunjung ke Indonesia mengikuti “Journalist Visit Programme”, 
wartawan itu membayangkan Indonesia ––  sebagai negara dengan penduduk 
mayoritas Islam –– adalah negara yang memegang teguh prinsip-prinsip agama, 
etika, dan moral. Ternyata keliru. Di Ancol, dia menyaksikan anak-anak muda 
bebas melakukan apa saja di depan umum.



Teman pemandu itu tidak dapat berkata apa-apa. Ia terdiam, sunyi, dan 
kehilangan kebanggaan. Ia merasa asing dan terpelanting dalam fakta yang sangat 
nyata.

Dan, kita juga terpelanting atas hasil survei ini: Pada 2008, menurut 
keterangan Direktur Remaja dan Perlindungan Hak-Hak Reproduksi Badan Koordinasi 
Keluarga Berencana Nasional Pusat (BKKBN), M Masri Muadz, sebanyak 63 persen 
remaja Indonesia usia SMP dan SMA sudah melakukan hubungan seksual di luar 
nikah.



Mengutip hasil survei yang diterimanya, Masri menyebutkan, jumlah ini meningkat 
dari tahun sebelumnya. Pada 2005-2006 di Jabotabek, Medan, Bandung, Surabaya, 
dan Makassar, berkisar 47,54 persen remaja mengaku berhubungan seks sebelum 
nikah. Peningkatan ini, antara lain, disebabkan pergaulan hidup bebas, faktor 
lingkungan, keluarga, dan media massa.



Data lain –– yang menyedihkan dan membuat kita bergidik –– berasal dari 
Departemen Kesehatan. Sampai September 2008, menurut data tersebut, sebanyak 
15.210 penderita AIDS atau orang yang hidup dengan HIV/AIDS di Indonesia. Dari 
jumlah itu, 54 persen adalah remaja.



Dan, simak lagi data ini: Survei yang dilakukan Annisa Foundation di Cianjur, 
Jawa Barat, pada 2007, menemukan hasil mengejutkan. Di kota ini, lebih dari 
42,3 persen pelajar perempuan di kota santri itu telah melakukan hubungan seks 
pra-nikah. Para responden mengaku hubungan pra-nikah itu dilakukan atas suka 
sama suka. Bahkan, ada responden yang mengaku berhubungan lebih dengan satu 
pasangan.



Survei yang dilakukan pada Juli sampai Desember 2006 kepada 412 siswa SMP dan 
SMA itu, menurut Direktur Annisa Foundation, Laila Sukmadevi, kecenderungan 
pelajar Cianjur berhubungan seks pra-nikah bukan karena persoalan ekonomi.. 
Alasan ekonomi hanya 9 persen, selebihnya karena pergaulan dan lemahnya kontrol 
orangtua.



Temuan lain Annisa Foundation, sebanyak 90 persen remaja yang melakukan 
hubungan pra-nikah tersebut, bukan karena tidak paham nilai-nilai agama dan 
moral. Mereka justru mengetahui bahwa perbuatan itu dosa dan sangat tidak 
pantas.



Jauh dari Jakarta, tepatnya di Samarinda, Kalimantan Timur, survei Perkumpulan 
Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Cabang Samarinda pada September 2008 lalu, 
menemukan hasil yang menyedihkan. Dari 300 pelajar Samarinda, 12 persen di 
antaranya mengaku pernah melakukan hubungan badan.



Menurut survei PKBI itu, 14 persen hubungan seks dilakukan di sekolah, 28 
persen mengaku melakukannya di rumah. Ironisnya, hubungan badan dilakukan di 
sekolah saat jam istrahat maupun ketika usai belajar. Sedangkan di rumah 
dilakukan saat kedua orangtua tidak berada di rumah.



Organisasi riset nirlaba AS, Research And Development (RAND) melaporkan 
penelitiannya November 2008 lalu, bahwa tayangan televisi sangat berpengaruh 
terjadinya kehamilan di kalangan remaja di AS. Pengkajian yang disiarkan jurnal 
Pediatrics itu menyebutkan, remaja yang banyak menonton acara yang mengandung 
unsur seksual, menghadapi risiko hamil lebih besar.



Pengkajian itu memfokuskan pada 23 acara televisi kabel yang populer di 
kalangan remaja, antara lain komedi situasi, drama, acara realitas, dan kartun.

Angka kehamilan remaja di AS tetap tinggi dibandingkan dengan negara-negara 
industri lainnya. Hampir sejuta gadis berusia  antara 15 hingga 19 tahun hamil 
setiap tahunnya, atau sekitar 20 persen wanita yang aktif secara seksual dalam 
kelompok umur tersebut.



Hasil penelitian dan survei tersebut sangat menakutkan. Gaya hidup permisif, 
budaya televisi, telah mendorong para remaja terperosok dan jatuh ke jurang 
terdalam. Di Indonesia, remaja-remaja kita diserbu gaya hidup serba mungkin. 
Pendidikan agama telah berubah menjadi angka-angka dalam buku rapor semester.

Kehidupan remaja di AS dan Indonesia, terutama di perkotaan, hampir sulit 
dibedakan. Mereka mendapatkan apa saja. Bahkan, lemahnya penegakan hukum, 
memungkinkan remaja Indonesia mendapatkan jauh lebih besar dan menakutkan 
dibandingkan di AS. Video porno, majalah porno, tayangan televisi yang serba 
benda dan kemewahan, serta situs-situs porno di internet, dengan mudah 
didapatkan.



Dan, yang sangat menakutkan, ketika persoalan ini dianggap sebagai suatu yang 
biasa. Ini bahaya lebih dahsyat dari yang dibayangkan orangtua, pendidik, 
ulama, dan negara.



Seorang wartawan Amerika Latin berkata, “Saya tidak menduga remaja Indonesia 
begitu bebas, melebihi negara kami…..’”

Wartawan itu sesungguhnya sedang menggugah kesadaran kita – yang selalu merasa 
lebih baik, lebih terhormat, dan bahkan lebih mulia. Ini sungguh menakutkan.

Jakarta, 1 Juni 2009.





 

__,

Kirim email ke