Kalau saya melihatnya dari sisi hakekatnya saja.

Umumnya yang mudik adalah klass menengah kebawah ,dimana mereka pejuang2
guna memenuhi kehidupan mereka.

Ketika mereka berjuang seolah-olah mereka selalu ‘tangan dibawah’ dan pada
saatnya dimana mereka mempunyai kenikmatan sendiri mewujudkan syukur mereka
dengan memberi kepada Orang Tua dan sanak saudara .

Mereka juga memerlukan sungkem kepada leluhur mereka guna meminta restu dan
menambah energi kembali pada perjuangan berikutnya.

Mari kita dukung tradisi mudik ini,beri kemudahan dengan mebenahi
infrastrukutur tansportasi dan lainnya.

Minal Aidin Wal Faidzin Salam Idul Fitri

 

Wassalam/Chandra

 

From: FPS Indonesia (JKT)-Jaerony [mailto:[email protected]] 
Sent: 20 September 2010 16:38
To: [email protected]
Subject: [porsenipar] Dampak Ekonomi Mudik Lebaran

 

Kegiatan mudik sebagaimana kita sadari tidaklah sia-sia, paling tidak
menggerakkan ekonomi di kampung meskipun dalam rentang waktu yang sempit
(kurang lebih ½ atau 1 bulan). Konsep memberi nilai tambah (sekecil apapun,
di banding hitung-hitungan untung rugi) mestinya jadi bagian dari pola hidup
kita di manapun dan kapanpun. 

 

Wass / Jaerony.-

****************************************

 

Senin, 06/09/2010 09:04:57 WIB 

Dampak ekonomi mudik Lebaran

Oleh: Mudrajad Kuncoro 



Arus mudik (dan balik) selama 1 minggu sebelum dan setelah Idulfitri sudah
merupakan ritual tahunan. Keutamaan bulan suci Ramadan bagi umat muslim
Indonesia sungguh luar biasa. 

Tidak hanya menjadikan 'atmosfir' ibadah begitu khidmat hingga 'menembus'
arasy langit lapis tujuh, tetapi juga mendorong geliat ekonomi yang begitu
dahsyat di bumi Nusantara. 

Masalahnya, apakah dimensi ekonomi mudik menimbulkan dampak pengganda
(multiplier) yang berarti bagi ekonomi daerah dan perdesaan? Ataukah mudik
hanya fenomena "musiman" sesaat yang menimbulkan arus orang dan barang
sedikit melonjak dibanding bulan lain? 

Arifin Purwakananta, Direktur Dompet Dhuafa, memperkirakan Rp 80,9 triliun
mengalir dari para pemudik saat melakukan mudik. Bila jumlah pemudik
mencapai 56% penduduk kota, dana Rp80,9 triliun tersebut akan mengalir
melalui transportasi yang digunakan pemudik, kedermawanan kepada sanak
keluarga, dan untuk wisata. 

Saya coba cek data Bank Indonesia tentang dana mudik ini. Besarnya arus dana
mudik setidaknya tercermin dari transaksi pembayaran nontunai lewat transfer
RTGS (real time gross settlement) dari kota X ke kota Y atau data penarikan
uang kartal di masing-masing kantor BI di daerah. Penggunaan RTGS masih
mendominasi pembayaran nontunai yang nilai nominalnya mencapai lebih dari
95% dari total nilai transaksi nontunai. Pengguna sistem RTGS paling banyak
dilakukan oleh nasabah bank untuk jumlah transaksi dari luar Jakarta ke
Jakarta. Nilai transaksi RTGS dalam laporan triwulan II 2010 di DKI Jakarta
saja mencapai Rp82,55 triliun per hari dan dari sisi volume sebanyak 22.247
transaksi per hari. 

Di Jawa Tengah yang merupakan salah satu sasaran tujuan mudik tercatat
aliran dana yang menarik. Perkembangan aliran uang kartal pada triwulan
II-2010 di wilayah Jawa Tengah (KBI Semarang, KBI Solo, dan KBI Purwokerto)
mengalami net inflow (inflow atau aliran uang masuk lebih besar daripada
outflow atau aliran uang keluar), dengan jumlah net inflow sebesar Rp3,29
triliun. 

Bila net inflow positif berarti banyak uang yang masuk ke daerah tersebut.
Pada triwulan III dan IV dampak mudik menyebabkan jumlah net inflow akan
makin besar. 

Data di DKI Jakarta dan Jawa Tengah ini sekadar perkiraan besarnya aliran
dana yang masuk dan ke luar dari suatu daerah. Yang jelas, semua bisnis
mulai dari usaha kecil dan menengah (seperti makanan, minuman, pakaian,
perlengkapan ibadah, sewa mobil) sampai usaha besar (seperti transportasi,
telekomunikasi, kendaraan bermotor, asuransi, perbankan) mengalami lonjakan
permintaan sejak awal Ramadan. 

Geliat ekonomi tersebut selalu mencapai puncaknya pada akhir Ramadan ketika
terjadi aktivitas mudik Lebaran untuk merayakan Idulfitri di kampung halaman
masing-masing. Menurut data Masyarakat Transportasi Indonesia maupun
Kementerian Perhubungan, diperkirakan pemudik pada tahun 2010 mencapai 17
juta orang. 

Jumlah ini hampir sama dengan total penduduk satu benua Australia yang
mencapai 20 juta. Dari total pemudik 17 juta tersebut, diperkirakan akan
menggunakan moda transportasi yang berbeda: 7,2 juta menggunakan sepeda
motor, 2,6 juta pengguna mobil, 1,97 juta pengguna pesawat terbang, 3 juta
pengguna kapal laut, dan 4 juta pengguna kereta api dan bus umum. 

Tidak mengherankan, pada hari Lebaran bisa diperkirakan penduduk kota-kota
besar paling hanya didiami oleh sekitar 20%-30% penduduk dibandingkan dengan
hari-hari normal. 

Fenomena mudik ini adalah buah dari urbanisasi dan aglomerasi ekonomi. Urban
bias terjadi dalam proses pembangunan ekonomi Indonesia. Model pembangunan
yang bias ke kota berdampak terhadap konsentrasi tenaga kerja dan penduduk
terutama di kota-kota metropolitan dan besar yang menjadi pusat
pemerintahan, industri, maupun perdagangan. 

Kota-kota ini menjelma menjadi magnit luar biasa bagi tenaga kerja,
industri, jasa, mal, dan perusahaan. Kekuatan sentripetal akibat aglomerasi
menyebabkan aktivitas ekonomi terkonsentrasi secara geografis di kota
metropolitan dan besar. Pada 2000, persentase penduduk yang berada di
perkotaan (baca: urbanisasi) Indonesia mencapai 42%. Pada 2015, angka
urbanisasi ini diperkirakan mencapai 57,8%. 

Aliran dana yang dibawa para pemudik tentunya bila dialokasikan pada usaha
yang produktif yang dapat mempunyai efek pengganda yang luar biasa. Selain
dana terserap untuk biaya perjalanan pulang balik, di daerah tujuan pemudik,
yang mayoritas perdesaan, dana ikut juga dikucurkan. Dengan adanya mudik
tersebut paling tidak ekonomi perdesaan bisa menggeliat sesaat. 

Seandainya uang yang harus dipegang oleh masing-masing pemudik rata-rata
sekitar 5 juta rupiah, dan jumlah pemudik diasumsikan sekitar 17 juta orang,
maka uang yang beredar sudah sekitar Rp 85 triliun. Ini belum termasuk
transaksi RTGS. Bayangkan saja, bila para pemudik menyisihkan dana dengan
niat untuk zakat, infak, sedekah (ZIS) sebesar minimal Rp 100 ribu per
pemudik, maka setidaknya terkumpul Rp 1,7 triliun. Jumlah sebesar ini bisa
digunakan untuk mendirikan perusahaan penjaminan kredit daerah (Jamkrida)
yang hanya butuh modal awal Rp 50 miliar atau membiayai beasiswa sekian ribu
pelajar/mahasiswa. 

Besarnya dana yang tersebar dalam masa mudik tidak hanya menggeliatkan
ekonomi perdesaan, tetapi juga mendongkrak ekonomi perkotaan. Kenyataan ini
disebabkan oleh masa Lebaran, sifat konsumtif masyarakat mengalami kenaikan
sehingga laju pengeluarannya dananya bisa memancar ke segala arah. 

Untuk membuktikan kesuksesannya hidup di kota, para pemudik biasanya membeli
sepeda motor, TV, lemari es, handphone, play station, baju muslim, sepatu
dan lain-lain. Pemberian uang untuk keluarga di daerah perdesaan sering juga
dialokasikan untuk membeli barang-barang tersebut. 

Sungguh sayang apabila arus dana mudik tidak dimanfaatkan untuk pembangunan
daerah. Ataukah memang kita hanya menyaksikan dan menjadi pemudik yang ikut
menyumbang kemacetan jalanan? Tujuan berpuasa adalah agar bertakwa (Q.S. 2:
183). 

Salah satu ciri orang yang bertakwa adalah orang yang menafkahkan (hartanya)
baik di waktu lapang maupun sempit (Q.S. 3: 134). Nah....mari kita
manfaatkan momentum mudik sekaligus untuk mengembangkan ekonomi daerah asal
kita. 

Oleh Mudrajad Kuncoro
Guru besar & Ketua Jurusan Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomika & Bisnis UGM

 

http://web.bisnis.com/artikel/2id3101.html

 

 

<<image001.gif>>

Kirim email ke