Rudy Swardani MIS Department PT.Indonesia Epson Industry Phone : (021)-8970101 Ex:2205 mailto : [EMAIL PROTECTED]
-----Original Message----- From: Muhammad Faiz Sent: Monday, April 08, 2002 5:18 PM To: Bambang Dwi Atmoko; Bagiyo Hutomo; Ifan Nur Suwandi; Asep Muttaqien; Bayu Utomo; Dachlan Setiyaji; Djarot Dwi; Fernantomo Heruwibowo; Muhammad Kumoro Bhakti; Rudy Swardani; Setio Koesoemo Subject: Israel Babak Pertama, kedua & ketiga -----Original Message----- From: mohammed ali imron [mailto:[EMAIL PROTECTED]] Sent: Thursday, April 04, 2002 9:21 PM To: [EMAIL PROTECTED] Drama Tiga Babak Israel Babak Pertama: Rahmat Islam untuk Yahudi Jerusalem 638 M. Tampak Amirul Mu'minin Umar ibn Khattab bersama sejumlah pembantu dekatnya - Khalid ibn Walid, Amr ibn Ash, Abdur Rahman ibn Auf, Mu'awiyah ibn Abi Sufyan - menandatangani perjanjian damai dengan kaum Nasrani Jerusalem. Pihak Nasrani dipimpin Uskup Sophronius, penguasa Jerusalem. "Bismillahirrahmanir rahim, ini adalah jaminan yang diberikan kepada penduduk Aelia (nama Jerusalem waktu itu) oleh hamba Allah Amirul Mu'minin Umar ibn Khattab. Dia memberi mereka kepastian dan keamanan untuk diri mereka, segala milik mereka, gereja-gereja mereka, salib-salib mereka - baik yang kondisinya masih baik maupun yang sudah buruk - dan peribadatan mereka secara umum... Tidak ada larangan apapun yang akan diterapkan dalam soal agama. Tak seorang pun akan diganggu...." Umar dan penguasa-penguasa muslim selanjutnya tidak hanya memberi kebebasan kepada kaum Nasrani setempat, tapi juga kepada orang Yahudi. Perjanjian itu merupakan tonggak bersejarah, tak cuma bagi kaum muslim, tapi juga bagi kaum Yahudi. Betapa tidak, semenjak itu, kaum Yahudi yang selama 500 tahun dilarang masuk Aelia (Jerusalem), kini mulai mengenyam kebebasan di kota suci mereka. Bahkan mereka diperbolehkan beribadah di bukit Temple Mount, yang terletak di bagian timur kota itu. Flashback Aelia Tahun 70 M. Perang besar sedang berkecamuk antara tentara pemerintah pusat Romawi dengan kaum Yahudi setempat yang dipimpin para rabbi. Atau tepatnya, tentara pusat Romawi, yang dipimpin Pangeran Titus, menyerang kaum Yahudi Aelia karena pembangkangan mereka. Tentara Romawi mengejar kaum Yahudi dan para rabbi sampai mereka Temple Mount, tempat suci kaum Yahudi. Perang ini, seperti diduga, berakhir dengan kemenangan tentara Romawi. Konon, pada tahun pertama dia naik tahta, Titus datang ke Aelia, lalu membantai kaum Yahudi dan menahan orang-orang yang selamat jiwanya di antara mereka. Tak cuma itu, Titus juga menghancurkan kota suci itu. Kuil Sulaiman, yang terletak di atas Temple Mount, dihancurkannya, sedang buku-buku suci kaum Yahudi dibakarnya. Semenjak itu, orang Yahudi dilarang masuk ke Aelia. Setiap Yahudi yang ketahuan masuk pasti dibunuh. Hingga pusat pemerintahan Romawi dipindahkan ke Bizantium (Konstantinopel), kebijaksanaan ini terus berlaku, bahkan hingga Aelia jatuh ke tangan kaum muslim. Kebencian kepada kaum Yahudi juga memuncak di kalangan kaum Nasrani ataupun pemerintahan Bizantium sendiri. Karena tahu bahwa Batu Cadas (Rock) di Temple Mount dikeramatkan kaum Yahudi, orang-orang Nasrani membuang kotoran mereka di atas batu itu. Bahkan orang-orang perempuan dianjurkan untuk membuang baju bekas haidnya ke atas batu tersebut. Hingga akhirnya, batu itu tertutup tumpukan kotoran yang menggunung. Tak kurang Nabi Muhammad, dalam suratnya kepada Kaisar Heraclius yang sedang berkunjung ke Aelia, menganjurkan agar kotoran itu dibersihkan. "Wahai orang-orang Rum, kalian akan dikutuk lantaran tumpukan kotoran ini karena kalian telah mencemari tempat keramat ini," sabda beliau. Rupanya kata-kata beliau mengenai sasaran. Kaisar Heraclius memerintahkan rakyatnya untuk membersihkan tumpukan kotoran itu. Tapi, pekerjaan tersebut baru diselesaikan sepertiganya ketika Umar masuk ke Aelia. Kembali ke Adegan Semula Usai penandatanganan perjanjian damai itu, Sayidina Umar minta diantar Uskup Sophronius jalan-jalan ke bukit Temple Mount, untuk ditunjukkan tempat-tempat suci di sana. "Bawa aku ke tempat ibadah Nabi Dawud," kata Umar. Setelah itu Umar berjalan, diikuti bersama 4.000 sahabat Nabi yang bersenjatakan pedang. Sedang Uskup Sophronius mengawal di depannya. Ketika melihat tumpukan kotoran di atas Batu Cadas, sang uskup berkata, "Inilah tempat ibadah Nabi Dawud." "Bohong kamu, sebab kitab suci telah memberi tahu aku mengenai tempat ibadah itu, dan bukan ini," katanya. Maklumlah, sebelum pergi ke sana, Umar telah menanyai Ka'bul Akhbar, yang dulunya Kristen. Mereka terus berjalan, hingga sampai di Gereja Sion. "Ini tempat ibadah Nabi Dawud," kata Sophronius. "Bukan, kamu bohong," tegas Umar. Mereka terus berjalan dan melewati apa yang kemudian disebut Pintu Gerbang Mughammad. Kata Sophronius, "Sekarang tak mungkin kita melanjutkan perjalanan kecuali dengan merangkak." Tak apa. Umar bersama rombongannya beserta Sophronius pun merangkak. Sesampainya di atas, di sebuah tanah lapang yang keramat itu, mereka bisa berdiri tegak. "Demi Allah yang jiwaku ada di genggaman-Nya, inilah tempat yang diterangkan kepada kita oleh Allah," kata Umar. Yakni tempat yang oleh Allah disebut Masjidil Aqsha Usai itu beliau berjalan ke arah selatan, lalu berkata, "Biarkan kami mendirikan masjid di sini." Umar masuk ke Jerusalem atas permintaan penduduk setempat setelah dikepung selama dua tahun oleh tentara muslim di bawah pimpinan Abu Ubaidah. Mereka siap berdamai dan membayar jizyah, asal Umar sendiri yang datang. Demikianlah, kota suci itu jatuh ke pangkuan umat Islam dengan damai, tanpa setetes pun darah yang mengalir. Begitu juga setelahnya. Kaum Yahudi, umat Islam dan kaum Nasrani hidup berdampingan di kota itu dengan rukun - semua mendapat bagian masing-masing untuk beribadah di kota suci tersebut. Inilah ending yang membahagiakan. (ha/ dari buku "Jerusalem" oleh F.E. Peters dan sumber-sumber lainnya) Babak Kedua: Jerusalem di Suatu Jumat Siang Baghdad 492 H. Para jamaah di masjid-masjid menangis kala khatib mempermaklumkan, Jerusalem (Al-Quds) telah jatuh ke tangan Barat yang Kristen. Seluruh Baghdad, bahkan seluruh umat Islam di seantero dunia, berkabung. Seorang penyair kenamaan, Abu Sa'd Al-Harawi, menggubah syair khusus mengenai hal ini, yang kemudian dibacakan di diwan-diwan. Dan ketika umat, khususnya di Baghdad (pusat pemerintahan Dinasti Abbasiyah), hanya menangis dan tidak tergerak untuk mengangkat senjata, penyair Abul Muzhaffar Al-Abyuradi berteriak dengan gubahan syairnya: Kita campur darah kita dengan tetes air mata Tak tersisa lagi buat kita cita-cita untuk melempar batu Senjata terburuk adalah air mata yang mengucur Kala api peperangan berkilat dengan pedang Wahai anak-anak Islam, di belakangmu peristiwa-peristiwa Yang melarutkan air mata dengan jalan Bagaimana mata ini tidur, sepenuh pelupuk mata Di atas kekeliruan-kekeliruan yang Bisa membangunkan setiap yang tidur? Tapi percuma. Orang-orang tetap tak tergerak, dan Jerusalem tetap tak terebut. Penguasa Islam silih berganti. Semua bercita-cita, dengan kadar yang berbeda-beda, untuk merengkuh kembali Jerusalem, toh tak ada yang berhasil. Kala itu, dunia Islam tidak lagi menyatu dalam satu pemerintahan. Ada pemerintahan Abbasiyah di Baghdad, ada pemerintahan Fathimiyah di Mesir, dan banyak lagi yang kecil-kecil. Flashback Sudah bertahun-tahun Barat memang menyimpan keinginan merebut Jerusalem dari pangkuan Islam. Kampanye Perang Suci (Crusade) pun, dengan masalah Jerusalem sebagai pemicunya, dikumandangkan - oleh penguasa, oleh para pendeta di gereja-gereja. Yang dijadikan dalih, umat Kristen mengalami pembatasan-pembatasan serta gangguan di jalan untuk melakukan ziarah (pilgrimage) ke Jerusalem. Mereka merancang ekspedisi besar-besaran, melibatkan satu juga personel. Setelah berhasil melakukan penaklukan di Antokia, lalu di Yordania dan Palestina, kemudian mengepung Jerusalem selama satu setengah bulan, tentara Barat di bawah pimpinan Godfrey dari Bouillon (Perancis) berhasil merebut kota suci itu pada 1099 M (492 H). Kabarnya, setelah itu, mereka melakukan operasi di kampung-kampung, menyisir dari rumah ke rumah. Tak kurang, 60 ribu (versi lain: 70 ribu) muslim di Jerusalem telah dibantai dalam aksi ethnic cleansing ini. Kaum muslim Palestina, termasuk penyair Abu Sa'd Al-Harawi tadi, berduyun-duyun mengungsi ke Irak. Tak cuma itu. Menurut sejarawan Ibnul Jauzi, mereka juga melakukan penjarahan. Mereka menjarah sedikitnya 42 lampu hias dari perak di sekitar Batu Cadas (Dome of Rock), 40 lampu hias dari emas dan sebuah dapur api dari perak. Setelah itu, praktis Jerusalem bersama wilayah Palestina lainnya serta Yordania jatuh ke pangkuan Barat, dengan Jerusalem sebagai ibu kota suatu monarki Kristen. Perebutan Kembali Jerusalem 1187 M (587 H). Tepat pada 25 Rajab tentara Islam yang dipimpin Sultan Shalahuddin Al-Ayubi berhadap-hadapan dengan tentara Jerusalem. Ada tak kurang 60 ribu personel tentara yang dikerahkan di pihak kafir. Kota Jerusalem sendiri sudah dibentengi sedemikian kokohnya. Di mana-mana salib dipasang - pada dinding-dinding, di dalam Masjidil Aqsha, di tempat-tempat lainnya. Bahkan di Qubah Batu Cadas (Qubbatush Shahrah atau The Dome of Rock) ada salib yang besar sekali. Tentara Shalahuddin sendiri berkekuatan belasan ribu personel. Tapi ini pasukan yang tanggung. Dalam beberapa bulan ini mereka telah berhasil meraih kemenangan demi kemenangan di tanah-tanah Yordania dan Palestina, dan menyaksikan serta melakukan salat Jumat pertama di sana, setelah selama ini dilarang. Shalahuddin memilih medan perang di sisi tanah Syam (Siria), yaitu di sisi timur laut Jerusalem karena medan perang di sini lebih luas. Maka terjadilah perang yang hebat di luar perbatasan. Kaum kafir, yang terkepung dari segala arah itu harus mengorbankan banyak jiwa dan harta. Di sisi kaum muslim, moral dan semangat mereka kian meninggi berkat kepemimpinan Shalahuddin, plus dukungan para ulama dan shalihin, lebih-lebih ketika mereka melihat salib-salib dipasang di tembok-tembok perbatasan. Dengan senjata manjaniq (sejenis ketepel), panah dan berbagai senjata lainnya, mereka akhirnya berhasil membakar dan merobohkan tembok perbatasan. Moral kaum kafir benar-benar habis karena kehidupan mereka semakin sulit. Mereka minta damai. Maka dibuhullah perdamaian dengan syarat, setiap individu laki-laki dari pihak kafir harus membayar 10 dinar, perempuan 5 dinar dan anak kecil 2 dinar. Sejak itu, Jerusalem kembali ke pangkuan Islam, dan namanya diubah lagi menjadi Al-Quds. Hari itu, Jumat siang 27 Rajab 587 H, Shalahuddin masuk ke kota Jerusalem bersama kaum muslimin. Hari itu juga mereka melakukan kerja besar, membersihkan Masjidil Aqsha dari salib-salib dan babi-babi yang banyak sekali. Mereka juga menurunkan salib raksasa dari Qubah Batu Cadas, dan mencucinya dengan air lalu dengan air mawar dan minyak misk. Tapi hari itu tak bisa dilakukan salat Jumat di Masjidil Aqsha mengingat sempitnya waktu. Salat Jumat yang pertama baru dilakukan pada pekan berikutnya.(ha) Duh, Palestina, Palestina .... Desa-desa lain boleh bergolak, tapi desa Deir Yassin tetap tenang. Terletak di pinggiran kota Jerusalem, desa kecil ini dihuni kaum muslim (Arab) Palestina. Guna mempertahankan kenetralannya, penduduk desa ini mengikat perjanjian damai dengan desa-desa Yahudi di dekatnya. Mereka juga setuju untuk tidak menampung para penyerang kaum Yahudi. Tapi, tanggal 9 April 1948 menjadi mimpi buruk. Penduduk desa itu dikagetkan sekelompok orang bersenjata dari dua gang teroris Yahudi, yaitu Irgun Zwai Leumi pimpinan Menachem Begin (kelak jadi PM Israel) dan Gang Stern (Lehi) pimpinan Yitzhak Shamir (juga kelak jadi PM). Mereka meledakkan rumah-rumah dengan dinamit dan membantai seluruh penduduk, dengan senjata otomatis ataupun dengan pisau. Setelah berhasil memadamkan perlawanan, berkat bantuan tentara pasukan pemerintah Israel, Haganah, mereka menangkap para penduduk yang masih hidup, lalu membawa mereka ke tengah lapangan. Mereka disuruh berbaris, menghadap tembok, lalu ditembak dari belakang. Jacques de Ruynier, seorang pekerja Palang Merah Internasional, yang datang ke desa itu sebelum pihak Yahudi selesai membersihkan bekas-bekas pembantaian, sempat melihat 150 mayat dilempar ke dalam satu waduk, sedang 40 atau 50 mayat lainnya dibuang ke waduk lain. Seluruhnya, dia hitung, ada 245 mayat, termasuk 145 wanita, yang 35 di antaranya sedang bunting. Sejumlah wanita dan anak-anak yang masih hidup ditelanjangi lalu, dengan tangan di kepala, dibawa truk keliling kota Jerusalem. Plan Dalet Deir Yassin hanyalah yang paling terkenal. Tapi operasi yang sama kejamnya berlangsung pula di desa-desa lain. Menurut sejarawan Israel, Yitzhaqi, pola pendudukan desa-desa Arab seperti itu sudah umum dilakukan kelompok Haganah dan Palmach di masa-masa awal Perang Kemerdekaan. Metode yang dipakai adalah menyerang desa-desa musuh dan meledakkan sebanyak mungkin rumah, katanya. Ini sesuai dengan dekrit PM David Ben-Gurion, yaitu untuk meluluh-lantakkan desa-desa sekitar kota, sehingga ekonomi penduduk kota-kota Arab akan ambruk, sehingga penduduknya akan hengkang untuk mencari penghidupan di daerah lain. Dekrit ini sendiri merupakan pelaksanaan dari Plan Dalet (Rencana Dalet) yang dirancang kaum Yahudi untuk mengubah demografi dan menambah 10 persen wilayah dari yang ditetapkan Resolusi Pemisahan 1947. Flashback Sejak Jerusalem direbut kembali dari Barat pada 1187 M, praktis seluruh tanah Palestina berada di bawah pemerintahan Islam atau Arab. Hingga akhirnya, sekitar pertengahan abad ke-19 M, kaum Yahudi di sana mulai melancarkan kampanye dan gerakan zionisme, dengan tujuan mendirikan negara Israel. Kampanye yang kian hari kian gencar ini telah melahirkan ketegangan antara penduduk Arab, terutama yang muslim, dan kaum Yahudi di Palestina. Akhirnya, kerusuhan-kerusuhan komunal antara kaum muslim dan Yahudi pun tak terhindarkan, terutama pada 1947. Ketegangan itu telah membawa masalah Palestina ke forum internasional. Antara lain, diadopsinya Resolusi tentang Pemisahan Palestina pada 1947 oleh PBB. Tapi resolusi ini mendapat tentangan keras dari dunia Arab karena dianggap hanya merupakan manifestasi dari manuver kolonialistis dari kekuatan-kekuatan besar dunia, yang menguasai badan dunia itu. Betapa tidak, populasi warga Arab (Palestina) mencapai 1.350.000 jiwa sementara kaum Yahudi hanya 650.000 jiwa, atau dua banding satu. Dari segi persebaran penduduk, kaum Yahudi hanya menempati kurang dari 6 persen dari seluruh wilayah Palestina. Tapi dalam resolusi itu, kaum Yahudi mendapat 56 persen wilayah, dan Arab hanya 44 persennya. Sebaliknya, pihak Yahudi menerima resolusi ini meski ternyata kemudian itu hanya penerimaan taktis belaka. Mereka sejak itu bahkan sebelum itu pun pihak Yahudi melakukan aksi-aksi untuk merebut tanah-tanah Palestina. Sebelum negara-negara Arab memasuki wilayah Palestina untuk menyerang Yahudi pada 15 Mei 1947, tak kurang 200.000 warga Arab Palestina mengungsi ke daerah lain. Serangan Arab itu sendiri, selain dipicu oleh ketidak-puasan terhadap Resolusi Pemisahan tadi, juga untuk menanggapi pengumuman secara sepihak berdirinya Negara Israel oleh David Ben-Gurion sehari sebelumnya (14 Mei 1947). Tapi, apalah artinya serangan Arab itu. Di samping Yahudi (Israel) mendapat dukungan dari AS (yang dua tahun kemudian memberikan pengakuan de jure terhadap Negara Israel dan memberikan pinjaman 100 juta dolar AS), kekuatan persenjataan maupun personel mereka empat kali lipat kekuatan negara-negara Arab digabung menjadi satu. Maklumlah, mereka telah siap sejak lama untuk melakukan pencaplokan ini, sementara Arab yang tidak menyadari ini, bukan hanya tidak menyiapkan diri, tapi bahkan sibuk dengan pertikaian di antara mereka sendiri. Tak heran kalau dalam setiap peperangan, Israel selalu memetik kemenangan telak. Bahkan pada 1967, dalam serangan kilat selama enam hari, Israel berhasil menambah luas wilayahnya, melampaui batas-batas seperti ditetapkan Resolus! i Pemisahan 1947 (dengan mencaplok Jalur Gaza dan Jerusalem yang mustinya milik negara Palestina), serta menduduki sebagian wilayah Siria, Yordania dan Lebanon. Tinggallah warga Palestina yang merana diusir, dibantai dan segala macam. Hingga hari ini. Inilah drama yang bagian akhirnya menyayat hati.(ha/dari buku The Passionate Attachment oleh George W. Ball dan Douglas B. Ball)
