Tulisan di bawah sekilas tampak logis. Si penulis berusaha menunjukkan
absurditas para penentang MUI dengan menggunakan logika.
Tanggapan ini tidak akan membahas dari sudut logika, tapi dari ASUMSI di balik
logika yg dipakai. Dari sudut ini hendak ditampilkan "absurditas" tulisan dgn
judul Aburditas Penolakan Fatwa MUI.
Dalam kenyataan hidup berkomunikasi sering sekali kita menemukan gejala SELEKSI
dan PROYEKSI. Manusia cenderung menseleksi opini atau kenyataan luar sesuai
dengan selera bawah sadar. Manusia juga cenderung menambahkan/memproyeksikan
hasrat dan ketakutannya pada kenyataan ataupun informasi yg ia terima.
Contoh gejala SELEKSI pada tulisan Mahasiswa Magister UII ini:
Dalam tulisan ini si Mahasiswa UII entah dari mana mengASUMSIkan bahwa
penentang fatwa MUI menyetujui sekte Ahmadiyah yang berpendapat Muhammad
bukanlah Nabi terakhir.
Apakah betul Prof Asyumardi Azra misalnya setuju bahwa Muhammad bukanlah nabi
penutup? Apakah betul Gus Dur, Ulil yang jelas-jelas NU tidak mengakui Muhammad
sbg Nabi terakhir?
Jadi di tulisan ini si mahasiswa UII telah menSELEKSI kenyataan bahwa penentang
fatwa MUI banyak yang bukan hanya Ahmadiyah, banyak dari penentang ini mengakui
bahwa Nabi Muhammad adalah nabi penutup.
Inilah kelemahan Logika, sekilas ia tampak tidak absurd dan dapat menunjukkan
absurditas TETAPI KETIKA KITA MEMULAI MEMERIKSA ASUMSI AWALnya maka sering kita
temukan banyak ketidak jelasan. Di sana sering terlihat HASRAT dan KETAKUTAN
bawah sadar si pelempar opini.
Contoh gejala PROYEKSI pada tulisan Mahasiswa UII ini:
Penulis menuduh bahwa para penentang fatwa MUI telah mensubordinatkan agama
manapun di bawah nilai-nilai sekular, liberal, HAM dan demokrasi. Pada hematnya
tuduhan ini terlalu cepat dilontarkan. Si penulis pun menolak penundukkan Islam
di bawah nilai-nilai "buatan" manusia tersebut. Apalagi manusia itu adalah
manusia barat.
Sehingga mau tak mau mahasiswa UII ini mempertentangkan Islam dengan Demokrasi,
HAM dll. Ada apa dibalik nafsu mempertentangkan Islam dan Demokrasi, HAM dll ?
Ini tidak lain karena HASRAT si penulis yang hendak mengagungkan Islam sebagai
sebuah superioritas. Hasrat ini menjadikannya over sensitif pada eksistensi
nilai-nilai yang berasal dari dunia lain. Hasrat ini sensitif menjadikannya
selalu melihat segala sesuatunya dari segi kompetisi dan pertentangan. Dus
mahasiswa ini memPROYEKSIkan pertentangan antara Demokrasi dan HAM dengan
Islam. (Tanpa disadari pemuda ini telah menjadi mahasiswanya Uncle Sam
Huntington bukan mahasiswa UII)
Padahal kesimpulan ini tidak benar jika kita mau melihatnya dengan lebih sabar.
Paling tidak dari dua segi bisa dibuktikan bahwa kesimpulan ini tidak benar:
1. Dari Watak Demokrasi dan HAM itu sendiri.
Watak Demokrari, HAM sama sekali tidak mencoba mensubordinatkan atau bersaing
dengan Islam. Demokrasi dan HAM hanya menyediakan ruang yang sama bagi seluruh
WARGA NEGARA, entah WN ini beragama apa, keturunan apa, kelas sosial apa.
Tentu saja memang banyak penyelewengan HAM dan Demokrasi, juga di negara-negara
Eropa atau Amerika. Tapi ini tidak membuktikan bahwa HAM dan Demokrasi
bertentangan atau mensubordinatkan Islam. Ini hanya membuktikan bahwa orang
munafik itu ada di mana-mana, di semua sistem, budaya, agama.
Sebaliknya ada yg percaya ISLAM malah mengENDORSE demokrasi dan HAM.
PAHLAWAN saya (anda juga?), almarhum MUNIR pernah mengatakan bahwa sumber
keberaniannya memperjuangkan HAM adalah ajaran Islam yang disemai ibunya sejak
kecil. Bahkan ia terus terang mengaku banyak bercermin dari sikap Nabi Muhammad
dalam memperjuangkan HAM. ("Munir Sebuah Kitab Melawan Lupa", percetakan MIZAN).
2. Dari subjek-subjek yang menentang Fatwa MUI itu:
Apa iya Prof AA, Gus Dur, Ulil dll itu merendahkan atau mensubordinatkan Islam?
Terlalu arogan menuduh mereka seperti itu, seolah si mahasiswa ini yang paling
Islami. Bukankah mereka tetap memeluk agama Islam, beribadat sesuai agama Islam
dstnya?
Begitulah HASRAT dan KETAKUTAN bawah sadar membuat manusia cenderung menSELEKSI
dan memPROYEKSIkan realitas kehidupan, yang memang sering kali rumit dan TIDAK
hitam vs putih, Islam vs Barat, Pribumi vs Non Pribumi, Kanan vs Kiri, Utara vs
Selatan dstnya dstnya. HATI-HATI semua genocida dimulai dengan opini dan
pikiran hitam putih seperti ini.
Bahkan dalam kehidupan sehari-hari jg gitu, jika anda bertengkar dan dongkol
dng istri atau suami misalnya, anda akan mengalami kecenderungan kuat menghitam
putihkan istri atau suami anda, mungkin dgn kata-kata "istri bego" atau "suami
babi" (kalo ini sih jelas salah, babi ekornya dibelakang, suami kan ekornya di
depan.... joking man!....:-)) )
Seharusnya makin dewasa manusia makin mengenali dirinya sendiri, artinya
mengenali bawah sadarnya (bukan bawah udelnya tok yg diurusi ..he..he..) ,
artinya mengenali HASRAT dan KETAKUTANnya. Jika ini tidak terjadi maka makin
sering pula kita bersikap seperti kanak-kanak.
Wassalam
Bobby Budiarto
Ambon <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
MEDIA INDONESIA
Kamis, 11 Agustus 2005
Absurditas Penolakan Fatwa MUI
M Shiddiq Al-Jawi, mahasiswa Magister Studi Islam UII Yogyakarta
KHALIFAH Umar bin Khathab pernah berpidato akan menetapkan batas maksimal mahar
400 dirham. Tiba-tiba, seorang wanita Quraisy menentangnya, ''Apakah Engkau
tidak pernah mendengar firman Allah bahwa kamu telah memberikan kepada
seseorang di antara isterimu dengan satu qinthar (mahar yang banyak)? (QS
An-Nisaa: 20). Umar menjawab, ''Ya Allah, ampunilah saya. Ternyata, ada orang
lain yang lebih memahami agama daripada Umar. Umar lalu mencabut fatwanya yang
salah itu (Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah, II/158).
Kisah tersebut memberikan pelajaran berharga bahwa fatwa bisa salah. Wanita
Quraisy itu telah membuktikan kesalahan fatwa Umar dengan menunjukkan
kontradiksinya dengan Alquran.
Metode ini yang selayaknya ditempuh mereka yang menolak fatwa MUI, yang
menegaskan kesesatan Ahmadiyah. Jika fatwa itu salah, tunjukkan saja ayat
ataupun hadis yang berlawanan secara frontal dengan fatwa MUI itu. Kalau bisa,
tunjukkan ayat ataupun hadis yang membenarkan ada nabi lagi setelah Muhammad
SAW agar fatwa itu batal demi hukum.
Tapi, ayat dan hadis seperti itu memang tidak ada dan tak akan pernah ada
sampai kiamat. Yang ada, justru ayat maupun hadis yang menegaskan secara pasti
(qath'i) bahwa tidak akan ada nabi dan rasul lagi setelah Rasulullah SAW. Allah
SWT telah menegaskan posisi Muhammad sebagai khatamun nabiyyin (penutup para
nabi). Firman-Nya, ''Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang
laki-laki di antara kamu, tetapi ia Rasulullah dan penutup nabi-nabi (khatamun
nabiyyin). (QS Al-Ahzab: 40). Dalam kamus Al-Muhith karya Al-Fairus Abadi
diterangkan bahwa kata 'khatam dalam bahasa Arab berarti 'aqibah' (kesudahan),
atau 'akhirah' (akhir/penghabisan). Jadi, khatamun nabiyyin berarti penutup
atau penghabisan dari nabi-nabi. Maka, tak akan ada nabi lagi setelah Muhammad
SAW, baik yang membawa syariat baru maupun tidak.
Lalu, ayat di atas diterangkan dalam banyak hadis. Nabi Muhammad SAW bersabda,
''Sesungguhnya kerasulan (ar-risalah) dan kenabian (al-nubuwwah) telah
terputus. Maka, tak ada lagi rasul dan nabi sesudahku.'' (HR Ahmad dan
Tarmidzi). Jafi, jika ada yang mengaku nabi setelah Rasulullah SAW, ia hanya
pendusta belaka, sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW, ''Kiamat tak akan tiba
sebelum dibangkitkan para dajjal (pendusta), yang berjumlah hampir 30 orang.
Setiap mereka mendakwakan bahwa dirinya adalah Rasul Allah.'' (HR Bukhari dan
Muslim).
Karena itu, kita mafhum, mengapa dulu di zaman Khalifah Abu Bakar RA, beliau
mengerahkan 10 ribu tentara Muslim untuk memerangi nabi palsu bernama
Musailamah Al-Kadzdzab hingga tewas. Pada perang yang dikenal dengan Perang
Yamamah ini, banyak sahabat Nabi penghapal Alquran yang gugur (lihat Shahih
Al-Bukhari, Bab Fadha'ilul Alquran).
Nah, kalau para penolak fatwa MUI itu mau jujur mengkaji Alquran, hadis, maupun
sejarah, justru hakikat seperti itulah yang akan mereka peroleh. Bukan, ayat
ataupun hadis yang mendukung pendirian Ahmadiyah bahwa Mirza Ghulam Ahmad
(pendiri Ahmadiyah) adalah nabi.
Mungkin, para penolak fatwa MUI itu tahu persis mengenai hal ini hingga mereka
menghindar untuk berargumentasi dengan argumen normatif maupun historis-empiris
yang jelas ini. Mereka akhirnya menggunakan logika lain, yaitu menilai fatwa
MUI tersebut salah. Bukan karena berlawanan dengan Alquran maupun hadis,
melainkan bertentangan dengan HAM dan kebebasan beragama. Cara berpikir inilah
yang perlu dikritisi lebih dalam.
Cara berpikir itu sesungguhnya sangat absurd karena dua alasan utama. Pertama,
argumentasi penolakan mereka tak relevan dengan fakta fatwa. Sebab, fatwa
merupakan produk hukum Islam berlandaskan wahyu (Alquran dan hadis) untuk
menghukumi fakta tertentu. Bahwa fatwa bisa keliru, ya. Tapi, kita jangan gagal
memahami bahwa landasan/dalil fatwa pada hakikatnya adalah wahyu, bukan
nilai-nilai sekularistik di luar wahyu, seperti HAM dan kebebasan. Menjadikan
nilai-nilai itu sebagai pijakan penolakan fatwa jelas tidak relevan.
Kedua, jika cara berpikir penolak fatwa MUI itu diterima, implikasinya serius
dan berbahaya karena banyak hukum Islam yang akan dibatalkan hanya karena
dianggap bertentangan dengan HAM maupun kebebasan. Haramnya riba (QS
Al-Baqarah: 275), minuman keras dan judi (QS Al-Maidah: 90), zina (QS Al-Isra:
32), akan mudah ditolak karena bertentangan dengan HAM. Ini tentu berbahaya
sebab akan menghancurkan banyak hukum Islam yang pada gilirannya makin merusak
masyarakat.
Dua alasan itu cukup membuktikan absurditas logika penentang fatwa MUI. Namun,
pertanyaan menggelitik berikutnya, mengapa penentang ini memilih logika yang
demikian? Karena, kaum sekular-liberal itu sejak awal mempercayai superioritas
nilai-nilai Barat, seperti HAM maupun demokrasi, di atas segalanya. Termasuk,
di atas segala macam agama. Berarti, telah terjadi penyakralan pemikiran
sekular (taqdis al-afkar al-sikulariyah) secara ekstrem. Pemahaman dan
nilai-nilai agama cuma diposisikan sebagai subordinat terhadap nilai
sekularistik tersebut. Implikasinya, nilai-nilai Islam diseleksi dengan
perspektif nilai sekular, bukan dengan perspektif Islam. Apapun konsep Islam
yang cocok dengan nilai modernitas Barat, akan diterima. Sebaliknya, kalau
tidak cocok, ditolak. Tentu, alasan penolakan bukan karena satu konsep itu
bertentangan dengan ayat dan hadis, melainkan karena bertentangan dengan
nilai-nilai sekular. Inilah jalan berpikir kaum penentang fatwa MUI itu.
Substansi logika itu sederhana, yaitu menundukkan nilai-nilai Islam pada
nilai-nilai di luar Islam. Berarti, nilai-nilai di luar Islam telah dipercaya
secara absolut tanpa ada peluang untuk diperdebatkan (ghairu qabil li
al-niqasy) ataupun diubah (ghairu qabil li al-taghyir). Kemudian, nilai-nilai
di luar Islam dijadikan standar agar nilai-nilai Islam menyesuaikan diri dengan
nilai-nilai asing itu.
Logika tersebut bukan barang dagangan baru, tapi sejak zaman Rasulullah SAW,
abad ke-7. Rasulullah membatalkan cara berpikir itu. Benar ada perbedaan, namun
substansinya sama, yaitu ingin menundukkan Islam pada selain Islam.
Suatu ketika, lima orang musyrik Makkah mendatangi Rasulullah SAW. Mereka
berkata, ''Datangkan Alquran yang membiarkan kami menyembah Laata dan Uzza!''
Lalu, turun firman Allah dalam QS Yunus: 15 yang menolak permintaan itu
(Al-Wahidi, Asbabun Nuzul, 1994:232). Ayat itu merekam permintaan orang musyrik
kepada Rasulullah SAW untuk mengubah Alquran agar sesuai dengan aqidah syirik
yang mereka yakini. Kaum musyrik itu berkata, ''Datangkanlah Alquran yang lain
dari yang ini, atau gantilah ia!'' (QS Yunus: 15). Tapi, permintaan mereka yang
absurd itu ditolak tegas Islam. Kelanjutan ayat itu menegaskan, ''Katakanlah
(Muhammad), tidaklah patut bagiku menggantinya dari pihak diriku sendiri. Aku
tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Sesungguhnya aku takut
jika mendurhakai Tuhanku pada siksa hari yang besar (kiamat).'' (QS Yunus: 15).
Ayat ini membatalkan pola pikir yang bertujuan mengubah Islam ke nilai-nilai di
luar Islam.
Pada kesempatan lain, beberapa orang Yahudi di Madinah (Abdullah bin Salam, dan
kawan-kawan) masuk Islam. Tapi mereka ingin mempertahankan beberapa ajaran
Yahudi dan berharap Islam merestuinya. Mereka tetap mengagungkan hari Sabtu,
membaca kitab Taurat malam hari, serta membenci daging dan susu unta, seperti
ajaran Yahudi. Ketika hal ini disampaikan kepada Rasulullah SAW, turunlah
firman Allah QS Al-Baqarah: 208 yang menolak sikap itu (Al-Wahidi, Asbabun
Nuzul, 1994:53). Allah berfirman, ''Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu
ke Islam secara keseluruhan. Janganlah kamu mengikuti langkah setan.
Sesungguhnya, setan musuh nyata bagimu.'' (QS Al-Baqarah: 208). Allah
memerintahkan mereka masuk Islam secara keseluruhan (kaaffah), bukan
setengah-setengah seperti yang mereka lakukan, dengan harapan Islam merestui
sikap mereka, yang menyesuaikan ajaran Islam dengan ajaran Yahudi.
Pernah pula Rasulullah SAW mendakwahi kaum Tsaqif, penduduk kota Thaif, agar
masuk Islam. Mereka mau masuk Islam dengan syarat, dibiarkan beberapa waktu
tidak menghancurkan berhala Laata yang biasa disembah, meninggalkan sholat,
tetap boleh berzina, minum minuman keras, dan mempraktikkan riba. Rasulullah
menolak semua itu (Ibnu Qayyim, Zadul Ma'ad, III/499; Abu Ubaid, Al-Amwal,
halaman 88). Hal ini menunjukkan, Islam membatalkan cara berpikir orang yang
hendak menundukkan Islam sebagai subordinat dari nilai-nilai non-Islam.
Tiga peristiwa itu bermuara pada satu kesimpulan bahwa tak dibenarkan logika
menundukkan Islam pada nilai ataupun pandangan hidup di luar Islam. Maka,
logika penentang fatwa MUI secara otomatis tidak dfapat dibenarkan. Di sinilah
biang absurditas cara berpikir mereka.***
[Non-text portions of this message have been removed]
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
<font face=arial size=-1><a
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12hcj9rqt/M=323294.6903899.7846637.3022212/D=groups/S=1705329729:TM/Y=YAHOO/EXP=1123739152/A=2896129/R=0/SIG=11llkm9tk/*http://www.donorschoose.org/index.php?lc=yahooemail">DonorsChoose.
A simple way to provide underprivileged children resources often lacking in
public schools. Fund a student project in NYC/NC today</a>!</font>
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/