MANUSIA NEADERTHAL CUTE ABIS�
Syam Asinar Radjam
Barangkali memang telah terbangun pemikiran bahwa ras eropa memiliki
penampakan yang lebih baik dari ras lainnya. Catatan ini hanya
sebuah efek ketergangguan atas subjektifitas penulis terhadap
artikel "Pemburu Andal Dari Flores" di kolom Humaniora di Kompas, 30
Oktober 2004. Artikel yang bersebelahan dengan berita "Memburu
Spesies Manusia Purba di Liang Bua" yang mengupas diumumkannya fosil
homo floresiensis yang ditemukan di kawasan Manggarai Flores, Nusa
Tenggara Timur.
Efek ketergangguan itu penulis dapatkan setelah melihat sketsa
perbandingan antara beberapa nenek moyang manusia di dunia; Homo
Habilis dari Afrika, Homo Erectus dari Asia, Homo Floresiensis dari
Indonesia, dan Neanderthal dari Eropa. Sketsa tersebut melukiskan 3
jenis nenek moyang manusia Afrika, Asia dan Indonesia bercirikan
kulit gelap, berhidung standar, dengan alis segaris, banyak kerutan
diwajahnya, berambut pendek yang saya tafsirkan sebagai keriting.
Sedang nenek moyang manusia dari daratan Eropa dilukiskan berkulit
terang, berhidung mancung, minim kerutan diwajah, alis yang seperti
semut beriring, dan rambut gondrong ala rocker. Pokoknya,
subjektifitas penulis melihat bahwa Neanderthal terlihat keren dan
cute abiss,..
Beberapa ciri pada sketsa tersebut barangkali logis jika disesuaikan
dengan yang tampak pada manusia modern (homo sapiens) saat ini,
terutama warna kulit. Meski tidak tepat secara keseluruhan, sebab
kita masih gampang menemukan bahwa ras Asia tidak selalu lebih gelap
dari ras Eropa. Ras mongoloid yang putih, atau suku dayak, dan
masyarakat Pagar Alam dilereng gunung Dempo.
Pun jika dikaitkan dengan faktor pembuat warna kulit selain unsur
pigment, misalnya iklim dan suhu setempat, barangkali, boleh jadi,
pada masa para nenek moyang tersebut ada suhu tidak sepanas saat
ini. Dengan mengandaikannya dengan zaman es yang berakhir kira-kira
10.000 tahun lalu. Membandingkannya dengan masa Homo Erectus yang
berkisar antara 40.000 tahun lalu (Manusia Trinil, Sangiran,
Indonesia) sampai 16.000 tahun lalu (Manusia Mungo, Australia), Homo
Hobilis yang lebih tua lagi, atau Homo Floresiensis yang hidup pada
waktu 18.000 � 30.000 tahun lalu. Meski penamaan zaman es digunakan
untuk merujuk kepada waktu yang lebih dingin dengan tutupan es yang
luas di seluruh benua Amerika Utara dan Eropa.
Pada giliran bahasan paras wajah, penggolongan tampan dan cantik,
mengingatkan pada suatu diskusi kecil tentang filsafat ketika
penulis masih mahasiswa. Sejak kapan istilah tampan dan cantik
dikenal masyarakat Indonesia? Wacana yang muncul saat itu adalah,
sejak jelata pribumi melihat sinyo dan noni Belanda. Jangan-jangan
memang demikian, buktinya sekarang trendsetter cantik dan tampan
masih mengacu pada bintang film atau model Eropa dan Amerika.
Tulisan ini bukan rasa ketidaksenangan yang defensif atau sebentuk
petisi kepada pembuat sketsa para nenenk moyang yang dimunculkan
Kompas. Dan bukan kecurigaan terhadap perasaan mengagungkan Eropa-
Amerika sebagai barometer keindahan. Bukankah Asia tidaklah tidak
rupawan. Sushmita Sen, dari India pernah dinobatkan sebagai ratu
kecantikan sejagad (Miss Universe) pada tahun 1994. Cleopatra VII
yang lahir Alexandria (Mesir) 69 tahun sebelum Masehi menggeletarkan
dua pejantan tangguh dari Eropa sekaligus penguasa Romawi, Julius
Caesar dan Marcus Antonius (Mark Antony). Cleopatra masih menjadi
simbol kecantikan dunia sampai sekarang. Atau meski makin banyaknya
artis barat yang cantik atau artis Indonesia yang berwajah indo,
penulis masih tetap menanggap Ria Irawan sebagai artis paling cantik
di dunia. Jelaslah, bahwa pendek ini adalah pandangan subjektif
penulis.
Juga tidak dimaksudkan kontribusi terhadap wacana asal-usul atau
hubungan manusia purba dengan manusia modern yang sudah dipatahkan
oleh kesimpulan dari suatu analisa komputer terhadap tengkorak
manusia modern, Neanderthal, beberapa jenis monyet dan kera,
memperlihatkan bahwa kita secara fisik pada dasarnya berbeda dari
orang-orang purba itu. Demikian juga dengan anggapan terhadap
manusia hominid Asia (Homo erectus), baik yang fosilnya ditemukan di
sekitar Kota Beijing, Cina, maupun di Pulau Jawa. Kesimpulan
tersebut kalau tidak salah dirumuskan oleh para paleoanthropologis
dari Universitas New York (Kompas Cyber Media, 27 Januari 2004).
Atau kesimpulan lain dari Studi genetika populasi manusia
menggunakan metode biologi molekuler mutakhir memastikan bahwa
manusia modern berevolusi dari benua Afrika (Kompas Cyber Media, 12
Mei 2001).
* * *
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/