http://www.sinarharapan.co.id/berita/0410/21/opi01.html

Dikotomi Sipil-Militer, Perlukah Ada?
Oleh ISLAM SALIM

Dalam salah satu perjalanan untuk kontrol kesehatan ke RSJ Harapan Kita 
terbaca aneka graffiti di tepi jalan, antara lain berbunyi: "Tolak CaPres 
Militer!!". seakan rakyat sipil dan rakyat militer merupakan elemen bangsa 
yang berlainan. Termenung saya dibuatnya..
Menghadapi tugas berat yang ditakdirkan bagi Saudara Susilo Bambang 
Yudhoyono (SBY, seorang mantan militer), terkenang saya akan sahabat 
perjuangan saya almarhum Soebianto, putera Bapak Margono, adik DR. Soemitro 
Djojohadikoesoemo, yang semasa perjuangan 1945 dahulu gemar meresitasi sajak 
karya Rabindranath Tagore:

Where the mind is without fear and the head is held high;
Where knowledge is free;
Where the world has not been broken up into
fragments by narrow domestic walls;
Where words come from the depth of truth;
Where tireless striving stretches its arms towards perfection;
Where the clear stream of reason has not lost its way into the dreary sand 
of dead habit;
Where the mind is led forward by Thee into ever-widening thought and action
Into that heaven of freedom, my Father, let my country awake!
(Rabindranath Tagore)

Sajak yang relevan bagi waktu perjuangan itu, tepat pula bagi keadaan dewasa 
ini.
Sesuai dengan Pasal 30 UUD 1945 di mana ditetapkan bahwa setiap warga 
negara, dalam hal ini setiap putera bangsa, baik militer maupun sipil, 
berhak dan berkewajiban membela negara; maka ingin saya mengingatkan 
bagaimana semasa Perang Kemerdekaan, di mana dibutuhkan: para Lurah, Camat, 
Wedana, Bupati dan Gubernur warga sipil, mendapatkan kedudukan militer, jauh 
sebelum era Orde Baru di mana Dual Function antara lain di dalam 
melaksanakan AMD (ABRI masuk Desa), si militer mendapat tugas sipil, tanpa 
timbulnya perasaan dikotomi antara sipil dan militer.
Menurut hemat saya pelaksanaan Pasal 30 UUD 1945 merupakan satu hal yang 
urgent, karena hanya dengan demikian dapat diperoleh peningkatan ketahanan 
nasional untuk bangsa kita yang merupakan syarat mutlak untuk dapat 
menyelesaikan krisis multidimensional yang sedang kita hadapi saat ini.
Agaknya masyarakat tidak menyadari, atau tidak mempersoalkan kenyataan 
bahwa "militer" pada mulanya adalah hasil jerih payah perjuangan kemerdekaan 
pihak 'sipil'. Dimulai pada permulaan abad ke-20, dengan didirikannya 
surogat (semacam pengganti) militer dalam bentuk Kepanduan oleh 
organisasi-organisasi pergerakan kemerdekaan sejak tahun 1912 (KBI, SIAP, 
dan lain-lain).
Kemudian di pertengahan Perang Dunia I, yaitu pada 1916, Mr. Abdul Moeis 
('Mr' adalah gelar SH pada masa itu) berusaha membujuk Belanda untuk 
membangun Indi� Weerbaar (Hindia berdaya tahan) dengan menerapkan milisi 
bagi kaum pribumi, usul yang tidak dihiraukan Belanda. Kembali pada tahun 
1940, permulaan masuknya Perang Dunia II ke Asia, Mr. Wiwoho mengusahakan 
milisi bagi kaum pribumi, yang kembali tidak dihiraukan pihak Belanda, 
sementara mereka sendiri tidak meningkatkan daya tahan pertahanan Hindia 
Belanda secara berarti dengan akibat bangsa Indonesia mentah-mentah 
diserahkan pada kekejaman perang melawan Jepang.

Pembela Tanah Air
Baru setelah pihak Jepang kekurangan tenaga untuk mengamankan wilayah yang 
telah direbutnya, atas prakarsa Mr. Gatot Mangkupradja pada 1942-1943, 
menerima permintaan pihak Indonesia dengan mendirikan B�ei Giy�gun 
Kyoikutai, semacam pendidikan bagi perwira-perwira militer Pembela Tanah Air 
(PETA). Antara Desember 1943 dan 1945 sempat diwisuda empat angkatan dengan 
sekitar 2.500 perwira, yang mendirikan sekitar 70 batalion yang selanjutnya 
mengadakan latihan paramiliter bagi beberapa ratus ribu pemuda Indonesia 
yang memungkinkan pergerakan nasional mengembangkan sekitar 80 batalion 
militer menunjang proklamasi kemerdekaan kita pada 17 Agustus 1945.
Menyambut dikukuhkannya UUD 1945 oleh KNPI, para pemuda mengutus perwira 
PETA Syodancho Daan Jahja dan Mahasiswa Soebianto, untuk membujuk Wakil 
Presiden Drs. Moh. Hatta untuk memberi status Angkatan Perang RI kepada 
seluruh PETA sesuai dengan ketentuan UUD kita. Namun Dwitunggal di kala itu 
menganggap kebijaksanaan demikian belum saatnya dan akan menimbulkan 
tantangan kepada pihak Sekutu yang belum memahami kedudukan RI.
Demikianlah akhirnya ditetapkan suatu pertemuan tiga pihak yaitu Dwitunggal 
bersama Ki Hadjar Dewantoro pada satu pihak, Daidancho (Komandan Batalion) 
PETA I Jakarta, Mr. Kasman Singodimedjo, beberapa Syodancho yaitu Daan 
Jahja, Oetarjo dan Islam Salim dari Kantor Pusat Pimpinan PETA (Giy�gun 
Shidobu), serta sejumlah Mahasiswa Fakultas Kedokteran dengan antara lain 
Eri Soedewo, Soeroto Koento, Soebianto Djojohadikusumo, Engelen, dan 
lain-lain.
Pertemuan yang bersepakat untuk sementara membatasi diri dengan sekadar 
suatu Badan Keamanan Rakyat (BKR), yang sesuai dengan perkembangan 
perjuangan ber-turut-turut berkembang sebagai Tentara Keamanan Rakyat (TKR), 
Tentara Keselamatan Rakyat (TKR), Tentara Republik Indonesia (TRI) yang 
akhirnya berkembang sebagai Tentara Nasional Indonesia (TNI) hingga kini.
Menyesuaikan perjuangan bangsa Indonesia yang telah "resmi" memiliki tentara 
sehingga tidak lagi terserah pada pihak Jepang semata-mata, dan menyadari 
bahwa Tentara Sekutu pada hakikatnya telah jemu atau lelah berperang, RI 
menawarkan jasa- jasa baiknya untuk melucuti tentara Jepang serta 
mengevakuasinya, dan membebaskan tawanan Jepang (APWI) yang pada umumnya 
terdiri dari sejumlah besar wanita dan anak-anak Belanda dengan sejumlah 
mantan KNIL. Persetujuan mana tak luput mengakibatkan Belanda merasa 
dikhianati sekutunya, karena mengakui dan menerima tawaran RI dengan cikal 
bakal TNI-nya.
Menghadapi ini, pihak Belanda dua kali melancarkan serangan besar-besaran 
terhadap RI, pada tahun-tahun 1947 dan 1948-1949 yang diakhiri dengan 
pengakuan Belanda atas kedaulatan RI dan diterimanya RI sepenuhnya sebagai 
anggota resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa masyarakat pasca-Perang Dunia II 
pada September 1950.
Demikianlah, dengan strategi ulung dan kerja sama erat seluruh bangsa, 
bangsa Indonesia berhasil merebut kedaulatannya, sekalipun - mulanya 
diserahkan mentah-mentah kepada Jepang tanpa persiapan apa pun di bidang 
pertahanan oleh pihak Belanda, - serta menempatkan diri sebagai bangsa 
merdeka dalam lingkungan masyarakat dunia.

Penulis adalah eksponen Angkatan 1945

 



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke