http://www.kompas.com/kompas-cetak/0508/18/opini/1981595.htm

     

      Revitalisasi Kebangsaan dan Pluralisme 

      Oleh: MUHADJIR DARWIN

      Peristiwa bersejarah terjadi ketika pada tahun 1928 para pemuda yang 
datang dari berbagai penjuru Tanah Air berkumpul dan mengumandangkan Sumpah 
Pemuda. Momen ini merupakan simbol terjadinya suatu proses transformasi sosial 
dari kesadaran primordial ke kesadaran nasional yang bersifat plural.

      Pergaulan di antara pemuda-pemuda terpelajar dari berbagai latar belakang 
menumbuhkan kesadaran kolektif yang menyatukan mereka. Mereka merasa ada di 
satu wilayah (Hindia Belanda), satu nasib (dijajah Belanda), dan satu impian 
(Indonesia merdeka, aman, adil, dan makmur). Sama halnya ketika pada tahun 1945 
Pancasila ditetapkan sebagai dasar negara, dasar pertimbangan utama dari para 
founding fathers ketika itu adalah adanya suatu ideologi yang bersifat inklusif 
yang bisa menjadi fondasi bagi tegaknya negara Republik Indonesia yang pluralis.

      Stabilitas sosial dan politik yang relatif terpelihara sepanjang 
pemerintahan Orde Baru sempat menimbulkan keyakinan bahwa proyek pembangunan 
bangsa (national building) sudah nyaris paripurna. Namun, saat ini proses 
nation building tengah berbalik arah. Demokratisasi dan desentralisasi 
pascareformasi ternyata tidak memperkuat sentimen kebangsaan, tetapi justru 
membuka ruang bagi munculnya kembali sentimen-sentimen primordial 
antipluralisme. Identitas kolektif seperti Pancasila, yang sebelumnya dipercaya 
sebagai sumber perekat bangsa, seperti kehilangan makna, tenggelam oleh 
bangkitnya sentimen primordial yang cenderung eksklusif.

      Kebanggaan kolektif

      Kita gagal menemukan satu faktor yang secara kuat dapat menumbuhkan 
kebanggaan kolektif atau membuat kita merasa satu. Sesekali perasaan menjadi 
satu muncul, misalnya ketika beberapa atlet kita memenangkan kejuaraan olahraga 
dunia, ketika Aceh diluluhlantakkan oleh tsunami, atau ketika Malaysia berulah 
di Ambalat. Namun, semua itu hanya letupan sentimen kolektif sesaat yang mudah 
hilang, seperti gelembung air yang ditiupkan ke udara. Pada momen-momen lain, 
kebersamaan kita mudah dicabik-cabik oleh konflik horizontal antarkelompok 
politik, misalnya pada masa pemilu atau pilkada.

      Rakyat kehilangan kepercayaannya pada negara karena kegagalan negara 
menciptakan kemakmuran rakyat atau karena keberpihakan yang rendah dari 
elite-elite negara terhadap nasib rakyat. Di tengah krisis kepercayaan rakyat 
terhadap negara ini, rakyat mencari sumber perekat alternatif yang dapat 
menimbulkan rasa aman. Repotnya, pengalaman yang mereka temukan bukanlah 
berskala nasional, tetapi lokal atau partikular. Orang Aceh dan orang Papua 
menemukan identitas lokal mereka dan pengalaman kolektif mereka sebagai korban 
kesewenang-wenangan penguasa pusat. Kemudian pengalaman kolektif lokal tersebut 
memunculkan dorongan untuk memisahkan diri. Orang Dayak tiba-tiba juga 
mempunyai kesadaran kolektif ketika hak-hak ekonominya terancam oleh pendatang 
dari Madura, yang kemudian memunculkan pembantaian kolektif terhadap etnis 
Madura.

      Orang Islam juga menemukan sumber kohesivitasnya ketika merasa terancam 
eksistensinya oleh penetrasi budaya Barat, oleh penyebaran agama lain, atau 
oleh negara yang melakukan marjinalisasi politik. Dari situ muncul keinginan 
untuk menegakkan syariat Islam, atau untuk membatasi penyebaran agama atau 
aliran lain, dan mempertegas perbedaan identitas keislaman mereka dengan 
identitas agama-agama lain.

      Agama, bahasa, etnisitas, dan lokalitas adalah simbol-simbol yang lebih 
konkret ketimbang simbol-simbol nasional, seperti bendera Merah Putih, Garuda 
Pancasila, atau lagu Indonesia Raya. Identitas partikular tersebut mudah 
dicerna, dekat dengan pengalaman sehari-hari, cepat membangkitkan sentimen 
kolektif, dan bisa menjadi faktor pendorong terjadinya gerakan massa, bahkan 
revolusi. Simbol-simbol tadi sebenarnya dapat menjadi kekuatan positif bagi 
pembangunan bangsa sejauh dimaknai secara inklusif. Dan itulah sesungguhnya 
hakikat pluralisme.

      Di tengah konflik sosial yang mengemuka sehubungan dengan adanya fatwa 
MUI, tampaknya perlu diperjelas tentang apa yang dimaksud dengan pluralisme. 
Pluralisme bukanlah keyakinan bahwa semua agama sama, seperti yang 
didefinisikan oleh MUI. Kebenaran agama bagi setiap penganutnya adalah 
kepercayaan yang bersifat transendental. Sementara itu, pluralisme adalah cara 
pandang yang bersifat horizontal, menyangkut bagaimana hubungan antarindividu 
yang berbeda identitas harus disikapi. Tidak masalah bagi setiap penganut agama 
untuk meyakini agamanya sebagai satu-satunya kebenaran di mata Tuhan. Masalah 
terjadi ketika dengan kepercayaan itu, seseorang atau suatu kelompok penganut 
agama tertentu mengganggu, membatasi, mengancam, atau melakukan kekerasan 
kepada orang lain yang berbeda keyakinan. Pluralisme dalam konteks kehidupan 
beragama adalah bagaimana para penganut agama atau aliran agama yang berbeda 
bisa hidup berdampingan dan saling menghormati.

      Bangsa sekarat

      Setelah selama lebih kurang satu abad "proyek" nation building 
diselenggarakan, kita masih belum tuntas merampungkannya. Kita masih, meminjam 
istilah Dr Nurcholish Madjid, dalam tahap Nation in Making. Akan tetapi, jika 
kita gagal mengelola pluralisme, bukan tidak mungkin kita akan menuju ke titik 
yang tidak ada jalan keluarnya (point of no return). Jika begitu, istilah Cak 
Nur harus diganti menjadi Nation in Dying (bangsa yang tengah sekarat).

      Apabila hal ini tidak kita inginkan bersama, maka revitalisasi pluralisme 
dan sentimen kebangsaan merupakan suatu kebutuhan yang tidak terelakkan. Upaya 
ini hanya akan berhasil jika kesadaran keberagamaan yang tumbuh subur di negeri 
ini diorientasikan menjadi faktor yang memperkuat, bukan memperlemah, upaya 
revitalisasi tersebut.

      Muhadjir Darwin Dosen Fisipol dan Pengelola Magister Studi Kebijakan UGM
     


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
<font face=arial size=-1><a 
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12hp8sa65/M=323294.6903899.7846637.3022212/D=groups/S=1705329729:TM/Y=YAHOO/EXP=1124321375/A=2896130/R=0/SIG=11llkm9tk/*http://www.donorschoose.org/index.php?lc=yahooemail";>Give
 underprivileged students the materials they need to learn. Bring education to 
life by funding a specific classroom project  
</a>.</font>
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke