** Milis Nasional Indonesia ppi-india **
PEMERINTAH NEGARA ACHEH
ACHEH-SUMATRA NATIONAL LIBERATION FRONT
(ASNLF)
KOMANDO OPERASI MILITER ASNLF
[www.asnlf.net]
Press Release, 19/03/04
Pengamat Asing Hendaknya Pantau Pelanggaran HAM di Acheh
* Bukan Untuk Jadi 'Penonton Pemilu *
Kami sangat menyesalkan pernyataan PDMD Aceh, Endang Suwarya, dan pejabat tinggi
pemerintah RI baru-baru ini yang melarang pemantau pemilu asing untuk memasuki
sejumlah kawasan di Acheh yang selama ini dikenal banyak terjadi pelanggaran HAM
berat. Kawasan ini, menurut istilah PDMD, dikatagorikan sebagai "daerah hitam".
Para pemantau asing itu hanya diizinkan memasuki ataupun memantau di sejumlah
kecamatan yang telah ditentukan PDMD. Bahkan, menurut PDMD, dalam menjalankan tugas
mereka, para pemantau asing tersebut akan diawasi agar tidak melakukan "hal-hal di
luar wewenang mereka" sebagai pemantau pemilu. Mereka akan dikawal aparat kepolisian
saat memantau.
Menyangkut pernyataan tersebut, kami perlu menyampaikan beberapa hal sebagai tanggapan
sekaligus imbauan:
1. Para pengamat asing itu dipastikan sangat tidak leluasa menjalankan tugasnya di
Acheh. Mereka hanya akan menjadi "penonton pemilu", dan bukan pemantau kondisi yang
sebenarnya terjadi di Acheh. Jika demikian, maka kehadiran mereka menjadi sia-sia
belaka.
2. Jelas sekali pemerintah Indonesia sangat takut terbongkarnya kebobrokan DM,
terutama kasus-kasus pelanggaran HAM berat yang dilakukan aparat TNI/Polri selama DM.
Pernyataan yang melarang pemantau asing melakukan "hal-hal di luar wewenang mereka"
tersebut, juga menyiratkan kekhawatiran pemerintah Indonesia akan terpantaunya
kasus-kasus pelanggaran HAM itu oleh pihak asing.
3. Jika hanya dijadikan "penonton pemilu" dan kunjungan mereka dibatasi serta diawasi,
kami yakin para pengamat asing itu uga tidak dapat melihat dan mendapatkan fakta
bagaimana tindakan aparat TNI/Polri yang akan memobilisasi masyarakat Acheh di
desa-desa untuk ikut Pemilu Indonesia. Bermacam bentuk pelanggaran HAM terus terjadi
sampai saat ini, juga dalam rangka mensukseskan pemilu. Terutama berbagai aksi brutal
yang digencarkan pasukan Raider akhir-akhir ini yang mengakibatkan ribuan warga sipil
di desa-desa menjadi korban pembunuhan dan penganiayaan dalam operasi mereka "mencari
GAM". Tanpa ada pihak independen yang memantau tindakan semena-mena para serdadu
Indonesia itu.
4. Pernyataan PDMD di atas juga menyiratkan bahwa bagi pemerintah Indonesia, pemilu
jauh lebih penting dibandingkan penegakan demokrasi, nilai-nilai kemanusiaan dan
keadilan bagi rakyat Acheh. Demi mensukseskan pemilu-nya itu pula, pemerintah
Indonesia telah rela menginjak-injak hak-hak asasi rakyat Acheh!
Kami berulang kali mengingatkan, Pemilu maupun penerapan DM tidak akan mampu
menyelesaikan masalah Acheh. Persoalan Aceh semestinya diserahkan kepada rakyat Acheh
sendiri.
Kami mengimbau sekaligus mengharapkan pihak internasional lebih tegas dan berani dalam
menyikapi pelanggaran HAM berat yang terjadi di Acheh. Apalagi Komnas HAM RI sendiri
sudah turun ke lapangan, mengambil kesimpulan terjadinya pelanggaran HAM berat, namun
tetap tidak berani bertindak apa-apa. Cukup sudah ribuan kasus pelanggaran HAM
terjadi, dan belasan ribu rakyat Acheh telah menjadi korban.
Seyogianya PBB dan pihak internasional serta negara-negara yang menjunjung tinggi
nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, dan demokrasi, terus berupaya menekan Indonesia
agar menghentikan penjajahannya di bumi Acheh!
Sekian
Tgk Ishak Daud
Komando Operasi Militer ASNLF
--------------------------------------------------------------------------------------------------------
GAM Tuduh Polisi Siksa Tahanan Aceh
Deutsche Welle, 19 Maret 2004
JAKARTA: Jurubicara GAM menyatakan kepada kantor berita AP, polisi Indonesia menyiksa
para tahanan Aceh. Dalam sebuah wawacara telpon, jurubicara GAM Sofyan Dawood
menyatakan, para tahanan disiksa dan dipaksa mengakui apa yang diinginkan
interogatornya. Kepolisian Indonesia membantah tuduhan GAM. Saat ini 6 anggota
Kejaksaan Swedia berada di Aceh untuk menyelidiki keterkaitan tokoh-tokoh GAM yang
berada di Swedia dengan konflik di Aceh. Indonesia menuntut Swedia agar mengadili
pimpinan GAM, Hasan Tiro, yang mendapat hak suaka dan kewarganegaraan Swedia.
--------------------------------------------------------------------------------------------------
Aceh Separatists: Prisoners Tortured Before Meeting Swedes
JAKARTA, Indonesia (AP) - Indonesian police tortured imprisoned rebels from Aceh
province to warn them that they must confess to terrorist attacks when they are
interviewed by visiting Swedish investigators, a spokesman for the guerrillas said
Friday.
The Swedes were in Aceh for two days this week to look into the Indonesian
government's position that the Free Aceh Movement is a terrorist organization and that
Stockholm should take legal action against the movement's exiled leadership in Sweden.
"The prisoners were tortured to admit to whatever the interrogators charged them
with,'' rebel spokesman Sofyan Dawood said in a telephone interview from an
undisclosed location.
"They said it was horrifying.''
Indonesian police immediately denied the accusations. Swedish diplomats in Jakarta
were not available for comment.
The Swedish delegation, headed by prosecutor Tomas Lindstrand, left Aceh Thursday
after a two-day visit to the region, where separatists have been fighting for
independence for almost three decades.
Indonesia repeatedly has urged Sweden to take legal action against the movement's
chief, Hasan di Tiro, and other rebel leaders. Sweden granted them asylum and
citizenship in the 1980s.
The Indonesian government claims that the insurgents were responsible for a September
2000 blast at the Jakarta Stock Exchange that killed 15 people, several other
bombings, two assassinations, six arson attacks at schools, and 243 cases of
kidnapping.
The Free Aceh Movement strongly disputes the accusations, saying its actions are
confined to the province of 4.1 million people on the northern tip of Sumatra island.
Dawood said prisoners were tortured before they were interviewed by the Swedes to
force them to back the government's terrorism charges.
A prisoner identified only as Dhani was beaten after the interview on Thursday because
his testimony was different than what was agreed upon beforehand with Indonesian
police, Dawood said.
May. Gen. Bachrumsyah Kasman said police did "not intimidate prisoners'' ahead of the
interviews with the Swedish team.
It was impossible to independently verify the rebels' claim, because Indonesia's
military has restricted media access to the region.
During their two-day visit to Aceh, the Swedish delegation toured several prisons and
inspected a school allegedly destroyed by the rebels.
In May, the government in Jakarta pulled out of internationally sponsored peace talks,
ended a six-month cease-fire, and arrested a group of rebel negotiators after
reprimanding them for refusing to accept an autonomy deal.
The government proclaimed martial law in Aceh in May, and launched a military
offensive against rebel strongholds.
The operation is ongoing.
The military claims to have killed 1,500 rebels and captured 2,000 more during the
past year. But, human rights groups say most of the casualties have been unarmed
villagers killed in army sweeps. - AP
---------------------------------
Yahoo! Messenger - Communicate instantly..."Ping" your friends today! Download
Messenger Now
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/