kaya'nya udah biasa...
liat aja di jakarta... trisakti juga udah biasa tawuran... 
its? idem juga...
mahasiswa kok malu-maluin...
gak inget orang tua di kampung susah-susah njual tanah biar yang
penting anakku kuliah....
DASAR !

On 9/6/05, Ambon <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail_c&id=187968
> 
> Selasa, 06 Sept 2005,
> 
> 
> Calon Intelektual atau Calon Preman?
> Oleh Ronald Julius Tanesia *
> 
> 
> Orang kampung tawuran? Itu biasa. Preman tawuran? Itu lebih biasa. Mahasiswa 
> tawuran? Itu masih harus dipertanyakan. Kalau mau dibilang tidak biasa, 
> banyak data yang menunjukkan kasus tawuran antarmahasiswa di Indonesia.
> 
> Berdasar informasi yang saya peroleh, tawuran tersebut disebabkan banyak 
> faktor. Mulai faktor sepele seperti pemalakan, saling tersinggung, perebutan 
> lahan parkir, sampai yang berbau politis seperti masalah pemilihan calon 
> fungsionaris lembaga kemahasiswaan.
> 
> Kalau tawuran antarmahasiswa mau dibilang biasa, satu hal yang harus 
> dikritisi. Pantaskah mahasiswa yang menyandang predikat kaum intelektual 
> tersebut bertindak memalukan?
> 
> Sudah menjadi stigma masyarakat bahwa mahasiswa didaulat sebagai calon 
> penerus bangsa, calon pemimpin, dan calon intelektual yang diharapkan bisa 
> mencerdaskan kehidupan bangsa serta negara. Di bahu mahasiswalah masyarakat 
> banyak mengharapkan perubahan dan perbaikan. Harapan yang bukan hanya 
> harapan, tetapi sudah dibuktikan mahasiswa.
> 
> Kalau melihat sejarah perjalanan bangsa dan negara ini, terlihat jelas bahwa 
> bangsa serta negara ini dibentuk karena ada peran vital mahasiswa. Mulai 
> perjuangan kemerdekaan yang dirintis mahasiswa-mahasiswa seperti Soekarno, 
> Hatta, dan Sjahrir. Kemudian, zaman peralihan dari Orde Lama ke Orde Baru 
> juga digerakkan mahasiswa seperti Soe Hok Gie serta Arif Rahman Hakim.
> 
> Pada masa reformasi, kekuatan mahasiswa di seluruh Indonesia mampu dihimpun 
> dan disatukan, sehingga pemerintahan Orde Baru bertekuk lutut.
> 
> Sebagai mahasiswa, saya bangga menyandang predikat tersebut. Saya bangga 
> menjadi bagian dari masyarakat yang dipandang istimewa, apalagi melihat 
> sekilas sejarah tersebut.
> 
> Tetapi, di satu sisi, kalau melihat mahasiswa yang juga terlibat tawuran, 
> saya jujur merasa malu menjadi mahasiswa. Sebagai mahasiswa, sama seperti 
> mahasiswa-mahasiswa lain di seluruh muka bumi, saya diajari untuk berpikir 
> ilmiah.
> 
> Saya diajari bersikap cerdas dan santun. Saya dididik untuk menjadi seorang 
> profesional. Sebagai mahasiswa, saya dibina dalam hal kecerdasan otak, 
> kecerdasan bersikap, serta kecerdasan spiritual.
> 
> Singkatnya, saya diajari menjadi manusia yang intelek, yang mampu berpikir 
> kritis, cerdas, elegan, santun, dan mendidik. Sejauh yang saya ingat, saya 
> tidak pernah diajari bersikap brutal. Juga, tidak pernah diajari menyalurkan 
> solidaritas melalui cara-cara kekerasan.
> 
> Sewajarnya orang yang dididik untuk menjadi intelektual, dalam menyikapi 
> permasalahan, seharusnya mahasiswa melihat dan berpikir intelek juga. Mereka 
> harus bisa dan harus mau berpikir panjang, melihat peluang dari permasalahan, 
> berusaha untuk mencari dan merumuskan solusi terbaik yang bisa mengakomodir 
> kepentingan bersama. Bukannya mencari solusi yang bodoh serta merugikan orang 
> banyak.
> 
> Terlebih, sebagai orang yang intelek, mahasiswa harus bisa memilah serta 
> membedakan antara permasalahan yang perlu disikapi dan yang tidak perlu. 
> Sebagai pribadi yang masuk kategori dewasa, mahasiswa juga harus dewasa dalam 
> menyikapi permasalahan.
> 
> Selain sikap dewasa, mahasiswa harus mampu berpikir dewasa dalam mencari 
> serta merumuskan suatu solusi. Singkatnya, mahasiswa harus berpikir dan 
> bertindak dewasa. Bukan seperti anak kecil yang bertengkar untuk 
> memperebutkan mainan. Atau, seperti orang yang tidak bisa berpikir panjang 
> dan hanya mengandalkan otot.
> 
> Sebagai kaum intelek, jelas kekuatan utama mahasiswa adalah kemampuannya 
> untuk berpikir mendalam, bukan pada ototnya yang kekar serta berisi. 
> Mahasiswa harus sadar dan senantiasa menanamkan pada dirinya bahwa mereka 
> adalah generasi penerus. Artinya, merekalah yang menentukan masa depannya.
> 
> Sudah tentu sikap-sikap bodoh seperti tawuran akan membuat masyarakat 
> berpikir lagi, apakah benar mahasiswa merupakan generasi penerus bangsa?
> 
> Atau, kalaupun benar mahasiswa adalah generasi penerus bangsa, akan menjadi 
> apakah masa depan bangsa ini di tangan mahasiswa-mahasiswa yang gampang 
> tawuran? Saya ngeri membayangkan mereka menjadi pemimpin bangsa ini pada masa 
> depan.
> 
> Fakta bahwa masih ada mahasiswa yang tega tawuran membuat saya tidak hanya 
> malu sebagai mahasiswa. Tetapi, itu juga membuat saya tidak habis pikir, 
> tidak tebersitkah di pikiran mereka bahwa yang dilakukan itu juga menyakiti 
> hati masyarakat?
> 
> Di tengah-tengah kondisi bangsa dan negara yang terpuruk ini, masyarakat 
> sudah cukup tersiksa dengan kesusahan ekonomi. Masyarakat sudah cukup 
> tertekan dengan kenyataan bahwa bangsa dan negara ini sudah kacau-balau. 
> Tetapi, mereka dengan bodoh dan seenaknya menambah beban pikiran masyarakat.
> 
> Mungkin ada benarnya kata Imam B. Prasodjo, sosiolog Universitas Indonesia, 
> "Mahasiswa yang melakukan kekerasan adalah mahasiswa primitif, bukan kalangan 
> intelektual."
> 
> Dengan kata lain, mereka sebenarnya bukan mahasiswa. Mereka lebih seperti 
> orang-orang yang kuliah dan mirip mahasiswa. Tetapi, sebenarnya mereka tidak 
> lebih dari sekadar preman-preman elite.
> 
> * Ronald Julius Tanesia, ketua BEM Universitas Kristen Petra, Surabaya
> 
> 
> 
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
> 
> 
> 
> 
> ***************************************************************************
> Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
> Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
> ***************************************************************************
> __________________________________________________________________________
> Mohon Perhatian:
> 
> 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
> 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
> 3. Reading only, http://dear.to/ppi
> 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
> 
> Yahoo! Groups Links
> 
> 
> 
> 
> 
> 
>


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Give at-risk students the materials they need to succeed at DonorsChoose.org!
http://us.click.yahoo.com/Ryu7JD/LpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke