http://www.jurnalperempuan.com/yjp.jpo/?act=berita%7C-418%7CX
Selasa, 13 September 2005
Alokasi Anggaran yang Berkeadilan Gender Masih Kecil dan Tidak Fokus
Jurnalis :Eko Bambang S
Jurnalperempuan.com-Jakarta. Selain jumlahnya yang sangat kecil, anggaran yang 
diperuntukkan untuk menciptakan keadilan gender baik ditingkat nasional maupun 
ditingkatan lokal –daerah dinilai tidak fokus. Masalah pemahaman akan keadilan 
dan kesetaraan gender dan juga pemahaman akan kemiskinan perempuan menjadi 
kendala utama tidak diberinya prioritas dalam kebijakan anggaran nasional 
maupun daerah. Padahal dalam sejumlah data tentang kemiskinan, kesehatan dan 
pendidikan masih menunjukkan ketimpangan secara gender, dimana perempuan jauh 
lebih tertinggal daripada laki-laki. Demikian sejumlah pendapat yang muncul 
dalam diskusi tentang Advokasi Kebijakan Anggaran Berkeadilan Gender: Upaya 
Peningkatan Kesejahteraan Perempuan, yang diselenggarakan oleh Women Research 
Institute di Jakarta, Selasa, (13/09/05). 

Menurut Nursanita Nasution, anggota DPR RI dari Komisi Anggaran menyebutkan 
bahwa anggaran perempuan dalam APBN kita masih kecil. Di tahun 2005, anggaran 
perempuan dalam APBN yang terbagi dalam dua pos yaitu program penguatan 
kelembagaan pengarusutamaan gender dan anak sebesar Rp. 71,85 M dan program 
peningkatan kualitas hidup dan perlindungan perempuan sebanyak Rp.8,962 M. 
Anggaran tersebut dinilai kecil karena anggaran sebesar itu masih dibagi di 
sejumlah dinas. Bahkan menurut Nursanita, di tahun 2006 RAPBN juga tidak 
mengalami perubahan yang berarti karena dalam R-APBN 2006 anggaran program 
penguatan kelembagaan pengarusutamaan gender dan anak sebesar Rp.73.796 M dan 
Program peningkatan kualitas hidup dan perlindungan perempuan sebesar Rp. 9 M. 

Dalam konteks itu menurut Nursanita, untuk menyikapi antara realitas anggaran 
dan idealita perlu sekali secara terus menerus melakukan sosialisasi dan 
advokasi tentang pengarusutamaan gender secara berkesinambungan serta 
memberdayakan perempuan dalam penentuan “local Budgetting”. 

Sementara itu, Sumedi Anggono Mulyo dari Bappenas, mengungkapkan bahwa Rencana 
Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) yang saat ini dilakukan memungkinkan sekali 
keterlibatan masyarakat sipil terutama perempuan dalam proses perencanaan, 
pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi kebijakan. Hal ini dikarenakan RPJM 
mempunyai keterkaitan dengan MDGs, dan secara khusus terkait dengan Strategi 
Nasional Penanggulangan Kemiskinan (SNPK) yang dalam pengoperasiannya 
menggunakan pendekatan berbasis hak seperti kesehatan, pendidikan, pekerjaan 
dan berusaha, perumahan, air bersih dan sanitasi, tanah, SDA dan LH, rasa aman 
dan hak untuk berpartisipasi. 

Meskipun dalam proses pembangunan perempuan bisa berpartisipasi secara aktif, 
tetapi dalam prakteknya banyak sekali hambatan yang berkaitan dengan 
perencanaan dan penganggaran yang berkeadilan gender. Menurut Sumedi, sejumlah 
hambatan tersebut diantaranya adalah kurangnya pemahaman terhadap akar masalah 
dan realitas kemiskinan terutama yang dialami perempuan di berbagai wilayah. 
Hambatan lainnya adalah belum adanya rencana kerja operasional 
kementerian/lembaga dalam penyusunan anggaran berkeadilan gender termasuk juga 
belum jelasnya pembagian tugas dan kewenangan antar dalam penyusunan anggaran 
berkeadilan gender. Hal ini terjadi karena lemahnya koordinasi dalam pengeloaan 
data dan informasi, termasuk juga lemahnya koordinasi antara lembaga pemerintah 
di tingkat pusat dan daerah. Bagi Meiwita Budiharsana dari Ford Foundation, 
sejumlah hambatan yang terkait dengan alokasi anggaran yang berkeadilan gender 
seharusnya tidak perlu terjadi karena data yang diperoleh dari aspek pendidikan 
dan kesehatan menunjukkan ketimpangan gender antara laki-laki dan perempuan. 
Dari segi pendidikan, menurut Meiwita dana alokasi pemerintah di tahun 2005 
sebesar 6,4 % dari total anggaran. Namun dana tersebut tidak jelas 
pengalokasiannya. Sementara itu kalau kita lihat angka buta huruf usia diatas 
10 tahun untuk perempuan di pedesaan 16% dan di perkotaan 7%, sementara itu 
untuk laki-laki di pedesaan 8 % dan perkotaan sebanyak 3%. Untuk usia 15 tahun 
keatas menunjukkan angka buta huruf perempuan sebanyak 45% dan laki-laki 
sebanyak 23%. “Data-data tersebut jelas menunjukkan perbandingan yang tidak 
imbang antara laki-laki dan perempuan, untuk itu pemerintah seharusnya sudah 
jelas kemana alokasi anggaran tersebut,” ujar Meiwita. 

Selain data menyangkut pendidikan, yang lebih mencemaskan adalah data tentang 
kesehatan. Menurut Meiwita alokasi anggaran kesehatan tidak jelas berapa 
jumlahnya, sementara itu masalah seputar kesehatan reproduksi, khususnya angka 
kematian ibu cukup tinggi. Data yang dikeluarkan BPS (Badan Pusat Statistik) 
tahun 1994 menunjukkan angka sebesar 390 AKI, sementara tahun 2002-2003 dan BPS 
kembali mengeluarkan angka AKI sebesar 307 per 100.000 kelahiran hidup. Menurut 
Meiwita penurunan angka AKI tersebut tidak bisa dikatakan secara Nasional, 
karena survey yang dilakukan oleh BPS tersebut tidak memasukkan empat propinsi 
yaitu Aceh, Maluku, Maluku Utara dan Papua. Sementara itu itu di keempat 
propinsi tersebut kondisinya sangat memprihatinkan. Untuk itu, jika keempat 
propinsi tersebut masuk dalam Survey maka jumlahnya akan jauh lebih besar dan 
data yang dikeluarkan oleh UNDP masih lebih realistis yaitu 380 per 100.000 
kelahiran hidup menurut Meiwita lebih realistis untuk menunjukkan masalah AKI 
yang masih tinggi di Indonesia. 

Tingginya AKI tersebut dapat terjadi karena memang tidak adanya kejelasan 
menyangkut alokasi anggaran kesehatan. Hal ini misalnya berdampak pada 
pengurangan sejumlah tenaga medis dan tenaga bantu kesehatan seperti bidan 
desa. Menurut Meiwita untuk tenaga dan fasilitas kesehatan yaitu bidan desa 
pada tahun 2000 sebanyak 62.906, sementara itu pada tahun 2003 jumlahnya 
semakin berkurang menjadi 39.906. Dalam profil Kesehatan yang dikeluarkan oleh 
Departemen Kesehatan menunjukkan pada tahun 2000 rasio bidan adalah 71 bidan 
per 100.000 untuk menangani perempuan pada usia reproduksi. Data tersebut cukup 
logis untuk mengkaitkan bagaimana masalah penanganan reproduksi perempuan 
semakin menurun akibat jangkauan penanganan tenaga kesehatan seperti bidan yang 
semakin berkurang.“Pemerintah seharusnya memperhatikan betul masalah subsidi 
terhadap pendidikan dan kesehatan ini. Jika masalah ini diabaikan berarti 
pemerintah tidak mempertimbangkan biaya yang lebih besar yang akan dikeluarkan 
dari dampak yang dihasilkan melalui pengurangan subsidi untuk kesehatan dan 
pendidikan,”ujar Meiwita 

Terhadap sejumlah masalah tersebut, Sumedi mengusulkan beberapa langkah 
kedepan, pertama perlu adanya kesepahaman dan kesepakatan yang bersifat 
operasional antara departemen keuangan, Bappenas, kementerian, DPR/DPD dan 
pemerintah daerah dalam menetapkan kerangka hukum termasuk penerbitan peraturan 
tentang kriteria, prosedur dan penetapan anggaran berbasis keadilan gender. 
Perlu adanya pengaruutamaan (maistreaming) berbagai program dan peoyek 
kementerian/lembaga dan pemerintah daerah baik yang dibiayai dari APBN murni 
maupun dari utang terutama lokasi, jenis kegiatan dan target group perempuan. 
Perlu pula dilakukan penentuan prioritas kegiatan pokok dan indikasi pagu 
anggaran dilakukan dengan memperhatikan realitas masalah perempuan di daerah 
dan penggunaan kriteria yang jelas, terukur dan obyektif. Hal yang juga perlu 
dilakukan adalah pemihakan secara sungguh-sungguh terhadap kepentingan rakyat 
terutama perempuan dalam perumusan kebijakan dan program pembangunan. Agar 
masalah alokasi berkeadilan gender ini bisa diphami semua pihak, perlu juga 
digalakkan kampanye dan sosialisasi secara aktif tentang pelaksanaan anggaran 
berbasis keadilan gender sebagai instrumen dalam pemenuhan hak-hak dasar 
rakyat. 




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
DonorsChoose.org helps at-risk students succeed. Fund a student project today!
http://us.click.yahoo.com/O4u7KD/FpQLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke