Mati Lampu....

Persoalan listrik ini memang sangat vital. Karena dia tidak memiliki
subtitusi. Begitu listrik padam, maka semuanya macet. Beda halnya dengan
infrastruktur jalan, kalau anda mau ke bandung dan tol Cipularang rusak,
maka anda masih bisa mencari jalur alternatif lainnya misalnya lewat
puncak meski agak sedikit memutar. Tapi kalau sudah listrik yang padam,
anda mau bikin apa? Tidak bisa nyalakan TV, tidak bisa jalankan mesin,
malam tidak bisa tidur karena kepanasan, tidak bisa nyalakan kipas angin
atau AC.

Bagi anda yang tinggal di pulau jawa mungkin kurang merasakannya, tapi
yang di luar jawa listrik padam itu seperti rutinitas minum obat, 3 kali
sehari. Cuman katanya mulai agak jarang ketika saya berada di makassar,
kata beberapa teman-teman wartawan, nanti tunggu kalau bapak balik ke
jakarta, listrik akan kembali sering padam seperti semula.

Persoalan krisis listrik ini, kita pernah alami 3 tahun yang lalu di
pulau jawa, waktu itu beberapa pembangkit yang sedang kita bangun memang
belum jadi. Tapi toh itu semua bisa kita atasi dengan melakukan
re-schedule jam kerja industri. Jadi indsutri kita suruh bekerja
bergiliran, jadi kalau rata-rata orang libur pada hari minggu, maka itu
semua saya balik. Ada yang libur pada hari senin, hari selasa, rabu
kamis dan seterusnya. Waktu itu memang banyak yang protes dengan alasan
yang macam-macam. Tapi saya tetap tegas dan tidak peduli, cuman ada dua
pilihan, "mau kerja bergiliran atau tidak bisa kerja karena listrik
Padam?" Tapi entah kenapa hal seperti ini tidak ada lagi yang berani
lakukan. Padahal yang namanya pemerintah dia memang harus memerintah,
bukan menghimbau. Kalau hanya sekedar menghimbau maka ganti saja
namanya, bukan lagi PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA tapi menjadi
PENGHIMBAU REPUBLIK INDONESIA.

Nah kembali ke persoalan listrik, persoalan listik ini memang sudah
diramalkan sejak tahun 2005. Bagaimana tidak, ekonomi sedang tumbuh maka
otomatis permintaan akan energi listrik semakin meningkat, yang dulunya
orang belum kenal mesin cuci, maka sekarang mulai mengenal mesin cuci,
orang yang dulunya cukup hanya dengan kipas Angin maka sekarang mulai
memakai AC. Penduduk semakin banyak, anak-anak sudah mulai besar maka
otomatis membutuhkan tambahan kamar lagi yang tentunya semuanya memakai
energi listik. Belum lagi industri kita yang semakin giat, itu semua
membutuhkan permintaan energy yang cukup besar.

Sementara di lain sisi, kita lupa membangun pembangkit listrik, kita
lalai karena pemikiran bahwa kita masih krisis selalau tertanam di benak
kita. Padahal permintaan akan energi semakin hari semakin meningkat.
Memang dulu pada masa krisis kita tidak banyak memakai energi karena
memang ekonomi lagi mandek, tapi begitu krisis selesai ekonomi mulai
tumbuh maka permintaan energi semakin meningkat.

Memang sebelumnya kita pernah membangun pembangkit listrik sebelum
krisis 98, tapi semuanya dibatalkan atas arahan IMF, dan kita kena
pinalty karena itu semua. Padahal seharusnya pembangunan Infrastruktur
meskipun saat krisis tetap dilanjutkan, karena bagaimanapun paska krisis
ekonomi tumbuh kembali maka otomatis permintaan energi semakin meningkat.

Pada tahun 2000-2005 kita hanya membangun pembangkit dengan daya kurang
lebih 1500 MW. Sementara pertumbuhan ekonomi kita saat itu sedang
melesat maju. Nah inilah yang saya amati waktu itu, saya ramalkan, kalau
pembangkit listrik tidak ditambah maka pada tahun 2009 kita akan gelap
gulita. Waktu itu saya melapor ke presiden, dan Pak SBY setuju lalu
meminta kepada saya untuk memimpin proyek pembangunan Infrastruktur listrik.

Nah masalah kemudian muncul, karena saat itu pemerintah lagi tidak
punya, dan PLN sedang rugi. Akhirnya satu-satunya yang harus dilakukan
adalah melakukan crash program, di mana PLN melakukan pinjaman dengan
jaminan sepenuhnya oleh pemerintah. Nah inilah yang tidak dipahami oleh
beberapa Menteri, terutama menteri perekonomian. Dengan alasan bahwa
crash program itu tidak ada dasar hukumnya. Inilah sulitnya untuk
mengurus sesuatu di Indonesia kita harus terjebak dalam Hutan Rimba
aturan. Dan parahnya mereka para birokrat mereka lebih memilih taat pada
aturan dibanding harus merubah aturan tersebut untuk kesejahteraan
bangsa. Bagaimanapun KEPRES, KEPMEN, PP, dan sejumlah aturan lainnya
bisa dirubah kalau merasa mengganggu jalannya pembangunan. Toh dia cuman
buatan manusia. Yang tidak bisa diubah adalah hukum Tuhan yang tertuang
dalam kitab suci.

Akhirnya setelah saya marah dan menekan barulah penjaminan itu keluar
meski sudah terlambat. Seharusnya itu dimulai pada tahun 2006 agar tahun
2009 kita aman, namun baru keluar pada tahun 2007. Dan yang terjadi
seperti sekarang ini, listrik padam di mana mana. Dan semoga pembangunan
Infrastruktur listrik 10000 MW yang telah dicanangkan oleh pemerintah
sebelumnya, tetap dilanjutkan oleh pemerintahan sekarang ini agar tahun
depan keadaan tidak bertambah parah.

Memang persoalan energi sungguh ironi di bangsa kita yang kaya akan
energi ini. Kita punya gas alam yang melimpah, energi matahari yang
tiada henti-hentinya. Namun mengapa kita masih mengalami krisis energi ?
ini karena kita lebih memilih mengekspor daripada energi tersebut dengan
alasan menambah pendapatan negara. Bagaimana ini bisa dibiarkan terjadi
kalau kita sendiri memilih dibanding untuk memenuhi kebutuhan dalam
negri, malahan negara orang lain yang kita penuhi kebutuhannya. Padahal
seharusnya kebutuhan dalam negri dulu kita penuhi baru kemudian kita
bisa mengekspor. Yang terjadi malah sebaliknya, Jepang terang benderang
karena mendapat pasokan energi dari kita, sementara kita sendiri gelap
gulita karena kekurangan energi.

Untuk itulah waktu saya masih menjabat sebagai wapres semua ekspor Gas
saya larang sebelum kebutuhan dalam negeri terpenuhi. Natuna saya mau
serahkan ke Pertamina untuk dikelola, Tangguh saya perintahkan
Re-Negoisasi, Donggi senoro saya larang untuk ekspor. Bagaimana pun Gas
sangat kita butuhkan untuk pembangkit listrik kita. Mengingat pembangkit
diesel itu operasionalnya sangat mahal. Memang PLTD yang beroperasi
hanya tersisa 25 % tapi yang mesti diingat 25 % itu memakan 75 %
anggaran untuk subsidi listrik. Maka jangan heran kalau anggaran yang
kita habiskan untuk subsidi listrik antara 60-90 Triliub setiap
tahunnya. Sebagai ilustrasi untuk memproduksi listrik / 1 KWH untuk
tenaga Diesel itu seharga 3000 Rupiah, sementara dijual rata-rata hanya
700 rupiah setiap KWH.

Untuk itulah penyelesaian proyek listrik 10000 MW ini sangat penting,
karena selain memenuhi kebutuhan listrik masyarakat, kita juga bisa
mengganti PLTD yang masih beroperasi dan dijadikan cadangan saja, biar
seandainya ada apa-apa dengan pembangkit utama terganggu atau rusak,
pasokan listrik tidak terganggu. Selaiknya memang kita butuh cadangan
paling tidak 30 % dari total energi yang tersedia. Pada kenyataannya
kita hanya memiliki 5 % cadangan padahal singapura cadangannya sampai
dengan 100 %. Saya selalu berharap pemerintah yang sekarang tetap komit
untuk "Lanjutkan"......

http://ekonomi.kompasiana.com/2009/11/26/pak-jk-cepat-pulaaaaaaaannng%E2%80%A6%E2%80%A6%E2%80%A6%E2%80%A6%E2%80%A6/


Merindukan JK yang "Pecicilan"

Selepas menjabat sebagai Wakil Presiden (Wapres), Muhammad Jusuf Kalla
saat ini nampaknya sedang menikmati masa-masa "nganggur"nya bersama
keluarga dan kerabat dekat. Terlihat pada beberapa hari setelah
"istirahat" dari tugas ke-Wapres-annya, ia langsung berkumpul bersama
anak-anak dan cucu-cucunya.

Selama menjabat sebagai Wapres, JK dikenal sebagai orang yang
"pecicilan" (tidak bisa diam) dalam artian disini selalu melakukan
sesuatu untuk negara. Tanpa banyak omong dalam melakukan sesuatu
merupakan karakter JK yang melekat pada masyarakat, selain itu ia juga
dikenal sebagai orang yang "cepat", namun ia juga tak jarang menerima
kritikan dari masyarakat.

Hilangnya JK dari "peredaran" sekarang rupanya membuat sebagian
masyarakat merindukan sosok JK yang sampai saat ini belum tergantikan
tindak-tanduknya. Banyak masalah negara ini selepas kepengurusannya
menjadi Wapres, bukan berati karena JK tidak menjabat sebagai Wapres
lagi, masalah itu muncul tapi masyarakat merindukan saran dan tindakan
JK dalam mengatasi masalah bangsa ini.

Pada Pemilu Presiden kemarin, JK mencalonkan diri sebagai Calon Presiden
(Capres) dan pada debat Capres beberapa saat lalu ketika musim kampanye,
Jk pernah berucap, jika ia tak terpilih lagi sebagai Presiden maka ia
berjanji akan pulang kampung mengurusi masjid. Entah hilangnya JK
sekarang ini karena membayar janjinya itu yang akan mengurusi masjid
atau berlibur bersama keluarga selama dua bulan seperti apa yang ia
katakan pada beberapa media, tapi yang jelas publik merindukan sosok JK
yang juga dikenal sangat ramah.

JK di Kompasiana

Selain sebagai Wapres (mantan Wapres sekarang), JK juga aktif Ngeblog di
Kompasiana, ia menjadi blogger tamu kebanggaan kompasiana, ini terlihat
dari banyaknya pembaca yang mengunjungi blognya itu
(http://www.kompasiana.com/jusufkalla). Namun sekarang ini, tepatnya
setelah pelantikan Presiden dan Wapres yang baru (SBY-Boediono), JK
mulai menghilang juga dari "peredaran" di kompasiana. Tulisannya yang
berjudul "Apa Setelah Ini" merupakan tulisan terakhir yang ia posting
pada tanggal 19 Oktober 2009, sehari menjelang pelantikan SBY-Boediono
pada tanggal 20 Oktober 2009.

Dalam tulisan itu, ia memaparkan tentang apa yang akan ia lakukan
selepas menjabat sebagai Wapres. Ia bilang setelah masa jabatannya
habis, ia akan membuat sebuah lembaga yang akan mengurusi bidang sosial,
pendidikan, perdamian dan juga pengembangan ekonomi pada tahun 2010 dan
ia juga akan menjadi pengajar (dosen) pada program Leadhersip di
Universitas Paramadina.

Rasanya publik tak sabar menunggu ia kembali beraktifitas terutama
kontribusinya pada negeri ini. Mudah-mudahan pada awal tahun 2010 nanti,
JK sudah dapat kembali "terbit".

http://sosbud.kompasiana.com/2009/11/21/merindukan-jk-yang-pecicilan/



Kirim email ke