> -----Original Message----- > From: Ika Lastina > Sent: Saturday, September 16, 2000 8:42 AM > To: Fernantomo Heruwibowo; Mohammad Taupik; Rindriyani Sayidah; Vietri > Anwari; Sutopo Budi Santoso; Agus Hermana; Safrina Desita Ferdinandus; > Rudy Swardani > Cc: '[EMAIL PROTECTED]' > Subject: FW: Selembar Bulu Mata > > > Selembar Bulu Mata > > submitted by : Komara Hidayat > > sumber : Arroisi, Abdurrahman K.H. > > > > > > > > Konon di Hari Pembalasan kelak, ada seorang hamba Allah sedang di adili. > > Ia > > dituduh bersalah, menyia-nyiakan umurnya di dunia untuk berbuat maksiat. > > Tetapi ia bersikeras membantah. "Tidak. Demi langit dan bumi sungguh > tidak > > benar. Saya tidak melakukan semua itu." > > "Tetapi saksi-saksi mengatakan engkau betul-betul telah menjerumuskan > > dirimu > > sendiri ke dalam dosa," jawab malaikat. Orang itu menoleh ke kiri dan ke > > kanan, lalu ke segenap penjuru. Tetapi anehnya, ia tidak menjumpai > seorang > > saksi pun yg sedang berdiri. Di situ hanya ada dia sendirian. Makanya ia > > pun > > menyanggah, "Manakah saksi-saksi yg kau maksudkan? Di sini tdk ada siapa > > kecuali aku dan > > suaramu." > > "Inilah saksi-saksi itu," ujar malaikat. > > Tiba-tiba mata angkat bicara, "Saya yg memandangi." Disusul oleh > > telinga, "Saya yg mendengarkan." > > Hidung pun tidak ketinggalan, "Saya yang mencium." Bibir mengaku, > > "Saya yang merayu." > > Lidah menambah, "Saya yang mengisap." Tangan meneruskan, "Saya > > yang meraba dan meremas." > > Kaki menyusul, "Saya yang dipakai lari ketika ketahuan." "Nah kalau > > kubiarkan, seluruh anggota tubuhmu akan memberikan kesaksian > > tentang perbuatan aibmu itu", ucap malaikat. Orang tersebut tidak > > dapat membuka sanggahannya lagi. Ia putus asa > > dan amat berduka, sebab sebentar lagi bakal dijebloskan ke dalam neraka > > jahanam. > > Padahal, rasa-rasanya ia telah terbebas dari tuduhan dosa itu. > > Tatkala ia sedang dilanda kesedihan itu, sekonyong-konyong > > terdengar > > suara yg amat lembut dari selembar bulu matanya: > > "Saya pun ingin juga mengangkat sumpah sebagai saksi." > > "Silakan", kata malaikat. > > "Terus terang saja, menjelang ajalnya, pada suatu tengah malam yg > > lengang, aku pernah dibasahinya dengan air mata ketika ia sedang > > menangis menyesali perbuatan buruknya. Bukankah nabinya pernah > > berjanji, bahwa apabila ada seorang hamba kemudian bertobat, > > walaupun selembar bulu matanya saja yg terbasahi air matanya, > > namun sudah diharamkan dirinya dari ancaman api neraka? Maka > > saya, selembar bulu matanya, berani tampil sebagai saksi bahwa ia > > telah melakukan tobat sampai membasahi saya dengan air mata > > penyesalan." > > Konon, dengan kesaksian selembar bulu mata itu, orang tersebut > > di bebaskan dari neraka dan diantarkan ke surga. Sampai terdengar > > suara bergaung kepada para penghuni surga: "Lihatlah, Hamba Tuhan > > ini masuk surga karena pertolongan selembar bulu mata." > > > > > >
