Kalau sudah sering muncul, lalu so what? 

tak berlaku lagi kebenarannya? 

kita sudah lakukan perbaikannya? 

Kita diamkan? 

lalu, yang gak meng-ada2 itu apa? ngomongin ayat2?

Ada punya konsep yang lebih baik dari apa yang diulas mas 
Nizami....come on!

Bye bye



--- In [EMAIL PROTECTED], RG Nur Rahmat <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
> Artikel seperti ini sih sudah sering muncul, anda tidak usah 
mengada-ada.
> 
> rm_danardono <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> Ulasan yang sangat berbobot, dan merupakan thema pokok juga di 
> Europa, yang mulai terguncang menghadapi globalisasi. Opel terancam 
> tertutup. Porche dan VW mau pecat buruh2. Mercedes mau turunkaj 
gaji 
> pegawai dan buruh....
> 
> penutupan pabrik2 merupakan dampah ulah para spekulan secara tak 
> langsung melalui pasar.
> 
> Tapi, by the way, hati2 lho mas, nanti mas Dicky Riadi, sobat kita 
di 
> milis teriak2 lagi, dan katakan: "Lha kok lebih pinter dari SBY, 
> mestinya dipilih jadi presiden...ato pak SBY lupa masukan anda ke 
> team kabinet" ha ha ha
> 
> Salam
> 
> RM D Hadinoto
> 
> 
> 
> --- In [EMAIL PROTECTED], A Nizami wrote:
> > Seharusnya dibedakan antara "Pelaku Pasar" yang hanya
> > spekulan/makelar saham/valas (valuta asing) dengan
> > pengusaha real baik dari level besar, menengah, hingga
> > kecil.
> > 
> > Pelaku pasar tidak menghasilkan produk atau jasa yang
> > berarti. Mereka hidup dari gain jual-beli saham/valas
> > (sering juga rugi) dan komisi sebagai makelar
> > jual-beli saham/valas.
> > 
> > Ada juga yang hidup dari bunga obligasi/SBI yang
> > dikeluarkan pemerintah Indonesia.
> > 
> > Perkembangan "Pelaku Pasar" ini, tidak akan membuat
> > rakyat Indonesia sejahtera. Meski IHSG sampai 3000
> > (sekarang 700-an), Rakyat Indonesia belum tentu
> > sejahtera. 
> > 
> > Perusahaan2 yang Go Public, sebagian besar sudah
> > berdiri dan berkembang sebelum masuk bursa Saham.
> > Contohnya BNI, Bank Mandiri, Indosat, Telkom, semua
> > sudah berkembang sebelum IPO. Tanpa Bursa Saham pun,
> > perusahaan tsb tetap akan bisa berkembang.
> > 
> > Seharusnya pemerintah lebih memperhatikan pengembangan
> > usaha yang real yang memproduksi barang dan jasa.
> > Pemerintah harus mengembangkan pertanian, perkebunan,
> > peternakan, sehingga Indonesia tidak perlu impor
> > beras, gula, daging, kedelai (Indonesia impor kedelai
> > Rp 3 trilyun lebih pertahun dari AS), dll, sampai
> > ratusan trilyun per tahunnya.
> > 
> > Pemerintah harus mengembangkan sehingga Indonesia
> > mampu memproduksi sendiri pakaian, sepatu, serta alat
> > kebutuhan rumah tangga untuk rakyatnya.
> > 
> > Zaman Soekarno dulu, mertua saya bercerita bahwa dia
> > adalah pengusaha sepatu dengan pekerja sampai 60
> > orang. Di sepanjang kali Ciliwung, banyak pengusaha
> > sepatu seperti dia. Ini karena pemerintah Soekarno
> > memberikan order untuk pembuatan sepatu tentara dan
> > polisi kepada mereka.
> > 
> > Nah, itulah salah satu tindakan ekonomi untuk
> > mengembangkan pengusaha "beneran". Bukan
> > spekulan/makelar saham/valas. Pemerintah harus
> > meninggalkan ekonom neoliberal atau Pro IMF yang terus
> > membuat Indonesia jadi negara konsumen/spekulan.
> > 
> > --- wkasman1 wrote:
> > 
> > > ----- Original Message -----
> > > >From: Revrisond Baswir
> > > >To: wkasman1
> > > >Sent: Thursday, October 21, 2004 10:57 PM
> > > >Subject: Re: Rekonsiliasi sama musuhnya Bung Soni
> > > yuuuuuk !!!!
> > > >
> > > >Bung WK,
> > > >
> > > >Pertama, soal ekonomi rakyat, secara gampang adalah
> > > ekonomi 60% rakyat
> > > >Indonesia yang hidup kurang dari 2 dollar AS per
> > > orang per hari.
> > > >Pemberdayaan ekonomi rakyat ini tdk dpt hanya
> > > dijadikan sebagai derivasi
> > > >dari pertumbuhan ekonomi dan investasi. Sesuai
> > > amanat konstitusi, Pasal 34,
> > > >fakir miskin dan anak2 yg terlantar dipelihara oleh
> > > negara, dan Pasal 27
> > > >(2), setiap warga negara berhak mendapatkan
> > > pekerjaan dan penghidupan yang
> > > >layak sesuai dgn kemanusiaan. Jadi bebas dari
> > > kemiskinan dan pengangguran
> > > >adl hak konstitusi rakyat. Jadi pemerintah jangan
> > > berlagak nggak punya
> > > uang,
> > > >sementara Indonesia tercatat sebagai negara juara
> > > korupsi di dunia.
> > > -----cut--------
> > > >
> > > >Salam,
> > > >bung_soni
> > > >(tak ada "puncak" di langit)
> > > >
> > > Saya menerima balasan email dari Bung Revrison
> > > Baswir (Bung Soni).
> > > Benar-benar senang saya menerima email dari ekonom
> > > terkenal ini. Saya
> > > coba-coba peras ingatan saya, apa pernah kenal ya?
> > > Ooh tidak. Belum pernah
> > > ketemu.
> > > Tentang "ekonomi kerakyatan" yang dimaksud Bung Soni
> > > itu - saya sangat
> > > setuju. Tapi, rasanya saya ingin memberikan tambahan
> > > (dari ingatan dan
> > > kenangan waktu sekolah dulu plus pengalaman yang
> > > saya rasakan). Begini :
> > > 
> > > (1) Ada satu aliran pemikiran ekonomi yang juga
> > > sangat kuat pengaruhnya
> > > masih termasuk klasik), yang mampu membentuk cara
> > > berpikir tertentu yang
> > > membuat bias suatu kebijakan ekonomi. Alur pemikiran
> > > kebijakan di negeri
> > > kita, terpengaruh sangat kuat dengan gagasan
> > > Schumpeter yang memasukkan
> > > variabel INOVASI (plus ENTERPRENEURSHIP) dalam
> > > persamaan ekonominya.
> > > Kajian-kajian tentang invovasi (enterpreneurship)
> > > ini kemudian membanjir,
> > > dan berkembang upaya untuk mencari jalan bagaimana
> > > caranya mengembangkan
> > > enterpreneurship itu. Ekonom seperti HICKS dengan
> > > paradigma "deviant
> > > behavior", David McCleland dengan n-Ach, teori-teori
> > > tentang "pribadi
> > > unggul" adalah contoh-contoh upaya itu. Upaya ini
> > > agak kendor setelah
> > > ternyata Timur bisa maju tanpa harus memaksakan
> > > teori-teori itu (periode
> > > macan asia lalu).
> > > 
> > > (2) Paradigma enterpreneurship sangat membius setiap
> > > relung kebijakan
> > > ekonomi Indonesia dan ketemu dengan budaya "feodal"
> > > yang ada. Manusia
> > > ekonomi tidak dihargai sepatutnya, dan setiap
> > > kebijakan ekonomi lebih
> > > memberi prioritas pada manusia-manusia "yang
> > > dianggap unggul" yang akhirnya
> > > melahirkan perlakuan istimewa dan konglomerasi.
> > > Kebijakan ekonomi seolah
> > > lupa, bahwa inovasi atau enterpreneurship (betatapun
> > > penting), hanya
> > > didukung oleh aktor yang sangat sedikit. Sisanya,
> > > adalah aktor-aktor ekonomi
> > > yang cuma bisa meniru, menjiplak atau
> > > mengaplikasikan iptek. Sisa yang
> > > mayoritas ini tidak mendapat perhatian sama sekali.
> > > Miskinnya perhatian pada
> > > mayoritas ini akan sangat kentara kalau misalnya
> > > kita membandingkan antara
> > > bagaimana Indonesia membangun industrinya (dan
> > > pertaniannya) dengan negara
> > > lain seperti Taiwan, Korea (sesudah gegeran Chaebol)
> > > dan Cina sekarang.
> > > Mereka membimbing rakyatnya untuk meniru (membajak,
> > > me-reverse-engineering,
> > > meng-copy and develop), memberi modal di luar
> > > saluran perbankan,
> > > memperlakukan mayoritas pengusaha kecilnya sebagai
> > > modal pembangunan dan
> > > sebagainya.
> > > 
> > > (3) Tentang bagaimana kebijakan ekonomi yang tidak
> > > memihak rakyat, kita
> > > mungkin dapat meninjau lebih detil dengan melihat
> > > (a) bagaimana strategi
> > > Indonesia dalam merebut penguasaan teknologi (tidak
> > > sekedar menarik
> > > investasi asing), (b) bagaimana melakukan reformasi
> > > agraria untuk
> > > memungkinkan pengembangan pertanian, (c) bagaimana
> > > mendidik rakyatnya dengan
> > > life-skills, (d) bagaimana sistem pembiayaan
> > > membantu usaha kecil/baru dan
> > > sebagainya.
> > > 
> > > Semua tolok ukur itu rasanya akan membuktikan bahwa
> > > memang ekonomi Indonesia
> > > saat ini bukanlah ekonomi kerakyatan, dan dari
> > > Kabinet IBnya SBY juga tidak
> > > nampak warnanya. Melihat hal ini, tentu saya sangat
> > > simpati dengan Bung
> > > Revrison Baswir. Saya ingin menyumbang pikiran, tapi
> > > repotnya saya bukan
> > > ilmuwan (sekarang tukang listrik). Bravo Bung
> > > Revrison Baswir. Maju teruuuus
> > > !!!!!
> > > 
> > > Salam/WK
> > > 
> > > 
> > > 
> > 
> > 
> > =====
> > Bacalah artikel tentang Islam di:
> > http://www.geocities.com/nizaminz
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
**********************************************************************
*****
> Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju 
Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-
india.uni.cc
> 
**********************************************************************
*****
> 
______________________________________________________________________
____
> Mohon Perhatian:
> 
> 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg 
otokritik)
> 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
> 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
> 4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
> 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
> 
> Yahoo! Groups Links
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
>               
> ---------------------------------
> Do you Yahoo!?
> vote.yahoo.com - Register online to vote today!
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke