Ini adalah artikel dari Pejabat BMKG dari milis sebelah yang kira-kira bahwa 
setelah porak-poranda nantinya gempa juga bakal nyambangi lagi.

Makanya saya katakan bahwa musibah tersebut adalah "salah satu momen" mengingat 
Sang Kuasa. Banyak lagi momen-momen lain yang bisa menghampiri kita. Tinggal 
kitanya ni pegimane ..... 

Salam / Jaerony.-

****************************************************************************


SEJARAH PANJANG GEMPABUMI SUMATERA BARAT

Oleh Daryono BMKG
Peneliti di Badan Meteorologi Klimatokogi dan Geofisika
E-mail: dar...@yahoo. com

BELUM hilang ingatan masyarakat akan bencana gempabumi Tasikmalaya Jawa Barat 
pada 2 September 2009 yang menelan banyak korban jiwa dan kerugin harta benda, 
kini kita dikejutkan kembali oleh kejadian gempabumi dahsyat di Padang, 
Sumatera Barat. Gempabumi berkekuatan 7.6 Skala Richter yang berpusat di 
Samudera Hindia pada jarak 57 kilometer arah Barat Daya Kota Pariaman telah 
menimbulkan kerusakan sangat parah dan menewaskan ratusan orang di Kota Padang 
dan sekitarnya. Berdasarkan parameternya Gempabumi ini diklasifikasikan sebagai 
gempabumi aktivitas subduksi menengah yang terjadi pada litosfer dekat dengan 
bidang kontak antar lempeng Indoaustralia dan Eurasia.

Ditinjau dari sejarah kegempaan di zona gempabumi Sumatera Barat, gempabumi 
Padang yang terjadi saat ini sebenarnya hanyalah bagian dari sejarah panjang 
gempabumi yang sudah berlangsung sejak masa lampau. Data sejarah gempabumi kuat 
dan merusak di Padang merupakan cerminan dari kondisi tektonik yang merupakan 
kawasan seismik aktif dan kompleks. 

Sejarah Gempabumi
Berdasarkan catatan data sejarah kegempaan, daerah Sumatera Barat memang sudah 
berapa kali mengalami gempabumi merusak. Sejak 1822 hingga 2009 telah terjadi 
setidaknya 14 kali kejadian gempabumi kuat dan merusak di Sumatera Barat dan 
diantaranya menyebabkan tsunami. Sejarah panjang gempabumi merusak di Sumatera 
Barat, diantaranya adalah Gempabumi Padang (1822, 1835, 1981, 1991, 2005), 
Gempabumi Singkarak (1943), Gempabumi Pasaman (1977) dan Gempabumi Agam (2003). 
Sedangkan gempabumi yang diikuti gelombang tsunami terjadi di Mentawai (1861) 
dan Sori-Sori (1904).

Catatan paling tua menunjukkan bahwa di Padang pada tahun 1822 telah terjadi 
gempabumi kuat yang diikuti suara gemuruh yang berpusat di antara Gunung Talang 
dan Gunung Merapi. Meski tidak ada laporan secara rinci menyebutkan, namun 
gempabumi ini dilaporkan menimbulkan kerusakan parah dan korban jiwa cukup 
banyak.

Pada tanggal 28 Juni 1926, gempabumi dahsyat 7.8 Skala Richter juga dilaporkan 
pernah mengguncang Padang Panjang. Akibat gempabumi ini tercatat korban tewas 
lebih dari 354 orang. Kerusakan parah terjadi di sekitar Danau Singkarak Bukit 
Tinggi, Danau Maninjau, Padang Panjang, Kabupaten Solok, Sawah Lunto dan Alahan 
Panjang. Gempabumi susulan mengakibatkan kerusakan pada sebagian wilayah Danau 
Singkarak. Tercatat di Kabupaten Agam sebanyak 472 rumah roboh, 57 orang tewas 
dan 16 orang luka berat. Di Padang Panjang sebanyak 2.383 rumah roboh, 247 
orang tewas. Dampak gempabumi juga menimbulkan banyak tanah terbelah, longsoran 
di Padang Panjang, Kubu Krambil dan Simabur.

Gempabumi kuat dengan magnitudo 5.6 Skala Richter juga pernah terjadi pada 16 
Pebruari 2004. Getaran empabumi ini dirasakan di sebagian besar daerah Sumatera 
Barat hingga pada VI MMI (Modified Mercalli Intensity) yang menimbulkan korban 
tewas sebanyak 6 orang dan meluluhlantakkan ratusan bangunan rumah di Kabupaten 
Tanah Datar.

Selang beberapa hari kemudian, tepatnya pada 22 Pebruari 2004, gempabumi yang 
lebih besar kembali mengguncang Sumatera Barat dengan magnitudo 6 Skala 
Richter. Gempabumi ini mengakibatkan satu orang korban tewas dan beberapa orang 
luka parah serta ratusan rumah rusak berat di Kabupaten Pesisir Selatan.

Tektonik Sumatera Barat
Kondisi seismik yang aktif dan kompleks zona gempabumi Sumatera Barat tersusun 
atas dua generator gempabumi. Pertama, pembangkit gempabumi berasal dari 
kawasan barat Sumatera yaitu zone subduksi lempeng yang berpotensi menimbulkan 
gempa kuat yang besar kemungkinan diikuti tsunami. 

Gempabumi-gempabumi yang dipicu oleh aktivitas penyusupan lempeng sebagian 
besar hiposenternya berpusat di perairan sebelah barat Sumatera. Hal ini 
berkaitan dengan adanya pertemuan lempeng benua di dasar laut. Untuk kawasan 
Sumatera Barat, potensi gempa besar justru akibat aktivitas lempeng dizona 
subduksi yang dicirikan dengan magnitudonya yang relatif lebih besar.

Generator gempabumi kedua adalah zona patahan Sumatera atau yang populer 
dikenal sebagai Semangko Fault. Semangko Fault merupakan patahan sangat aktif 
di daratan yang membelah Pulau Sumatera menjadi dua, membentang sepanjang 
Pegunungan Bukit Barisan, mulai dari Teluk Semangko di Selat Sunda sampai ke 
wilayah Aceh di utara. 

Gempabumi berkekuatan 7,0 skala Richter yang mengejutkan masyarakat Sungai 
Penuh pada hari Kamis (1/10) yang episentrumnya sekitar 160 kilometer dari Kota 
Padang merupakan gempabumi akibat aktivitas Patahan Semangko. Tampaknya 
pelepasan energi gempabumi utama Padang berkekuatan 7.6 skala Richter yang 
dibangkitkan oleh aktivitas subduksi lempeng berdampak telah memicu aktivitas 
sesar di daratan.

Berdasarkan data sejarah gempabumi Sumatera, dalam 100 tahun terakhir, sudah 
sekitar 20 gempa besar dan merusak terjadi zona patahan ini. Berdasarkan 
penelitian, aktivitas gempabumi di patahan Semangko rata-rata sekitar 5 tahun 
sekali. Meskipun gempabumi di zona patahan ini magnitudonya relatif kecil, 
namun dampaknya bisa sangat berbahaya disebabkan sumbernya di daratan yang 
berdekatan dengan kawasan pemukiman.

Sebagai kawasan yang sangat rawan gempabumi, Daerah Sumatera Barat akan selalu 
menjadi kawasan yang sering diguncang gempabumi. Oleh karena itu kita semua 
dituntut untuk lebih serius dalam memperbaiki sistem penanganan bencana alam, 
baik dalam memperbaiki sistem pamantauan gempabumi, pembuatan peta rawan 
gempabumi, menyusun peta mikrozonasi gempabumi, merencanakan bangunan tahan 
gempabumi dan pendidikan masyarakat melalui sosialisasi mitigasi bahaya 
gempabumi. Jatuhnya banyak korban gempabumi sebenarnya disebabkan karena kurang 
pahamnya masyarakat dalam menghadapi genpabumi.** *


Original message :
      supriyono <[email protected]>
     

Kirim email ke