Suatu wacana yang mestinya memberikan pencerahan, yang di pengajianpun tema 
seperti ini sangat minim: ketaatan isteri beserta derivatif darinya. 
Coba kita perhatikan realita: seseorang yang mundur dari suatu kepanitiaan di 
masyarakat karena dibatalkan oleh isterinya, padahal si orang ini begitu 
fokalnya jika menyangkut urusan kemasyarakatan. Lantas kalau seperti itu kapan 
kita bisa mentransformasikan nilai-nilai kebaikan jika "gampang" diatur begitu 
saja oleh isterinya?
So, jadikan peran kita, suami-suami ini, sebagai "ar-rijal" yang 
sesungguh-sungguhnya!
Wassallam / Jaerony.-
**********************************************
Menyusul, Ikatan Istri Taat Suami Indonesia
Rabu, 8 Juni 2011,  08:55 WIB
KOMPAS.com - Indonesia segera menyusul pendirian organisasi kontroversial di 
Malaysia bernama Klub Istri Taat Suami (Obedient Wives Club/OWC). OWC Malaysia 
resmi diluncurkan Sabtu (4/6/2011). Adapun di Indonesia klub serupa dengan nama 
Ikatan Istri Taat Suami rencananya diluncurkan 19 Juni 2011.

Klub ini yakin bisa "mengobati" penyakit-penyakit sosial seperti prostitusi dan 
perceraian dengan cara mengajarkan ketaatan kepada suami dan membuat mereka 
bahagia di atas ranjang. Salah satu yang didapat anggota klub ini adalah 
pelajaran seks. Tujuannya untuk membantu para istri bisa "melayani suami-suami 
mereka lebih dari pekerja seks komersial (PSK) kelas satu," kata Wakil Presiden 
OWC Dr Rohaya Mohammad. 

Rohaya menambahkan para istri tidak boleh sekadar terampil memasak dan menjadi 
ibu yang baik. Istri seharusnya "mematuhi, melayani, dan menyenangkan" suami 
agar tidak "mengembara" atau nakal. Dengan kata lain, lanjut Rohaya, "istri 
yang tidak patuh menyebabkan dunia gonjang-ganjing" karena suami tidak bahagia 
di rumah serta pikiran dan jiwa mereka terganggu.

Rupanya perspektif ini juga diadopsi di Indonesia. Adalah doktor aeronautika 
(teknologi angkasa luar), Dr Gina Puspita, Phd, yang menggagas pembentukan 
Ikatan Istri Taat Suami (IITS) di Indonesia. IITS semata-mata untuk mengajak 
umat Islam mengamalkan ajaran Islam secara lengkap, ujar dr Gina.

"Pada zaman sekarang banyak suami atau istri yang memiliki kemajuan aktivitas 
di luar rumah, sampai pada akhirnya mereka lupa akan perannya sebagai suami 
atau istri," ujar Gina seperti dikutip Warta Kota.

Menurut Gina, zaman sekarang banyak suami atau istri yang memiliki kemajuan 
aktivitas di luar rumah, sampai pada akhirnya mereka lupa akan perannya sebagai 
suami atau istri. Istri ataupun calon istri yang bergabung di IITS akan diberi 
panduan konseling bagaimana cara membangun sebuah rumah tangga dengan cara 
Islami. Menurut Gina, klubnya tidak hanya mengajarkan peran istri yang harus 
taat kepada suami, melainkan juga sikap dan tanggung jawab suami kepada istri. 
Banyaknya kekerasan yang diterima kaum istri pun bukan semata-mata sebagai 
bentuk taatnya istri dalam melayani suami. 

Dalam Islam, lanjut Gina, peran istri sangat penting. Bukan hanya di dunia, 
tetapi Allah pun menyebutkan bahwa istri taat kepada suami adalah ibadah. Oleh 
karena itu, Gina berharap masyarakat yang berpikir positif bisa lebih mencerna 
lagi maksud baik dari didirikannya IITS. Bukan hanya mereka yang sudah berumah 
tangga, perempuan yang mendekati usia nikah pun bisa datang untuk konsultasi 
mengenai pernikahan di IITS. Klub ini meyakini rahasia pernikahan bahagia 
adalah istri menaati suami dan memberi kepuasan seksual kepadanya.

Gina, yang beberapa tahun lalu sempat terkenal karena mendirikan klub poligami 
Global Ikhwan, menyadari bahwa rencananya ini bakal menimbulkan banyak pro dan 
kontra dari masyarakat.



http://female.kompas.com/read/2011/06/08/08552522/Menyusul.Ikatan.Istri.Taat.Suami.Indonesia

Kirim email ke