Dear Mr.Ambon,
 
Saya baru saja dari palu juga kebetulan lewat poso untuk urusan 
bisnis..pengalaman sepanjang perjalanan yg sempat saya lihat, sbb :
 
Petugas keamanan entah itu polisi atau brimob atau tentara yg pasti mereka 
aparat keamanan negara kita.., agak sedih juga melihat kinerja 
mereka..sepanjang pos penjagaan..mereka cenderung hanya duduk, main catur, jadi 
pajangan di pinggir jalan...bila malam tiba mereka banyak yg minum cap tikus 
hingga turut mabuk bersama warga..., mereka juga suka main perempuan....bisa 
dibayangkan apa yg kita bisa harapkan dari aparat keamanan yg tidak punya 
integritas diri seperti itu ???????  
 
Mestinya mereka diberi pengarahan sebelum terjun ke lapangan, dibentuk forum 
komunikasi dengan berbagai elemen masyarakat..karna pemilik senjata dan bom 
tentu saja kedua bela pihak yg bertikai sama -sama punya simpanan alat2 seperti 
itu...
 
Aparat harus diberi kegiatan untuk aktif membangun komunikasi seluruh 
warga...ciptakan keakraban meski tetap jaga jarak...
Tindak aparat yg suka minum, suka perempuan tanamkan jiwa kasatria dalam diri 
aparat bahwa mereka akan dihargai bila benar2 menjadi pengaman yg tidak gampang 
tercemar dengan hal -hal sepele tadi...
 
Bagaimana mau aman kalo tentara hanya nongkrong di pos 2 penjagaan di pinggir 
jalan ????  apa yg terjadi di poso bukanlah suatu peperangan membela tanah air 
dari anacaman musuh...makanya perlu pembekalan agar penanganan kerusuhan bisa 
dilakukan dengn adil dan tegas...
 
Tentara kita memang cuma manusia biasa...selama ini sejak kita 
merdeka...ketangguhan mereka belum teruji....dalam melawan musuh....dari negara 
lain....jadi ...entahlah...apa yg bisa kita banggakan dari patriot patriot 
bangsa ...kita...tolong sampaikan kepada para petinggi abri agar jangan hanya 
siap terima laporan di tempat tanpa cross check di lapangan..
 
Rgds/ale

Ambon <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0501/05/daerah/1481879.htm

Rabu, 05 Januari 2005 

Ledakan Bom di Poso Membuat Warga Gempar 


Makassar, Kompas - Warga Poso, Sulawesi Tengah, kembali gempar begitu mendengar 
ledakan pada Senin (3/1) malam. Meskipun ledakan yang terjadi di dekat Hotel 
Alamanda, persis di belakang Asrama Brimob, itu tidak menimbulkan korban jiwa, 
sempat membuat situasi Poso memanas.

Informasi yang diperoleh Kompas menyebutkan bahwa bom berdaya ledak rendah (low 
explosive) itu terjadi sekitar pukul 21.00. Bom itu meledak di Jalan Alamanda. 
Lokasi itu tak jauh (sekitar 200 meter) dari ledakan bom yang terjadi pada 
malam pergantian tahun, Jumat (31/12/2004). Pada malam tahun baru itu, bom 
berdaya ledak rendah meledak di Jalan Pulau Bali.

Begitu terdengar ledakan, warga keluar rumah, dan bahkan terjadi konsentrasi 
massa. Polisi yang tinggal di asrama itu langsung berhamburan keluar. Mereka 
berusaha memburu dua orang yang diduga pelakunya.

"Begitu ledakan terjadi warga gempar. Malam itu ramai sekali," kata Komandan 
Kodim 1307 Poso Letkol (inf) Ray Gunawan yang dihubungi dari Makassar, Selasa 
(4/1). Menurut Ray Gunawan, sesaat setelah ledakan terlihat dua orang yang 
berusaha kabur ke arah Lembaga Pemasyarakatan (LP) Poso.

Polisi langsung melakukan pengejaran. Namun rupanya warga sudah terkonsentrasi 
di kawasan LP itu. Situasi yang tidak jelas malam itu justru membuat polisi 
berhadapan dengan warga.

Polisi melakukan tembakan ke atas, tetapi diinformasikan bahwa dari arah massa 
terdengar letusan tembakan pula. "Memang sempat terjadi insiden, tetapi 
untunglah hanya berlangsung sesaat. Padahal warga sudah ribut, mereka bahkan 
membunyikan benda-benda seperti lonceng atau kentongan," kata Ray Gunawan.

Pejabat Bupati Poso Andi Asikin Suyuti mengatakan, aparat kepolisian melepas 
tembakan karena mengejar orang yang diduga sebagai pelaku ledakan. Setelah 
melihat warga yang berkumpul begitu banyak, tambah Direktur Eksekutif Lembaga 
Pengembangan Studi Hukum dan Advokasi Hak Asasi Manusia (LPSHAM) Sulteng 
Syamsul Alam Agus, aparat kepolisian menjadi panik dan kemudian melepas 
beberapa tembakan untuk membubarkan massa.

Untuk menenangkan situasi, kata Ray Gunawan, pihaknya juga menurunkan sejumlah 
personelnya. "Saya menurunkan anggota 70 orang untuk ikut menghentikan insiden 
itu. Saya sampai berjaga-jaga sejak semalam, kami patroli terus," kata Ray 
Gunawan. Selasa pagi Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Sulteng Brigjen (Pol) 
Aryanto Sutadi langsung pergi ke Poso dan langsung melakukan pertemuan dengan 
jajaran kepolisian yang ada di Poso.

Beruntun

Teror bom sampai saat ini masih terus menghantui kota Poso. Sebelumnya saat 
malam pergantian tahun, dua ledakan bom terjadi di kota itu. Ledakan pertama 
terjadi sekitar pukul 23.45 di Jalan Pulau Bali- dekat ledakan kemarin-dan 
ledakan kedua terjadi sekitar pukul 00.30 di Jalan Pulau Kalimantan, tepat di 
belakang Gereja Bethany.

Tiga hari sebelumnya, yaitu pada 28 Desember 2004, bom juga meledak di 
Kelurahan Kawua, Kecamatan Poso Kota. Sehari sebelumnya, 27 Desember 2004, bom 
meledak dua kali di Kelurahan Sayo, juga Kecamatan Poso Kota. Semua bom yang 
meledak adalah jenis low explosive.

Menurut Syamsul Alam, serangkaian teror bom itu dilakukan oleh orang-orang yang 
sangat terlatih dan mengenal medan Kabupaten Poso sehingga memiliki keberanian 
meledakkan bom di sekitar asrama Brimob. Tujuannya tak lain untuk menciptakan 
rasa tidak aman di masyarakat.

Kepala Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah Aryanto Sutadi memperkirakan motif 
teror bom yang terjadi secara beruntun itu untuk menunjukkan eksistensi 
sejumlah pelaku teror. "Orang-orang yang menginginkan Poso tetap rusuh ingin 
menunjukkan bahwa mereka masih ada dan masih mampu untuk melakukan tindakan 
teror. Hal itu juga menjadi satu bukti yang menunjukkan betapa mudahnya setiap 
orang melakukan teror," katanya.

Aryanto mengakui, peredaran senjata api dan bahan peledak di Poso masih cukup 
tinggi. Diakui juga, pihak kepolisian mengalami kesulitan untuk melakukan 
sweeping. Hal itu disebabkan para pemegang senjata api dan bahan meledak tidak 
menyimpannya di rumah, melainkan di kebun dan hutan.

Oleh karena itu, lanjut Aryanto, minimalisasi teror di Poso tidak bisa 
dilakukan hanya dengan pendekatan keamanan. "Minimalisasi itu harus dilakukan 
dari berbagai sudut pendekatan, seperti sosial, kerohanian, pemerintahan, 
hukum, ekonomi, keamanan, dan berbagai aspek lainnya," ujar Aryanto. (REI/SSD)


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Forum IT PPI-India: http://www.ppiindia.shyper.com/itforum/
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]




---------------------------------
Yahoo! Groups Links

   To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
  
   To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
  
   Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service. 



---------------------------------
  Yahoo! Messenger - Communicate instantly..."Ping" your friends today! 
Download Messenger Now

[Non-text portions of this message have been removed]






***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Forum IT PPI-India: http://www.ppiindia.shyper.com/itforum/
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke