Belajar dari Anak Kecil
Oleh Roza Marlina

Jujur saja, saya adalah orang yang tak pandai dalam "ngemong" anak. Bahkan 
teramat kaku. Melihat bayi atau anak kecil, teman-teman saya langsung beraksi. 
Dari sekadar mengajak bicara, menyentuh, mencium bahkan meraihnya dari 
gendongan ibunya dan mulai berlaku seolah-olah itu adalah bayinya sendiri. 
Mungkin sebagian besar Anda juga begitu. Beda dengan saya. "Oh, ya lucu." Itu 
saja paling kalimat terpanjang saya saat teman-teman saya bersorak dan gemes 
pada bayi siapa pun yangmereka lihat. Itu pun juga muka saya nyaris tanpa 
ekspresi. Datar saja.

Begitu pun terhadap anak-anak kecil usia SD yang banyak tinggal di lingkungan 
sekitar saya. Saat teman-teman saya pada umumnya "happy" bercengkrama dengan 
mereka, saya cuek saja. Teman-teman suka menggoda saya dengan, "Ayo dong, uni, 
sapa mereka." Saya tersenyum sekadarnya dan cepat berlalu. Saya pernah juga 
dituding anti terhadap anak-anak. Bahkan dikira tidak mau punya anak jika kelak 
telah menikah. Ada juga teman yang menyuruh saya untuk berlatih "ngemong" anak. 
Bagi saya itu agak menakutkan dan sangat sulit untuk dilakukan. Saya berdalih, 
"Itu kan naluri. Nanti kalau sudah punya anak sendiri, akan bisa jugadengan 
sendirinya."

Semakin bertambah usia dan semakin banyak "tudingan" dan "godaan" nakal dari 
teman-teman saya, saya gerah juga. Suatu hari, seorang ustadzah TPA meminta 
saya untuk membantunya mengajar Iqro' di sebuah TK Al-Qur'an. Katanya sudah 
tidak ada lagi orang yang bisa dimintai bantuan. Saya amat ragu pada awalnya. 
Tapi kemudian saya berpikir lagi, mungkin ini bisa menjadi ajang latihan bagi 
saya untuk bagaimana berlaku terhadap anak-anak. Apalagi ini mengajar Iqro'. 
Sebuah tugas yang amat mulia dan bergengsi. Jadilah saya tiap Kamis pagi selama 
satu jammengajar Iqro' pada sekitar 25 anak-anak berseragam. Saya tak berani 
mengajar di depan kelas.Maka tugassaya mengajarkan Iqro' satu persatu.

Beginilah prosesnya, ustadzah itu mengajar di depan kelas. Seorang ibu guru TK, 
pengajar tetap di sana, memanggil satu persatu anak untuk maju ke hadapan saya. 
Kemudian saya ajari. Kadang ibu guru lupa memanggil anak berikutnya, sehingga 
saya berdiam diri saja. Saya tak bisa melakukannya sendiri! Sementara itu saya 
lihat si ustadzah bercerita di depan kelas dengan amat memikatnya.

Anak-anak itu, ada yang selalu flu sehingga saya yang gampang jijik-an harus 
belajar menahan diri. Ada yang menolak untuk membaca di mana saya sudah pasti 
tidak dapat membujuknya. Dia bahkan menolak memandang saya. Ini membuat saya 
sangat sedih. Ada juga yang cepat sekali belajar dan bersemangat membuat saya 
ikut bersemangat. Ada yang menatap saya malu-malu dan ragu membuka mulutnya 
sehingga saya belajar untuk bagaimana menambah percaya dirinya. Ada yang 
ketakutan karena ternyata lupa pada hurufdi depannya atau ternyata bacaannya 
salah.

Pertemuan pertama berakhir dengan badan saya gemetar. Pertemuan selanjutnya 
selalu mengesankan dan penuh pelajaran. Dan pelajaran yang paling besar dan 
sering adalah belajar sabar. Saya juga belajar berkomunikasi dengan anak. Saya 
belajar memikat mereka sehingga mereka tidak ingin terburu-buru meninggalkan 
saya untuk mendengarkan cerita dari ustadzah di depan kelas. Saya berinteraksi 
dengan kepolosan mereka dan teringat betapa ribuan bahkan mungkin jutaan 
anak-anak di Indonesia mengamen di perempatan jalan, kekurangan gizi atau 
bahkan tidak mendapatkan gizi dan pendidikan yang seharusnya. Di antara mereka 
juga tak sedikit dan tak jarang dijejali dengan kekerasan dan pornoaksi serta 
pornografi.

Saya pernah hampir menyerah. Tapi sebaris kalimat sang ustadzah muda yang 
mengajak saya itu cukup menjadi cambuk. "Kalau kita ikhlas, semuamudah saja. 
Jangan menyerah. Mereka hanyalah anak-anak yang menunggu untuk diwarnai oleh 
kita atau oleh bukan kita."



sebuah file OASE IMAN Eramuslim

Kirim email ke