http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2005/7/9/o3.htm
Krisis BBM, Krisis Moral MENYIKAPI kelangkaan/krisis BBM terutama premium yang terjadi di Bali saya menangkap sinyal bahwa hal itu berkaitan erat dengan semakin gencarnya sepeda motor yang masuk ke daerah ini. Tanpa disengaja sering saya melihat truk-truk besar mengangkut sepeda motor baru berbagai merek dan tipe yang didatangkan dari luar Bali. Melihat kenyataan itu, saya pun mencoba merenung, andaikata dealer di masing-masing kabupaten/kota berhasil menjual 10 sepeda motor, itu berarti setiap harinya akan ada penambahan sebanyak 90 sepeda motor yang lalu-lalang di jalanan, dan tentu membutuhkan BBM/premium. Anggaplah setiap sepeda motor membutuhkan 3 liter, berarti setiap harinya harus disediakan 270 liter. Lalu berapa sepeda motor dan berapa liter premium yang bertambah dan dibutukan saban bulannya? Belum lagi mobil-mobil baru yang tak kalah gesit bersaing dengan sepeda motor, dan semuanya itu memerlukan BBM. Dengan semakin meningkatnya jumlah kendaraan/sepeda motor/ mobil masuk ke Bali kita sepertinya perlu berpikir penuh kearifan karena hal itu terkait dengan pajak kendaraan bermotor (PKB) yang merupakan salah satu sumber pendapatan asli daerah (PAD). Kendatipun ini yang menjadi sandaran bagi pemprop dan pemkab-pemkab dalam mensejahterakan warganya, masih ada permasalahan yang patut kita renungkan bersama yaitu: 1. Dengan semakin meningkatnya jumlah kendaraan yang mondar-mandir di jalanan tentu akan menambah sumpeknya ruang yang digunakan para pemakai jalan. Ekses yang bisa muncul adalah semakin bertambahnya kecelakaan dan korban jiwa pun tak bisa dihindari. Kenapa para pengambil kebijakan tidak berpikir dan berbuat untuk membatasi kendaraan bermotor yang masuk ke Bali? 2. Terlihat gejala penggunaan kendaraan pribadi (terutama mobil) semakin meningkat, padahal yang demikian itu sangat boros dilihat dari penggunaan BBM (premium dan solar). Dari dua permasalahan di atas, saya menawarkan pemikiran: * Walau sekarang ini merupakan era global yang diwarnai oleh kebebasan setiap individu (HAM), tak ada salahnya jika pemerintah membatasi masuknya kendaraan-kendaraan baru yang masuk ke Bali, mumpung keadaannya belum kelewat parah. * Sangat diperlukan pengekangan atau pembatasan diri bagi para pengguna kendaraan bermotor, dalam arti lebih mengutamakan kepentingan yang benar-benar urgen. Saya sadar betul bahwa tawaran ini sangat berat untuk dilakukan, tetapi tak ada salahnya kalau hal itu dicoba demi mencegah munculnya krisis-krisis lain seperti krisis moral (ketidakpedulian masing-masing individu terhadap kepentingan-kepentingan yang lebih luas). Romi Sudhita Jl. Srikandi, Gg. Melon No. 11 Singaraja [Non-text portions of this message have been removed] *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

