Dear All,

Saat mau pindah ke Bojong dulu, yang menjadi do'a saya adalah diberikan 
tetangga kiri - kanan yang baik. Yang tidak provokatif dengan kepintaran dan 
kekayaannya, tidak usil, tidak lamis, bukan termasuk penggosip. Tapi 
sebaliknya, sejuk, respek, saling menjaga, ringan tangan dalam membantu dan 
guyup. Dan, alhamdulillah sedikit banyak telah tercapai.

Sama dengan negara. Selama ini kita ter nina bobo bahwa Malaysia itu bangsa 
serumpun, dan sangat menyakitkan manakala bertindak provokatif dan rakus. 
Banyak hal yang mungkin kita belum tahu kenapa Malaysia memiliki perilaku 
demikian.

Berikut tulisan di milis FPK sebagai selingan biar nggak ngantuk di siang hari 
puasa.

Salam / Jaerony.-

******************************************************



Terkait perilaku Malaysia akhir-akhir ini yang suka menjiplak dan mengklaim 
kepemilikan budaya Indonesia - ada beberapa hal yang perlu dicermati oleh kita 
semua bagaimana sebenarnya mentalitas tetangga ini yakni:

1. Permasalahan mentalitas bangsa Malaysia:

1.1. Pada saat berhadapan dan tertekan oleh Indonesia, dia pakai kartu Melayu 
dan Islam, padahal mereka hanya 50,4% dari seluruh penduduk Malaysia yang 
berjumlah 28,3 juta jiwa itu. Itupun kalau dikatakan ras Melayu, mereka ini 
hanya termasuk di kelompok rumpun Indonesia di bagian Sumatera Utara (yakni 
Melayu Deli) dan Sumatera Barat (Padang dan Riau)

1.2. Pada saat posisi berada di atas "angin" mereka bermentalkan bagaikan orang 
Inggris (always say "NO" dalam setiap perundingan, diam seribu bahasa kalau 
dikirimi surat/nota diplomatik atau ketika diharapkan/diminta pengertiannya) - 
Menghadapi mental seperti ini caranya adalah yang penting "pukul/gertak duluan"

1.3. Pada saat melakukan dagang, dia bermentalkan seperti orang Cina (ingat 
Cina itu k.l. 23,7% dari penduduk Malaysia), bahkan menyelundup- pun dilakukan, 
yang penting bayar. Secara ekstrem mereka berfilosofi, bahwa selingkuh itu 
dilarang, kecuali bayar. Merekapun punya filosofi bahwa semua masalah bisa 
diatasi dengan hanya 3 jari, yaitu "ibu jari, telunjuk dan jari tengah" 
(dibayar dengan pujian, uang dan/atau perempuan)

1.4. Pada saat berhadapan dengan TKI dan WNI yang "bermasalah" , mereka 
bermentalkan tuan besar seperti orang India. Coba lihat orang keling yang kerja 
di bandara-bandara itu, mereka lebih jahat dibanding dengan orang putih bila 
melihat orang berkulit sawo matang, tak terkecuali di Kanada, Inggris apalagi 
di India.

1.5. Pada saat diajak/ditantang perang, mereka (India, Melayu, Cina) pada lari 
selamatkan diri. Malaysia merdeka bukan karena perjuangan, tapi karena 
pemberian. Mereka tidak pernah berontak melawan penjajah Inggris (konon 
kabarnya buruh Cina pernah berontak, ning gak significant, seperti geger 
pecinan nya di pulau Jawa tahun 1740-an, karena urusan dagang, bukan ingin 
merdeka).

1.6. Malaysia itu satu-satunya negara di ASEAN, dan mungkin di Asia dan dunia, 
yang sangat "SAYANG dan CINTA" (pinjam istilahnya Menlu Malaysia) terhadap 
wilayah-wilayah tetangganya. Hitung saja, dengan Singapura (p. Batu Puteh), 
Indonesia (hampir di sepanjang perbatasan di pulau Kalimantan, Kep. Natuna, 
padahal kita sudah kasih dia hak lintas Malaysia Timur-Barat pp), Thailand (di 
perbatasan darat), Vietnam, Kamboja, Philipina dan Cina (sebagian dari 
Kepulauan Spratley dan Paracel).

2. Menghadapi sikap mental wong Malaysia tersebut di atas, maka perlu disusun 
suatu sikap bersama dari semua unsur pemerintah dan masyarakat Indonesia:

2.1. Jangan mau mundur dari wilayah yang sudah kita nyatakan sebagai bagian 
integral RI. Kepentingan Nasional kita (dhi menjaga keutuhan wilayah NKRI) 
adalah nomor satu. (10 tahun yang lalu, Menlu Malaysia pernah keprucut ngomong 
bahwa Sipadan dan Ligitan memang dulu masuk wilayah Hindia Belanda). Jangan 
tersanjung oleh pernyataan samar Melayu dan Islam, cukup di bibir saja, 
lamis-lamis wae lah. Lha mereka juga tidak "from the botom of their heart".

2.2. Langkah diplomasi harus dapat dukungan berupa keadaan nyata di lapangan, 
yaitu kuasai dulu apa yang jadi hak kita, baru berunding. "Pukul/gertak duluan. 
Masalahnya diplomasi itu perlu dukungan nyata, bukan sulapan apalagi klenik.

2.3. TNI dan POLRI harus tetap yakin bahwa masalah pertahanan dan keamanan 
adalah "core business" mereka. Jangan mau diajak berunding tanpa membawa yang 
memang ahli dalam perundingan. Sbg ilustrasi dapat saya sebutkan bahwa 4 tahun 
yang lalu ada seorang Kolonel Laut yang bertugas di wilayah itu sempat diajak 
bicara (semacam berunding, namun di kapal masing-masing) dan nurut saja ketika 
diminta Malaysia untuk menghentikan pembangunan mercu suar di Ambalat dan 
bersama-sama dengan kapal Malaysia untuk berpatroli di perairan Ambalat (baca 
perairan milik Indonesia). Padahal yang minta itu adalah hanya seorang 
Mayor/Dan kapal Malaysia yang nota bene mantan murid/anak asuh di SESKOAL kita 
tahun 2001 lalu. Setelah Presiden SBY datang, dan mengoreksi, baru pembangunan 
mercu suar dilanjutkan.

2.4. Terkait dengan butir 2.3. Pemerintah Indonesia perlu bentuk "Border 
Troops/Force" yang memiliki markas batalyon-batalyon di perbatasan dan memiliki 
matra laut dan udara (perbatasan kita khan bukan di darat saja). Sejak negara 
RI merdeka kita melalaikan masalah perbatasan. "Uniform officers" kita senang 
bertugas di tempat ramai kota-kota besar, pelosok perbatasan yang sepi 
ditinggalkan. Pemerintah Indonesia harus berani bayar mahal "tentara 
perbatasan" kita itu. Jangan hanya bersifat satgas-satgas yang bersifat 
temporer dan dengan dana proyek yang terbatas. Negara seperti Georgia, Armenia, 
Albania dan Malawi pun punya "border troops" yang luar biasa loyal terhadap 
negara, meski dengan biaya yang mahal.

2.5. Jangan pernah minta maaf atas nama negara. Orang British selalu bilang 
"right or wrong, it's my country". Lha masalah bakar-bakar bendera Malaysia itu 
mungkin cukup ekstrim dari segi emosi, ini lumrah dan wajar bila pembakaran itu 
karena mereka berusaha mengaku/meng- claim wilayah Indonesia. Sebelum mereka 
mengaku secara sepihak tidak ada seorang Malaysiapun yang minta maaf atau 
bahkan berbicara dengan Pemerintah Indonesia. Empat - lima tahun yang lalu, ada 
pencaplokan wilayah Indonesia di Kalbar sejauh 20 km dari titik semula. Oleh 
Malaysia tanah itu dijadikan terminal. Penduduknyapun kemudian dikasih paspor 
Malaysia secara gratis. Jadi sepotong kain tidak ada artinya bila dibanding 
dengan sebidang tanah/laut, dari segi manapun anda memandangnya. Menghadapi 
Malaysia tidak perlu melankolis. Harus galak tapi civilized dan yang terpenting 
"pukul/gertak duluan"

2.6. Masyarakat harus tetap melakukan penekanan melalui demonstrasi yang damai 
menentang "kerakusan Malaysia itu. Kata-kata "GANYANG" perlu dipakai secara 
lebih tepat dan akurat. Toh "PEMERINTAH MALAYSIA TIDAK MENDAPATKAN DUKUNGAN 
RAKYATNYA" dalam masalah apapun dalam upaya pengakuan terhadap wilayah negara 
Indonesia. Mana ada orang kaya dan pedagang mau maju perang. Bukan karena 
mereka lebih "kalem" atau dewasa" dalam berdemokrasi dibanding Indonesia, 
seperti yang pernah diucapkan Menlu Malaysia.

2.7. Masyarakat dan LSM harus tetap mendorong Pemerintah Indonesia untuk 
mengurangi secara gradual dan drastis pengiriman TKI non pendidikan yang 
disebut di Malaysia sebagai "PENDATANG & PEKERJA HARAM". Apakah pembaca 
mengetahui, bahwa dibalik perilaku sadis/kejam Malaysia memburu, menyiksa, 
memukuli TKI Indonesia ada dua unsur yang perlu kita cermati dan sadari yakni:

2.7.1. Secara hukum, bukti-bukti perilaku "tidak manusiawi" dari Pemerintah dan 
Masyarakat pribadi Malaysia itu, sebenarnya sebagai berikut:
2.7.1.a. Sudah bisa dikenakan tuduhan "pelecehan" HAM karena Malaysia sebagai 
anggota negara Commonwealth telah menandatangani perjanjian hukum mengenai HAM 
Internasional 
2.7.1.b. Sudah layak dikategorikan sebagai perilaku "perbudakan / jual beli 
manusia" yang diakui dan ditentang Konvensi Geneva karena TKI ilegal yang ada 
masuk tidak resmi, tanpa identitas dokumen kewarganegaraan. Disini seharusnya 
Pemerintah Malaysia berkewajiban memulangkan kembali TKI ilegal tersebut dan 
bukan diperdagangkan kemana-mana menjadi "PEKERJA HARAM" tanpa dokumen resmi 
dan disiksa pula
2.7.1.c. Jika Pemerintah atau LSM Indonesia ada pemikiran untuk melakukan klaim 
dan memasukan bukti-bukti hukum butir 2.7.1.a & 2.7.1.b. melalui peradilan di 
Denhaag, maka ini akan menjadi "efek politik" yang berkepanjangan & menyulitkan 
posisi Malaysia karena tuduhan negara yang mengakui "PERBUDAKAN MANUSIA" akan 
memberi pengucilan dari masyarakat Internasional terhadapnya khususnya dari 
masyarakat negara Commonwealth. Lebih-lebih, kompensasinya, pihak-pihak yang 
merasa dirugikan di Indonesia bisa saja melakukan klaim pampasan kerugian jiwa 
"perbudakan manusia" itu. 

TABEK
BETA 





      Original message:
      Mon, 8/24/09, betaket <[email protected]> 
        

Kirim email ke