http://www.mediaindo.co.id/cetak/berita.asp?id=2005011401203021 um'at, 14 Januari 2005
OPINI Antropoteologi untuk Derita Aceh Abdul Mukti Ro'uf, Dosen STAIN Pontianak, Kalbar TRAGEDI berupa bencana alam yang mengakibatkan musibah kematian, apalagi ratusan bahkan sampai seratusan ribu, akan melahirkan absurditas pada takaran 'manusia bumi'. Kematian, meskipun sebuah keniscayaan bagi makhluk hidup sebagai sunatullah, peristiwanya selalu ditangisi dan diratapi. Kematian kolektif yang serentak dan tragis akibat gempa dan gelombang tsunami di Aceh, Sumatra Utara, dan daerah-daerah lain di kawasan Asia Selatan (26/12), pasti akan menumpahkan air mata duka tidak saja bagi para korban, melainkan juga bagi sesama manusia di seluruh penjuru dunia. Perasaan 'menderita bersama' adalah bukti eksistensial manusia terhadap titik temu kemanusiaan yang melampaui batas negara, agama, suku, bahasa, ras, dan golongan di muka bumi. Aneka sumbangan yang mengalir deras ke Serambi Mekkah pascamusibah adalah wujud nyata dari primordialisme kemanusiaan itu. Inikah cara Tuhan mendidik umat manusia tentang 'politik bela rasa'? Justru di situlah soalnya. Tragedi bencana alam selalu membingungkan bagi diskursus agama dan filsafat. Pada agama, misalnya, satu sisi ia mempromosikan kedamaian umat manusia. Pada saat yang lain, ia 'terdiam' menyaksikan 'keganasan' alam semesta yang justru memorak-porandakan sisi-sisi kedamaian manusiawi. Hidup tenteram bersama sanak saudara tiba-tiba saja diputus oleh kehendak Tuhan. Agama, sebagai 'dokumentasi kebenaran' karya Tuhan dalam konteks ini menawarkan pertaubatan kepada-Nya dan perbaikan perilaku kemanusiaan baik terhadap sesamanya maupun terhadap lingkungan alam semestanya justru di tengah-tengah duka akibat murka alam. Para agamawan pun berebut ingin menjadi 'pengacara' Tuhan atas berbagai 'tuduhan miring' kepada-Nya. Maka tidak heran jika muncul 'gugatan' kepada Tuhan seperti pertanyaan 'orang biasa' akan mengatakan, mengapa Tuhan memilih 'cara destruktif' (minimal bagi persepsi manusiawi) untuk tujuan yang lebih tinggi dari itu, misalnya semacam solidaritas dan kesadaran kemanusiaan lainnya? Tidak adakah 'jalan damai' untuk mengurangi kemungkaran manusia, misalnya dengan mengutus 'manusia pilihan' yang berwibawa dan disegani rakyatnya sehingga kemungkaran dapat dicegah melalui fatwa dan tindakan 'manusia pilihan' itu. Jika gempa dan gelombang tsunami di Aceh dan sekitarnya terkategori sebagai azab bagi sebuah negeri, bukankah Allah berjanji dalam (surah al-isra':15) yang artinya, ''Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus rasul.'' Bukankah dalam Islam, sifat rahman dan rahim Tuhan dapat mengatasi sifat-sifat Tuhan lainnya, syadid, jabbar, dan sifat keperkasaan lainnya? Tafsir Islam Dalam menghadapi musibah, apa pun bentuknya, panduan etis Alquran mewartakan kepada umat manusia untuk segera menyatakan, inna lillahi wa inna ilaihi rojiuun (segala sesuatu di muka bumi dan di langit adalah milik Allah dan semuanya akan kembali kepada-Nya). Musibah kematian, individual ataupun kolektif menjadi hak mutlak Allah. Waktu, tempat, dan modus operandinya menjadi hak prerogatif-Nya. Di sini ada silogisme religius yang kedap-nalar. Hingga kini, sains dan filsafat tidak bisa mengatasi logika Tuhan, termasuk misteri kematian. Artinya, kehendak Tuhan tidak bisa dihentikan oleh kehendak manusia, sekalipun ia orang yang paling dicintai Tuhan seperti Muhammad yang memohon pamannya, Abu Thalib, untuk bersyahadatain sebelum ajalnya. Panduan etis ini ingin mengesakan bahwa tidak ada kekuatan yang terbesar dan terhebat kecuali Allah, Allahu Akbar. Maka, ketundukan (ber-Islam) dengan kekuatan hati (iman) dan akal (ilmu) kepada Yang Super Power itu menjadi kata kuncinya. Meratapi musibah sebagai kecelakaan yang tak berujung hanya akan membawa guncangan jiwa yang tak berkesudahan. Tunduk (ber-Islam) dengan hati maksudnya adalah ungkapan keyakinan bahwa selalu saja ada hikmah tersembunyi di balik malapetaka. Keyakinan ini lumrah bagi kaum beragama. Pasrah dengan ilmu, seperti yang diajarkan dalam Alquran, iqra'bismirabbika, maksudnya agar malapetaka yang terjadi dapat diamati dengan perangkat sains. Mungkin kita masih bertanya, lantas di mana keadilan Tuhan? Pertanyaan ini termat teologis, krusial, dan multitafsir sepanjang sejarah pemikiran Islam. Di antara persoalan yang krusial itu adalah, patutkah 'keadilan Tuhan' dipersamakan dengan 'keadilan manusia'? Namun, silang sengketa di antara kelompok pemikiran kalam dalam Islam tentang keadilan Tuhan, Muktazilah, sebagai kelompok rasionalis yang di Indonesia menempati posisi minoritas sekalipun dibanding Asy'ariyah, memiliki pandangan menarik; pertama, semua perbuatan Tuhan didasarkan atas hikmah dan tujuan. Sebab, suatu perbuatan tanpa tujuan adalah suatu kebodohan. Dan itu tidak mungkin bagi Tuhan; kedua, segala perbuatan Tuhan mengandung manfaat dan dapat dipetik manfaatnya oleh manusia; tidak ada yang sia-sia apa-apa yang diciptakan Allah kecuali manusia yang menyia-nyiakannya; dan ketiga, setiap perbuatan Tuhan mengandung kebaikan, as-shalah wa al-ashlah. Hingga di sini, mungkin masih ada pertanyaan lagi, dapatkah gempa bumi dan gelombang tsunami (jika itu disebut sebagai perbuatan Tuhan yang melahirkan derita manusia) mengandung unsur manfaat dan kebaikan? Sebagaimana pandangan Muktazilah, pastilah tersimpan hikmah, kebaikan, dan manfaat besar di balik itu. Kehilangan berupa harta benda dan nyawa manusia yang diklaim sebagai milik manusia, dalam keyakinan Islam, sejatinya bukanlah begitu, melainkan milik Allah. Secara teologis, kematian dalam Islam bukanlah akhir dari kehidupan yang sebenarnya. Ia adalah awal dari kehidupan abadi, walal akhiratu khairun laka mi al-ula (kehidupan akhirat itu lebih baik dari kehidupan dunia). Sehingga, secara teologis, terhadap musibah semacam gempa dan gelombang tsunami, dalam Islam, selalu memunculkan prasangka baik (husnudzan) kepada Tuhan. Dari sudut pandang moral kemanusiaan, setiap musibah dapat dimaknai dan ditarik maknanya ke dalam laku sosiologis umat manusia. Dalam tafsiran Fazlur Rahman (Major Themes of the Quran: 1980), kemalangan manusia akibat bencana alam memiliki kaitan langsung dengan aspek moralitas kemanusiaan, yaitu jika suatu kaum telah melakukan kesesatan-kesesatan secara keterlaluan dan tidak dapat dikembalikan kepada jalan yang benar. Penjelasan kesejarahan semacam ini misalnya terjadi ketika Nabi memberikan dakwah kepada kafir Quraisy yang banyak melakukan pelanggaran kemanusiaan dan penyimpangan akidah (Q.s.21:30; 32:29; 6:8). Keajaiban alam yang dipersepsi sebagai 'malapetaka' bagi manusia seperti gempa, menurut Rahman, tidaklah keluar dari kaidah keteraturan alam, melainkan sebagai "tanda-tanda peringatan" atau 'tanda-tanda historis' Mengapa Aceh yang menjadi 'uji coba' Tuhan? Mungkin Tuhan lebih tahu bahwa hanya orang-orang Acehlah (karena keterujiannya oleh penderitaan yang tidak dialami daerah lain) yang mampu menerima ujian itu. Dan para korban itu telah menjadi 'juru selamat' bagi kebangkitan Aceh dan Indonesia. Semoga!*** [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> DonorsChoose. A simple way to provide underprivileged children resources often lacking in public schools. Fund a student project in NYC/NC today! http://us.click.yahoo.com/5F6XtA/.WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Forum IT PPI-India: http://www.ppiindia.shyper.com/itforum/ 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

