Penghapusan Subsidi BBM Tidak Perlu! 

Kwik Kian Gie 
(Kompas, 21 Oktober 2004)

KITA membaca dan mendengar bahwa semakin tinggi harga
minyak di pasar internasional, semakin besar subsidi
yang harus dikeluarkan pemerintah.

Kita juga membaca bahwa karena harga minyak di pasar
internasional meningkat terus secara tajam, asumsinya
dalam APBN harus disesuaikan, yaitu dari 22 dollar AS
per barrel menjadi 36 dollar AS per barrel.
Selanjutnya dikatakan bahwa karena itu, jumlah subsidi
membengkak dari Rp 14,5 triliun menjadi Rp 63 triliun,
atau membengkak dengan jumlah Rp 48,5 triliun.
Yang membuat kening mengerut adalah lanjutan dari
uraiannya yang mengatakan bahwa karena membengkaknya
subsidi dengan angka yang demikian dahsyatnya itu,
defisit APBN yang tadinya Rp 24,4 triliun meningkat
menjadi Rp 26,3 triliun. Defisit meningkat dengan Rp
1,9 triliun (26,3-24,4).

Jadi, subsidi membengkak dengan angka Rp 48,5 triliun
(63-14,5), tetapi defisitnya meningkat dengan Rp 1,9
triliun saja (26,3-24,4). Bagaimana mungkin? Ini hanya
mungkin kalau subsidi tidak sama dengan pengeluaran
uang. Kalau subsidi BBM yang meningkat dengan Rp 48,5
triliun mengakibatkan peningkatan defisit APBN yang
hanya Rp 1,9 triliun, mengapa dikatakan bahwa APBN
akan jebol sehingga pemerintahan Susilo Bambang
Yudhoyono (SBY) terpaksa harus menaikkan harga BBM?
Mari kita telaah masalahnya melalui tabel terlampir
yang sangat disederhanakan. Gambaran yang akurat dan
lengkap sangat rumit. Maksud tulisan ini hanyalah
mendiskusikan apa yang dimaksud dengan kata subsidi
dalam hal penyediaan BBM oleh Pertamina yang ditugasi
oleh pemerintah.

Kita mengambil analogi dari istilah subsidi yang
dipakai dalam konteks pemerintah memberikan subsidi
kepada sekolah dan rumah sakit swasta. Di banyak
negara pemberian subsidi oleh pemerintah kepada
sekolah atau rumah sakit swasta yang bersifat
nirlaba/nonprofit cukup lazim. Subsidi berarti
sumbangan dalam bentuk uang tunai agar sekolah atau
rumah sakit yang bersangkutan dapat menutup semua
pengeluarannya yang lebih besar dari penerimaan.
Dalam hal BBM, lihat Tabel, subsidi tidak berarti uang
keluar. Karena itu, istilah subsidi seharusnya diganti
dengan istilah selisih antara harga internasional
dengan harga yang ditetapkan/dipaksakan oleh
pemerintah untuk diberlakukan kepada bangsanya
sendiri.
Pemerintah Indonesia memberi penugasan kepada
Pertamina untuk mengadakan/menyediakan BBM dengan
harga konsumen yang ditentukan oleh pemerintah pula.
Mengapa demikian? Karena Pertamina diberi hak monopoli
oleh pemerintah untuk mengadakan BBM. Maka pasarnya
berbentuk monopoli. Dalam pasar yang berbentuk
monopoli, harga tidak ditentukan oleh mekanisme pasar
pada titik perpaduan antara kurva permintaan dan kurva
penawaran.

Berapa harga internasional untuk BBM? Kalau kita ambil
harga 50 dollar AS per barrel dengan kurs 1 dollar AS
sama dengan Rp 9.000, dan (seperti kita ketahui) maka
harga 1 barrel minyak-atau setara dengan 180
liter-jatuhnya sebesar Rp 2.500 per liter.

Biaya pemrosesan ditambah dengan biaya transportasi
kita ambil Rp 500 per liter. Harga BBM internasional
menjadi Rp 3.000 per liter. Ini adalah perkiraan yang
sangat kasar supaya kita mengetahui hal yang paling
esensial dan masalah yang paling inti bisa terlihat.
Jadi, harga internasional untuk minyak mentah yang Rp
3.000 per liter dalam tabel adalah harga yang dibentuk
oleh mekanisme pasar, yang merupakan perpaduan antara
kurva permintaan dan kurva penawaran dari seluruh
dunia, sepanjang minyak mentah itu diperdagangkan.
Volume yang diperdagangkan di pasar dunia hanya
sekitar 30 persen dari volume minyak mentah yang
diproduksi di seluruh dunia. Sisanya dari hulu sampai
hilir dimonopoli oleh perusahaan-perusahaan minyak,
termasuk Pertamina dalam hal minyak Indonesia.

Kita bertanya apa relevansinya menyebut-nyebut harga
internasional yang ditentukan oleh mekanisme pasar
yang dianggap harga yang "sebenarnya". Ini bukan harga
yang sebenarnya menurut teori pasar karena dua alasan.
Pertama, karena bentuk pasarnya di Indonesia monopoli
yang dikuasai oleh pemerintah sebagai pelaksana dari
pemilik monopolinya, yaitu rakyat yang memiliki bumi,
air, dan segala kekayaan alam yang terkandung di
dalamnya. Kedua, "harga yang sebenarnya" menurut
mekanisme pasar terbentuk dalam pasar yang bentuknya
perfect competition (persaingan sempurna).

Di Indonesia tidak ada kompetisi dalam hal penyediaan
minyak, apalagi perfect competition. Maka, harga yang
terbentuk dalam pasar yang bentuknya perfect
competition di New York dengan volume perdagangan yang
hanya 30 persen dari produksi minyak seluruhnya tidak
relevan sama sekali buat rakyat Indonesia.

Yang lebih konyol lagi kalau dikatakan bahwa APBN
jebol kalau harga BBM tidak dinaikkan, karena
pemerintah tidak tahan menanggung subsidi yang
demikian besarnya, yang disebabkan oleh membengkaknya
harga minyak mentah internasional. (tabel)
Berapa pun harga internasional akan meningkat,
pemerintah sebagai administrator rakyat tetap saja
memperoleh surplus dari BBM. Jadi, walaupun BBM dijual
dengan harga yang jauh lebih rendah dari harga minyak
internasional, selama masih di atas Rp 500 per liter,
kelebihannya ini (dalam Tabel sebesar Rp 1.500 per
liter) merupakan sumbangan dari BBM untuk dipakai
membiayai pelayanan-pelayanan lain dari pemerintah
kepada rakyatnya. Mengapa disebut APBN jebol karena
harus memberi subsidi kepada pemakai BBM?

Kalau mau mempermasalahkan apakah harga jual bensin
yang rata-rata (antara premium dan premix) Rp 2.000
per liter itu adil atau tidak, itu adalah urusan
falsafah, urusan beleid, atau kebijakan. Bukan urusan
merugi karena harus memberikan subsidi. Tidak ada
subsidi. Sebaliknya, yang ada adalah surplus!

Pikiran kita dikacaukan oleh aliran pikiran
fundamentalisme pasar. Kita berteriak-teriak APBN akan
jebol karena mengira bahwa yang dinamakan subsidi BBM
itu adalah real out of pocket money loss, padahal yang
diartikan dengan subsidi adalah opportunity loss.
Lihat Tabel. Kalau harga internasional melonjak sampai
100 dollar AS per barrel, kita tetap saja masih
memperoleh surplus sebesar Rp 1.500 per liter.

Bagaimana dengan kondisi kita yang sudah menjadi
importir neto minyak? Memang, tetapi volumenya tidak
banyak. Untuk volume yang harus kita impor untuk
menutup tekornya karena kebutuhan bangsa kita lebih
besar sedikit dari total minyak produksi sendiri, kita
memang harus membayar harga internasional sepenuhnya
yang 50 dollar AS per barrel itu tadi. Akan tetapi,
volumenya sangat sedikit.

Posisi kita sebagai importir neto juga tidak permanen,
kadang-kadang masih sebagai eksportir neto juga.
Lantas yang dibutuhkan untuk membayar volume impor
neto itu dapat ditutup dengan mudah dari surplus yang
Rp 1.500 per liter itu tadi. Apalagi kalau eksploitasi
gas kita kebut, maka dengan hasil perolehan migas,
lebih mudah lagi kita menutup bahan bakar minyak dan
gas bumi yang kita butuhkan.

Jadi, adalah bohong sama sekali atau sangat tidak
masuk akal bahwa kenaikan harga minyak di pasar
internasional membuat keuangan Pemerintah RI jebol
sehingga subsidi BBM harus dicabut. *

Kwik Kian Gie Menteri Perencana Pembangunan/Kepala
Bappenas 

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0410/19/sorotan/1330368.htm



                
__________________________________
Do you Yahoo!?
Yahoo! Mail Address AutoComplete - You start. We finish.
http://promotions.yahoo.com/new_mail 


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke