Berita seputar suksesor Mbah Maridjan dari detik.com ...

 

******************************************************************

 

Jumat, 29/10/2010 12:10 WIB
Kisah Ajaib Ponimin Selamat dari Awan Panas Merapi  
Hery Winarno - detikNews

Sleman - Ajaib, Ponimin bersama 7 anggota keluarganya selamat dari musibah
awan panas atau wedhus gembel Merapi. Calon kuat pengganti Mbah Maridjan ini
berlindung di bawah mukena istrinya, Yati, sambil memegang Alquran.

"Yang ajaib, mukena yang buat tudungan itu dan hanya buat salat itu, bisa
untuk nutup kita bertujuh. Semuanya anak dan istri saya di tangan kanan kiri
semuanya megang Alquran," kata Ponimin (50) saat ditemui  wartawan di rumah
dr Ana Ratih Wardani, di Kaliadem, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, Jumat
(29/10/2010).

Ponimin bercerita, saat itu, Selasa (26/10) sore dia tengah berada di
beranda rumah. Semua pintu terbuka, sehingga dia bisa jelas melihat istrinya
tengah mengaji. Ketika magrib datang, dia melihat istrinya berbicara dengan
seseorang.

Ponimin mendengar suara, istrinya berucap, "Jangan Mbah, jangan Mbah,"
terang Ponimin menirukan suara istrinya, Yati.

Rupanya, sosok gaib yang berbicara dengan istrinya itu adalah sosok
laki-laki tua mengenakan batik lurik Jawa dan blangkon yang biasa mendatangi
keluarga mereka. Lelaki tua itu berucap hendak menghancurkan Yogyakarta.
Mendengar ucapan istrinya, lelaki tua itu marah.

"Lalu saya melihat asap dan api mengejar istri saya, dan saya masuk ke
dalam. Istri saya kemudian tudungan dengan mukena bersama 2 anak dan menantu
saya dan 2 cucu saya. Saya langsung masuk ke dalam, setelah itu tiba-tiba
pintu tertutup, saya pun langsung masuk ke tudungan mukena," jelasnya.

Di dalam tudungan mukena biasa untuk salat istrinya itu, mereka memegang Al
Quran dan berzikir. Hawa panas mengitari mereka. "Saya lihat api di
mana-mana," imbuh Ponimin.

Hingga kemudian setelah terasa aman, dia menghubungi kawan-kawannya yang di
pengungsian melalui telepon seluler untuk minta bantuan. Tapi tidak ada yang
datang, karena udara masih panas. Teman-teman yang dia hubungi malah
memintanya bersabar. Namun seorang teman, pandu itu akhirnya datang dengan
menumpang mobil seperti Jeep.

"Kami lantas keluar rumah dengan panas terasa di kaki. Ketika kendaraan
jalan, tidak bertahan lama, karena bannya keburu meledak," terangnya.
Rombongan itu lantas kembali ke rumah. Di rumah mereka mengambil sajadah dan
bantal. Dengan alat itu mereka keluar lagi mencari pos pengungsian.

"Dengan memakai bantal dan sajadah, yang dipakai sebagai alas dengan
estafet, akhirnya berhasil sampai di tempat aman," ujar Ponimin yang
rumahnya sekitar 200 meter dari Mbah Maridjan, namun beda dusun.

Jarak dari rumah dia ke tempat aman sekitar 2 km. Bantal dan sajadah dipakai
alas dengan bergantian, yang paling belakang memberikan sajadah atau bantal
ke yang terdepan untuk digunakan, demikian seterusnya.

"Akhirnya setelah dua jam kami bertemu tim SAR," imbuh Ponimin yang memakai
cincin batu akik di jarinya dan tasbih di tangannya ini.

Ponimin mengalami luka di kaki. Telapak kakinya melepuh karena panas,
terlihat seperti bisul mengandung nanah.

"Tapi alhamdulillah kami selamat," ujar Ponimin yang dikenal sebagai "orang
pintar" nomor dua setelah Mbah Maridjan di lereng Merapi ini.

Karena pengalaman ajaibnya ini, Keraton Yogyakarta pun menawari Ponimin
menjadi kuncen Merapi menggantikan Mbah Maridjan. Namun Ponimin masih
pikir-pikir menerima jabatan yang 3 kali lebih tinggi dibanding tugas abdi
dalem yang disandangnya sekarang. Itu karena dia harus berikhtiar membangun
rumahnya kembali yang porak poranda.
(ndr/nrl)

 

 

Jumat, 29/10/2010 12:19 WIB
Rajin Mengaji, Istri Mbah Ponimin Sering Difitnah Punya Pesugihan  
Meylan Fredi Ismawan - detikNews

 

Yogyakarta - Istri kandidat kuat pengganti juru kunci Gunung Merapi Mbah
Maridjan, Mbah Ponimin, Yati (42), dikenal rajin mengaji. Namun, Yati
seringkali diterpa fitnah dan digosipkan memiliki pesugihan.

"Selama di sana, saya banyak menerima fitnah. Banyak orang yang menduga saat
saya mengaji, saya menyedot kekayaan orang lain dan banyak juga yang menduga
saya punya pesugihan," kata Yati.

Hal ini disampaikan Yati kepada detikcom di kediaman dokter Ana, di Dusun
Ngenthak, Umbulmartani, Ngemplak, Sleman, Yogyakarta, Jumat (29/10/2010). 

Yati mengaku rajin mengaji hanya untuk dakwah. Ia ingin mengislamkan
penduduk yang belum mengenal Islam.

Kehidupan Yati dan Ponimin yang tinggal di Dusun Kaliadem, Desa Umbulharjo,
Cangkringan, Sleman, bisa dibilang lumayan berada. Yati sempat menerima
banyak bantuan dari sejumlah pihak saat Gunung Merapi meletus pada tahun
2006.

"Tahun 2006, pasca letusan merapi, banyak orang yang mau masuk Islam.
Tetapi, setelah itu (aman) saya kembali menerima banyak fitnah. Ketika tahun
2006,  mungkin banyak orang yang tidak percaya kepada saya karena waktu itu
rumah saya memang tidak dilalui wedhus gembel," papar perempuan berkerudung
warna putih dan mengenakan daster warna ungu ini.

Yati bersyukur keluarganya selamat dari amukan awan panas pada Selasa 26
Oktober 2010 pukul 17.02 WIB. "Tetapi saat ini, rumah saya dilalui wedhus
gembel apalagi rumah saya di paling atas. Namun, nyatanya saya dan keluarga
selamat," ujar Yati.

Ibunda dari Ilham Galih Habibi (5) ini berharap, dengan bencana Gunung
Merapi ini masyarakat semakin yakin akan kebesaran Sang Pencipta. 

"Saya berharap dengan ini, orang yakin akan kebesaran Allah," kata Yati.

(aan/nrl)

 

 

 

Jumat, 29/10/2010 12:10 WIB
Kisah Ajaib Ponimin Selamat dari Awan Panas Merapi  
Hery Winarno - detikNews

Sleman - Ajaib, Ponimin bersama 7 anggota keluarganya selamat dari musibah
awan panas atau wedhus gembel Merapi. Calon kuat pengganti Mbah Maridjan ini
berlindung di bawah mukena istrinya, Yati, sambil memegang Alquran.

"Yang ajaib, mukena yang buat tudungan itu dan hanya buat salat itu, bisa
untuk nutup kita bertujuh. Semuanya anak dan istri saya di tangan kanan kiri
semuanya megang Alquran," kata Ponimin (50) saat ditemui  wartawan di rumah
dr Ana Ratih Wardani, di Kaliadem, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, Jumat
(29/10/2010).

Ponimin bercerita, saat itu, Selasa (26/10) sore dia tengah berada di
beranda rumah. Semua pintu terbuka, sehingga dia bisa jelas melihat istrinya
tengah mengaji. Ketika magrib datang, dia melihat istrinya berbicara dengan
seseorang.

Ponimin mendengar suara, istrinya berucap, "Jangan Mbah, jangan Mbah,"
terang Ponimin menirukan suara istrinya, Yati.

Rupanya, sosok gaib yang berbicara dengan istrinya itu adalah sosok
laki-laki tua mengenakan batik lurik Jawa dan blangkon yang biasa mendatangi
keluarga mereka. Lelaki tua itu berucap hendak menghancurkan Yogyakarta.
Mendengar ucapan istrinya, lelaki tua itu marah.

"Lalu saya melihat asap dan api mengejar istri saya, dan saya masuk ke
dalam. Istri saya kemudian tudungan dengan mukena bersama 2 anak dan menantu
saya dan 2 cucu saya. Saya langsung masuk ke dalam, setelah itu tiba-tiba
pintu tertutup, saya pun langsung masuk ke tudungan mukena," jelasnya.

Di dalam tudungan mukena biasa untuk salat istrinya itu, mereka memegang Al
Quran dan berzikir. Hawa panas mengitari mereka. "Saya lihat api di
mana-mana," imbuh Ponimin.

Hingga kemudian setelah terasa aman, dia menghubungi kawan-kawannya yang di
pengungsian melalui telepon seluler untuk minta bantuan. Tapi tidak ada yang
datang, karena udara masih panas. Teman-teman yang dia hubungi malah
memintanya bersabar. Namun seorang teman, pandu itu akhirnya datang dengan
menumpang mobil seperti Jeep.

"Kami lantas keluar rumah dengan panas terasa di kaki. Ketika kendaraan
jalan, tidak bertahan lama, karena bannya keburu meledak," terangnya.
Rombongan itu lantas kembali ke rumah. Di rumah mereka mengambil sajadah dan
bantal. Dengan alat itu mereka keluar lagi mencari pos pengungsian.

"Dengan memakai bantal dan sajadah, yang dipakai sebagai alas dengan
estafet, akhirnya berhasil sampai di tempat aman," ujar Ponimin yang
rumahnya sekitar 200 meter dari Mbah Maridjan, namun beda dusun.

Jarak dari rumah dia ke tempat aman sekitar 2 km. Bantal dan sajadah dipakai
alas dengan bergantian, yang paling belakang memberikan sajadah atau bantal
ke yang terdepan untuk digunakan, demikian seterusnya.

"Akhirnya setelah dua jam kami bertemu tim SAR," imbuh Ponimin yang memakai
cincin batu akik di jarinya dan tasbih di tangannya ini.

Ponimin mengalami luka di kaki. Telapak kakinya melepuh karena panas,
terlihat seperti bisul mengandung nanah.

"Tapi alhamdulillah kami selamat," ujar Ponimin yang dikenal sebagai "orang
pintar" nomor dua setelah Mbah Maridjan di lereng Merapi ini.

Karena pengalaman ajaibnya ini, Keraton Yogyakarta pun menawari Ponimin
menjadi kuncen Merapi menggantikan Mbah Maridjan. Namun Ponimin masih
pikir-pikir menerima jabatan yang 3 kali lebih tinggi dibanding tugas abdi
dalem yang disandangnya sekarang. Itu karena dia harus berikhtiar membangun
rumahnya kembali yang porak poranda.


(ndr/nrl)

 

 

 

Jumat, 29/10/2010 11:35 WIB
Ponimin Ditunjuk Gantikan Mbah Maridjan, Sang Istri Salat Istikharah   
Meylan Fredi Ismawan - detikNews

 

Yogyakarta - Yati (42), istri Mbah Ponimin enggan mengomentari sang suami
yang menjadi kandidat kuat pengganti Mbah Maridjan. Yati hanya ingin kembali
ke rumahnya untuk mengaji dan salat istikharah sebelum mengambil keputusan.

"Saya harus mengaji dulu dan salat istikharah apakah kiranya suami saya bisa
menjadi penjaga Merapi," kata Yati yang ditemui detikcom di kediaman dokter
Ana, di Dusun Ngenthak, Umbulmartani, Ngemplak, Sleman, Yogyakarta, Jumat
(29/10/2010).

Perempuan berkerudung ini berharap bisa segera kembali ke rumah di Dusun
Kaliadem, Desa Umbulharjo, Cangkringan, Sleman. 

"Saya saat ini sudah 3 hari tidak mengaji. Yang saya takutkan jika sampai 7
hari saya tidak mengaji akan terjadi sesuatu," ujar dia sambil memegang
telepon genggamnya.

Yati yang mengenakan kerudung warna putih dan daster warna ungu ini dikenal
rajin mengaji. 

"Dalam mengaji, saya tidak mau dilihat orang lain. Tetapi, kalau orang lain
ingin mendengarkan tidak masalah. Saya mengaji dan salat tahajud biasa pukul
23.00 WIB hingga fajar," kata Yati yang mengalami luka di bagian kaki karena
menginjak pasir panas ini. Namun kini luka Yati sudah sembuh.

Yati mengaku pernah tinggal di 4 pesantren.  Yati dan Ponimin memiliki
putera, Ilham Galih Habibi (5). Yati yang asli dari  Desa Merdikorjo,
Tempel, Sleman, ini  memiliki anak angkat yang telah berkeluarga dan
memberinya 2 cucu.

Ponimin merupakan warga asli Merapi. Pria yang menurut warga kuat berzikir
ini, telah menjadi abdi dalem Keraton Yogyakarta sejak 2001. Pada Kamis
(28/10) GKR Hemas, istri dari Sri Sultan HB X, datang menengok pengungsi
Merapi. Saat itu Hemas mendengar cerita dari Ponimin. Setelah itu Hemas
meminta Ponimin untuk meneruskan tugas Mbah Maridjan sebagai kuncen Merapi.


(aan/asy)

 

 

 

Kirim email ke