Litani Doa Tagore

Oleh: Alex R
Riau Pos, Pekanbaru, Minggu, 02 Mei 2004
RABINDRANATH Tagore, sastrawan India, yang menerima Nobel Sastra tahun 1913, 
barangkali merupakan sosok yang sederhana. Siklus hidupnya terkesan begitu tegar. 
Dalam beberapa karyanya semacam Gitanjali, The Hearth of God dan The Religion of Man 
terbersit jika pemandangan pikirannya mencakup seluruh ruang. Kelindan yang membuka 
semesta dunia, di mana kesungguhannya terhadap pendidikan, kesepian, kondisi 
masyarakatnya, seluruh eleginya bersatu-padu.Sebagai penyair, syair-syairnya kerap 
bercakap doa, yang penuh dengan nuansa religius. Tagore, sebagaimana yang pernah 
ditulis Goenawan Mohammad, dalam esai pendeknya, merupakan manusia yang tetap bertahan 
di tengah kehidupan yang ternyata dilihatnya semakin poranda ini. 
Memang doa-doa salam syairnya terkesan bernada getir, yang justru memojokkan dirinya 
tidak lebih sebagai hamba. Namun itulah yang terbaca, bahwa, ternyata berdoa merupakan 
sebuah cara manusia, katakanlah untuk menemui kembali jiwanya. Dengan berdoa, mungkin 
persoalan tak pernah selesai, dengan berdoa, tidak pula serta-merta dating keajaiban. 
Tentunya, metafora doa Tagore, juga bukan merupakan formula yang ajaib, terutama 
mengingat doa tersebut juga lahir yang kemudian menjelma jadi sebujah syair, tak lepas 
dari tragedi-tragedi dalam hidupnya. 
Membaca beberapa terjemahan Tagore, membuat saya nelangsa bersiap akan kenyataan pahit 
di depan. Tagore memang tak merumuskan, bahwa ketika berdoa, orang akan sembuh dari 
permasalahan yang dihadapi. Namun semacam ada selusup �pengharapan� yang hadir, 
memberat, dan memasuki ruang keterjagaan yang baru. 
Kebanyakan memang kesakitan masa lalu seseorang meninggalkan kerak tanda. Pun pada 
Tagore, doa-doa yang menjelma dalam syairnya, barangkali buah dari kegetiran hidup 
yang dilewatinya. Ia mesti rela kehilangan seorang ibu, di saat masih berusia 13 
tahun. Kemudian ditinggalkan istrinya ketika memasuki tahap mapan 30 tahun. Di saat 
itu pula, ia menyaksikan kematian ayah, anak perempuan, dan anak laki-laki bungsunya. 
Tak heran pula, renungan-renungannya menyisakan sebuah batas keterjagaan baru. 
Pergelutannya, tidak hanya sebatas karya syair saja, namun juga melingkup pada prosa, 
esai, naskah drama �sekaligus tokoh pendidikan. Meskipun pada mulanya, ia membenci 
nikmatnya duduk di bangku sekolahan di masa kecil, yang dianggapnya sebagai tempat 
yang mengasingkan diri seseorang dari kenyataan sekitarnya. 
Begitu banyak peninggalan yang dihasilkannya. Apakah publik sastra kehilangan dirinya? 
Ketika di Calkuta ia meninggal pada 1941, di usianya yang ke-80? Saya tidak dapat 
menjelaskan. Juga saya tak mampu mengira, apakah India larut dalam kesedihan yang 
dalam ketika dirinya meninggal? Tentu, bukan hanya India saja yang kehilangan pemikir 
kebudayaan mereka, publik dunia mengakuinya. 
Sehingga, sebagaimana yang diisyaratkan pula oleh Pablo Neruda, �Sebagai hak waris, 
karya sastra merupakan wujud masa depan. Yang ternyata tak diakui di zamannya.� Litani 
doa yang ditulis Tagore, menjadi rambu-rambu penuntun, untuk memasuki ruang kehidupan 
yang lebih luas. Dalam isyarat dirinya yang miskin, Tagore menulis: �Kebanggaan tak 
pernah mampu merengkuh-Mu ketika Engkau berjalan dalam jubah-jubah sahaja di antara 
hamba yang termiskin.� Beberapa syair yang ditulis Tagore kerapkali hadir dan mengalir 
sebagai wujud pemasrahan diri. Toh, manusia hanya setitik debu di dunia ini, bagi 
Tagore, segalanya tak bermula, ataupun bermuara. 
Prinsip dalam dirinya, yang pasrah itu, mengingatkan saya pada lontaran kalimat dari 
HB Jassin, jika semestinya sastrawan itu memegang teguh prinsip humanisme universal 
�dalam karyanya. Sehingga segala unsur penciptaan dapat masuk, katakanlah sebagai 
cermin masyarakatnya. Karya sastra harus bersiap untuk memeluk seluruh ruang 
penciptaan, sehingga tidak terdapat pusat dalam karya. Sebagai makhluk tanpa 
identitas, tulis Goenawan, sastrawan harus mengimbangi karyanya, dengan memberikan 
sikap terhadap kehidupan yang dijalani. Itu pula yang mungkin dilakukan Tagore, ia 
tidak menuliskan biografi dirinya sendiri, ia memikirkan kehidupan, semesta, 
sifat-sifat manusia. Toh, ujungnya cuma satu: tak ada yang abadi. 
Dan doa-doa itu bagaikan sebuah prosa liris, yang seperti terus berkelanjutan. Semacam 
perpaduan antara kidung dan senandung. Beberapa kata mengisyaratkan buah keheningan 
yang dalam. Beberapa doa semacam diktat dari Tagore, di mana ia juga berusaha 
membangun sekolah yang luas di India, dengan sepenuh tenaga menghidupi napas bagi 
pendidikan di negerinya. Sebagai pendidikan, yang kelak lewat karyanya justru memilih 
untuk meniadakan batasan-batasan, semacam Timur dan Barat. Baginya, dunia ini satu, 
dan kita merupakan umat di dalamnya. Sama-sama bernapas udara yang sama, makan dan 
minum dari tanah yang sama. 
Barangkali pula, doa merupakan sikap seseorang. Dengan berdoa seseorang berusaha untuk 
mencampur-adukkan kepasrahan dan semangatnya dalam menjalani kehidupan. Semacam 
interlude, yang menyegarkan kepala untuk menyibak kehidupan yang dijalani. Ketika 
menghadapi rutinitas yang membeku, dan harus diterima sebagai sebuah kewajaran. Doa 
merupakan percikan, di mana seluruh pengaduan, kekerdilan diri, dan kepasrahan 
berpadu. Tentunya, setelah itu akan terkuak sebuah nuansa semangat untuk menjalani 
kehidupan. Dengan berdoa, tulis Saferis, seseorang menyikapi hidupnya yang �lain�. 
Semacam makanan rohani bagi jiwa, supaya batin tak lagi gersang. 
Meskipun di beberapa sajak, penyair merasa harus memerdekakan teksnya, dengan menyebut 
bahwa syair-syairnya merupakan �agama� baru. Di mana dalam biografi Nietzche, 
menyebutkan barisan pamflet �Tuhan telah mati�. Tetapi apakah ada hal-hal lain dalam 
syair, yang mengajak kita untuk sekadar mengarifi, merefleksikan ulang sikap diri, 
sehingga ketika berdoa terdapat sekelumit tawaran, bahwa sebenarnya manusia merupakan 
makhluk yang lemah. Makhluk yang senantiasa membutuhkan suatu keajaiban, bagi dirinya 
untuk menapaki jalan hidupnya masing-masing. 
Maka doa-doa yang terjulur itu, yang ditulis Tagore, seperti ingin membukakan semesta 
baru. Betapa kerdilnya kita di hadapan pencipta. Betapa tak berdayanya kita, ketika 
mengetahui, bahwa memang kita tak perlu lagi pantas menyombongkan diri. Ternyata kita 
tak berarti apa-apa, setitikpun. Memang membaca beberapa terjemahan buku Tagore yang 
terbit di tanah air, kita dihadapi beberapa kalimat-kalimat verbal, yang justru 
membuat kita malas. Ada semacam beban hendak membuat khotbah, meskipun sesekali hadir 
secara tersamar, dan tidak kentara.*** 

Penyair, tinggal di Bandarlampung. 


Sumber link: http://www.riauposonline.com/site/content/view/1313/

 

Yahoo! India Matrimony: Find your partner online.

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
---------------------------------------------------------------------~->

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke